Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:342.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut

Vivian menggenggam setir sambil sesekali melirik jam di dashboard. Presentasi koleksi terbarunya berjalan lancar. Kontrak dengan brand internasional pun tinggal menunggu tanda tangan.

"Akhirnya... semua kerja kerasku terbayar."

Senyum tipis terukir di bibirnya. Ponsel di dasbor bergetar sebentar. Notifikasi biasa dari grup kerja, tapi ia mengabaikannya. Fokusnya tetap ke depan. Hujan deras membuat jalan licin, jarak pandang menyusut.

Dari arah berlawanan, sebuah truk besar mendadak oleng.

"Astaga!"

Tiiinnn...!

Vivian refleks membanting setir. Ban mobil kehilangan traksi di atas aspal yang basah.

Sreeet! Mobil berputar tak terkendali.

"Ya Tuhan...!"

BRAK!

Pembatas jembatan hancur diterjang mobilnya. Dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur bebas ke arah sungai yang arusnya sedang deras.

"TIDAAAAKKK!"

BYURR!

Air langsung masuk ke dalam kabin. Vivian berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa.

Sabuk pengaman. Tangannya gemetar saat mencoba menekan penguncinya.

Klik.

Sabuk terlepas. Ia mendorong pintu sekuat tenaga. Tetap tidak bergerak. Tekanan air dari luar membuat pintu seolah terkunci rapat. Napasnya mulai memburu.

"Gak... Aku belum mau mati. Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak mimpi yang belum kucapai."

Air terus naik hingga menutupi dagunya. Vivian memukul kaca jendela berkali-kali.

Brak!

Brak!

Brak!

Sia-sia. Pandangannya mulai kabur. Dadanya terasa seperti terbakar karena kehabisan udara.

"Tidak...”

"Aku belum nikah..."

"Aku gak mau mati perawan..."

Gelembung udara akhirnya menutup bibirnya. Tubuhnya melemah. Kelopak mata menutup. Gelap dan dingin menyelimuti.

Ada jeda. Sesuatu seperti vakum. Kesunyian penuh tekanan. Lalu tubuhnya seolah dicabut dari kegelapan.

Vivian membuka mata dengan susah payah. Masih ada air. Tetapi aneh, ia tidak lagi berada di dalam mobil. Arus sungai tetap deras menyeret tubuhnya.

"A-apa...?"

Air yang dingin menyesakkan dadanya. Vivian meronta. Matanya terbuka lebar, tetapi yang terlihat hanya air keruh yang terus menyeret tubuhnya. Dadanya terasa seperti akan meledak karena kehabisan napas.

"Bukankah... aku udah mati?"

"Apa tadi cuma pingsan?"

"Kalau aku udah mati... Lalu sekarang, aku berada di mana?"

Belum sempat memahami keadaan, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat.

Vivian spontan meraih lengan pria itu, sementara kesadarannya masih dipenuhi pertanyaan.

Tubuhnya ditarik ke atas. Sesaat kemudian kepalanya muncul ke permukaan.

"Hosh...!"

"Uhuk-! Uhuk-! Uhuk-!"

Vivian terbatuk-batuk hebat. Air memenuhi mulut dan hidungnya hingga membuat dadanya terasa perih.

"Tarik! Sedikit lagi!"

Beberapa orang ikut membantu pria yang memegang lengannya. Anehnya, mereka tampak kesulitan.

"Ayo! Berat banget!"

"Pegang yang kuat!"

Vivian mengernyit bingung. "Kenapa mereka kelihatan susah banget narik aku? Memangnya berat badanku seratus kilo?"

Dengan susah payah akhirnya tubuhnya berhasil diangkat ke tepian sungai. Vivian masih terbatuk sambil memuntahkan air yang tertelan.

Belum sempat mengatur napas, sebuah suara dingin terdengar dari sampingnya.

"Ini terakhir kalinya aku nyelametin kamu."

Vivian mengangkat kepala. Seorang pria bertubuh tegap berdiri beberapa langkah darinya. Seragam loreng yang dikenakannya masih basah kuyup. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan wajah tampannya nyaris tak memiliki cela.

"Buset... ganteng banget."

Hampir saja Vivian mengatakannya keras-keras. Namun, saat tatapan pria itu bertemu dengan matanya, ia langsung mengurungkan niat.

Sorot mata pria itu begitu dingin, seolah baru keluar dari lemari pendingin.

"Apa orang ini dibuat di freezer?"

Belum sempat Vivian mengalihkan pandangan, pria itu kembali bersuara dengan nada yang sama dinginnya.

"Kalau lain kali kamu mengancam bunuh diri lagi, aku bakal biarin kamu."

Vivian mengernyit. "Bunuh diri? Aku?"

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya yang mungkin sedang diajak bicara. Namun, pria itu masih menatap lurus ke arahnya.

"Berarti... dia ngomong sama aku?"

Vivian semakin bingung.

"Aku bahkan gak pernah kepikiran buat bunuh diri. Karierku lagi naik, hidupku baik-baik aja. Aku juga belum punya pacar, belum sempet ngerasain indahnya jatuh cinta. Ngapain aku bunuh diri? Konyol."

Seorang wanita paruh baya segera berlari menghampiri. Air mata membasahi pipinya.

"Sudah, jangan marahi Via lagi."

Wanita itu berjongkok, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Vivian dengan tangan gemetar.

"Levia... jangan nekat lagi ya, Nak. Kamu tahu betapa khawatir Ibu dan ayahmu. Apa yang harus Ibu bilang sama ayahmu jika terjadi sesuatu sama kamu."

"Levia?"

Vivian menatap wanita itu kebingungan.

"Siapa Levia?"

Nama itu seperti potongan teka-teki. Vivian mendengar sendiri, jelas ia dipanggil Levia.

Pria berseragam loreng itu mendengus pelan. "Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Vandra!" hardik wanita paruh baya itu. "Jaga ucapanmu!"

Vandra... Nama itu terasa begitu familiar. Vivian membeku.

Vandra... Levia...

Potongan-potongan ingatan mendadak bermunculan seperti banjir yang tak terbendung. Kepalanya mendadak nyeri hebat seperti dihantam benda tumpul.

Novel. Nama tokoh. Alur cerita. Ia pernah membaca novel itu beberapa minggu lalu. Judulnya masih membekas. "Arvandra: Janji yang Memaksa". Dan pemeran figuran yang bernama... Levia.

Ia ingat adegan ini; tiga halaman terakhir, Levia menenggelamkan diri karena putus asa.

"Gak... gak mungkin...."

Jantungnya berdetak semakin cepat.

"A-aku...."

Ia benar-benar masuk ke dalam dunia novel. Dan yang lebih mengerikan, ia bukan menjadi tokoh utama.

Melainkan Levia. Wanita obesitas yang tergila-gila pada teman masa kecilnya, Kapten Arvandra Jayasena. Demi memiliki pria itu, Levia bahkan menjebaknya hingga terpaksa menikah.

Seorang istri yang dibenci suaminya sendiri.

Menurut alur novel yang pernah dibacanya, hari ini seharusnya menjadi hari kematian Levia. Putus asa karena gagal mempertahankan pernikahannya, wanita itu memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sungai.

Mendadak Vivian teringat bagaimana dulu ia berkali-kali mengumpat Levia saat membaca novel itu.

"Dasar bodoh! Ngapain sih ngejer orang yang jelas-jelas gak cinta sama kamu? Sampai ngancem bunuh diri berkali-kali lagi. Mending fokus nurunin berat badan, terus cari laki-laki lain yang benar-benar ngehargain kamu. Masokis banget sih!"

Saat itu ia begitu yakin tak akan pernah bersimpati pada karakter Levia. Namun sekarang... Justru ia yang berada di dalam tubuh wanita itu.

Dengan gerakan kaku, Levia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Lengannya membulat. Jari-jari montok. Tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri. Pipinya terasa penuh. Lalu ia mencubitnya. Empuk. Perutnya juga menonjol.

"Ya ampun...." Wajahnya memucat. "Jadi sekarang... aku yang gendut?"

"Aaaaaa!"

Teriakannya menggema di sepanjang tepian sungai hingga membuat semua orang menoleh dan menatapnya dengan bingung.

 

...✨"Jangan pernah menertawakan takdir orang lain. Kita tidak pernah tahu kapan takdir itu memilih kita sebagai pemeran utamanya."✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!