Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Bulan madu selama beberapa hari di Maldives telah usai.
Adrian dan Sasi kembali ke tanah air dengan membawa lembaran baru yang penuh kehangatan dan rasa percaya.
Kehidupan mereka perlahan berjalan normal. Adrian kembali disibukkan dengan aktivitasnya memimpin perusahaan, sementara Sasi dengan penuh kasih sayang fokus menemani serta merawat sang ayah yang kondisinya kian hari kian membaik dan stabil di rumah.
Di ruang kerja megahnya, Adrian sedang meneliti beberapa berkas laporan saat pintu diketuk. Pengacara pribadinya melangkah masuk dengan raut wajah serius seraya membawa sebuah map dokumen.
"Selamat pagi, Pak Adrian," sapa pengacara itu seraya membungkuk sopan.
"Selamat pagi. Ada perkembangan terbaru mengenai berkas persidangan?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
"Semua berkas dakwaan untuk Fitria dan Hendrik sudah rampung dan dilimpahkan ke kejaksaan, Pak. Namun,"
Pengacara itu menghentikan kalimatnya sejenak, membuat Adrian mendongak dan menatapnya.
"Ada apa?"
"Kemarin saya mengunjungi rumah tahanan untuk menyampaikan update proses hukum. Fitria secara khusus meminta saya untuk menyampaikan pesan ini kepada Anda," tutur sang pengacara.
"Dia sangat ingin bertemu dengan Anda secara langsung sebelum sidang pertama dimulai."
Adrian mengerutkan dahi. Sorot matanya mendadak dingin dan dipenuhi rasa jengah.
"Untuk apa dia ingin bertemu denganku?" tanya Adrian dengan nada datar dan menusuk.
Pengacara itu menggelengkan kepalanya pelan. "Dia tidak mau mengatakannya secara detail, Pak. Dia hanya terus histeris dan memohon agar Anda bersedia datang menemuinya satu kali saja."
Adrian bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan tangan di dada.
Bayangan semua manipulasi, kebohongan, dan penderitaan yang Fitria timpakan kepada Sasi kembali terlintas di benaknya.
"Tolak," tegas Adrian tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku tidak punya urusan lagi dengannya. Biarkan dia menyampaikan apa pun yang ingin dia katakan di depan hakim nanti."
Pengacara itu mengangguk paham. "Baik, Pak Adrian. Saya akan menyampaikan penolakan Anda kepada pihak kejaksaan dan pengelola tahanan."
"Pastikan seluruh bukti persekongkolannya dengan Hendrik disampaikan secara transparan di persidangan," tambah Adrian dengan nada dingin yang mengintimidasi.
"Aku ingin hukuman maksimal tanpa ada celah penangguhan."
"Siap, Pak. Semua bukti aliran dana, pemalsuan dokumen, hingga rekaman percakapan sudah terkunci rapat. Posisi mereka sangat tersudut," ujar pengacara itu mantap sebelum membungkuk hormat dan pamit keluar dari ruangan.
Setelah pintu ruang kerja tertutup, Adrian menyandarkan punggungnya di kursi kepresidenan.
Ia mengembuskan napas panjang, mengikis sisa rasa kesal yang sempat melintas. Pria itu lalu meraih ponsel di atas meja dan mendial nomor telepon istrinya.
Hanya dalam dua kali dering, suara lembut yang menenangkan menyapa pendengarannya.
"Halo, Mas?"
Seketika, raut wajah Adrian yang semula tegas dan dingin melunak. Senyum hangat terbit di bibirnya.
"Halo, sayang. Lagi apa? Ayah bagaimana kondisinya hari ini?"
"Ayah baru saja selesai makan siang dan sekarang sedang istirahat, Mas. Tadi dokter bilang perkembangan fisiknya bagus sekali," sahut Sasi dari seberang telepon dengan nada gembira.
"Mas Adrian sendiri bagaimana di kantor? Pekerjaannya lancar?"
"Lancar, sayang. Tapi Mas sudah rindu ingin cepat pulang ke rumah," bisik Adrian mesra, membuat tawa kecil Sasi terdengar merdu di seberang sana.
"Mas ini ada-ada saja, baru tadi pagi berangkat," goda Sasi pelan.
"Nanti sore aku masak makanan kesukaan Mas ya. Hati-hati kerjanya."
"Iya, istriku. Sampai ketemu di rumah nanti sore."
Adrian mematikan sambungan telepon dengan perasaan lega yang tiada tara.
Bayang-bayang kegelapan masa lalu dan obsession gila Fitria tak lagi memiliki daya untuk merusak kedamaian rumah tangganya.
Bagi Adrian, fokus dan seluruh hidupnya kini hanya tertuju pada kebahagiaan Sasi dan pemulihan keluarga mereka.
Di rumah utama, Sasi meletakkan ponselnya di atas meja nakas dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
Perhatian dan ketulusan Adrian yang tak pernah putus selalu berhasil membuat dadanya hangat.
Ia melangkah perlahan menuju kamar rawat sang ayah di lantai dasar yang telah disiapkan khusus lengkap dengan fasilitas medis.
Pintu kayu itu terdorong pelan. Di dalam, sang ayah tampak duduk bersandar di tempat tidur seraya menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan taman belakang yang asri.
"Ayah," sapa Sasi lembut seraya mendekat.
Pria tua itu menoleh, raut wajahnya yang dulu pucat kini mulai memancarkan kesegaran dan rona kehidupan.
"Eh, Sasi. Sudah selesai teleponnya sama Adrian?"
"Sudah, Yah," jawab Sasi seraya duduk di kursi samping ranjang dan mengusap jemari ayahnya.
"Mas Adrian tanya kabar Ayah. Katanya nanti sore dia mau cepat pulang."
Ayah Sasi mengulas senyum tipis, menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa syukur.
"Adrian benar-benar membuktikan janjinya ya, Nak. Ayah lihat sendiri bagaimana dia memperlakukanmu sekarang."
"Iya, Yah," tutur Sasi lirih, matanya berkaca-kaca menahan haru.
"Mas Adrian benar-benar berubah. Dia menjaga Sasi dengan sangat baik."
"Baguslah," Ayah Sasi mengangguk lega, menepuk pelan punggung tangan putrinya.
"Melihatmu bahagia dan aman seperti ini, beban di dada Ayah rasanya terangkat semua. Ayah cuma ingin kamu hidup tenang mulai sekarang."
Sasi tersenyum manis, memeluk lengan ayahnya dengan penuh kasih sayang.
Di dalam rumah yang kini dipenuhi rasa aman dan kedamaian ini, Sasi tahu bahwa seluruh penderitaannya telah usai, berganti menjadi kebahagiaan yang nyata bersama suami dan keluarga yang dicintainya.
Sasi melangkah menuju dapur utama yang luas dan bersih.
Aroma ketenangan di dalam rumah membuat suasana hatinya begitu ringan.
Ia menyingsingkan sedikit lengan bajunya, siap mengolah makan malam spesial untuk Adrian.
Ia mulai menyiapkan bahan-bahan segar di atas meja marmer.
Potongan daging ayam dibumbui dengan rempah-rempah halus—bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan kunyit—lalu diungkep hingga bumbunya meresap sempurna sebelum siap dibakar.
Di sebelahnya, tempe dipotong tebal dan dimasak perlahan dalam air kelapa bersama gula merah dan asam jawa, menciptakan aroma manis gurih khas tempe bacem yang menggugah selera.
Tak lupa, Sasi mengulek sendiri sambal bajak kesukaan Adrian.
Cabai merah, terasi, dan tomat ditumis hingga harum dan matang sempurna, menghasilkan warna merah pekat yang menggoda.
Suara desis ayam yang dibakar dengan olesan kecap manis dan aroma rempah-rempah yang membakar perlahan memenuhi seluruh ruangan dapur.
Para pekerja rumah tangga yang melintas hanya bisa tersenyum melihat betapa telaten dan gembiranya nyonya rumah mereka menyiapkan hidangan tersebut.
"Harum sekali, Bu," puji salah seorang asisten dapur dengan sopan.
Sasi menyunggingkan senyum manisnya seraya menata ayam bakar yang sudah matang kecokelatan di atas piring saji.
"Mas Adrian suka sekali sama ayam bakar dan tempe bacem, Mbak. Semoga rasanya pas."
Setelah semua hidangan siap dan tertata rapi di atas meja makan—lengkap dengan nasi hangat dan lalapan segar—suara derum mobil Adrian terdengar memasuki pekarangan rumah.
Sasi mengusap tangannya dengan serbet, lalu melangkah menuju pintu depan untuk menyambut kepulangan sang suami.