Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Puncak Tebing Angin Puyuh berdiri menjulang seribu tombak di sisi barat Pegunungan Pedang Tunggal.
Di puncak batu karang yang tandus itu, pusaran angin dingin dari lembah jurang melolong liar tanpa henti. Hembusan anginnya begitu tajam hingga mampu menerbangkan bebatuan kerikil dan merobek jubah luar kultivator biasa dalam hitungan menit.
Biasanya, lokasi ekstrem ini hanya digunakan para tetua inti untuk menguji ketahanan fisik jurus pedang tingkat tinggi.
Namun siang ini, di ujung tebing yang paling menjorok ke udara kosong, sebuah kursi malas berbahan anyaman rotan empuk telah terpasang kokoh.
Gu Ran berbaring santai di atas kursi malas tersebut dengan bantal sutra ungu menyangga kepalanya. Jubah sutra putihnya berkibar pelan, sementara sepasang matanya terpejam menikmati hangatnya sinar matahari siang yang jatuh menembus kabut tipis.
Xiao Zhu berdiri di samping kursi, memegang nampan kayu berisi manisan buah persik dan secawan teh madu hangat.
Gu Ran menggeser sedikit posisi bahunya, lalu membuka matanya perlahan.
“Angin di tebing ini agak berisik,” gumam Gu Ran datar sambil meraba lehernya yang terasa dingin. “Hembusannya terlalu kencang… tenggorokanku mendadak agak gatal, sepertinya aku mau bersin.”
Kata “bersin” melayang pelan di udara tebing.
Di samping kursi malas, Song Ming yang sedang memegang payung peneduh seketika membelalak lebar dengan pupil mata menyusut ngeri.
“J-jangan bersin, Tuan Muda Gu!” jerit Song Ming dengan suara parau melengking panik. “Tahan dulu napas Anda!”
Pada detik yang sama, sebuah raungan telepati yang sarat getaran tenaga dalam meledak liar di dalam gendang telinga seluruh petinggi sekte.
BUZZZH!
“Tianhe! Chen Feng! Tie Gang! Anjing-anjing pemalas!” Suara Song Pojun menggelegar dari bukit belakang, menggetarkan sukma para tetua. “Kalian membiarkan tamu agungku kedinginan di atas tebing?! Kalau sampai dia batuk atau bersin sekali saja hari ini, aku sendiri yang akan mencabut seluruh meridian kalian dan melempar kalian ke jurang!”
Ancaman itu menghantam kesadaran belasan tetua inti bagai hantaman palu godam.
Hanya butuh waktu sepuluh tarikan napas, belasan kilatan cahaya pedang melesat panik dari arah Puncak Utama menuju Tebing Angin Puyuh.
Belasan tetua inti mendarat dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi di sekeliling tebing.
Patriark Song Tianhe melangkah paling depan dengan jubah ungunya yang berkibar kencang diterpa badai. Di belakangnya, Tetua Penegak Disiplin Tie Gang, Tetua Gudang Chen Feng yang masih memegangi pipinya yang lebam, serta sembilan tetua dewan lainnya berdiri berjejer dengan tubuh gemetar.
Di tangan mereka masing-masing, terbentang lembaran kain sutra emas penahan badai berukuran sepuluh depa.
“Cepat! Bentangkan formasi tirai!” perintah Song Tianhe dengan suara berbisik panik, takut suaranya mengganggu kantuk Gu Ran.
Belasan tetua ranah Inti Emas yang biasanya memimpin ribuan murid pedang itu segera berbaris rapat membentuk formasi setengah lingkaran di sekeliling kursi malas Gu Ran.
Sembari menahan kain sutra, para tetua memusatkan tenaga dalam Inti Emas masing-masing.
Hawa hangat yang lembut memancar dari telapak tangan mereka, mengalir menyusuri serat kain sutra emas dan mengubah udara beku di sekeliling kursi Gu Ran menjadi sehangat musim semi di taman istana.
Pusaran angin badai yang melolong di luar tirai sutra teredam seutuhnya, menyisakan kehangatan tenang yang membelai wajah pemuda berambut putih itu.
Gu Ran menarik selimut sutranya hingga ke dada, menyandarkan kepalanya lebih nyaman di atas bantal rotan.
“Nah, suhunya sudah lumayan pas,” gumam Gu Ran santai.
Hanya butuh beberapa tarikan napas pendek bagi pemuda itu untuk memejamkan mata dan tertidur pulas. Suara dengkuran halus berirama pelan terdengar dari bibir Gu Ran di tengah kehangatan buatan dewan tetua.
Dua jam berlalu di bawah terik matahari siang.
Badai angin di Tebing Angin Puyuh terus menghantam sisi luar tirai sutra dengan kekuatan dahsyat.
Belasan tetua inti berdiri mematung bagai deretan tiang kayu di tepi jurang seribu tombak. Lengan mereka pegal dan mati rasa menahan benturan angin kencang selama berjam-jam, sementara pelipis mereka basah oleh keringat dingin akibat terus-menerus menyalurkan Qi hangat penstabil suhu.
Tetua Chen Feng berdiri di sudut kiri dengan lutut gemetar. Kacamata kristalnya berembun tebal, sementara bibirnya berkomat-kamit menghitung nilai kain sutra emas yang mulai terkoyak dihembus badai.
Di posisi tengah barisan, Patriark Song Tianhe memegang tiang tirai utama dengan rahang terkatup rapat.
Pria paruh baya penguasa sekte itu menatap pemuda berambut putih yang sedang mendengkur nyaman di atas kursi malas rotan, lalu melirik ke arah tangannya sendiri yang memegang kain tirai.
Rasa getir dan pedih yang membakar batinnya terasa seribu kali lebih menusuk daripada dinginnya angin jurang.
Sebagai seorang Patriark penguasa sepuluh ribu pendekar pedang, siang ini kehormatan hidupnya telah runtuh seutuhnya. Ia dan seluruh jajaran dewan kehormatan sekte kini telah bertransformasi menjadi barisan tiang jemuran hidup demi menjaga agar mantan budak penempa ini tidak masuk angin saat tidur siang.
Ehem… Song Tianhe menelan ludah getirnya, menatap langit biru dengan pandangan kosong yang hampa.
Di atas kursi malas, sebuah jendela antarmuka transparan kelabu menyala tenang di samping kepala Gu Ran yang terlelap:
[Kepatuhan Total Dewan Petinggi Terdeteksi.]
[Poin Penebusan Karma Bertambah Stabil: Total Akumulasi Menembus 15.000 Poin.]
[Katalog Toko Tingkat 3: Pil Pemurni Jiwa Kosmik Siap Dibeli.]
Gu Ran membalikkan badannya ke sisi kanan, melanjutkan tidurnya dengan senyuman tipis di wajahnya.