Ann hanyalah mahasiswi seni biasa di Kota Meksiko—sampai satu malam yang salah mengubah segalanya. Diculik, dilelang, dan dijual kepada dunia hitam, ia terbangun sebagai milik seorang pria yang namanya saja mampu membuat seantero dunia bawah tanah bergidik: salah satu dari empat bos Mafia Rusia.
Mereka berempat berbagi lebih dari sekadar kerajaan bisnis gelap—sang Singa, sang Serigala, sang Beruang Hitam, dan sang Elang adalah sahabat sejak kecil. Dan kini keempatnya mengincar gadis yang sama.
Terkurung dalam sangkar emas seorang pria berbahaya, Ann bersumpah takkan menyerah. Tapi di balik tatapan dingin sang penguasa tersembunyi sesuatu yang tak ia duga—dan garis antara tawanan dan yang dipuja mulai kabur. Di dunia tempa cinta ditempa dengan darah, kesetiaan bisa berujung maut, dan masa lalu tak pernah benar-benar terkubur, satu pertanyaan menggantung: mungkinkah menemukan cinta sejati di tangan orang yang membelimu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Penting
POV Alan
Kuajak Ann ke pemandian air panas. Pengalaman itu sungguh menenangkan. Saat kami sampai di pintu keluar, kuambil sehelai kimono mandi untukku dan sehelai untuknya, serta dua pasang sandal.
Kami keluar lewat koridor dan tiba di kolam air panas. Malam terasa sejuk, tapi uap air menghangatkan sekeliling. Kupandangi Ann, lalu kuletakkan kimono di lantai kayu dan mulai menanggalkan pakaian. Kulihat Ann tersipu, dan itu membuatku geli, jadi kuteruskan. Setelah benar-benar telanjang, aku masuk ke dalam air, lalu kualihkan pandangan ke arah Ann. Ia mulai membuka pakaiannya. Ini mengejutkanku; kukira ia tak akan menelanjangi diri begitu saja di hadapanku.
Itu momen yang membara dan tak akan pernah kulupakan. Seakan fantasiku tentang ia menari dan menanggalkan pakaian untukku menjadi kenyataan, setidaknya bagian menanggalkan pakaiannya. Ketika sudah sepenuhnya telanjang, ia masuk ke dalam air.
Aku begitu rileks hingga memejamkan mata, membayangkan Ann menari sambil melepas satu per satu pakaiannya. Kudengar riak gerakan di air, dan tiba-tiba kurasakan kedua kakinya melingkari pinggulku dan tangannya melingkari leherku. Kubuka mata, terkejut. Ia sendiri yang datang penuh hasrat ke pelukanku.
"Kukira kau tak akan menuruti hasratku," kataku, "tapi ternyata akulah yang harus menuruti hasratmu."
Setelah itu gairah yang luar biasa menyelimutiku. Kumiliki tubuhnya dengan kuat dan menuntut. Aku menginginkannya lebih dari apa pun di dunia ini. Dan setelah orgasme yang luar biasa, sambil memeluknya, kuucapkan apa yang benar-benar diinginkan hatiku.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku bisa gila tanpamu."
"Tidak akan," jawabnya.
Dan kata itu cukup untuk menyadarkanku bahwa aku telah jatuh cinta pada Ann. Yang kurasakan saat pertama melihatnya bukan sekadar ketertarikan. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Setelah pulih dari orgasme, kami keluar, mengenakan kimono, dan masuk ke kamar. Sudah waktunya tidur. Ketika kami sampai, kukatakan pada Ann bahwa aku tak punya pakaian untuknya; kepala keamananku hanya menyiapkan pakaianku. Ia menatapku bingung, mungkin bertanya-tanya apa yang akan ia kenakan. Kuambil salah satu kausku dan kuberikan padanya. Ia menerimanya dengan senang hati lalu memakainya. Ia tak mengenakan pakaian dalam, dan kaus putih itu nyaris tak menutupi lekuk tubuhnya yang indah. Ia tampak begitu manis sekaligus menggoda. Kuambil piyamaku dan berbaring di ranjang.
Kupanggil Ann ke pelukanku, dan ia mendekat. Kudekap ia erat, dan kami tidur berpelukan. Aku begitu bahagia memilikinya di sisiku. Aku mencintainya, tapi belum bisa mengatakannya secepat itu. Mungkin ia akan mengira itu tipuan atau semacamnya.
Beberapa jam kemudian, aku terbangun oleh dering telepon di sampingku. Kujawab dengan kesal. Ternyata Maximo.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Maximo. "Aku dengar soal serangan itu. Anak buahku sudah kukerahkan untuk menjaga properti-propertimu yang lain."
"Aku baik-baik saja. Mereka memberitahuku tepat waktu dan aku bisa lolos. Aku sedang menyelidiki siapa pelakunya. Terima kasih atas bantuanmu."
"Dan bagaimana dengan gadis itu?"
"Dia bersamaku. Aku tak sanggup meninggalkannya."
"Bagus, aku senang mendengarnya. Tapi omong-omong, kita harus bertemu. Omar dan Eduardo setuju. Sudah saatnya menyusun rencana. Klan Black sudah melewati batas, dan kata Eduardo mereka hendak bersekutu dengan orang Italia untuk menghancurkan kita. Ini mendesak."
"Baik, tapi pertemuannya harus di luar Rusia. Jangan sampai kita lengah. Kau tahu kalau musuh sampai tahu kita akan berkumpul, mereka bisa menyusun rencana untuk menghancurkan kita semua sekaligus."
"Baik. Kau di mana? Kami akan terbang ke tempatmu dan menggelar pertemuan di sana. Bagaimana?"
"Baik. Aku ada di safehouse Jepang."
"Baik, besok kami sampai di sana."
Setelah itu ia menutup telepon. Ann masih tertidur, dan kekhawatiran menyergapku. Aku harus mencari cara agar ia tak berada di rumah selama mereka di sini.
Omar tenang, begitu pula Maximo. Mereka tak akan menyentuhnya tanpa izinku. Tapi Eduardo yang membuatku khawatir. Kami pernah mengalami hal serupa, dan lebih baik gadis kecilku menjauh darinya.
Aku harus meyakinkan Satu untuk mengajaknya berkeliling jalanan Jepang, membiarkannya menghibur Ann sementara saudara-saudaraku (sahabat terbaikku) pulang ke rumah masing-masing. Ia godaan hidup yang tak akan kubagi dengan siapa pun. Aku hanya berharap ia tak berpikir untuk kabur.
Dengan pikiran itu, aku berbaring di sisinya. Aromanya memenuhi rongga hidungku, begitu nikmat, perpaduan melati dan bunga-bunga. Dengan aroma itu aku terlelap nyaman dalam pelukannya. Ia sempurna, dan ia milikku, hanya milikku.
"Aku mencintaimu, sayang. Kau telah membuatku kembali percaya pada cinta dan berani mengambil risiko lagi. Sudah saatnya melupakan pengalaman pahitku di masa lalu. Kau datang ke dalam hidupku agar aku bahagia."