"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Garis Batas
Pukul delapan pagi kurang lima belas menit, lobi Evander Corp sudah dipenuhi hiruk-pikuk pekerja berkemeja rapi yang berlalu lalang. Liora berdiri di depan pintu kaca yang menjulang tinggi, merapikan blazer hitamnya dengan cemas yang ia beli di toko diskon minggu lalu. Mengingat ukurannya yang sedikit kebesaran, ia melipat ujung lengannya agar jemarinya tidak tenggelam. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai peserta magang jalur prestasi di konglomerasi teknologi terbesar di negeri ini.
”Haaaaa," Liora menghela napas panjang. “Fokus, Liora, fokus," bisiknya pada diri sendiri sembari membenarkan posisi kacamata tortoiseshell-nya yang agak melorot di pangkal hidung. "Ini kesempatan emas."
Setelah melewati gerbang otomatis, menjalani pemeriksaan keamanan dan mendapatkan kartu akses pengunjung, Liora diarahkan ke lantai 42 menuju lift khusus eksekutif, lantai tempat para jajaran eksekutif tertinggi berkantor. Pintu lift berdenting halus saat tiba di lantai empat puluh dua, suasana mendadak berubah drastis. Tidak ada lagi bising langkah kaki atau hiruk-pikuk seperti di lobi, yang ada hanyalah karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, pencahayaan warm white yang elegan, dan aroma kopi espresso yang samar.
"Liora Valeska Arwen?"
Seorang wanita berpenampilan sangat profesional mendekatinya. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, mengenakan blazer fit-body sehingga memancarkan aura wanita karier yang melekat pada dirinya, tatapannya tegas namun ramah.
"Saya Helena Calista, Senior Executive Assistant," sapa wanita itu singkat namun tetap terlihat profesional. "Selamat datang di Evander Corp. Sebagai peserta magang jalur prestasi untuk posisi Asisten Pribadi Direksi, kamu akan langsung berada di bawah supervisi saya dan membantu mengurus kebutuhan harian CEO. Hari ini tugas pertamamu sederhana, tapi membutuhkan ketelitian yang tinggi.”
Liora mengangguk cepat, menegakkan punggungnya. "Baik, Bu Helena. Saya siap. Mohon bimbingannya."
"Bagus."
“Aturan pertama di lantai ini,” Helena menyerahkan sebuah cangkir keramik hitam elegan. "Pak Evander adalah orang yang sangat presisi, disiplin, dan membenci ketidakramahan waktu. Aturan kedua: Americano panas tanpa gula, dua shot espresso, tepat pukul delapan lebih lima belas menit. Jangan sampai terlalu manis, jangan sampai dingin, dan yang paling penting jangan banyak bicara. Mengerti?"
“Mengerti, Bu,” Liora menerima cangkir itu bagaikan memegang porselen dinasti yang antik berharga jutaan rupiah.
***
Liora memandangi pintu kayu mahoni ganda berukuran besar di ujung lorong utama yang bertuliskan plat kuningan tebal nan tegas: OFFICE OF THE CEO.
Ia menghembuskan napas panjang, memegang dadanya, menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan, lalu melangkah pelan mendekati pintu tersebut. Dengan dorongan lembut pada knop pintu secara perlahan, ia melangkah masuk.
Ruang kerja itu luar biasa luas. Dinding utamanya berupa kaca raksasa dengan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta dari ketinggian. Di balik meja kerja megah yang terbuat dari kayu mahoni, seorang pria tampak berdiri membelakanginya, menatap dokumen di tangan kanannya sementara tangan kirinya tersimpan di saku celana.
Jas tailor-mad berwarna navy terlihat sangat pas di bahunya yang tegap. Sempurna, kaku, dan dominan.
"P-permisi, Pak Evander... Kopi pagi Anda," ucap Liora pelan dan ragu, suaranya sedikit bergetar.
Pria itu tidak langsung berbalik. Ia menutup berkas di tangannya dengan gerakan lambat, lalu perlahan memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat.
Saat wajah CEO Evander Corp itu terlihat sepenuhnya, mata Liora melebar. Langkah kakinya seketika terhenti, kedua lututnya mendadak terasa lemas bagai jelly, dan jemarinya yang memegang cangkir kopi gemetar hebat.
Tidak ada kacamata berbingkai tipis. Kemejanya tidak digulung sebatas siku melainkan tertutup rapi oleh setelan jas mahal. Rambut hitamnya disisir klimis ke belakang tanpa sehelai pun mencuat rusak. Penampilannya sangat tajam dan dominan. Namun, garis rahang yang tegas, tatapan mata yang dingin menusuk, dan aura menekan itu... tampak tidak asing.
"P-Pak... Pak Ravian?!" pekik Liora tertahan. Hampir saja menumpahkan kopi panas di tangannya.
Ravian menatap mahasiswinya yang kini berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka tanpa raut terkejut sedikit pun. Jemari tangannya bertaut di depan dada, memperhatikan ekspresi terkejut Liora yang tampak syok berat.
"Di ruangan ini, nama saya Pak Evander, Miss Arwen," potong Ravian datar, suaranya terdengar berat dan tegas menggema di ruang kerja yang kedap suara itu, terdengar persis seperti saat ia mengajar di Ruang 207 kemarin pagi.
Liora mengedipkan matanya berkali-kali, mencerna apa yang barusan terjadi dan berusaha memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. "T-tapi... Bapak kan dosen Bisnis dan Manajemen di Jagatara? Kenapa Bapak bisa ada di..."
"Kehidupan akademis saya bukan konsumsi umum dan bukan urusanmu," seloroh Ravian, melangkah dua kali mendekati mejanya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Liora. "Di kampus, saya adalah dosenmu. Di gedung ini, saya adalah atasan tertinggi tempatmu menggantungkan nilai magang. Saya harap kamu cukup pintar untuk bisa memisahkan kedua ranah tersebut secara profesional."
Liora menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya berputar cepat mencoba memproses situasi gila ini. Dosen killer dingin yang paling dihindari satu kampus ternyata adalah pemilik konglomerasi teknologi raksasa tempat ia magang?
"Letakkan kopinya di meja," perintah Ravian pelan.
Liora melangkah maju dengan kaku. Ia menunduk, meletakkan cangkir keramik itu ke atas tatakan kayu di meja mahoni. Namun rasa gugup yang melanda membuat jemarinya gemetar. Goyangan kecil pada cangkir membuat air kopi yang panas memercik keluar, tepat mengenai punggung tangan kanan Ravian.
"Ah! Maaf, Pak! Maafkan saya!" Liora refleks panik. Tanpa berpikir panjang, ia buru-buru merogoh saku blazer-nya, menarik saputangan polos, lalu secara impulsif meraih tangan Ravian untuk mengusap tetesan kopi tersebut.
Sentuhan itu berlangsung sesaat.
Kulit lembut Liora yang hangat menyentuh punggung tangan Ravian. Darahnya seketika berdesir hebat, sebuah getaran aneh menyengat dada Ravian, getaran impulsif yang sama persis seperti saat ia melihat gadis itu tertawa di sisi jendela kelas kemarin.
Ravian membeku. Tatapannya terkunci pada wajah cantik Liora yang berjarak begitu dekat dengannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas raut panik yang tercetak di wajah gadis itu.
Napas Ravian tertahan. Jemarinya yang berada dalan genggaman Liora terasa menegang. Ia berdeham keras dan menarik tangannya kembali seraya merapikan ujung jasnya.
"Cukup," potong Ravian cepat, dengan nada bicara yang sedikit dinaikkan, berusaha menutupi rasa gugup dan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Jaga jarak batasanmu, Miss Arwen."
Liora tersentak dan dengan cepat menarik tangannya kembali, wajahnya memerah karena menahan malu dan gugup. "M-maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja, sungguh."
Ravian membalikkan tubuhnya membelakangi Liora, berpura-pura memeriksa susunan dokumen di rak buku belakang mejanya. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengembalikan raut wajah dinginnya sebelum rahasia hatinya terbongkar.
"Kembali ke mejamu dan minta Helena memberikan berkas analisis pasar untuk kuartal ketiga," ujar Ravian tanpa menatap Liora lagi. "Dan ingat satu hal... jika ada satu kata saja atau desas-desus mengenai identitas saya di kantor ini bocor di lingkungan kampus, masa magangmu berakhir hari itu juga dan kredibilitasmu sebagai mahasiswa akan saya pastikan selesai."
Liora membungkuk dalam-dalam, mengangguk cepat. "Baik, Pak Evander. Saya mengerti. Permisi."
Gadis itu berbalik dengan cepat, mengambil langkah setengah berlari keluar ruangan dengan napas memburu, ia menutup pintu kayu mahoni itu dengan sangat hati-hati. Begitu mendengar suara engsel pintu terkunci dan pintu kayu mahoni itu tertutup rapat, Ravian menghentikan aktivitas pura-puranya, mendudukkan diri ke kursi kerja kemudian menyandarkan punggungnya. Ia mengangkat dan memandang tangan kanannya yang baru saja disentuh Liora. Sentuhan hangat itu masih terasa di sana.
Helaan napas keluar dari bibirnya.
'Takdir ternyata bekerja lebih cepat dari yang kubayangkan,' batin Ravian.
Ravian memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Menjaga jarak dari mahasiswinya sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada memenangkan persaingan akuisisi bisnis jutaan dolar.
✨✨✨
Halo, teman-teman! ✨
Kalau kalian sudah membaca karya ini, jangan lupa untuk bantu dukung dengan memberikan like, komentar, dan vote. Dukungan kecil dari kalian sangat berarti dan menjadi semangat aku untuk terus melanjutkan cerita ini. Terima kasih.🌷
Semoga kalian menikmati ceritanya!💚📖