Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kebangkitan Ikan Hitam
Air sungai di dasar jurang itu hitam pekat. Arusnya bergerak lambat namun memiliki kekuatan yang tidak terlihat, seolah setiap gelombang kecil mampu menarik apa pun ke kedalaman yang tidak berujung.
Su Yu terus tenggelam.
Tubuhnya yang berlumuran darah tidak lagi melawan arus. Luka di dada kiri tempat pedang hijau menancap sebelumnya masih terbuka lebar, tetapi aliran darah dari sana perlahan berhenti. Ada sesuatu yang jauh lebih aneh sedang terjadi di sekujur tubuh pemuda itu.
Aura hitam muncul dari pori-porinya.
Mulanya hanya setitik, seperti tinta yang tumpah di dalam air. Lalu titik itu menyebar, membungkus kedua lengan, kaki, punggung, hingga seluruh badan Su Yu berada di dalam kepompong cahaya gelap yang berdenyut lemah.
Perubahan pertama tampak pada kulit.
Permukaannya mengeras.
Sisik-sisik hitam mulai menggantikan lapisan luar tubuhnya, tersusun rapat dari ujung jari kaki menjalar ke betis, paha, pinggang, dada, hingga akhirnya menutupi wajah. Setiap sisik memantulkan kilau samar dari dalam air, berwarna gelap kebiruan seperti permukaan batu obsidian.
Tulang belakang Su Yu melengkung ke depan secara paksa.
Pakaian yang tersisa hancur dalam senyap.
Tangan dan kakinya menyusut ke dalam, berubah menjadi sirip yang pipih dan lentur. Matanya tertutup rapat, tetapi bentuk kepalanya kini bukan lagi kepala manusia. Mulutnya melebar, kedua sisi rahangnya memanjang, dan dalam beberapa tarikan napas berikutnya, tubuh itu telah menjelma menjadi seekor ikan hitam besar sepanjang satu zhang.
Ikan itu tetap tidak bergerak.
Arus sungai membawanya hanyut perlahan ke arah hilir.
Sungguh pemandangan yang sulit dipercaya bagi siapa pun yang melihatnya. Garis darah Kunpeng yang tertidur sejak zaman awal telah terbangun kembali, dipicu oleh kondisi hidup dan mati yang memojokkan pemuda itu.
Namun Su Yu tidak menyadari apa pun.
Kesadarannya telah lama tenggelam ke tempat paling gelap di dalam dirinya, meninggalkan tubuh yang kini berubah wujud tanpa kendali.
*****
Satu li dari lokasi itu, permukaan air sungai beriak keras.
SPLASH!
Sesosok makhluk kecil berbulu biru melesat keluar dari sungai dengan gerakan kacau. Sayap-sayapnya mengepak tak beraturan, hampir saja menghantam dinding batu di sisi kiri jurang.
"Hah... hah... sialan!"
Xioutian akhirnya berhasil menyeimbangkan tubuhnya setelah beberapa saat terbang tersendat. Air mengucur deras dari bulu-bulunya yang basah, sementara ujung ekornya tampak gosong seperti habis disambar petir.
"Kurang ajar manusia itu... berani sekali dia pada tuan penguasa langit terhormat ini!"
Burung kecil itu mengepakkan sayapnya lebih kuat untuk meninggikan posisinya, lalu terbang menyusuri permukaan air yang hitam pekat.
"Tuan... eh, bocah itu biarkan saja mati. Itu lebih baik, karena kontraknya akan terlepas."
Xioutian mendengus puas dengan idenya sendiri. Namun belum sempat ia terbang jauh, tubuhnya terhenti di udara.
"Tapi, bocah itu memiliki sesuatu yang misterius. Aku belum tahu apa itu. Leluhur atau sesuatu yang lain?"
Burung itu terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat tetesan air berhamburan dari bulunya.
"Cari dan selamatkan dia, kunci jawabannya ada di situ!"
Xioutian segera melesat ke arah berlawanan, lalu mengedarkan kesadarannya ke segala penjuru untuk mencari jejak energi Su Yu. Namun saat sudah melesat hampir satu li, yang ia temukan justru sesuatu yang jauh lebih tidak menyenangkan.
Tubuhnya langsung terhenti di udara.
Empat sosok berdiri di tepi sungai sekitar beberapa zhang di depannya. Xioutian tanpa menunggu terlihat, langsung melesat ke sisi kiri jurang dan menyelinap di balik batu besar yang menonjol dari dinding.
"Hampir saja..." bisiknya sambil menjulurkan kepala sedikit untuk mengintip.
Tetua Kedua sedang berjongkok di tepi air. Ujung tongkatnya ia celupkan ke sungai hitam, lalu kedua matanya terpejam. Energi spiritual dari tubuhnya mengalir melalui tongkat itu, menyebar ke dalam air seperti urat-urat cahaya yang berusaha mendeteksi keberadaan makhluk hidup.
Beberapa tarikan napas kemudian, matanya terbuka.
"Percuma saja. Kita semua tahu, jurang ketiadaan ini memiliki sungai yang memblokir persepsi spiritual para kultivator."
"Cih..." Tetua Keempat berdecak kesal. "Kalau begitu, kita tidak bisa memastikan apakah dia sudah mati atau belum."
"Sebaiknya kita cari ke tempat lain, dengan menyisiri pinggiran," sahut Tetua Kedua sambil bangkit dari jongkoknya.
Tetua Pertama mengangguk singkat. "Kita bergerak ke hilir. Jika tubuhnya tersangkut di tepian, kita akan menemukannya."
Keempat tetua itu saling bertukar pandangan sebentar, lalu melesat cepat ke arah Xioutian.
Burung kecil itu segera masuk ke dalam lubang sempit di batu tempatnya bersembunyi. Jantungnya berdebar kencang ketika keempat sosok itu melintas di depan lubang tanpa menyadari keberadaannya.
Setelah suara desingan mereka menjauh, Xioutian keluar dari lubang dengan napas tersengal.
"Hampir mati rasanya. Sialan kalian semua!"
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada satu pun tetua yang tersisa di area itu. Begitu keadaan aman, burung tersebut langsung terbang menuju tempat yang barusan diperiksa Tetua Kedua.
"Logikanya, kalau mereka turun dari atas, berarti bocah itu jatuh di sekitar sini berdasarkan pandangan mereka. Itu artinya tubuhnya berada di dasar air..."
Xioutian mendekat ke permukaan air, lalu menundukkan kepalanya. Matanya menyipit, berusaha menembus kegelapan sungai di bawah sana, namun ia gagal.
"Dalam kondisi lemah seperti ini, bisa hidup saja sudah keberuntungan."
Ia mengepakkan sayapnya beberapa kali, menimbang apakah dirinya harus menyelam atau tetap terbang di atas permukaan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan.
"Cari saja di sepanjang aliran ini. Kalau dia mati, kontrakku akan terlepas. Tapi kalau dia hidup... berarti aku cukup sial dan sedikit beruntung."
Xioutian menggelengkan kepalanya, lalu terbang rendah menyusuri permukaan air, matanya terus memindai ke bawah. Suara arus sungai memenuhi sepanjang jurang, sementara kabut tipis mulai turun dari dinding-dinding batu yang menjulang di kedua sisinya.
Beberapa saat kemudian, burung kecil itu menghentikan kepakan sayapnya.
Tepat di bawahnya, sekitar dua zhang di dalam air, seekor ikan hitam besar mengambang tanpa bergerak. Tubuh ikan itu perlahan hanyut mengikuti arus, sesekali tersangkut di sela batu sebelum kembali terdorong oleh gelombang.
Xioutian mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ikan hitam? Dari mana datangnya ikan sebesar ini..."
Ia terbang mengikuti ikan itu dari atas, sementara pikirannya bekerja dengan cepat. Jurang ini aneh, persepsi spritual tidak berguna, dan ada pula ikan hitam besar yang terlihat kuat, tetapi kondisinya sekarat. Memakan ikan dari tempat yang aneh seperti ini, merupakan sensasi yang paling dia sukai.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔