Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Yang Datang Karena Khawatir

Levia menggenggam ponsel sedikit lebih erat. "Bu..."

"Ibu cuma mau minta maaf." Suara Ratih terdengar semakin lirih. "Ibu gagal menjaga rumah tangga kalian. Sebagai ibu Vandra... Ibu juga merasa ikut bersalah."

Levia menggeleng pelan, meski Ratih tidak bisa melihatnya. "Jangan bilang begitu, Bu."

Ratih tersenyum tipis. "Kamu istirahat yang banyak, ya, Via."

"Iya, Bu."

"Kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya."

"Baik. Semoga Ibu cepat sembuh."

"Terima kasih, Nak."

Sambungan telepon pun terputus.

Setelah percakapan melalui telepon berakhir, Levia masih menatap layar ponselnya beberapa saat.

Vivian mengingat kembali nada bicara Ratih yang beberapa kali terputus karena menahan batuk. Napasnya juga terdengar lebih berat dari biasanya. Semakin dipikirkan, perasaannya justru semakin tidak tenang.

"Apa benar cuma kecapekan?" batinnya. Jangan-jangan Ibu nyembunyiin sesuatu."

Perasaan tidak tenang akhirnya membuatnya turun ke ruang keluarga.

Bram yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepala. "Via?"

Levia menghampirinya. "Yah... boleh aku ke rumah Ibu Ratih?"

Bram menutup korannya perlahan. "Ratih?"

Levia mengangguk. "Tadi beliau telepon. Suaranya kedengaran sakit. Aku jadi kepikiran."

Bram memerhatikan putrinya beberapa saat. Ia tahu benar bagaimana hubungan Ratih dan Levia.

Di tengah rumah tangga yang berantakan, Ratih tetap memperlakukan Levia seperti anak kandungnya sendiri.

"Kalau kamu memang khawatir, pergilah."

"Terima kasih, Yah."

"Biar Ayah antar."

Levia tersenyum lalu menggeleng pelan. "Gak usah. Rumahnya juga gak jauh. Aku masih ingat jalannya."

Bram masih tampak ragu. "Yakin?"

"Iya."

"Kalau begitu hati-hati."

"Iya, Yah."

Bram mengangguk pelan. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah."

Levia tersenyum hangat. "Pasti."

 

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Levia berhenti di depan rumah keluarga Jayasena.

Rumah itu tidak semegah kediaman keluarga Gultom. Namun tetap terasa hangat dan terawat.

Untuk sesaat Levia hanya duduk di balik kemudi. Tangannya menggenggam setir.

Meski memiliki ingatan Levia, tetap saja, ini pertama kalinya ia benar-benar datang ke rumah itu sebagai Vivian.

"Tenang." Ia menarik napas panjang. "Levia sudah hampir setahun tinggal di sini. Jangan sampai kelihatan canggung."

Ia akhirnya turun dari mobil. Begitu bel berbunyi, pintu segera dibuka oleh seorang pelayan.

Wanita paruh baya itu langsung membulatkan mata. "Nona Levia?"

Levia tersenyum. "Iya, Bi."

Pelayan itu tampak memerhatikan Levia dari ujung kepala sampai kaki.

"Nona..." Beliau tampak ragu. "...kok kelihatan beda, ya?"

Levia hanya tertawa kecil. "Masa?"

"Iya." Pelayan itu mengangguk pelan. "Wajah Nona kelihatan lebih segar."

"Terima kasih." Levia lalu bertanya, "Ibu Ratih ada?"

Raut wajah pelayan berubah. "Ada, Non."

"Beliau lagi istirahat?"

Pelayan menghela napas pelan. "Iya. Sudah beberapa hari Ibu kurang enak badan."

Levia langsung mengernyit. "Dokter sudah periksa?"

"Sudah." Pelayan itu tersenyum tipis. "Beliau juga sering menyebut nama Nona. 'Andai Via ada di sini,' begitu katanya. Dari kemarin Ibu beberapa kali bilang kangen sama Nona."

Jantung Levia seperti diremas pelan. Ia tidak menyangka, di rumah ini masih ada seseorang yang benar-benar menantikan kedatangannya.

"Kalau begitu..." ucap Levia pelan. "...aku mau menemui Ibu."

Pelayan itu mengangguk. "Beliau sedang beristirahat di kamar."

"Terima kasih."

Levia segera melangkah menuju lantai dua. Ingatan milik pemilik tubuh ini membimbing setiap langkahnya. Lorong yang dulu hampir setiap hari ia lewati kini terasa begitu akrab, meski bagi Vivian semuanya masih terasa sedikit asing.

Sesampainya di depan kamar Ratih, Levia mengangkat tangan lalu mengetuk pintu dengan pelan.

Tok. Tok.

"Bu..."

Dari dalam terdengar suara lirih.

"Masuk..."

Levia perlahan memutar gagang pintu, lalu melangkah masuk.

Aroma minyak kayu putih dan obat-obatan langsung menyambutnya.

Ratih berbaring di ranjang dengan wajah pucat. Mendengar suara langkah kaki, ia yang enggan membuka mata berkata lirih,

"Dami... apa Vandra sudah pulang?"

Levia menghentikan langkahnya sesaat. Dadanya terasa sesak melihat keadaan wanita itu. Ia mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.

"Bukan, Bu."

Ratih perlahan membuka mata. Begitu melihat siapa yang duduk di sampingnya, kedua matanya langsung membulat.

"Via...?"

"Iya, Bu."

Ratih tampak tak percaya. "Kamu... datang?"

Levia mengangguk pelan. Tangannya terulur menggenggam tangan Ratih yang terasa sedikit hangat. "Kenapa Ibu gak bilang kalau lagi sakit?"

Ratih memandang Levia tanpa berkedip. Selama ini, setiap kali Levia masuk ke kamarnya, hampir selalu ada satu nama yang keluar lebih dulu.

"Bu, kok Kak Vandra belum pulang?"

Atau...

"Bu, Kak Vandra lagi di mana?"

Semua perhatian menantunya hampir selalu tertuju pada Vandra. Saat mengetahui putranya pulang, Levia akan buru-buru meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya.

Hari ini justru sebaliknya.

Levia duduk di sisinya, menggenggam tangannya, dan tak sekalipun menanyakan keberadaan Vandra. Tatapannya hanya tertuju pada dirinya.

"Ibu cuma flu..." jawab Ratih pelan sambil tersenyum. "Gak separah itu."

Levia menggeleng. "Ibu terdengar lemas waktu telepon tadi."

Ratih masih belum mengalihkan pandangannya. Tangannya perlahan membalas menggenggam tangan Levia.

"Kamu benar-benar datang...."

"Tentu." Levia tersenyum hangat. "Ibu 'kan keluarga."

Ratih terdiam cukup lama. Sejak tadi ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

"Via...."

"Iya, Bu?"

"Kamu datang... karena khawatir sama Ibu?" tanyanya hati-hati. "Atau... kamu kira Vandra sudah pulang?"

Levia sempat terdiam, lalu tersenyum kecil. "Aku datang karena Ibu."

Jawaban singkat itu membuat Ratih berkedip. "Bukan karena Vandra?"

Levia menggeleng pelan. "Tadi waktu telepon, suara Ibu terdengar lemah. Aku jadi kepikiran terus. Makanya langsung ke sini."

Ratih benar-benar kehilangan kata-kata.

Dulu, setiap kali Levia pulang ke rumah orang tuanya karena bertengkar dengan Vandra, lalu kembali ke rumah ini, hal pertama yang dilakukan wanita itu adalah mencari keberadaan putranya. Bahkan sebelum sempat mengobrol lama dengannya.

Namun malam ini...

Levia justru datang ketika tahu Vandra masih bertugas di markas. Dan alasan kedatangannya hanya satu. Karena mengkhawatirkan dirinya.

Mata Ratih perlahan memanas. "Maaf ya, Via."

"Hm?"

"Harusnya... Ibu yang datang menjenguk kamu."

Levia menggeleng pelan. "Gak ada aturan yang bilang menantu gak boleh menjenguk ibu mertuanya."

Ratih terkekeh pelan, meski sesaat kemudian batuk beberapa kali.

Refleks, Levia membantu Ratih duduk. Ia meraih gelas air hangat di meja nakas, lalu menyodorkannya pada Ratih. "Pelan-pelan, Bu."

Ratih memerhatikan setiap gerakan Levia. Begitu cekatan. Begitu perhatian. Tatapan wanita di hadapannya pun terasa jauh lebih teduh dibanding sebelumnya.

"Via..."

"Iya, Bu?"

"Kamu berubah."

Levia tersenyum kecil. "Mungkin... aku cuma baru sadar."

"Sadar apa?"

"Bahwa hidup ini terlalu singkat untuk terus mengejar orang yang tidak pernah menoleh."

Kalimat itu hanya bergema di dalam hati. Yang keluar dari bibirnya justru senyum lembut.

"Sadar kalau masih banyak orang yang benar-benar peduli sama aku."

Ratih menggenggam tangan Levia semakin erat. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.

"Kalau saja..." bisik Ratih lirih. "...kalian bisa..."

Kalimat itu terhenti begitu suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah.

Brumm...

Ratih menoleh ke arah jendela. Matanya sedikit membesar. "Vandra...."

 

...✨"Sering kali kita terlalu sibuk mengejar orang yang tak peduli, hingga lupa memeluk mereka yang diam-diam selalu menunggu kita pulang."...

..."Kasih sayang yang paling tulus bukanlah yang paling keras memanggil, melainkan yang tetap menunggu meski berkali-kali diabaikan."...

..."Ada orang yang tidak pernah meminta untuk dicintai, tetapi selalu ada ketika kita membutuhkannya. Merekalah yang paling layak kita jaga."...

..."Kita baru memahami arti keluarga ketika mulai melihat siapa yang tetap membuka pintu untuk kita, bahkan setelah berkali-kali kita mengabaikannya."✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!