Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Brum. Brum.

Suara bising kendaraan bermotor bersahut-sahutan di jalan protokol pusat kota sore itu.

Asap knalpot mengepul tebal bercampur dengan debu jalanan yang diterbangkan angin.

Galang memarkirkan gerobak mie ayamnya yang kini beralih fungsi tepat di trotoar sebelah Halte Bus Trans Utama.

Jam di layar ponsel retaknya menunjukkan pukul lima sore tepat.

[Misi Mingguan Kedua Dimulai.]

[Waktu tersisa: 5 jam 00 menit.]

[Progres Penjualan: 0/50 porsi.]

Layar biru sistem muncul sejenak sebelum menghilang menjadi serpihan cahaya.

Galang menghela napas panjang melihat kerumunan pekerja kantoran yang memadati halte bus tersebut.

Mereka semua tampak kelelahan dengan wajah masam menunggu bus yang tak kunjung datang.

Galang segera menyiapkan kompor dan bahan-bahannya dengan cekatan.

Ia mengambil sebuah kardus bekas dan spidol spidol hitam dari laci gerobaknya.

Dengan tulisan tangan yang cukup rapi, ia menuliskan menu tunggalnya hari ini.

"Nasi Goreng Pemulihan. Harga Rp 35.000 per porsi."

Galang menggantungkan kardus itu di bagian depan etalase kaca gerobaknya yang sudah diperbaiki seadanya.

Ia menelan ludah dengan susah payah saat melihat tulisan harga yang ia buat sendiri.

"Harga segini untuk ukuran kaki lima benar-benar bunuh diri," batin Galang cemas.

"Tapi kalau aku jual lebih murah, modal bahan-bahan mahal tadi siang tidak akan kembali."

Beberapa orang yang berlalu lalang mulai menoleh ke arah gerobak Galang.

Seorang pria berdasi yang kemejanya sudah kusut berhenti sejenak di depan gerobak.

"Mas, jualan nasi goreng ya?" tanya pria itu.

"Iya Pak, silakan dicoba nasi goreng spesialnya," jawab Galang dengan senyum ramah.

Mata pria itu membaca tulisan di kardus bekas tersebut dan keningnya langsung berkerut dalam.

"Tiga puluh lima ribu?" seru pria itu dengan nada mengejek.

"Kamu ini mau jualan atau mau merampok orang pulang kerja?"

"Di restoran depan sana saja harga nasi gorengnya cuma dua puluh lima ribu sudah pakai ayam."

Galang tersenyum canggung menanggapi protes pelanggan potensial pertamanya itu.

"Ini pakai bahan-bahan premium Pak, rasanya dijamin sepadan dengan harganya," Galang berusaha meyakinkan.

Pria berdasi itu hanya mendengus kasar.

"Alah, paling rasanya sama saja seperti nasi goreng pinggir jalan lainnya," ucap pria itu sambil melenggang pergi.

"Gerobak saja masih pakai kayu bekas mie ayam begitu."

Galang hanya bisa mengelus dada mendengar hinaan pedas tersebut.

Satu jam berlalu dengan sangat lambat dan menyiksa bagi Galang.

Beberapa orang sempat mampir untuk bertanya, namun semuanya pergi begitu melihat harganya.

[Progres Penjualan: 0/50 porsi.]

[Waktu tersisa: 4 jam 00 menit.]

Galang mulai merasa panik dan keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.

Jika ia gagal menjual lima puluh porsi malam ini, sistem akan menghancurkan gerobaknya dengan petir.

"Aku tidak boleh diam saja menunggu pelanggan datang," gumam Galang sambil meraih spatulanya.

"Aku harus memancing mereka dengan aroma masakan ini."

Cetek. Wusss.

Galang menyalakan kompor dan memanaskan wajan besinya hingga berasap.

Ia mulai memasak satu porsi nasi goreng pemulihan menggunakan teknik yang diberikan sistem.

Sreng!

Bawang putih tunggal yang menyentuh minyak panas langsung meledakkan aroma harum yang luar biasa.

Wanginya terbawa angin senja dan menyebar ke seluruh area ruang tunggu halte bus.

Beberapa orang yang sedang memainkan ponsel tiba-tiba mendongakkan kepala mereka.

Hidung mereka mengendus udara dengan ekspresi kebingungan bercampur lapar.

Trak trak trak.

Suara ayunan wajan Galang yang berirama terdengar seperti sebuah pertunjukan memasak profesional.

Tepat pada saat itu, seorang wanita muda berjalan gontai mendekati area halte.

Wanita itu bernama Nadia Prameswari.

Rambut sebahunya terlihat sedikit berantakan dan wajah cantiknya tertutup oleh raut kelelahan yang amat sangat.

Nadia baru saja dimarahi habis-habisan oleh manajernya karena kesalahan rekan satu timnya.

Ia harus lembur menyalin ratusan data hingga kepalanya terasa mau pecah.

Kruyuk.

Perut Nadia berbunyi cukup keras memprotes karena ia melewatkan jam makan siangnya hari ini.

"Lapar sekali, tapi aku sama sekali tidak selera makan makanan berat," keluh Nadia pelan.

Tiba-tiba, angin berhembus membawa aroma karamelisasi kecap dan bawang putih tepat ke hidungnya.

Langkah kaki Nadia terhenti seketika.

Matanya yang tadi sayu kini terbuka lebar mencari sumber wangi ajaib tersebut.

Pandangannya tertuju pada sebuah gerobak sederhana di ujung trotoar.

Seorang pemuda sedang mengayunkan wajan dengan gerakan yang sangat memukau.

Nadia berjalan mendekati gerobak itu seolah terhipnotis oleh aromanya.

"Mas, aromanya wangi sekali," sapa Nadia saat ia berdiri tepat di depan etalase kaca Galang.

Galang menoleh dan menatap wanita berpenampilan rapi ala pekerja kantoran di depannya itu.

"Terima kasih Mbak, ini nasi goreng pemulihan," jawab Galang cepat sambil tersenyum.

Nadia melihat tulisan harga di kardus bekas dan alisnya sedikit terangkat.

"Tiga puluh lima ribu? Porsinya sebesar apa memangnya?" tanya Nadia penasaran.

"Porsinya standar Mbak, tidak pakai ayam atau sosis, hanya nasi, telur ayam kampung, dan bumbu rahasia," jelas Galang jujur.

Nadia mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Galang.

"Hanya telur? Berarti harganya sangat mahal untuk ukuran kaki lima Mas," kata Nadia dengan nada kritis.

"Saya biasa makan di kafe saja harganya tidak semahal ini untuk menu biasa."

Galang menarik napas panjang dan memutuskan untuk mengambil resiko besar.

"Mbak kelihatan sangat lelah dan stres pulang kerja," tebak Galang sambil menatap mata Nadia.

Nadia sedikit terkejut karena pedagang jalanan ini bisa membaca kondisinya dengan tepat.

"Kalau Mbak makan nasi goreng buatan saya ini dan rasa lelah Mbak tidak berkurang, Mbak tidak usah bayar," tawar Galang dengan suara mantap.

"Saya berikan gratis khusus untuk pelanggan pertama saya hari ini."

Nadia terdiam sejenak menimbang-nimbang tawaran yang terdengar sangat sombong itu.

Namun aroma gurih dari wajan Galang benar-benar meruntuhkan pertahanan akal sehatnya.

"Baiklah, kebetulan saya sedang malas berdebat," putus Nadia sambil menarik kursi plastik.

"Buatkan saya satu porsi, tapi kalau rasanya mengecewakan, saya akan pergi tanpa membayar sepeser pun."

"Siap Mbak, tunggu sebentar!" seru Galang dengan semangat yang kembali menyala.

Galang segera menuangkan porsi nasi goreng yang baru saja ia masak itu ke atas piring.

Asap panas mengepul membawa aroma manis dan gurih yang menusuk penciuman Nadia.

Piring itu disajikan tepat di atas meja kayu kecil di depan Nadia.

"Silakan dinikmati Mbak," ucap Galang sambil menyodorkan sendok dan garpu.

Nadia menatap nasi goreng kecoklatan itu dengan pandangan menyelidik.

Tampilannya sangat biasa, bahkan tidak ada hiasan timun atau tomat di pinggir piring.

"Tampilannya sih biasa saja," gumam Nadia pelan.

Ia mengambil sesendok kecil dan meniupnya perlahan sebelum memasukkannya ke dalam mulut.

Kunyah.

Gerakan rahang Nadia mendadak terhenti pada kunyahan kedua.

Matanya membulat sempurna seolah baru saja disambar petir di siang bolong.

Ledakan rasa gurih dari telur ayam kampung organik menyapu lidahnya dengan lembut.

Rasa manis dari kecap hitam premium itu tidak membuat eneg sama sekali, justru memberikan sensasi karamel yang mewah.

Dan sensasi hangat dari bawang putih tunggal itu turun ke tenggorokannya memberikan kenyamanan yang luar biasa.

"Ini... ini enak sekali," bisik Nadia tanpa sadar.

Tangannya bergerak sendiri menyendok suapan kedua, lalu suapan ketiga dengan tempo yang semakin cepat.

Trang. Trang.

Suara sendok beradu dengan piring terdengar nyaring mengalahkan suara bising kendaraan di jalan raya.

Nadia tidak peduli lagi dengan citranya sebagai wanita karir yang elegan.

Ia makan dengan sangat rakus layaknya orang yang belum makan berhari-hari.

Sesuatu yang ajaib mulai terjadi di dalam tubuh Nadia saat nasi goreng itu masuk ke perutnya.

Rasa kaku di tengkuk dan bahunya akibat duduk seharian di depan komputer perlahan mengendur.

Kepalanya yang tadi berdenyut nyeri karena stres kini terasa jauh lebih ringan dan jernih.

Hawa hangat mengalir ke seluruh nadinya menggantikan rasa lelah yang sejak pagi menyiksanya.

"Haaaah..." desah Nadia panjang setelah menelan suapan terakhirnya.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi plastik dengan ekspresi sangat rileks dan bahagia.

Beban berat di pundaknya seolah menguap begitu saja bersama sisa uap nasi goreng.

Galang memperhatikan reaksi wanita itu dari balik gerobaknya dengan perasaan lega.

Efek magis dari resep sistem itu kembali terbukti ampuh pada orang lain.

"Bagaimana Mbak rasanya?" tanya Galang memecah keheningan. "Apakah rasa lelahnya sedikit berkurang?"

Nadia membuka matanya dan menatap Galang dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Tidak ada lagi tatapan kritis atau meremehkan dari wanita cantik itu.

"Mas, kamu masukkan obat penenang ya ke dalam nasi goreng ini?" tanya Nadia dengan nada setengah bercanda.

"Tentu saja tidak Mbak, itu murni khasiat dari bahan-bahan organik dan teknik memasak saya," bantah Galang halus.

Nadia tertawa kecil mendengar jawaban Galang yang terdengar sangat percaya diri itu.

Ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan.

"Ini uangnya Mas, tidak usah dikembalikan," kata Nadia sambil meletakkan uang itu di atas etalase.

"Tiga puluh lima ribu itu sebenarnya terlalu murah untuk perasaan tenang yang saya dapatkan malam ini."

Mata Galang berbinar terang melihat uang lima puluh ribu pertamanya malam ini.

"Terima kasih banyak Mbak!" ucap Galang sambil membungkuk sopan.

Nadia mengambil ponselnya dan mengarahkan kameranya ke arah gerobak Galang.

Cekrek.

Bunyi rana kamera ponsel terdengar pelan.

"Boleh saya foto ya Mas, saya mau unggah ke media sosial saya," izin Nadia sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya.

"Kebetulan pengikut saya lumayan banyak, hitung-hitung bantu promosi pedagang jujur seperti Mas."

"Wah, silakan Mbak, saya malah sangat berterima kasih," jawab Galang dengan gembira.

Nadia berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

Wajahnya kini terlihat segar bugar seolah ia baru saja bangun dari tidur malam yang sangat nyenyak.

"Nama saya Nadia," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Saya Galang, Mbak," balas Galang menerima jabatan tangan itu dengan canggung.

"Masakanmu luar biasa Galang, besok malam saya pasti akan mampir ke sini lagi sepulang kerja," janji Nadia sambil tersenyum manis.

Nadia pun berbalik dan berjalan menuju halte bus dengan langkah yang sangat ringan dan bersemangat.

Galang menatap kepergian Nadia dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

Ting.

Suara lonceng mekanis dari sistem kembali berbunyi di dalam pikirannya.

[Progres Penjualan: 1/50 porsi.]

[Waktu tersisa: 3 jam 20 menit.]

Galang mengepalkan tangannya ke udara.

Satu porsi sudah terjual, tapi ia masih punya hutang empat puluh sembilan porsi lagi malam ini.

"Ayo Galang, jangan lengah," gumam Galang menyemangati dirinya sendiri.

"Efek unggahan media sosial Mbak Nadia pasti belum akan terasa malam ini."

Ia harus memutar otak mencari cara untuk menjual puluhan porsi sisanya sebelum batas waktu habis.

Tepat saat Galang sedang berpikir keras, tiga orang pemuda berjaket kulit berjalan mendekati gerobaknya dengan wajah garang.

1
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!