Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. PENGUMUMAN UJIAN

Hari-hari menjelang Ujian Nasional dan Seleksi Masuk PTN berjalan begitu cepat, berganti menjadi sebuah penantian yang mendebarkan. Setelah perjuangan marathon selama berbulan-bulan—melewati tumpukan kertas kalkulus, kelas bimbingan portofolio Seni Rupa hingga larut malam, dan rentetan try out—hari pengumuman kelulusan serta hasil seleksi akhirnya tiba.

​Pagi itu, penthouse lantai empat puluh dua diselimuti keheningan yang tak biasa. Tidak ada deru suara televisi atau musik animasi yang biasa diputar Nadira.

​Gadis itu duduk membeku di tepi ranjang kamar utama, masih mengenakan piyama kaos longgar berwarna biru muda. Di pangkuannya, sebuah laptop terbuka menampilkan halaman situs resmi pengumuman hasil seleksi nasional. Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul 14.55 WIB—kurang lima menit lagi sebelum gerbang pengumuman dibuka serentak secara nasional.

​Jemari Nadira yang kecil gemetar hebat. Telapak tangannya terasa sangat dingin dan berkeringat.

​"Mas... aku takut," cicit Nadira pelan, suaranya bergetar halus menahan sesak di dada.

​Abiyasa, yang sejak tadi berdiri di dekat jendela kaca besar, melangkah mendekat. Pria itu sudah membatalkan seluruh agenda rapat direksinya siang itu—sebuah keputusan tak rasional bagi seorang CEO Mahendra Group, namun sangat masuk akal bagi seorang suami yang tahu betapa krusialnya momen ini bagi istri kecilnya.

​Abiyasa mendudukkan dirinya di samping Nadira di atas kasur. Jemari kokohnya meraih kedua tangan Nadira yang dingin, meremasnya lembut untuk menyalurkan kehangatan.

​"Tatap saya, Nadira," perintah Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat tenang dan dalam.

​Nadira mendongak, menatap iris mata cokelat gelap suaminya yang begitu konsisten memancarkan rasa aman.

​"Saya sudah melihat caramu berjuang selama ini," tutur Abiyasa pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangan Nadira. "Saya melihat kamu belajar sampai ketiduran di meja makan, saya melihat jemarimu yang penuh noda pensil gambar setiap malam. Apa pun warna layar yang akan muncul di laptop itu lima menit lagi, buat saya, kamu sudah menjadi pemenang."

​Air mata menumpuk di sudut mata Nadira mendengarkan ketulusan kata-kata suaminya. "Tapi kalau hasilnya merah... kalau aku nggak lulus Seni Rupa UGM... aku bakal ngerasa gagal banget, Mas."

​"Tidak ada kata gagal," tegas Abiyasa, menyuarakan logika hukum dan cintanya sekaligus. "Jika pintu UGM tidak terbuka, masih ada seribu jalan lain yang akan saya bukakan untukmu. Tapi percaya pada prosesmu sendiri. Kamu sudah memberikan yang terbaik."

​Klik.

​Jam di layar laptop mendadak berganti angka: 15.00 WIB.

​Situs web pengumuman secara otomatis menyegarkan layarnya. Kolom pengisian nomor peserta dan tanggal lahir kini telah terbuka sepenuhnya.

​Jantung Nadira serasa berhenti berdetak seketika. "M-Mas... udah jam tiga..."

​"Masukkan nomor pesertamu," bimbing Abiyasa tenang, meski sejatinya genggaman tangannya pada jemari Nadira sedikit mengencang—sebuah indikasi kecil bahwa sang CEO pun ikut merasakan ketegangan yang sama.

​Dengan napas memburu dan jemari yang bergetar hebat, Nadira mengetikkan belasan digit nomor peserta ujiannya dan tanggal lahirnya. Setiap kali tombol keyboard berbunyi, ketakutan di dadanya kian memuncak.

​Setelah seluruh data terisi, kursor mouse kini melayang di atas tombol biru bertuliskan: LIHAT HASIL SELEKSI.

​"Aku... aku nggak berani tekan enter, Mas!" jerit Nadira pelan seraya memejamkan matanya rapat-rapat, menyembunyikan wajah mewahnya di dada tegap Abiyasa. "Mas Abi aja yang tekan!"

​Abiyasa terkekeh pelan—sebuah tawa lembut yang menghangatkan atmosfer tegang di antara mereka. "Baiklah. Biar saya yang buka."

​Abiyasa memajukan tubuhnya, mengarahkan kursor mouse, lalu menekan tombol tersebut.

​Layar laptop berputar sejenak selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad bagi Nadira. Dan kemudian... warna latar belakang layar berubah sepenuhnya.

​Abiyasa menatap layar tersebut. Iris matanya membelalak pelan, sebelum akhirnya sebuah sunggingan senyum paling lebar dan penuh kebanggaan terukir di bibirnya.

​"Nadira," panggil Abiyasa pelan, suaranya bergetar oleh rasa haru yang jarang sekali terpancar dari dirinya. "Buka matamu."

​"Enggak mau! Merah kan reaksinya?!" cicit Nadira dari balik dada Abiyasa, meremas kemeja suaminya makin kuat.

​"Buka matamu, Nyonya Mahendra," ulangnya seraya merangkul bahu Nadira dan memutar tubuh gadis itu agar menatap layar.

​Nadira perlahan mengintip dari sela-sela jemarinya. Dan seketika, dadanya seperti meledak oleh kebahagiaan yang tiada tara.

​Layar laptop menampilkan kotak besar berwarna HIJAU BIRU dengan tulisan cetak tebal yang mencolok:

​[SELAMAT! ANDA DIKABARKAN LULUS SELEKSI PTN 2026]

Nama: Nadira Kirana Mahendra

Program Studi: Desain Komunikasi Visual / Seni Rupa

Perguruan Tinggi: Universitas Gadjah Mada (UGM)

​"L-Lulus?!" jerit Nadira tak percaya, mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan nama yang tertera di layar. "Mas Abi! Ini beneran nama aku?! Aku diterima di UGM?!"

​"Kamu diterima, Sayang," sahut Abiyasa mantap. "Kamu resmi jadi mahasiswi Seni Rupa UGM."

​"AAAAAAA! MAS ABI!"

​Jeritan bahagia meledak dari mulut Nadira. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung melompat menghambur ke dalam pelukan Abiyasa, melingkarkan kedua lengannya di leher tegap suaminya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abiyasa seraya menangis sesenggukan. Kali ini, air mata kebahagiaan yang meluap-luap.

​"Aku lulus, Mas! Aku nggak bikin Mas Abi malu! Aku diterima di UGM!" tangis Nadira pecah di dalam dekapan Abiyasa.

​Abiyasa merengkuh tubuh mungil istrinya erat-erat ke dalam dekapannya, mengangkat Nadira sedikit dari kasur seraya mengecupi pelipis, rambut, dan pipi istrinya dengan rasa cinta yang membuncah.

​"Saya tidak pernah ragu padamu, Nadira," bisik Abiyasa sangat dalam di telinga istrinya, rasa bangga memenehi dadanya hingga ia sendiri merasa matanya sedikit menghangat. "Kamu hebat sekali. Saya sangat bangga padamu."

​Tiga jam kemudian, kehebohan berlanjut di ruang tengah penthouse.

​Mama Rahmi datang tergesa-gesa membawa beberapa buket bunga mawar merah raksasa dan tas belanjaan berisi makanan pesta. Wanita paruh baya itu langsung menubruk dan memeluk mantu kesayangannya begitu pintu terbuka.

​"Nadiraaaa! Anak mantu Mama yang pinter banget!" seru Mama Rahmi heboh seraya menciumi kedua pipi Nadira. "Mama tadi pas dengar kabar dari Abi langsung sujud syukur! UGM lho! Calon seniman hebat Mahendra Group!"

​"Makasih banyak ya, Ma..." sahut Nadira malu-malu seraya menerima buket bunga raksasa tersebut.

​"Harus ada syukuran besar ini!" pangkas Mama Rahmi antusias, menoleh ke arah Abiyasa yang berdiri tenang di samping sofa seraya menyesap tehnya. "Abi! Kamu harus siapkan makan malam pesta keluarga akhir pekan ini. Semua direksi dan kerabat harus tahu kalau Nyonya Muda Mahendra ini lulusan UGM!"

​"Sudah saya atur, Ma," sahut Abiyasa santai dengan sunggingan senyum tipis. "Semua perizinan dan acara syukuran sudah diurus Hendra sejak satu jam lalu."

​Nadira menoleh kaget menatap suaminya. "Hah?! Mas Abi udah nyuruh Mas Hendra bikin acara syukuran padahal baru pengumuman tadi sore?!"

​Abiyasa menatap istrinya dengan kerlingan mata nakal yang menawan. "Saya selalu punya rencana cadangan untuk merayakan keberhasilan istri saya."

​Mama Rahmi tertawa geli seraya menepuk bahu putranya gemas. "Bagus! Kamu makin hari makin pinter menyenangkan istri!"

​Malam harinya, setelah Mama Rahmi pulang dan kehebohan hari itu perlahan surut, suasana di penthouse kembali tenang dan intim.

​Nadira duduk di tepi tempat tidur utama seraya memangku buket bunga mawar dari Mama Rahmi dan memandangi sertifikat bukti kelulusan di ponselnya. Senyum manis tak kunjung padam dari wajahnya.

​Abiyasa melangkah masuk ke dalam kamar setelah mandi. Pria itu mengenakan piyama piyama kain abu-abu dan kaos polos hitam santai. Ia melangkah mendudukkan dirinya di samping Nadira, lalu merangkul pinggang mungil istrinya dari samping.

​"Masih belum percaya?" tanya Abiyasa lembut di telinga Nadira.

​Nadira menoleh, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Abiyasa. "Masih kayak mimpi, Mas. Rasa-rasanya baru kemarin aku takut banget digantung gara-gara perjodohan ini... baru kemarin aku bingung harus panggil Mas Abi pakai sebutan 'Om' atau 'Pak'... tapi sekarang aku udah lulus SMA dan mau jadi mahasiswa."

​Abiyasa mengusap lembut jemari kecil Nadira yang melingkar di tangannya. "Waktu berjalan cepat, Nadira. Tapi satu hal yang tidak akan pernah berubah."

​"Apa itu, Mas?"

​Abiyasa memutar tubuh Nadira hingga mereka saling berhadapan. Pria itu menangkup wajah cantik istrinya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, menatap lurus ke dalam iris mata bening Nadira dengan ketulusan mutlak tanpa batas.

​"Perasaan saya padamu," tutur Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan menggetarkan dada. "Perjodohan ini mungkin berawal dari selembar kertas wasiat almarhum Kakek. Tapi keputusan untuk mencintaimu, menjagamu, dan menjadikanmu satu-satunya wanita di hidup saya adalah keputusan terbaik yang saya buat atas kemauan saya sendiri."

​Air mata haru kembali menetes tipis di pipi Nadira. Dada gadis itu berdesir hebat oleh kehangatan cinta yang melimpah.

​"Aku juga, Mas Abi..." bisik Nadira tulus, kedua tangannya melingkar di leher tegap suaminya. "Aku cinta banget sama Mas Abi. Lebih dari apa pun."

​Abiyasa menyunggingkan senyum hangat yang paling menawan, lalu mendekatkan wajahnya dan menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh rasa syukur. Kecupan itu membawa seluruh perjalanan cinta mereka—dari rasa canggung, ketakutan akan rahasia pernikahan, rasa cemburu, hingga kepercayaan mutlak yang kini telah mengakar sempurna di jiwa mereka.

​Ketika pautan bibir mereka terpisah perlahan, Abiyasa menempelkan dahinya di dahi Nadira, mendengarkan deru napas hangat istrinya yang teratur.

​"Selamat atas kelulusanmu, Nyonya Abiyasa Mahendra," bisik Abiyasa sangat lembut. "Babak baru hidupmu akan dimulai, dan saya akan selalu ada di sampingmu untuk menggenggam tanganmu."

​Nadira tersenyum sangat lebar dan bahagia di dalam dekapan suaminya. Di bawah naungan malam Jakarta yang indah, kisah perjodohan tanpa cinta di antara sang CEO berhati dingin dan gadis SMA itu telah usai—berganti menjadi sebuah simfoni cinta sejati yang abadi, siap mengarungi setiap lembaran masa depan yang menanti di hadapan mereka.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!