Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Duel

Malam yang sepi kembali menyelimuti Wilayah Klan Es, membentangkan kesunyian yang dingin di atas tanah yang beku.

Namun bagi Aurelia, sunyinya malam adalah sebuah kesempatan emas untuk kembali melatih kemampuan pedangnya.

Kali ini, jemarinya tidak lagi menggenggam bilah besi tua yang berkarat, melainkan sebuah pedang baru yang permukaannya sedikit berkilau, memantulkan pendaran cahaya bulan perak yang magis. Pedang itu adalah pemberian Eira, sebilah senjata yang berasal dari Klan Petir.

Meskipun hingga detik ini Aurelia masih belum bisa mengeluarkan sihir es—dia sama sekali tidak menyerah.

Tubuhnya yang letih menolak keras untuk berhenti berjuang. Dengan napas yang teratur, Aurelia mulai bergerak lincah, mengayunkan dan menggerakkan pedang di tangannya, membelah udara malam yang untungnya kali ini tidak terlalu dingin dan tidak begitu menyiksa kulitnya.

Tiba-tiba, sepasang mata Aurelia yang tadinya fokus penuh pada ujung bilah pedangnya tersentak hebat.

Insting bertarungnya menangkap sebuah pergerakan ganjil dari arah belakang. Refleks Aurelia bergerak secepat kilat; ia memutar tubuhnya tepat saat sebuah anak panah meluncur memotong angin malam, mengarah lurus ke posisi dirinya berdiri.

Clang!

Dengan satu tebasan presisi, Aurelia berhasil menangkis anak panah tersebut hingga terpental ke salju.

Matanya menyipit tajam penuh kewaspadaan. "Siapa?" tanya Aurelia. Suaranya pelan, hampir berupa bisikan, namun sarat akan ketegangan.

Belum sempat rasa terkejutnya hilang, Aurelia kembali tersentak saat mendengar suara derit salju akibat langkah kaki yang mendekat dari balik bayang-bayang di belakangnya.

Di sana, di bawah remang cahaya malam, Arthur berdiri dengan tenang, menggenggam sebuah busur panah di satu tangan dan sebilah pedang di tangan lainnya.

Mata Aurelia menyipit, mencoba mengenali sosok tersebut sebelum akhirnya bergumam lirih, "Arthur?"

Arthur hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan misteri. "Sudah kuduga," katanya dengan nada suara yang sangat santai.

"Anda pasti ada di sini, Nona," lanjutnya sembari melangkah maju. "Bukankah latihan sendirian akan terasa terlalu membosankan? Bagaimana jika aku menemani Anda malam ini? Anggap saja sebagai latihan tanding yang sesungguhnya," tantang Arthur, sepasang matanya berkilat jenaka namun penuh selidik.

Namun, bukannya mengusir pemuda itu dengan kata-kata tajam seperti malam-malam sebelumnya, Aurelia justru merasa darahnya berdesir.

Jiwanya tertantang. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu bahwa dia memang membutuhkan seseorang—seorang lawan yang nyata—untuk menguji sejauh mana kemampuan pedangnya telah berkembang.

Aurelia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka sembari mengeratkan genggamannya pada hulu pedang. "Jangan menyesal setelah ini, Arthur. Aku tidak akan menahan seranganku sedikit pun," kata Aurelia dengan mata yang berkilat tajam, memancarkan tekad yang membara.

Mendengar peringatan itu, Arthur justru terkekeh pelan. Ia melempar busur panahnya ke atas gundukan salju, lalu mulai mengacungkan pedangnya dan memasang kuda-kuda kokoh.

"Sebuah kehormatan bagiku, Nona. Untuk serangan pertama... aku persilahkan Anda maju lebih dulu. Tunjukkan padaku hasil latihan kerasmu," kata Arthur penuh percaya diri.

Tanpa menunggu hitungan atau aba-aba lagi, Aurelia menerjang maju. Gerakannya cepat, membelah keheningan malam saat ia menyerang Arthur dengan ayunan pedangnya yang mengarah lurus ke dada lawan.

Klang!

Arthur dengan sigap menangkis arah datangnya pedang Aurelia, menimbulkan percikan api kecil yang kontras dengan dinginnya malam.

Aurelia benar-benar tidak menahan kekuatannya; ia terus merangsek maju, memutar tubuh, dan mengirimkan rentetan tebasan beruntun demi mencari celah sekecil apa pun di pertahanan Arthur.

Sementara itu, Arthur justru berada dalam posisi yang berbeda. Alih-alih membalas dengan agresif, dia sengaja menahan serangannya dan memilih mode defensif.

Setiap tangkisan dan elakan yang Arthur lakukan bukan untuk mengalahkan, melainkan karena dia hanya ingin melihat, menilai, dan mengukur sudah sejauh mana kemampuan pedang Aurelia berkembang di bawah tempaan malam yang dingin ini.

Setiap tebasan Aurelia ia sambut dengan ketukan-ketukan pedang yang terukur. Di balik tatapan matanya yang teduh, ia sedang membedah setiap pola serangan sang gadis.

'Dia terlalu fokus pada serangan. Sebelah kiri, celah kosong, terbuka lebar,' gumam hati Arthur saat mendeteksi titik buta dalam ritme tarian pedang Aurelia.

Dengan gerakan sehalus air meluncur di atas batu, Arthur memiringkan tubuhnya ke sebelah berlawanan demi menghindari tebasan horizontal Aurelia yang melebar.

Sesuai dugaannya, rusuk kiri gadis itu kini terekspos sepenuhnya. Pedang di tangan Arthur terayun cepat bagai kilat. Namun, alih-alih menyayat kulit halus Aurelia, Arthur melakukan sebuah gerakan akrobatik yang mustahil dilakukan oleh penyihir biasa.

Ia melepas sejenak genggamannya, memutar pedangnya di udara dalam sepersekian detik, sehingga ujung bilah pedang miliknya kini berada di dalam genggaman telapak tangannya sendiri, sementara gagang pedangnya yang tumpul menghadap ke luar.

Dengan dorongan pendek berkecepatan tinggi, ia memukul bahu sebelah kiri Aurelia menggunakan gagang pedang tersebut.

Brak!

Serangan itu terukur dengan sangat pelan, namun getaran energinya sanggup membuat seluruh saraf di lengan kiri Aurelia mati rasa seketika.

Pergerakan Aurelia terhenti total. Genggaman tangannya melonggar, dan kelontang! Pedang berharga miliknya jatuh berisik ke atas tanah.

Mata Aurelia melotot sempurna. Napasnya terengah-engah, memandang Arthur yang berdiri di hadapannya tanpa ada satu helai rambut pun yang berantakan.

Pria itu tampak sangat santai, seolah-olah mereka baru saja menyelesaikan dansa ringan, bukan pertarungan.

"Arthur... kau—bagaimana bisa...?" Aurelia hanya mampu terpukau, suaranya tercekat di tenggorokan.

Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena lelah, tapi karena cara luar biasa pria itu memanfaatkan celah yang bahkan tidak ia sadari keberadaannya.

Arthur memundurkan langkahnya, lalu mengangkat kedua bahunya dengan santai seraya memutar kembali pedangnya ke posisi normal. "Aku menang, Nona... Sebuah kesalahan kecil. Anda membiarkan emosi mendikte ayunan pedang, membuat celah kiri Anda bisa terbaca dengan sangat mudah oleh siapa pun yang memiliki mata."

Arthur melangkah mendekat, memungut pedang Aurelia lalu menyerahkannya kembali dengan ujung gagang menghadap sang gadis. "Jika yang berada di hadapan Anda tadi adalah musuh yang sebenarnya, tangan Nona mungkin sudah terlepas dari lengannya. Atau lebih parah lagi... mungkin leher Nona yang akan tergores dan bersimbah darah sebelum Anda sempat menyadarinya," lanjut Arthur dengan nada suara yang mendadak sedingin es.

Aurelia terdiam membeku. Ia menerima kembali pedangnya, namun pandangannya tidak lepas dari sosok pria di depannya.

Pikirannya berkecamuk, dipenuhi oleh spekulasi yang membingungkan. Ada yang aneh, ada yang sangat salah dari pria di depannya. Tapi apa?

Cara dia berbicara yang penuh wibawa tersembunyi, cara dia berdiri yang begitu seimbang, dan cara dia memegang pedang dengan sempurna. Ada yang berbeda dari diri Arthur.

Namun, Aurelia tidak tahu apa yang sedang bersembunyi di balik senyuman tenang pria itu.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!