Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:706.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Ditampar Kenyataan

Bu Sumarni terdiam beberapa saat. Bibirnya mengatup rapat, sementara tatapannya tak lepas dari Arini. Untuk pertama kalinya, keyakinan yang selama ini dia pegang mulai terusik. Selama bertahun-tahun, dia selalu menganggap Arini hanyalah perempuan yang hidup bergantung pada suaminya, tidak memiliki pekerjaan, dan setiap hari hanya menghabiskan uang hasil jerih payah Galang.

Namun, kenyataan yang baru saja terbentang di depan matanya benar-benar bertolak belakang. Kantor megah ini, puluhan karyawan yang begitu menghormati Arini, hingga cara semua orang memperlakukannya dengan penuh respek menjadi bukti bahwa selama ini dialah yang keliru menilai.

Sesaat, wajah Bu Sumarni tampak canggung. Ada rasa malu yang sempat menyelinap di sudut hatinya. Akan tetapi, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan. Ego yang selama ini menguasainya membuat pengakuan itu tertahan di tenggorokan.

Lagipula, bukan Bu Sumarni namanya jika begitu saja mengakui kehebatan menantunya. Bukannya meminta maaf atau mengakui penilaiannya yang salah, dia justru berusaha mencari celah agar tetap bisa merendahkan Arini.

"Huh, paling juga semua ini hasil uang Galang," gumamnya pelan dengan nada sinis. "Jangan-jangan perusahaan ini dibangun pakai gaji anakku. Pantas saja selama ini pura-pura jadi ibu rumah tangga."

Tatapannya kembali mengarah kepada Arini, kali ini bukan dengan rasa kagum, melainkan sorot penuh gengsi dan iri. Baginya, mengakui keberhasilan Arini sama saja dengan mengakui bahwa selama ini dia telah berlaku tidak adil kepada menantunya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah mudah dia lakukan.

"Arini sudah berhasil jauh sebelum ketemu Galang," ujar Hani dengan suara tegas. Tatapannya lurus ke arah Bu Sumarni, seolah menantang wanita paruh baya itu untuk membantah fakta yang baru saja diungkapkan.

Bu Sumarni mendengus pelan. Sudut bibirnya terangkat sinis.

"Ah, terserah kalian mau ngomong apa pun. Yang jelas, di balik kesuksesan seorang istri pasti ada suami yang selalu mendukung. Benar, kan?" katanya sambil menyilangkan kedua tangan di dada, merasa argumennya tak mungkin dipatahkan.

"Hah? Support?" Hani sampai terkekeh tidak percaya. "Support apa? Justru Mas Galang yang selama ini merecoki keuangan Arini. Berkali-kali minta uang, berkali-kali memanfaatkan hasil kerja Arini. Itu namanya bukan mendukung, Bu, tapi membebani."

Wajah Bu Sumarni langsung mengeras. Namun, alih-alih merasa malu, dia tetap berusaha mempertahankan pendapatnya.

"Kamu jangan menafikan peran suami. Nggak bagus ngomong begitu."

Hani menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. Kesabarannya benar-benar diuji.

"Dasar nenek-nenek keras kepala," gumamnya pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang. "Bukannya minta maaf setelah tahu yang sebenarnya, malah masih sibuk cari celah buat mendiskreditkan menantu sendiri."

"Kamu nggak usah ikut campur!" bentak Bu Sumarni sambil menunjuk Hani. "Ini urusanku dengan Arini. Dia menantuku!"

Ruangan kembali hening. Semua mata beralih kepada Arini yang sejak tadi memilih diam.

Arini menarik napas dalam sebelum akhirnya berdiri. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keteguhan yang tidak lagi bisa digoyahkan.

"Oke," ucapnya pelan. "Kalau begitu, sebenarnya maksud Ibu datang ke sini mau apa?"

Bu Sumarni terdiam.

"Kalau tujuan Ibu ke sini untuk memintaku membatalkan gugatan cerai di pengadilan, sama seperti yang Mas Galang lakukan kemarin..." Arini berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke arah ibu mertuanya. "...maaf, Bu. Aku tidak bisa."

"Kok nggak bisa?" tanya Bu Sumarni cepat, nada suaranya meninggi.

Senyum tipis terukir di bibir Arini. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum getir dari seseorang yang akhirnya menerima kenyataan.

"Karena sekarang aku sudah sadar."

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap terdengar mantap.

"Selama ini aku hanya dimanfaatkan. Aku bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaanku. Tapi semua itu tidak pernah membuatku dihargai sebagai seorang istri."

Arini menggeleng pelan.

"Yang dianggap berharga hanya uangku. Ketika uangku dibutuhkan, aku dicari. Ketika keinginanku berbeda, aku disalahkan. Bahkan saat suamiku menikah lagi tanpa persetujuanku, yang diminta mengalah tetap aku."

Ia menatap Bu Sumarni tanpa sedikit pun rasa takut.

"Jadi, untuk apa aku mempertahankan rumah tangga yang sejak awal hanya menjadikanku tempat mengambil keuntungan? Aku lelah, Bu. Dan kali ini, aku memilih menghargai diriku sendiri."

Kalimat terakhir itu menggantung di udara, membuat ruangan kembali sunyi. Bahkan Hani yang sejak tadi paling vokal memilih diam, memberi kesempatan kepada Bu Sumarni untuk mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Arini.

"Mbak... jangan begitu, dong." Suara Vera akhirnya memecah keheningan. Wajahnya berubah memelas, matanya mulai berkaca-kaca. "Kasihanilah aku. Aku ini anak yatim, sudah nggak punya ayah. Dari mana aku dapat uang buat menyelesaikan kuliah kalau Mbak memilih bercerai dengan Mas Galang?"

Tatapan Vera penuh harap, seolah berharap belas kasihan Arini masih sebesar dulu.

Namun, Arini hanya mengembuskan napas pelan. Hatinya memang lembut, tetapi kelembutan itu telah terlalu sering dimanfaatkan.

"Maaf, Ver," ucapnya tenang. "Aku sudah nggak bisa membantumu lagi. Kamu masih punya dua kakak yang bisa membantu biaya kuliahmu."

Vera langsung menggeleng cepat.

"Lah, Mbak Arin kan tahu sendiri keadaan ekonomi mereka."

Arini tersenyum tipis. Senyum yang justru menyiratkan kekecewaan mendalam.

"Kalau memang kamu masih membutuhkanku, kenapa dulu kamu mendukung pernikahan Mas Galang dengan Mayang?" tanyanya pelan. "Aku benar-benar kecewa sama kamu, Ver. Kamu memilih berdiri di pihak mereka."

Arini menatap adik iparnya itu lekat-lekat.

"Padahal, selama ini apa kurangnya aku sebagai iparmu? Saat kamu butuh uang kuliah, siapa yang membantu? Saat kamu butuh biaya buku, uang saku, bahkan kebutuhan sehari-hari, siapa yang selalu berusaha memenuhi? Tapi ketika aku yang disakiti, kamu justru membela orang yang menghancurkan rumah tanggaku."

Vera menundukkan kepala. Jemarinya saling meremas karena gugup.

"Maafkan aku, Mbak," lirihnya. "Waktu itu... Ibu bilang kalau Mbak Mayang orang kaya. Katanya dia pasti lebih royal sama aku, jadi masa depanku bakal lebih terjamin."

Belum sempat Arini menjawab, Hani sudah lebih dulu menyela sambil melipat kedua tangan di dada.

"Buktinya mana?"

Vera terdiam. Hani mendekat selangkah sambil mengangkat sebelah alis.

"Buktinya sekarang apa? Mayang yang katanya tajir itu pernah biayain kuliahmu? Pernah ngasih uang bulanan? Pernah bantu kebutuhanmu?"

Vera hanya menggigit bibir bawahnya.

"Buktinya..." ucapnya lirih dengan wajah penuh penyesalan, "...dia malah sangat perhitungan. Jangankan membantu biaya kuliahku, memberi uang jajan saja hampir nggak pernah."

Hani langsung menepuk kedua tangannya sambil tertawa lepas.

"Ha ha ha! Kasiaaan deh lu!"

Tawanya menggema memenuhi ruangan, membuat wajah Vera semakin memerah karena malu.

"Mau untung malah buntung," sambung Hani sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dulu ninggalin orang yang benar-benar tulus demi berharap hidup enak sama orang kaya. Eh, ternyata yang didapat malah zonk."

Arini tidak ikut tertawa. Ia hanya memandang Vera dengan senyum tipis yang terasa begitu getir.

"Dari dulu yang aku harapkan bukan balasan, Ver," ucapnya lirih. "Aku hanya ingin dihargai dan tidak dikhianati. Tapi ternyata, kebaikanku kalah oleh janji-janji tentang harta yang bahkan sampai sekarang tidak pernah terbukti."

Ruangan kembali hening. Kali ini, Vera benar-benar tidak mampu mengangkat kepalanya. Penyesalan yang selama ini ia pendam terasa semakin berat ketika menyadari bahwa orang yang paling tulus membantunya justru telah ia kecewakan.

______________________________

Hai Readers, makasih ya, novel ini terpilih menjadi 20 bab terbaik. Support terus, biar terpilih kembali menjadi 40 bab terbaik. jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa juga beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih banyak Readers setiaku. 🥰🥰🥰 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Achmad
luarbiasa Thor
Fenny Agustyawaty
bagusss..ceritanya plus g ada typo..jg bacanya jg nyaman...syg cpt bgt end nya
echa purin
👍
Katherina Ajawaila
jgn mau di madu Arini, minta talak ja, rugi nanti kamu hanya di jd in ART, udh keluar dr rmh mumpung msh muda. cari kerja sioga dpt jodoh yg lebih baik dr pd galang ngk jelas, egois doyang cuci botol 🤬
🌹🪴eiv🪴🌹
yuhu.... happy ending
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
Suyati
jangan lama" terbongkarnya thor
Suyati
ga punya urat malu begitu dah si mayang
Suyati
mampus lo galang
Suyati
wah benalu kalang kabut dah rumah mo d jual👍
Indra Wahyu Rianti
bagus sukaaak
Suyati
galang rasain loh, emang enak
Suyati
nah gt cepet sat set
Suyati
arini udah mati hatinya tuk penghianat
Suyati
bagus arini, cepet keluar tar suami laknat keburu pulang
Jamayah Tambi
Banyak pulak songeh,dah minta maaf dah la.Nak ulang masa lalu .Banyak cejadak orang tua ni.
echa purin
👍
Anisa Sudarwanto
maksih thor..👍bgus ceritanya akhirnya semua merasakan kebahagiaan..seandainya dunia nyata kek gini ya..🤣
Jamayah Tambi
Hasil uang haram,Dyka langgan pelacur,khinati isteri, kan dah mendapat.Mana nak cari uang dlm masa seminggu utk ganti kerugian resto
Jamayah Tambi
Kerjanya tidak jujur
Jamayah Tambi
Lepas ni tak usah nak sombong dah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!