Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat Seorang Suami

“Daddy, ada apa?” tanya Azzam heran. Sejak tadi Bastian hanya terdiam, menatap selembar surat dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Serly yang berada tak jauh dari mereka ikut memperhatikan perubahan wajah Bastian. Beberapa saat lalu Bastian masih terlihat tenang, tetapi kini rahangnya mengeras. Sorot matanya berubah dingin, seolah ada sesuatu yang baru saja menghantam harga dirinya.

“Tidak apa-apa,” jawab Bastian singkat.

Tangannya meremas surat tersebut hingga kusut sebelum akhirnya dilempar ke tempat sampah.

Azzam kembali menggenggam tangan ayahnya.

“Kalau begitu ayo, Daddy. Kita cari Mommy.”

Namun langkah Bastian justru terhenti. Ia menatap putranya sejenak, lalu berjongkok agar wajah mereka sejajar.

“Daddy tidak jadi mencari Mommy hari ini.”

Wajah Azzam langsung berubah murung.

“Kenapa?”

“Daddy punya urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Besok kita cari Mommy bersama-sama, ya.”

“Tapi Daddy janji…”

Bastian mengusap kepala putranya dengan lembut.

“Daddy tidak lupa janji. Hanya saja hari ini Daddy benar-benar punya urusan penting. Kamu masuk sekolah dulu. Daddy akan menyelesaikan semuanya.”

Azzam menundukkan kepala, kecewa. Bastian kemudian berdiri dan menatap Serly.

“Kamu jaga mereka sementara waktu. Jangan biarkan mereka pergi ke mana-mana.”

Serly tersenyum manis.

“Tidak perlu khawatir, Mas. Aku akan menjaga mereka. Bagaimanapun, mereka juga anakku sendiri.”

Serly mendekat dan menyentuh lengan Bastian.

“Semoga Mas segera menemukan Diandra. Aku juga akan berdoa supaya hati Diandra terbuka dan mau kembali ke rumah.”

Bastian hanya mengangguk.

Tanpa banyak bicara, ia mencium pipi kedua anak kembarnya sebelum akhirnya melangkah meninggalkan rumah.

Beberapa menit kemudian, suara mobil Bastian semakin menjauh.

Senyum Serly perlahan menghilang.

Ia berjalan menuju tempat sampah, lalu mengambil surat yang tadi dibuang Bastian.

Begitu membaca isinya, mata Serly membelalak.

“Ya Tuhan…”

Tangannya gemetar, tetapi bukan karena takut.

Surat itu adalah gugatan cerai dari Diandra.

Wanita yang selama ini menjadi penghalang terbesar dalam rencananya akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan Bastian.

“Jadi… akhirnya kamu menyerah juga, Diandra.”

Serly tertawa kecil. Senyum puas menghiasi wajahnya.

“Setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan.”

Ia bahkan melompat kecil karena terlalu bahagia.

“Aku menang!”

“Mama kenapa?” Azzura bertanya polos.

Serly buru-buru menyembunyikan surat tersebut ke dalam tas yang terletak di sofa.

“Tidak ada apa-apa, Sayang. Ayo sarapan. Mama buatkan nasi goreng kesukaan Azzura.”

“Mau!” Azzura tersenyum ceria.

Serly kemudian melirik Azzam yang masih duduk dengan wajah murung.

“Azzam juga mau sarapan?”

Azzam diam.

“Kalau mau makan, Azzam harus minta maaf dulu kepada Mama. Selama ini Azzam sering bersikap kasar kepada Mama.”

Azzam mengangkat wajahnya.

“Azzam nggak mau minta maaf.”

Serly mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena Mama jahat.”

“Azzam!”

“Azzam benar!” Azzam membalas dengan suara lantang. “Mama selalu jahat sama Azzam. Mommy Diandra nggak pernah seperti Mama!”

Azzura langsung berdiri.

“Azzam nggak boleh ngomong gitu sama Mama!”

Ia mendorong tubuh saudara kembarnya.

Azzam yang tersulut emosi hendak membalas, tetapi Serly lebih dulu menarik dan mendorongnya hingga tubuh kecil itu terjatuh.

Bruk!

Azzam meringis ketika tubuhnya membentur lantai. Rasa sakit menjalar dari bagian belakang tubuhnya.

Namun ia segera menahan ekspresinya.

Ia tidak mau menangis di hadapan Serly.

“Azzam!” bentak Serly. “Kamu laki-laki. Jangan pernah kasar kepada perempuan!”

Azzura mengangguk dengan wajah puas.

“Iya. Azzam memang nggak boleh kasar.”

Kemudian ia menjulurkan lidah kepada saudara kembarnya.

“Sekarang nggak ada yang bela Azzam. Mama Serly lebih sayang Azzura daripada Azzam.”

Azzam mengepalkan tangan.

“Azzura…”

“Kenapa? Mau nangis?”

Azzura terkekeh.

“Dulu Mommy Diandra selalu membela Azzam. Sekarang Mommy sudah nggak ada di sini.”

Azzam menundukkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tetap berusaha menahannya.

“Anak laki-laki nggak boleh nangis, kan?” ejek Azzura.

Azzam mengusap matanya dengan kasar.

Di dalam hatinya, hanya ada satu kerinduan.

Ia ingin Mommy Diandra pulang.

Karena baru sekarang Azzam menyadari bahwa rumah tanpa Mommy terasa jauh lebih menakutkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Serly terkekeh pelan sambil mengusap kepala Azzura. Tatapannya kemudian beralih kepada Azzam yang masih duduk diam di lantai.

“Makanya jangan suka melawan Mama. Sekarang kamu bisa lihat sendiri akibatnya. Mama ini ibu kalian. Seharusnya kalian menghormati Mama.”

Azzura mengangguk cepat.

“Iya. Mommy Diandra juga dulu sering jahat sama Azzura.”

Azzam langsung mengangkat wajahnya.

“Jangan bilang begitu! Mommy Diandra nggak pernah jahat sama Azzura.”

Serly menyipitkan mata.

“Azzam, kamu membela Mommy Diandra lagi?”

“Karena memang benar!” jawab Azzam tegas. “Setiap aku dan Azzura bertengkar, Mommy nggak pernah menyakiti Azzura. Mommy juga nggak pernah mendorong Azzura.”

Azzura mendadak terdiam.

Ia mencoba mengingat semua kejadian selama bersama Diandra.

Benar. Setiap kali mereka bertengkar, Diandra tidak pernah membeda-bedakan mereka. Bahkan ketika Azzura yang memulai pertengkaran, Diandra selalu berusaha menenangkan keduanya dan meminta mereka saling meminta maaf.

Namun Serly segera memotong suasana.

“Sudahlah, Azzam. Kamu memang selalu mencari alasan untuk membela Mommy Diandra.”

Serly kemudian memeluk Azzura dari belakang.

“Azzura, jangan dengarkan perkataan kakakmu. Dia hanya iri karena Mama lebih menyayangi Azzura.”

Azzura menatap ibunya.

“Benarkah Mama lebih sayang Azzura?”

“Pasti.”

Serly mencium pipi putrinya.

“Mama lebih sayang Azzura daripada siapa pun. Jadi selama Mama ada di rumah ini, Azzura nggak perlu takut. Mama akan selalu membela Azzura.”

Azzam menatap keduanya dengan dada sesak.

Ia semakin merindukan Diandra.

“Kalau begitu ayo, Sayang. Kita ke dapur. Mama buatkan nasi goreng spesial untuk Azzura.”

“Mau!”

Serly menggenggam tangan Azzura dan membawanya pergi.

Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruang tengah, Serly berhenti dan menoleh kepada dua orang pembantu yang hendak mendekati Azzam.

“Kalian.”

Keduanya langsung berhenti.

“Jangan ada yang mendekati Azzam.”

“Tapi, Bu…”

“Tidak ada tapi-tapi.”

Nada suara Serly berubah tegas.

“Jangan berikan dia makanan, minuman, atau apa pun sebelum dia meminta maaf kepadaku. Kalau ada yang berani melanggar perintahku, kalian tahu sendiri akibatnya.”

Kedua pembantu itu saling pandang dengan ragu.

“Dan satu lagi,” lanjut Serly dingin. “Jangan mencoba menghiburnya diam-diam. Aku tidak mau ada yang membelanya.”

Setelah berkata demikian, Serly kembali menggandeng Azzura menuju dapur.

Azzam tetap terdiam.

Ia menahan air matanya sambil memeluk lutut.

Namun jauh di dalam hatinya, muncul keyakinan yang semakin kuat.

“Mommy pasti akan pulang…”

Karena hanya Diandra yang selama ini membuatnya merasa benar-benar dicintai.

“Baik, Nyonya,” jawab kedua pembantu itu bersamaan sebelum meninggalkan ruang tengah.

Serly kembali menatap Azzam. Ia sempat berharap ancamannya membuat anak itu takut dan akhirnya menuruti perkataannya.

Namun harapannya sia-sia.

Azzam masih duduk di lantai dengan tatapan tajam. Tidak ada rasa takut di wajahnya, hanya luka dan kekecewaan yang berusaha ia sembunyikan.

“Kamu seharusnya belajar dari kesalahanmu sendiri, Azzam,” ujar Serly dingin. “Jangan selalu menyalahkan orang lain.”

Setelah itu, Serly menggenggam tangan Azzura dan membawanya menuju dapur.

Beberapa langkah kemudian, Azzura menoleh.

Tatapannya tertuju pada Azzam yang masih sendirian di ruang tengah.

Ada rasa bersalah yang muncul di hati Azzura. Ia memang senang mendapatkan perhatian dari Mama, tetapi melihat saudara kembarnya sendirian seperti itu membuat hatinya ikut sedih.

“Ayo, Sayang,” panggil Serly.

Azzura akhirnya mengikuti ibunya, meskipun sesekali masih menoleh ke belakang.

Begitu keduanya menghilang dari pandangan, Azzam tidak mampu lagi menahan air matanya.

Butiran bening perlahan jatuh membasahi pipinya.

“Mommy…”

Tangannya mencengkeram ujung kausnya erat-erat.

“Azzam mau ikut Mommy…”

Suaranya bergetar.

“Mommy kapan pulang? Kapan Mommy jemput Azzam?”

Tidak ada jawaban.

Rumah yang biasanya terasa ramai kini justru terasa begitu sepi.

Azzam menundukkan kepala. Bahunya bergetar menahan tangis.

Ia berusaha menangis tanpa suara. Bukan karena tidak ingin menangis, melainkan karena sejak tadi ia terus mendengar bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis.

Namun sebenarnya, Azzam hanya ingin menangis di hadapan satu orang.

Mommy Diandra.

Diandra tidak pernah membuatnya malu ketika menangis.

Ketika Azzam terluka atau ketakutan, Diandra selalu memeluknya erat.

“Tidak apa-apa kalau Azzam menangis,” begitu yang selalu dikatakan Mommy.

“Menangis bukan berarti Azzam lemah. Azzam tetap anak hebat.”

Kenangan itu justru membuat tangis Azzam semakin pecah.

Ia memeluk lututnya sendiri.

“Mommy…”

Azzam mengusap air matanya, tetapi air mata berikutnya kembali jatuh.

“Sekarang nggak ada Mommy…”

Untuk pertama kalinya, Azzam benar-benar merasakan betapa kehilangan sosok ibunya.

Tidak ada pelukan hangat.

Tidak ada suara lembut yang menenangkannya.

Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya ketika ia menangis.

Dan di tengah rumah yang begitu besar, Azzam merasa dirinya sendirian.

Ia hanya berharap satu hal.

Semoga Mommy Diandra segera pulang dan membawanya pergi dari rumah yang tidak lagi terasa seperti rumah.

Kedatangan Bastian kali ini bukan untuk urusan perusahaan.

Ia datang karena satu nama.

Sean.

Pria yang menurutnya mungkin mengetahui sesuatu tentang Diandra.

“Victor! Kamu sedang menangani masalah apa dengan pria itu?”

Seseorang berjalan cepat menuju ruang kerja Victor. Pria berusia sekitar empat puluh tahun itu terlihat jauh lebih tegang dari biasanya.

Begitu pintu terbuka, Saga langsung merasa sedikit lega ketika melihat Victor masih berada di ruangannya. Biasanya pengacara muda itu lebih sering berada di luar kantor karena harus menemui klien.

Victor yang sedang membaca dokumen segera mengangkat wajah.

“Pak Saga?”

“Kamu punya masalah apa dengan Pak Bastian?”

Victor mengernyit.

“Bastian siapa?”

Saga menatapnya tidak percaya.

“Siapa lagi kalau bukan Bastian suami Bu Diandra?”

Victor terdiam.

Nama itu membuatnya berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengingat hubungan pria tersebut dengan salah satu kasus yang sedang ditanganinya.

“Suami Diandra?”

“Kamu mengenal istrinya?”

“Tentu. Bu Diandra datang kepada saya untuk mengurus proses perceraiannya. Saya yang menjadi kuasa hukumnya.”

Saga langsung membeku.

Wajahnya berubah pucat.

Tangannya refleks memegang dada.

“Pak Saga?”

Victor buru-buru berdiri dan menghampirinya.

“Bapak kenapa? Jangan bilang Bapak sakit jantung!”

Saga langsung menepis tangan Victor.

“Kamu ini! Jangan sembarangan bicara!”

“Lalu kenapa wajah Bapak seperti baru melihat hantu?”

Saga menatap Victor dengan kesal.

Bukan karena Victor salah menangani kasus, melainkan karena ia baru mengetahui siapa klien yang sedang dibela pengacara andalannya.

Selama hampir dua tahun berprofesi sebagai pengacara, Victor dikenal sebagai salah satu pengacara terbaik mereka. Hampir tidak ada perkara besar yang gagal ia tangani. Ia cerdas, teliti, dan selalu memiliki strategi untuk menghadapi masalah klien.

Namun kali ini Saga benar-benar berharap Victor tidak pernah mengambil perkara tersebut.

“Kenapa kamu bisa menerima kasus Diandra?” tanya Saga dengan suara tertahan.

Victor bingung.

“Memangnya ada masalah?”

“Dia itu istri Bastian! Orang yang paling ditakuti di kota ini.”

Victor terdiam.

“Dan kamu tahu siapa keluarga mereka?”

Saga mengusap wajahnya.

“Perusahaan mereka bukan sekadar klien biasa . Kalau sampai Bastian merasa tersinggung, kerja sama yang sudah kita bangun bertahun-tahun bisa berantakan.”

Victor baru menyadari besarnya persoalan.

Selama ini ia memang mengetahui Bastian sebagai pengusaha besar dan pewaris keluarga. Ia juga tahu Bastian berhasil jadi orang sukses di kota ini dan menjadi salah satu perusahaan yang sangat disegani.

Namun Victor tidak pernah menyangka pengaruh keluarga itu begitu besar terhadap tempatnya bekerja.

“Saya tidak tahu kalau masalahnya sampai sejauh itu, Pak.”

“Sekarang kamu tahu.”

Saga menarik napas panjang.

“Dan sekarang kamu harus menyelesaikannya.”

Victor mengerutkan kening.

“Menyelesaikan bagaimana?”

“Temui Pak Bastian. Jelaskan semuanya dengan baik.”

Saga menunjuk ke arah pintu.

“Jangan membawa-bawa nama saya atau nama tempat kita bekerja. Kalau memang perlu, kamu minta maaf dan jelaskan bahwa kamu tidak bermaksud menyinggung beliau.”

Victor terdiam.

“Lalu bagaimana dengan kasus Bu Diandra?”

Saga menghela napas berat.

“Itu yang harus kamu pikirkan. Tapi jangan membuat masalah ini menjadi lebih besar.”

Victor mengangguk pelan.

“Baik.”

Saga memijat pelipisnya. Selama ini ia begitu percaya kepada Victor sampai jarang mempertanyakan perkara yang ditanganinya.

Namun kali ini kepercayaan itu hampir membuatnya kehilangan akal sehat.

“Pak Bastian sekarang di mana?” tanya Victor.

“Di ruanganku.”

Victor hendak melangkah keluar, tetapi Saga segera menahannya.

“Dan satu lagi.”

“Apa, Pak?”

“Jangan panggil dia hanya dengan nama.”

Victor mengangkat alis.

“Panggil Pak Bastian.”

Victor tersenyum tipis.

“Bapak benar-benar segan kepada beliau.”

“Saya bukan takut.”

Saga menatapnya serius.

“Saya hanya ingin tempat ini tetap berdiri dan berkembang selama bertahun-tahun. Pak Bastian sudah banyak membantu kita. Jadi jangan sampai satu perkara membuat hubungan profesional kita hancur.”

Victor menghela napas.

“Baiklah, Pak. Saya akan bicara dengan Pak Bastian.”

“Bagus.”

Victor berjalan keluar.

Namun baru beberapa langkah, Saga kembali memanggilnya.

“Victor!”

Victor menoleh.

“Lain kali, sebelum menerima perkara yang berpotensi melibatkan orang sebesar Bastian , setidaknya beri tahu saya dulu!”

Victor tertawa kecil.

“Iya, Pak. Saya mengerti.”

Saga hanya bisa menggeleng.

Sementara di dalam ruangannya, Bastian masih menunggu.

Dan kali ini, Victor harus berhadapan langsung dengan pria yang namanya selama ini hanya ia kenal dari pemberitaan bisnis.

“Memangnya selama ini Pak Saga pernah bertanya kepadaku?” Victor balik bertanya. “Tidak, kan?”

Saga terdiam sesaat. Ia tahu Victor benar.

“Sudahlah. Pokoknya sekarang temui Pak Bastian.”

Victor menghela napas panjang. Mau tidak mau ia mengikuti keinginan atasannya.

Mereka berjalan menuju ruang direktur. Saga sengaja ikut karena ingin menjelaskan sendiri kepada Bastian bahwa dirinya tidak terlibat dalam perkara perceraian Diandra yang ditangani Victor.

Sesampainya di depan pintu, Victor baru saja hendak memutar kenop ketika Saga menahan tangannya.

“Tarik napas dulu.”

Victor menoleh heran.

“Kamu tahu siapa yang ada di dalam? Kamu mau berhadapan dengan Pak Bastian. Jadi, tolong pikirkan baik-baik sebelum bicara.”

Victor mendengus.

“Saya tidak takut kepadanya.”

“Saya tahu. Kamu memang tidak pernah takut kepada siapa pun.”

Saga menatapnya serius.

“Tapi kali ini jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Pikirkan juga semua orang di tempat ini. Kalau kamu salah bicara dan membuat Pak Bastian tersinggung, hubungan kita dengan mereka bisa berantakan.”

Victor tidak menjawab.

Ia langsung membuka pintu.

Begitu masuk, pandangannya tertuju pada kursi direktur yang membelakangi mereka. Kursi itu berada tepat di depan jendela kaca besar.

Beberapa detik kemudian, kursi tersebut perlahan berputar.

Tatapan Victor langsung bertemu dengan sepasang mata tajam milik Bastian.

Ruangan seketika terasa sunyi.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Keduanya hanya saling menatap, seolah sedang mengukur siapa yang akan lebih dulu mengalah.

Justru Saga yang merasa semakin gugup.

Ia segera berdeham.

“Pak Bastian, ini Victor. Saya sudah berbicara dengannya sebentar. Saya baru mengetahui bahwa Victor ternyata menjadi kuasa hukum Bu Diandra dalam proses perceraian Anda.”

Saga berusaha tersenyum seramah mungkin.

“Saya mohon maaf jika ada kesalahpahaman. Saya sendiri tidak mengetahui perkara ini sebelumnya.”

Bastian mengalihkan pandangan kepada Saga.

“Saya ingin berbicara berdua dengan bawahan Anda.”

Saga langsung mengangguk.

“Baik, Pak. Saya permisi.”

Saga berbalik dan keluar dari ruangan.

Pintu tertutup.

Kini hanya ada Bastian dan Victor.

Selama beberapa detik, mereka kembali terdiam.

Victor akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan.

“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Pak Bastian?”

Bastian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Sebuah pena diputar perlahan di antara jemarinya, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Victor.

“Kita pernah bertemu?”

Victor mengernyit.

“Seingat saya, belum pernah.”

Bastian mengangguk kecil.

“Entah kenapa wajahmu terasa tidak asing.”

Ia menunjuk kursi di hadapannya.

“Duduklah, Pak Victor.”

Victor menarik kursi lalu duduk di seberang meja.

Bastian tidak membuang waktu.

“Saya tidak suka basa-basi.”

Pena di tangannya berhenti bergerak.

“Di mana istri saya?”

Victor menatapnya tenang.

“Bu Diandra?”

Bastian mengangkat alis.

“Tentu saja Diandra. Saya hanya memiliki satu istri.”

Victor tersenyum tipis.

“Saya kira Anda sudah bercerai dengan istri pertama Anda.”

Rahang Bastian langsung mengeras.

Ia tahu betul kalimat itu bukan sekadar pertanyaan.

Victor sedang menyindirnya.

“Maaf kalau ucapan saya menyinggung Anda,” ujar Victor santai. “Tapi Bu Diandra pernah mengatakan kepada saya bahwa Anda masih memiliki urusan dengan masa lalu Anda.”

Jari Bastian mengetuk permukaan meja.

Tok. Tok. Tok.

Tatapannya semakin tajam.

“Dari cara bicaramu, saya semakin yakin kamu mengetahui keberadaan istri saya.”

Victor menyipitkan mata.

“Saya tidak menyembunyikan Diandra.”

“Lalu apa alasanmu menangani perceraiannya?”

“Karena dia datang sebagai klien. Sesederhana itu.”

Bastian bersandar.

“Tidak ada alasan lain?”

“Tidak ada.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Meskipun Bastian tidak melakukan apa pun, tekanan dari tatapannya membuat tenggorokan Victor terasa kering.

“Bagaimana kamu bisa menjadi pengacara istri saya?”

Victor menarik napas.

“Sean yang mengenalkan Diandra kepada saya. Selain urusan hukum, saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Bu Diandra.”

Tatapan Bastian berubah sedikit.

“Sean?”

Victor mengangguk.

“Kalau Anda benar-benar ingin menemukan Diandra, sebaiknya tanyakan langsung kepada Sean. Mungkin dia tahu di mana keberadaan istri Anda.”

Bastian terdiam.

Nama Sean membuat pikirannya berhenti pada satu kemungkinan.

Jika Victor benar, mungkin selama ini ia mencari orang yang salah.

Dan untuk pertama kalinya, Bastian mulai mempertimbangkan bahwa Sean mungkin menyimpan sesuatu tentang kepergian Diandra.

Victor sebenarnya tidak bermaksud menyeret Sean ke dalam persoalan tersebut. Namun, sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan.

Jika Bastian mulai mencurigainya, Victor harus mengarahkan kecurigaan pria itu kepada Sean.

Bagaimanapun caranya, Bastian tidak boleh mengetahui sedikit pun bahwa Diandra sedang berada di tempat yang aman bersama orang-orang yang dipercaya Victor.

“Ada lagi yang ingin Anda bicarakan?” tanya Victor. “Kalau tidak, saya harus pergi. Masih banyak perkara yang harus saya selesaikan, bukan hanya masalah rumah tangga Anda.”

Bastian tidak menjawab.

Victor menunggu beberapa menit, tetapi pria itu tetap diam. Akhirnya Victor berdiri dan berjalan menuju pintu.

Tangannya baru saja menyentuh kenop ketika suara Bastian terdengar.

“Terburu-buru sekali. Padahal saya belum selesai bicara.”

Victor menghela napas.

“Saya sedang sibuk.”

“Melarikan diri justru membuatmu terlihat semakin mencurigakan.”

Victor berhenti.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun menjadi pengacara, emosinya benar-benar terpancing.

Ia berbalik dan menatap Bastian.

“Sudah berapa kali saya katakan? Saya tidak menyembunyikan istri Anda.”

Victor menunjuk ke arah pintu.

“Kalau Anda tidak percaya, silakan periksa sendiri apartemen saya, rumah saya, atau tempat lain yang saya miliki. Saya tidak keberatan.”

Biasanya cara tersebut cukup ampuh. Ketika seseorang menuduhnya menyembunyikan sesuatu, Victor hanya perlu memberikan izin untuk memeriksa. Hampir selalu tuduhan itu berhenti dengan sendirinya.

“Bagaimana, Pak Bastian?” Victor menatapnya tajam. “Anda masih menganggap saya menyembunyikan Diandra?”

Bastian tidak menjawab.

Keheningan berlangsung cukup lama.

Victor akhirnya menghela napas dan kembali membuka pintu.

Namun suara Bastian sekali lagi menghentikannya.

“Kebetulan hari ini jadwal saya tidak terlalu padat.”

Victor perlahan menoleh.

Bastian berdiri dari kursinya.

“Tadi kamu sendiri yang menawarkan saya untuk memeriksa rumah dan apartemenmu.”

Tatapan pria itu tenang, tetapi justru membuat Victor semakin tidak nyaman.

“Kalau begitu, dengan senang hati saya akan berkunjung.”

Victor membeku.

Sial.

Ia menyesal sudah menantang Bastian.

Kalau sekarang ia menghubungi orang-orang di rumah dan meminta Diandra pergi, Bastian justru akan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Sementara itu, di tempat lain, Diandra sama sekali tidak mengetahui masalah yang sedang terjadi.

“Wah, ternyata kamu pandai membuat kue.”

Elisa tersenyum sambil mengambil sepotong brownies yang baru saja matang.

“Tidak pandai juga, Tante. Saya cuma bisa sedikit-sedikit.”

Elisa menggigit brownies itu dan langsung mengangguk puas.

“Enak sekali.”

Ia mengambil satu potong lagi.

“Kamu sendiri belum mencobanya, kan?”

Elisa menyodorkan brownies ke arah Diandra.

“Coba.”

Diandra tertawa kecil lalu menerima potongan tersebut.

“Enak, kan?”

Diandra mengangguk.

“Enak banget. Tapi Tante juga ikut membuatnya. Kalau bukan karena tangan ajaib Tante, brownies ini mungkin tidak akan seenak ini.”

Elisa tertawa.

“Kamu ini pintar sekali mengambil hati orang tua.”

Keduanya kemudian tertawa bersama.

Elisa memandang Diandra dengan penuh kasih.

“Tante senang kamu ada di sini.”

Diandra tersenyum.

“Memangnya selama ini Tante sendirian?”

Elisa mengangguk pelan.

“Dulu rumah ini lebih ramai. Tapi Vincent sibuk bekerja, sedangkan Vernon sedang kuliah semester lima. Katanya tugasnya banyak sekali. Dia bahkan lebih sering menginap di apartemennya dan biasanya baru pulang saat akhir pekan.”

Diandra terdiam sejenak.

“Kalau suami Tante?”

Senyum Elsa sedikit meredup.

“Suami Tante sudah meninggal.”

“Maaf, Tante. Saya tidak tahu.”

“Tidak apa-apa.”

Elisa menarik napas panjang.

“Beliau meninggal satu tahun lalu karena kecelakaan. Sejak saat itu rumah ini terasa jauh lebih sepi.”

Diandra menundukkan kepala.

“Turut berduka cita, Tante.”

Elisa tersenyum tipis.

“Begitulah hidup. Ada orang yang datang, lalu ada pula yang harus pergi.”

Ia menatap Diandra lembut.

“Seberapa besar pun kita mencintai seseorang, kita tidak bisa memaksa mereka untuk selamanya berada di sisi kita.”

Kalimat itu membuat Diandra terdiam.

Ada sesuatu yang terasa menekan dadanya.

“Sekarang saya semakin yakin dengan keputusan saya untuk bercerai dari Mas Bastian.”

Suara Diandra terdengar pelan, tetapi mantap.

“Saya ingin memulai kehidupan baru. Saya ingin membuka lembaran yang benar-benar baru dan belajar melepaskan semua yang sudah terjadi.”

Elisa menggenggam tangannya.

“Kalau itu membuatmu lebih bahagia, Tante akan mendukungmu.”

Diandra tersenyum, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.

“Saya tahu merelakan Mas Bastian tidak akan mudah. Bagaimanapun, kami pernah saling mencintai.”

Ia mengusap sudut matanya.

“Tapi mungkin memang kami tidak berjodoh.”

Diandra menarik napas panjang.

“Mungkin jodoh Mas Bastian memang orang dari masa lalunya. Saya hanya perlu menerima kenyataan itu dan belajar menjalani hidup tanpa dirinya.”

Diandra tidak tahu, di saat dirinya sedang berusaha menerima perpisahan, Bastian justru sedang mencari keberadaannya dengan segala cara.

Dan tanpa ia sadari, langkah Bastian mulai semakin dekat.

Tanpa mereka sadari, di ruangan lain, Diandra yang mendengar suara Bastian langsung membeku.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Suara itu terlalu ia kenal.

Bastian telah menemukannya.

Bastian menatap Elisa sekilas sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.

Sesaat, tatapannya sempat berhenti pada wajah wanita paruh baya itu. Ada sesuatu yang terasa aneh. Mata Elisa mengingatkannya pada seseorang.

Diandra.

Kemiripan itu hanya berlangsung sekilas, sehingga Bastian memilih mengabaikannya. Tujuannya datang ke rumah tersebut hanya satu: menemukan istrinya.

“Kenapa Anda begitu yakin Diandra ada di sini?” tanya Elisa sambil berjalan di sampingnya.

Sean berada beberapa langkah di belakang mereka. Tatapannya bergerak ke berbagai sudut ruangan, berharap Diandra sudah menyadari kedatangan Bastian dan berhasil mencari tempat untuk bersembunyi.

Jika Bastian sampai menemukan Diandra, rencana mereka untuk memberikan Diandra waktu menenangkan diri akan berantakan.

“Insting,” jawab Bastian singkat.

Ia terus mengamati sekeliling rumah.

“Entah kenapa sejak tadi saya merasa Diandra ada di tempat ini.”

Elisa tersenyum tipis.

“Kalau begitu, silakan cari sendiri. Tante akan menunggu di sini.”

Elisa berhenti berjalan.

Bastian ikut menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu beberapa saat. Namun ia segera mengalihkan pandangan dan kembali melanjutkan pencarian.

Sebelum datang ke rumah tersebut, Bastian memang sudah lebih dulu mendatangi apartemen Sean.

Hasilnya nihil.

Tidak ada Diandra.

Ia bahkan sudah memeriksa beberapa ruangan, tetapi istrinya tidak ditemukan.

Karena itu, Bastian semakin yakin bahwa jawabannya mungkin berada di rumah keluarga Sean.

Ia berjalan menuju bagian samping rumah.

Sean mengikutinya dari belakang dengan jantung berdebar.

Ketika sampai di taman, tiba-tiba Bastian berhenti.

Sean hampir menabraknya.

“Kenapa, Pak?”

Bastian justru tersenyum samar.

“Saya minta maaf.”

Victor mengerutkan kening.

“Untuk apa?”

“Karena sudah menuduhmu menyembunyikan istri saya.”

Bastian menatap taman di hadapannya.

“Sekarang saya yakin Diandra tidak berada di sini.”

Sean masih memandangnya dengan curiga.

“Padahal Anda belum memeriksa seluruh bagian rumah.”

“Tidak perlu.”

Bastian menggeleng.

“Entah kenapa saya yakin dia memang tidak ada di sini.”

Sean tidak menjawab.

Bastian kemudian menatapnya.

“Kalau suatu hari kamu bertemu Diandra, tolong sampaikan sesuatu.”

“Apa?”

Bastian terdiam sejenak.

“Saya merindukannya.”

Kalimat sederhana itu justru terdengar jauh lebih berat daripada kemarahan yang sebelumnya ia tunjukkan.

“Saya ingin dia pulang.”

Tanpa menunggu jawaban Victor, Bastian berbalik dan berjalan meninggalkan taman.

Victor segera mengikutinya.

Begitu suara langkah mereka semakin menjauh, suasana kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian, seseorang perlahan muncul dari balik tembok di sisi taman.

Diandra menghela napas panjang sambil menekan telapak tangan ke dadanya.

“Ya Tuhan…”

Jantungnya masih berdegup begitu kencang.

“Untung Mas Bastian nggak melihatku.”

Ia memejamkan mata sejenak.

Namun kalimat terakhir Bastian terus terngiang di kepalanya.

Saya merindukannya.

Diandra menggigit bibir.

Untuk pertama kalinya sejak pergi dari rumah, hatinya kembali diliputi keraguan.

Apakah keputusan untuk meninggalkan Bastian benar-benar akan semudah yang ia bayangkan?

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!