Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Panggil Pak Wijaya

Mereka baru aja mau pamit pulang waktu seorang pria muda berkemeja putih rapi yang tadi sempat berbisik ke Pak Wijaya menghampiri tenda dokumentasi.

"Permisi, yang mana Saudara Doni?"

Doni kaget, jantungnya langsung berdegup kencang. "S-saya, Pak."

"Saya Fajar, asisten pribadi Pak Wijaya. Bapak minta waktu sebentar sama Saudara."

Sinta buru-buru narik lengan Doni pelan. "Don"

"Nggak apa-apa, Sin," bisik Doni, meski suaranya sendiri gemetar.

"Sendirian aja, atau boleh sama teman?" tanya Doni ke Fajar.

"Boleh berdua. Yang lain tunggu di sini saja."

Sinta ngeliat Doni, matanya penuh tanya. Doni ngangguk pelan, ngasih tanda semuanya bakal baik-baik aja meski dia sendiri nggak yakin.

Ruang tamu di bangunan utama itu dingin, ber-AC, penuh foto-foto keluarga besar yang berjejer rapi di dinding. Pak Wijaya duduk di kursi kayu ukir, tongkatnya disandarkan di sisi kursi.

"Duduk," katanya, singkat, tanpa basa-basi.

Doni duduk di kursi seberang, Sinta duduk di sampingnya, diam.

"Fajar bilang, kamu Doni. Anak dari Sulastri?" tanya Pak Wijaya, matanya menatap tajam, nggak berkedip.

Doni kaget denger nama ibunya disebut langsung. "I-iya, Pak. Sulastri itu ibu saya."

"Saya lihat kamu dari tadi. Cara berdiri kamu, cara kamu pegang kamera itu cuma alasan. Kamu bukan relawan sungguhan."

Doni menelan ludah, nggak bisa membantah. "Maaf, Pak. Saya... saya cuma pengen liat."

"Liat apa?"

"Liat Bapak. Kakek saya."

Hening. Pak Wijaya menatap Doni lama, ekspresinya susah dibaca.

"Jadi Sulastri masih hidup," katanya akhirnya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Doni.

"Masih, kek. Ibu saya baik-baik aja. Bapak saya juga."

"Kenapa dia nggak dateng sendiri kalau memang mau ketemu?"

"Ibu nggak tau saya ke sini kek. Ini murni inisiatif saya."

Pak Wijaya mengangkat alis. "Nekat kamu."

"Saya cuma pengen tau, Pak. Kenapa dulu Bapak nggak setuju sama pernikahan mereka."

Kalimat itu bikin suasana berubah. Pak Wijaya diam beberapa detik, rahangnya mengeras.

"Kamu datang jauh-jauh, nyamar jadi relawan, cuma buat nanya itu?"

"Bukan cuma itu, kek. Saya juga pengen kakek tau, Ibu sekarang bahagia. Bapak saya kerja keras, jujur, dan sekarang saya juga udah bantu bangun koperasi tani di kampung."

"Koperasi?" Pak Wijaya menatap Doni lebih tajam. "Koperasi apa?"

"Koperasi Tani Makmur Sejahtera, Kami pasok gula aren ke PT Agro Sejahtera Nusantara."

Ada perubahan kecil di wajah Pak Wijaya sesuatu yang mirip keterkejutan, meski cepat dia sembunyikan.

"Saya kenal nama itu. Direktur pengadaannya, Ratna, pernah cerita soal koperasi kecil yang berani ambil tender besar."

Doni kaget. "Ibu Ratna kenal kakek?"

"Dunia bisnis di kabupaten ini nggak sebesar itu, Nak." Ada nada lain di kalimat itu bukan lagi dingin sepenuhnya.

Sinta, yang dari tadi diam, akhirnya berani buka suara. "Pak, boleh saya ngomong?"

Pak Wijaya menoleh. "Kamu siapa?"

"Sinta, Pak. Teman Doni."

"Ngomong."

"Doni nggak ke sini buat minta apa-apa, Pak. Dia cuma pengen kakeknya tau, dia berusaha jadi orang baik, meski dari keluarga yang dulu Bapak tolak."

Pak Wijaya menatap Sinta lama, lalu balik ke Doni. "Kamu tau kenapa saya tolak pernikahan mereka?"

"Nggak, kek. Ibu nggak pernah cerita detail."

"Karena saya takut," kata Pak Wijaya, suaranya tiba-tiba lebih pelan. "Saya takut anak saya susah. Bapak kamu waktu itu nggak punya apa-apa. Saya udah lihat sendiri gimana susahnya hidup miskin waktu muda, dan saya nggak mau anak saya ngerasain itu."

Doni terdiam, nggak nyangka alasannya sesederhana itu meski cara nyampeinnya dulu jauh dari sederhana.

"Tapi caranya salah, kek" kata Doni pelan. "Ibu jadi kehilangan keluarga selama dua puluh tahun."

"Saya tau," jawab Pak Wijaya, matanya sedikit berkaca-kaca meski suaranya tetap tegas.

"Saya tau saya salah. Tapi orang tua itu keras kepala, Nak. Susah ngaku salah, apalagi ke anak sendiri."

Hening lagi. Kali ini bukan hening yang tegang, tapi hening yang berat.

"kakek mau ketemu Ibu?" tanya Doni akhirnya, suaranya penuh harap.

Pak Wijaya diam lama, menatap ke arah jendela, ke kebun kopi yang terhampar luas di luar sana.

"Saya nggak janji apa-apa, Nak. Tapi..." dia berhenti sebentar, "...kasih saya nomor telepon kamu. Biar saya yang hubungi kalau sudah siap."

Doni ngerasa dadanya lega sekaligus masih ganjal itu bukan jawaban "ya," tapi juga bukan penolakan.

"siap kek." Doni nulis nomornya di kertas kecil yang disodorkan Fajar.

Pak Wijaya ngambil kertas itu, ngelipetnya pelan, masukin ke saku baju batiknya.

"Sekarang pulang. Jangan cerita ke siapa-siapa soal pertemuan ini, termasuk ibumu, sampai saya kasih kabar."

"Kenapa, kek?"

"Karena saya belum siap dia kecewa dua kali kalau saya ternyata nggak berani hubungi."

Doni mengangguk, meski hatinya penuh pertanyaan yang belum terjawab.

"Satu lagi," kata Pak Wijaya, waktu Doni udah berdiri mau pamit.

"Iya, kek?"

"Koperasi kamu itu. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan. Bukan buat kamu. Buat cucu saya."

Doni menatap kakeknya lama, ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul, campur aduk sama kekagetan denger kata "cucu" keluar langsung dari mulutnya.

"Terima kasih banyak kek"

Doni sama Sinta keluar dari ruang tamu itu, Fajar ngater mereka sampai depan gerbang utama. Hadi udah nunggu di dekat motor, mukanya penasaran setengah mati.

"Gimana, Bro?! Lo diapain tadi?!"

Doni cuma diam sebentar, natap gerbang besar bertuliskan "PT Perkebunan Wijaya Makmur" itu sekali lagi, sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Nanti gue cerita di jalan, Bro. Sekarang, ayo pulang."

Di perjalanan pulang, mereka berhenti sebentar di warung kecil pinggir jalan, sekadar buat minum dan biar Doni bisa cerita lebih tenang.

"Jadi serius, Don? Lo beneran ngobrol langsung sama dia?" tanya Hadi, matanya melotot nggak percaya.

"Serius, Bro. Dia yang manggil gue, bukan gue yang samperin."

"Terus? Dia marah? Ngusir lo?" Casanova nggak sabaran.

"Enggak. Dia malah... nanya soal Ibu gue. Nanya kabar."

Sinta ikut nimbrung, masih keliatan agak syok sendiri. "Yang bikin gue kaget, dia nyebut Doni 'cucu saya' di akhir. Padahal dari awal ngomongnya dingin banget."

"HAH? Serius?!" Hadi hampir nyembur minumnya sendiri.

"Serius, Bro," jawab Doni, senyum kecil masih nempel di wajahnya. "Dia minta nomor telepon gue. Katanya mau hubungin kalau udah siap."

"Siap buat apa?"

"Siap ketemu Ibu gue."

Hadi diam sebentar, mikir. "Berarti ini belum kelar ya, Don?"

"Belum, Bro. Ini baru mulai."

"Terus lo mau bilang ke Ibu lo nggak?"

Doni menggeleng. "Kakek minta jangan dulu. Sampai dia beneran siap hubungin."

"Berat juga ya nyimpen rahasia kayak gini," Sinta menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi warung. "Padahal biasanya lo yang paling nggak betah nyimpen rahasia sendirian, Don."

"Ini beda, Sin. Ini bukan rahasia gue doang. Ini juga hak dia buat milih kapan dia siap."

Sinta mengangguk, tersenyum tipis. "Lo makin dewasa, Don. Serius."

"Ah, bisa aja lo," Doni salah tingkah, buru-buru minum es tehnya biar nggak keliatan.

Hadi ngeliatin mereka berdua bergantian, senyum jahil mulai muncul lagi. "Eh, gue nggak salah liat kan barusan?"

"Diem, Bro," kata Doni dan Sinta hampir bersamaan, bikin Casanova ketawa keras sampai orang-orang di warung nengok ke arah mereka.

Motor mereka lanjut jalan begitu matahari mulai condong ke barat, meninggalkan area perkebunan yang perlahan menghilang di kejauhan lewat kaca spion.

Doni sesekali ngecek saku celananya, mastiin HP-nya masih ada dan nggak ketinggalan menunggu nomor asing yang, entah kapan, bakal muncul di layarnya.

Sampai di kos malam itu, Herman langsung nyamperin begitu denger suara motor mereka parkir.

"Woy, kalian abis dari mana? Dari pagi ilang bertiga, nggak ada kabar," tanya Herman, sambil mbukain gerbang.

"Ada urusan, Man," jawab Doni singkat, masih capek abis perjalanan panjang.

"Urusan apaan? Muka lo aneh, kayak abis nangis tapi juga kayak abis menang lotre."

Doni ketawa kecil. "Panjang ceritanya, Man. Besok aja gue cerita, gue capek banget."

"Ya udah, istirahat gih. Btw, Mamat nitip pesan, katanya laporan koperasi udah kelar semua, tinggal lo tanda tangan aja besok."

"Oke, makasih infonya."

Doni masuk kamar, langsung rebahan tanpa ganti baju dulu. Sinta sempat kirim pesan singkat sebelum dia bener-bener merem.

"Don, istirahat ya. Besok kita lanjut ngobrol lagi kalau lo udah nggak capek."

Doni balas singkat. "Makasih, Sin. Buat hari ini juga."

Dia natap layar HP-nya sebentar, mikir kapan kira-kira nomor asing itu bakal muncul. Seminggu? Sebulan? Atau malah nggak sama sekali?

Sebelum akhirnya bener-bener tidur, dia sempat mikir satu hal lagi.

"Kalau kakek beneran nelepon," gumamnya pelan ke langit-langit kamar, "gue harus siapin diri juga buat Ibu."

Malam itu, nggak ada dengingan sistem yang muncul. Cuma keheningan kamar kos yang biasa, dan satu HP yang tergeletak di atas kasur, menunggu sebuah nomor yang belum tau kapan bakal muncul?

1
RR
sorry bgt baru bisa update satu bab, karna badan masih belom fit. besok kita gass langsung 3 bab yakk 🔥🔥
RR
sorry banget gaiss update nya malem terus beberapa hari ini, karna lagi kurang fit🙏
RR
siapp suhu, btw saya gaada copas karya orang lain 😁
Gege
padahal setelah 3 hari lebih tapi masih harus 6 harian nunggunya.. otornya kalo copas lupa edit detail
RR
FOR PEMBACA

Jika kalian ada request nama kalian mau saya jadikan salah satu karakter tinggalin aja yaa di kolom komentar, jangan lupa follow dan support terimakasih all buat yg udah stay 😁🙏
rey
kerenn njirrr si Doni😍
Wk Annuar
satu perjalanan yang memperispirasikan buat teladan pemuda
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!