"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. SATU RUANGAN YANG SAMA
BAB 5. Satu Ruangan yang Sama
Pintu ruang rapat menutup perlahan di belakang Hagia, mengakhiri pertemuan pertamanya bersama jajaran direksi Arshaka Group. Langkahnya menyusuri koridor lantai eksekutif terasa lebih ringan dibanding satu jam yang lalu, meski pikirannya masih dipenuhi bayangan percakapan para direksi. Ia berhasil melewati rapat yang membahas proyek Stadion Nasional tanpa sedikit pun membuka celah mengenai identitas Xavier.
Hagia baru saja mengembuskan napas lega ketika suara berat yang sudah mulai dikenalnya kembali terdengar dari belakang.
"Hagia."
Ia segera berbalik. Kalandra berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah setenang biasanya.
"Ikut saya."
Tanpa memberi penjelasan, Kalandra berbalik lebih dulu menuju ruang CEO. Hagia tidak banyak bertanya. Ia mempercepat langkah, mengikuti pria itu hingga pintu otomatis terbuka dan memperlihatkan ruang kerja yang sama dengan tempat mereka membuat kesepakatan menikah kemarin siang.
Ruangan itu luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam dengan sentuhan kayu yang memberi kesan elegan. Dinding kaca membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan gedung-gedung Jakarta yang berdiri rapat. Sebuah meja kerja besar berada tepat menghadap jendela, sementara di sisi lain tersusun rak-rak berisi penghargaan perusahaan, buku manajemen, serta berbagai maket proyek yang pernah dikerjakan Arshaka Group.
Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan pribadi, bahkan tidak ada benda yang tampak diletakkan tanpa tujuan. Semuanya tertata rapi, mencerminkan pribadi pemilik ruangan yang disiplin dan tidak menyukai kekacauan sekecil apa pun.
Kalandra berjalan menuju mejanya, lalu menunjuk sebuah meja kerja berukuran lebih kecil yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Itu meja kerjamu."
Hagia sempat terdiam beberapa detik.
"Di dalam ruangan ini?"
"Ya."
"Saya pikir asisten pribadi bekerja di luar ruang CEO."
"Itu berlaku untuk perusahaan lain."
Jawaban singkat itu membuat Hagia mengangguk pelan, meski rasa herannya belum sepenuhnya hilang.
"Kamu asisten pribadi saya. Akan lebih efisien kalau bekerja di ruangan yang sama."
Kalimat terakhir itu terdengar seperti penjelasan, meski tetap disampaikan dengan nada datar. Hagia pun meletakkan tasnya di atas meja yang dimaksud. Posisi meja itu hanya berjarak beberapa meter dari meja Kalandra. Artinya, selama jam kerja mereka akan berada dalam satu ruangan hampir sepanjang hari.
"Mulai sekarang, semua agenda saya akan melewati tanganmu lebih dulu," ujar Kalandra sambil meletakkan sebuah map tebal di hadapan Hagia. "Pelajari seluruh jadwal, daftar klien, dan proyek yang sedang berjalan. Saya tidak suka mengulang instruksi."
Hagia membuka map tersebut sekilas. Halaman demi halaman dipenuhi jadwal rapat, data proyek, daftar klien prioritas, hingga catatan-catatan kecil yang ditulis sangat rapi. Baru melihat isinya saja sudah membuatnya memahami betapa padat kehidupan pria di hadapannya.
"Kalau ada yang belum saya pahami?"
"Tanyakan."
"Kalau Anda sedang rapat?"
"Tunggu."
Hagia mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya,
"Kalau benar-benar mendesak?"
Kalandra mengangkat pandangannya dari layar laptop.
"Masuk saja."
"Kalau mengganggu?"
"Tidak, selama itu urusan pekerjaan."
Jawaban itu membuat Hagia tersenyum tipis. Semakin lama berbicara dengan Kalandra, semakin ia memahami cara berpikir pria tersebut. Kalandra bukan orang yang gemar membuat aturan rumit. Baginya, segala sesuatu hanya memiliki satu tujuan yaitu efisiensi. Selama pekerjaan selesai dengan baik, hal-hal lain tidak terlalu penting.
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Hagia mulai membaca seluruh dokumen yang diberikan, berusaha menghafal jadwal dan kebiasaan atasannya. Sementara itu, Kalandra sudah kembali larut dalam pekerjaannya. Jemarinya bergerak cepat di atas lpapan ketik laptop, sesekali berhenti untuk menandatangani dokumen yang telah disiapkan sekretaris. Meski tidak saling berbicara, suasana di dalam ruangan itu terasa berbeda dibanding sebelumnya. Tidak lagi dipenuhi ketegangan seperti saat mereka pertama kali bertemu, melainkan mulai membentuk ritme kerja yang perlahan terasa nyaman.
Beberapa kali Hagia mencuri pandang ke arah Kalandra. Pria itu bekerja dengan konsentrasi yang nyaris tidak pernah terpecah. Telepon yang berdering dijawab seperlunya, dokumen diperiksa dengan cepat, lalu langsung diberi keputusan tanpa banyak pertimbangan yang terlihat. Sesekali sekretaris mengetuk pintu untuk mengantarkan berkas baru, tetapi tidak pernah berada di dalam ruangan lebih dari satu menit. Semua orang seolah memahami ritme kerja CEO muda itu tanpa perlu dijelaskan berulang kali.
Melihat semua itu, Hagia diam-diam mengakui satu hal. Terlepas dari sifatnya yang menyebalkan dan minim empati, Kalandra memang pantas berada di posisi yang sekarang. Tidak ada satu pun gerakannya yang menunjukkan keraguan sebagai seorang pemimpin.
Beberapa menit kemudian, suara Kalandra kembali memecah kesunyian.
"Hagia."
"Ya, Tuan?"
"Tolong ringkasan rapat tadi."
Hagia langsung berdiri menyerahkan sebuah map. Belum sempat ia duduk kembali di kursinya, Kalandra kembali mengeluarkan suara.
"Kamu seorang arsitek? "
Hagia menoleh. Namun, belum sempat menjawab.
"Menurutmu, apa yang membuat desain milik Xavier berhasil mengalahkan Arshaka?"
Hagia tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru jatuh pada gambar stadion yang masih terbuka di layar laptop Kalandra. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia melangkah mendekat.
"Boleh saya melihat gambar detailnya, Tuan?"
Kalandra memutar layar laptop ke arahnya.
"Silakan."
Hagia membungkuk sedikit, memperbesar beberapa bagian gambar menggunakan touchpad. Jemarinya berhenti pada sambungan struktur utama di sisi atap stadion.
"Kalau boleh jujur...," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
"rapat tadi hanya membahas hal yang kurang tepat."
Alis Kalandra terangkat tipis.
"Maksudnya?"
"Semua orang beranggapan Xavier menang karena mampu menekan biaya konstruksi hampir tiga puluh persen."
Hagia menggeleng pelan.
"Padahal itu bukan penyebab. Itu akibat."
Ruangan kembali sunyi. Hagia kembali mengarahkan telunjuknya ke layar.
"Lihat modul struktur ini."
"Dimensinya dibuat berulang. Artinya sebagian besar komponennya bisa diproduksi secara massal di pabrik."
Ia memperbesar gambar berikutnya.
"Jumlah cetakan beton menjadi lebih sedikit."
"Waktu pemasangan jauh lebih singkat."
"Risiko kesalahan di lapangan juga ikut menurun."
Kalandra mulai memperhatikan layar lebih serius. Namun, Hagia belum berhenti.
"Menurut saya, Xavier bahkan sudah memikirkan bagaimana stadion ini dibangun sejak menggambar garis pertamanya."
Kalandra menatap Hagia tanpa berkedip. Hagia melanjutkan dengan tenang.
"Biasanya seorang arsitek hanya menyerahkan gambar, lalu kontraktor mencari metode pelaksanaannya."
"Di rancangan ini berbeda."
"Metode pembangunan justru sudah menjadi bagian dari desain."
Ia menunjuk jalur pemasangan struktur yang saling berurutan.
"Kontraktor tidak perlu lagi menyusun ulang urutan pekerjaan karena semuanya sudah dipikirkan sejak awal."
Beberapa detik berlalu.
"Itulah sebabnya biaya turun. Bukan karena materialnya lebih murah. Bukan pula karena spesifikasinya diturunkan. Melainkan karena pemborosan waktunya dihilangkan."
Hagia kemudian kembali berdiri tegak.
"Kalau saya menjadi panitia tender, saya juga akan memilih rancangan ini."
Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Kalandra tidak segera berbicara. Ia membuka kembali gambar stadion itu, lalu memperhatikan bagian-bagian yang tadi ditunjukkan Hagia. Semakin lama diperhatikan, semakin jelas bahwa analisis wanita itu masuk akal. Bahkan tidak satu pun pembahasan tersebut muncul selama rapat direksi tadi.
"Kamu menemukan semua itu hanya dengan melihat gambar?"
Hagia mengangguk pelan.
"Seorang arsitek tidak hanya membaca bentuk bangunan."
"Ia juga harus mampu membaca cara bangunan itu diwujudkan."
Tatapan Kalandra masih belum beralih dari layar. Untuk pertama kalinya sejak rapat selesai, ia merasa mendapatkan sudut pandang yang benar-benar baru.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Sekretaris membawa tiga map berwarna biru tua.
"Pak, ini dokumen yang tadi Bapak minta."
"Letakkan di sini."
Setelah sekretaris keluar, Kalandra membuka ketiga map tersebut satu per satu. Dua di antaranya hanya diperiksa sekilas sebelum dipindahkan ke sisi kanan meja. Sementara map terakhir tetap berada di hadapannya lebih lama. Ia membaca beberapa halaman, lalu mengembuskan napas pelan.
"Konsepnya masih terlalu biasa."
Tanpa banyak bicara, Kalandra menutup map itu lalu mendorongnya ke arah Hagia.
"Coba kamu pelajari."
Hagia berdiri dan menghampiri meja kerja pria itu. Setelah menerima map tersebut, ia membukanya sekilas. Di dalamnya tersusun gambar kerja, denah bangunan, laporan analisis struktur, hingga beberapa konsep desain yang telah diberi banyak catatan dengan tinta merah.
"Proyek renovasi Arshaka Mall?" tanyanya pelan.
Kalandra mengangguk.
"Tim arsitek senior sudah mengajukan tiga konsep. Tidak ada satu pun yang saya setujui."
Hagia membalik beberapa halaman berikutnya. Hampir setiap konsep memiliki catatan penolakan dengan alasan yang berbeda.
"Kenapa ditolak?"
"Karena mereka hanya mempercantik tampilan tanpa menyelesaikan masalah utamanya."
Hagia kembali memeriksa denah bangunan.
"Masalah utamanya ada di jalur sirkulasi pengunjung."
"Itu salah satunya."
Kalandra menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya ingin kamu membuat konsep baru."
Hagia mengangkat wajah. Diam sejenak sebelum akhirnya bertanya.
"Batas waktunya?"
"Dua puluh empat jam cukup?"
Tatapan Hagia turun ke arah gambar kerja yang memenuhi map di tangannya. Ia membaca cepat setiap catatan, menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lainnya, lalu menutup map tersebut perlahan.
"Saya tidak membutuhkan waktu selama itu," katanya saat kembali mengangkat kepala.
Ini bukan lagi pekerjaan seorang asisten pribadi. Ini adalah tantangan yang diberikan langsung oleh CEO Arshaka Group kepada seorang arsitek. Dan tanpa disadari Kalandra, tantangan itu justru sedang ia berikan kepada orang yang beberapa jam lalu ia kagumi di ruang rapat.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻