Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Ancaman Kartu As dan Kepanikan Sang Ular
Suara kran air shower yang mengucur deras bergema di dalam kamar mandi mewah unit apartemen lantai paling atas itu.
Valerie berdiri mematung di bawah guyuran air hangat, menggosok kulit leher dan leher belakangnya menggunakan sabun mandi cair berbahan dasar mawar secara berulang-ulang hingga kulit mulusnya memerah memar. Bau sengatan busuk dari telur yang disiramkan Natasha pagi tadi seolah-olah masih menempel pekat di pori-pori kulit dan benak pikirannya.
"Bocah sialan! Anak iblis kurang ajar!" jerit Valerie histeris sembari memukulkan kedua tangannya ke dinding keramik shower.
Airmata kemurkaan dan rasa malu mengalir menyatu dengan guyuran air. Bayangan tatapan jijik para tetangga apartemen, jepretan kamera ponsel orang-orang di area parkir, serta tarikan tanpa ampun di rambut sambungannya terus membakar dada Valerie dengan rasa dendam yang amat sangat membara.
"Kau akan tahu akibatnya karena telah mempermalukan aku di depan umum, Natasha! Aku pastikan papamu akan membencimu dan membuangmu seumur hidup!" cerocos Valerie dengan gigi bergemeletukkan, napasnya memburu dipenuhi amarah yang bergejolak hebat.
Setelah membungkus tubuhnya dengan bathrobe sutra tebal dan mengeringkan rambutnya secara kasar, Valerie melangkah keluar menuju ruang tengah. Wajah mewahnya yang biasanya dipoles cantik kini tampak pucat pasi, lebam di pipi kiri akibat gesekan semen parkiran, dan matanya merah bengkak.
Dia menyambar gelas anggur merah dari atas meja pantry, menukiknya sekaligus ke dalam kerongkongan untuk menenangkan sarafnya yang bergetar hebat.
Ting!
Suara denting nada pemberitahuan pesan masuk bergema nyaring dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas sofa.
Valerie menyipitkan matanya, mengira itu adalah pesan dari Baskara yang mengabarkan bahwa pria itu telah menghajar atau menghukum Natasha di rumah. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponsel tersebut dan membuka layar terkunci.
Namun, pesan itu bukan berasal dari kontak nama Baskara. Pesan itu dikirimkan oleh sebuah nomor baru yang tidak dikenal.
Valerie menekan balon pesan tersebut. Seketika, matanya membelalak lebar saat membaca rentetan kalimat yang tertera di sana:
*"Gimana rasanya dipermalukan di depan umum? Enak tidak rasa telur busuknya?
Itu baru permulaan, perempuan gatal yang tidak tahu diri. Aku akan membuatmu gila setiap hari dan membuatmu trauma seumur hidup karena telah lancang berurusan dengan yang namanya Natasha Dirgantara.
Papaku memang terlalu bodoh karena terlalu percaya pada perempuan gila harta sepertimu. Tapi ingat baik-baik, Valerie... Kartu As milikmu sudah ada di tanganku seutuhnya. Aku tahu persis kenapa kau mendadak kembali ke Indonesia dan merayu Papaku lagi. Dan aku akan membongkar seluruh kebusukan masa lalumu itu ke hadapan publik dan Papaku di waktu yang paling tepat.
Selamat menikmati mimpi burukmu.
Deg!
Darah di dalam tubuh Valerie seketika terasa berhenti mengalir. Tubuhnya kaku membeku bagai patung di tengah ruang tengah yang luas.
Gelas anggur kristal yang berada di genggaman tangan kirinya meluncur bebas, PRANG!, hancur berkeping-keping di atas lantai marmer, memercikkan cairan merah pekat yang menyerupai darah.
Namun Valerie bahkan tidak tersentak oleh suara pecahan kaca itu. Seluruh kesadarannya lumpuh oleh rasa shock dan ketakutan yang teramat sangat mendalam.
"T-tidak... Tidak mungkin..." bisik Valerie gagap, suaranya tercekat di tenggorokan. Ponsel di tangannya bergetar hebat seiring dengan genggaman tangannya yang membeku dingin.
Gigi Valerie berlatukan. Keringat dingin seketika membasahi dahi dan pelipisnya.
"Tidak mungkin bocah sialan itu tahu tentangku... Tidak ada seorang pun di negara ini yang tahu rahasia itu!" jerit Valerie dalam hatinya, matanya bergerak-gerak panik mengawasi sekeliling ruangan yang sepi.
Valerie tidak pernah membayangkan sedikit pun bahwa di balik sosok Natasha yang tampak seperti remaja SMA biasa yang emosional, gadis muda itu menyimpan kecerdasan dan akses jaringan yang berbahaya.
Tanpa pernah disadari oleh Valerie, Baskara, atau siapa pun di dalam keluarga Dirgantara, Natasha telah menyewa jasa detektif swasta independen kelas atas dari luar negeri sejak pertama kali nama "Valerie" muncul kembali di kehidupan papanya. Natasha menyisihkan uang tabungan pribadinya untuk menggali setiap jejak digital, rekam jejak keuangan, hingga alasan sebenarnya mengapa Valerie mendadak diusir dari Singapura dan memilih merayap kembali memburu harta Baskara di Indonesia.
Dan rahasia kotor di masa lalu Valerie itulah yang kini menjadi senjata pemungkas di tangan Natasha sebuah bom waktu yang siap diledakkan kapan saja untuk menghancurkan hidup Valerie sampai ke akar-akarnya.
Rasa panik yang luar biasa kini menguasai pikiran Valerie. Amarah dan niatnya untuk mengadu serta menuntut keadilan pada Baskara seketika menguap, berganti menjadi ketakutan mutlak akan kehancuran dirinya sendiri.
Valerie berjalan bolak-balik di atas lantai marmer dengan langkah kaki yang kacau. Jemarinya meremas rambutnya sendiri yang masih setengah basah.
"Kalau bocah iblis itu sampai membongkar rahasia itu pada Baskara sebelum aku mendapatkan harta dan Baskara... aku akan hancur!" batin Valerie berteriak panik. "Baskara tidak akan pernah memaafkanku! Aku tidak cuma akan ditendang keluar, tapi Baskara bisa memasukkanku ke penjara!"
Valerie mengepalkan tangannya, memejamkan mata rapat-rapat mencoba memutar otaknya yang sedang dipenuhi paranoia.
dia sadar, dia tidak bisa lagi bersikap pasif atau sekadar mengandalkan rengekkan manja pada Baskara. Natasha telah membuktikan bahwa gadis itu adalah ancaman nyata yang tidak takut pada hukum maupun skandal.
"Aku tidak bisa diam saja!" desis Valerie dengan mata berkilat tajam dipenuhi keputusasaan yang berbahaya. "Sebelum bocah sialan itu sempat bergerak membongkar masa laluku, aku harus bertindak lebih cepat.
Valerie mengepalkan tangannya, memejamkan mata rapat-rapat mencoba memutar otaknya yang sedang dipenuhi paranoia.
Dia sadar betul, selama ini dia hanya menggunakan rayuan manis, drama air mata, dan kebohongan mulut saja. Baskara memang menyayanginya dan memberinya apartemen serta mobil mewah, namun Baskara belum pernah menyentuhnya secara intim. Baskara selalu menjaga jarak moral karena merasa masih terikat pernikahan dengan Kinanti dan menghormati statusnya sebagai kepala keluarga.
"Baskara belum sepenuhnya milikku..." bisik Valerie dengan napas memburu, matanya berkilat tajam dipenuhi niat jahat yang nekat. "Selama aku belum memegang kendali atas tubuh dan gairahnya, posisi aku sangat lemah! Aku harus membuat Baskara tidak bisa lepas lagi dariku hari ini juga.
Rencana licik dan jebakan haram mendadak terpikirkan di kepala wanita ular itu.
"Bocah sialan itu pikir dia bisa mengancamku?" desis Valerie sinis dengan senyuman iblis di wajahnya yang lebam. "Aku akan memancing Papamu datang ke sini malam ini juga, dan aku akan memastikan Papamu bertekuk lutut di atas ranjangku tanpa bisa menghindar lagi!"
Valerie merogoh ponselnya kembali, jemarinya menekan nomor kontak Baskara dengan panik, menyiapkan sandiwara raungan tangisannya.
Sementara itu, di kantor pusat Dirgantara Group.
Suasana di dalam ruang kerja presiden direktur terasa sangat membeku dan mencekam. Baskara duduk di kursi kebesarannya di balik meja kayu mahoni yang megah. Jas kerjanya dilepas, lengan kemejanya digulung hingga siku, dan sepasang matanya yang merah menatap kosong ke arah pemandangan gedung-gedung pencakar langit di luar jendela.
Kalimat-kalimat dari Kinanti dan Natasha tadi pagi terus berputar-putar tanpa henti di dalam kepalanya, menghantam egonya bagai pukulan palu yang tiada henti.
Panggilan "Ibu" dari Natasha untuk Kinanti...
Ancaman membakar mobil dari Natasha...
Dan kalimat keikhlasan yang diucapkan Kinanti dengan senyuman dingin...
Semua itu membuat Baskara merasa sangat asing, kalah, dan terpojok. Untuk pertama kalinya dalam hidup, pria berkuasa itu merasa kehilangan kendali penuh atas keluarganya sendiri.
Ting! Ting! Ting!
Ponsel di atas meja kerja Baskara bergetar nyaring. Nama Valerie kembali tertera di layar.
Baskara memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang yang terasa sangat berat sebelum akhirnya menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Halo, Valerie..." panggil Baskara dengan suara rendah dan sarat akan kelelahan batin.
"BASKARA! TOLONG AKU, BAS! TOLONG AKU!" suara raungan histeris dan tangisan berderai dari Valerie seketika meledak di seberang telepon, memecah keheningan ruangan.
"Valerie? Ada apa lagi? Bisakah kau tenang sedikit?" tanya Baskara pusing, memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Bagaimana aku bisa tenang, Bas?!" ratap Valerie dengan nada suara yang dibuat seolah-olah berada di puncak trauma dan ketakutan mendalam. "Anakmu... Natasha... dia baru saja mengirim pesan ancaman padaku! Dia bilang dia tidak akan berhenti sampai aku gila dan mati! Dia mengancam akan menyewa orang jahat untuk mencelakakanku di apartemen ini!"
Baskara menggeram pelan, mengusap wajahnya kasar. "Natasha memang keterlaluan, tapi dia cuma meluapkan amarah remajanya, Val. Jangan terlalu diambil hati—"
"Jangan diambil hati kau bilang?!" jerit Valerie memotong kalimat Baskara. "Wajahku lebam, Bas! Tubuhku gemetar trauma karena diserang secara fisik! Aku takut berada di sini sendirian, Bas... Aku mohon, datanglah ke apartemen malam ini... Luangkan waktumu sebentar saja untuk menenangkanku... Kalau kau tidak datang, aku bisa gila karena ketakutan..."
Baskara terdiam sejenak. Rasa bersalah karena merasa tidak bisa melindungi Valerie dari amarah Natasha beradu dengan rasa lelahnya pada konflik rumah tangga.
"Baiklah..." desah Baskara akhirnya mengalah. "Malam ini setelah selesai urusan kantor, aku akan datang ke apartemenmu untuk menenangkanmu. Tapi tolong bersikaplah tenang."
"Terima kasih, Bas... Aku menunggumu..." bisik Valerie dengan nada suara yang lembut, sedih, dan memelas.
Klik!
Sambungan telepon terputus.
Di unit apartemennya, Valerie seketika menghentikan tangisan palsunya. Senyuman licik beracun terkembang lebar di wajah mewahnya. Dia menyapu air mata bohongannya, lalu melangkah menuju lemari kecil di sudut kamar mandi tempat ia menyimpan sebuah botol kecil berisi cairan obat perangsang dosis tinggi yang pernah ia beli secara ilegal dari pasar gelap.
"Datanglah, Baskara..." bisik Valerie penuh kepuasan yang kejam. "Malam ini, dengan satu tetes obat ini di minumanmu, kau akan menyerahkan seluruh tubuh dan hartamu padaku... Dan anak kesayanganmu itu tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi untuk menyelamatkanmu!"
🤣🤣🤣