Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Perang Terbuka
Suara hujan deras di luar mobil beradu dengan alunan musik indie-pop yang mengalun pelan dari radio taksi online. Di kursi belakang, Cassandra duduk bersisian dengan Narendra. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Bau aroma kayu manis dari parfum Narendra samar-samar memenuhi indra penciumannya. Memicu rasa hangat yang janggal di dada Cassandra. Sebuah getaran nyata yang mulai mengaburkan batas antara akting dan perasaan sesungguhnya.
"Lengan lu masih sakit, Cas?" suara Narendra memecah keheningan, menatap pergelangan tangan Cassandra yang terbebat perban.
Cassandra menoleh, menyunggingkan senyum manis yang sengaja dibuat sedikit redup. "Sedikit linu, sih. Tapi dibandingin rasa takut gue tadi pagi, ini enggak ada apa-apanya. Makasih ya, Ren... kalau enggak ada lu, gue enggak tahu harus gimana."
Narendra menghela napas. Tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang amat dalam. "Gue yang harusnya minta maaf. Gara-gara drama gue sama Anggita, lu yang jadi sasaran."
Cowok itu menyandarkan kepalanya ke jok mobil, menatap ke luar jendela yang buram oleh titik-titik air. "Gue makin enggak paham sama Anggita. Dia makin protektif, tapi dengan cara yang makin enggak sehat."
Cassandra mengamati profil wajah Narendra dari samping. Celah itu sudah terbuka lebar. Tinggal bagaimana ia menanamkan akarnya lebih dalam.
"Kadang orang bertindak ekstrem karena takut kehilangan, Ren. Tapi caranya aja yang salah," bisik Cassandra lembut. Memberi kesan empati yang makin membuat Narendra merasa Cassandra adalah cewek paling pengertian yang pernah ia temui.
Ketika taksi berhenti di depan gerbang rumah Cassandra yang megah, namun sepi, Narendra berinisiatif memayunginya sampai ke teras.
"Makasih udah antar gue, Ren. Lu mau mampir dulu? Di rumah lagi sepi, tapi gue bisa buatkan teh hangat," tawar Cassandra polos saat mereka berdiri di bawah naungan teras depan.
Narendra tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Lain kali aja, Cas. Gue mau langsung ke rumah sakit, mau nengokin Kakek."
Mata Cassandra berbinar. Tanpa ragu, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu berukir tulisan doa kesembuhan yang sempat ia beli secara impulsif kemarin. Ia meraih tangan Narendra dan meletakkannya di telapak tangan cowok itu.
"Titip ini buat Kakek lu, ya. Sampaikan salam dari gue," ucap Cassandra tulus.
Narendra menggenggam gantungan kayu itu. Ada kilat kehangatan yang tak bisa disembunyikan dari matanya. "Makasih banyak, Cas. Lu bener-bener beda dari apa yang orang-orang bilang tentang lu."
Saat taksi yang membawa Narendra berlalu meninggalkan pekarangan, Cassandra masih berdiri di teras. Senyum tipisnya bertahan lama, hingga sirna seketika saat ponselnya bergetar di dalam saku.
Bukan pesan ancaman, melainkan notifikasi dari grup chat angkatan yang mendadak banjir ratusan pesan. Cassandra membuka aplikasinya. Ibu jarinya membeku.
Di sana, sebuah dokumen PDF berukuran besar diunggah oleh akun anonim dengan judul mencolok: "BOBOT, BIBIT, BEBET CASSANDRA: ALASAN KENAPA DIA DIUSIR DARI SEKOLAH LAMANYA."
Cassandra menekan berkas itu dengan jantung bertalu keras. Di dalamnya terlampir surat kepindahan paksa dari SMA Nusantara—sekolah lamanya—lengkap dengan stempel merah dan catatan pelanggaran berat: Tuduhan Penggelapan Dana Pentas Seni dan Penganiayaan Teman Satu Angkatan.
Tak hanya itu, dokumen tersebut juga memuat kliping berita lama tentang bisnis ayah Cassandra yang pernah tersandung kasus pencucian uang beberapa tahun lalu.
Di bawah berkas itu, pesan-pesan dari teman sekelasnya bermunculan bagai bah air bah:
Dion: "Anjir, ini beneran dokumen rekam medis sama catatan BK-nya Cas?"
Siska: "Pantesan serba tertutup soal keluarganya. Ternyata bapaknya mantan narapidana finansial?"
Bima: "Gue kira cuma rebel biasa, ternyata ada riwayat kriminalitasnya..."
Gigi Cassandra menggeretak. Tangannya gemetar hebat—bukan karena takut, melainkan amarah yang meletup-letup hingga ke ubun-ubun.
Anggita tidak main-main. Cewek sok suci itu baru saja membongkar luka paling busuk dan trauma masa lalu yang berusaha Cassandra kubur dalam-dalam.
Malam harinya, pukul 20.00 WIB.
Cassandra duduk di lantai kamarnya, dikelilingi keremangan lampu meja. Foto-foto dan dokumen masa lalunya tersiar di seluruh media sosial sekolah. Anggita telah mengubah perang dingin tersembunyi menjadi pembantaian karakter secara terbuka di ranah publik.
Ponselnya berbunyi. Nama Narendra tertera di layar.
Cassandra menarik napas panjang, menetralkan suaranya yang hampir serak sebelum menekan tombol hijau.
"Halo, Ren?"
Suara di seberang sana terdengar berat dan penuh keraguan. "Cas... lu udah lihat grup angkatan?"
Hening sejenak. Cassandra sengaja membiarkan jeda itu terasa menyiksa.
"Udah," jawab Cassandra pelan. Mengatur intonasi suaranya agar terdengar seperti seseorang yang baru saja hancur berkeping-keping.
"Bagus, kan? Sekarang lu dan seisi sekolah udah tahu seberapa kotornya latar belakang gue."
"Cas, gue enggak peduli soal berita burung di grup itu—"
"Gue enggak bohong soal sepupu gue kemarin, Ren!" potong Cassandra dengan nada tercekat, sengaja menyuntikkan emosi keputusasaan yang alami. "Tapi soal masa lalu gue... itu emang benar. Bapak gue pernah dipenjara, dan gue pernah dikeluarkan dari sekolah karena difitnah geng lama gue. Gue ini cewek cacat reputasi, Ren. Anggita benar... lu harusnya menjauh dari gue."
"Cas, dengarin gue dulu—"
TUT!
Cassandra mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur. Mematikan telepon adalah bagian dari taktik psychological warfare: membuat Narendra panik, merasa bersalah, dan terdorong untuk mencarinya secara langsung alih-alih sekadar menginterogasi via pesan singkat.
"Lu mau main kotor pakai masa lalu gue, Anggita?" bisik Cassandra seraya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Gue bakal bikin dokumen itu jadi bumerang yang menghancurkan lu sendiri."
Keesokan harinya, pukul 06.30 WIB.
Suasana SMA Garuda gempar. Berita tentang dokumen rahasia Cassandra menjadi topik panas di setiap sudut koridor. Saat Cassandra melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah, ratusan pasang mata menatapnya dengan pandangan bisik-bisik, sinis, dan penuh penghakiman.
Namun Cassandra tidak menunduk. Ia berjalan tegak dengan seragam rapi, dagu terangkat, seolah-olah cibiran di sekelilingnya hanyalah angin lalu.
Di lantai dua, dekat ruang OSIS, Anggita berdiri bersedekap bersama gengnya dan cowok berbaju basket semalam—Raka, kapten tim basket sekaligus sepupu Anggita yang punya akses ke dokumen internal sekolah. Anggita tersenyum puas melihat Cassandra berjalan sendirian dalam kepungan gosip.
"Gimana rasanya telanjang di depan satu sekolah, Cas?" gumam Anggita penuh kemenangan.
Namun, senyum Anggita membeku ketika dari arah berlawanan, Narendra berjalan cepat menembus kerumunan murid. Narendra tidak bergabung dengan teman-teman basketnya. Cowok itu langsung menghampiri Cassandra, mengambil tas punggung Cassandra dari bahunya secara paksa untuk ia bawakan, lalu menggenggam jemari Cassandra erat-erat di hadapan ratusan pasang mata.
Kerumunan murid seketika riuh. Plot twist yang tidak disangka-sangka.
Anggita melebarkan matanya, tak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Ia langsung berlari turun tangga. Menghadang langkah Narendra dan Cassandra di tengah koridor utama.
"Ren! Lu gila?!" bentak Anggita hysteris, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang jadi pusat perhatian satu sekolah. "Lu udah lihat dokumen itu, kan? Dia itu penjahat! Dia dikeluarkan dari sekolah lamanya karena kasus penganiayaan dan penggelapan! Bapaknya juga mantan koruptor! Lu mau reputasi lu hancur cuma gara-gara cewek bermasalah kayak dia?!"
Narendra menghentikan langkahnya. Ia menatap Anggita dengan tatapan dingin yang belum pernah Anggita lihat sebelumnya—sebuah tatapan jijik dan kecewa yang amat sangat.
"Yang menyebarkan dokumen pribadi itu ke grup sekolah... lu, kan, Ta?" tanya Narendra pelan namun menusuk.
Wajah Anggita sedikit pucat, tapi ia mencoba bertahan. "Gue cuma mau menyelamatkan lu dari manipulasi dia, Ren! Gue melakukan ini demi lu!"
"Demi gue? Atau demi gengsi lu yang terancam?" potong Narendra tegas.
"Gue enggak peduli apa yang terjadi di masa lalu Cassandra. Yang gue tahu, dia orang pertama yang peduli sama kondisi Kakek gue waktu lu malah sibuk ngurusin reservasi restoran. Dan yang gue tahu... orang yang menyebarkan dokumen rahasia teman sekolahnya sendiri untuk menghancurkannya adalah orang yang jauh lebih jahat daripada siapa pun di sini."
Kata-kata Narendra seperti tamparan keras yang meretakkan keangkuhan Anggita. Beberapa murid di koridor mulai berbisik-bisik. Membalikkan simpati mereka.
"Ren... kamu membela dia dibanding pacar kamu sendiri?!" suara Anggita bergetar hebat. Air mata amarah mulai memenuhi pelupuk matanya.
Narendra melepaskan pegangan tangannya dari Cassandra sejenak, lalu merogoh saku seragamnya. Ia mengeluarkan sebuah gelang pasangan yang dulu pernah diberikan Anggita padanya, dan meletakkannya di atas telapak tangan Anggita.
"Kita putus, Ta," ucap Narendra dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Gue enggak bisa sama cewek yang menggunakan kekuasaannya buat menghancurkan orang lain."
Narendra berbalik, kembali menggenggam jemari Cassandra yang dingin, dan membimbingnya berjalan melewati Anggita yang berdiri kaku bagai patung di tengah koridor, ditatap oleh ribuan pasang mata dengan pandangan kasihan dan cibiran.
Cassandra berjalan di samping Narendra. Di balik wajahnya yang dipasang syok dan serba salah, sebuah kepuasan tak terkira membakar dadanya. Skakmat. Anggita resmi tersingkir dari papan permainan.
Pukul 15.00 WIB.
Atap gedung sekolah sepi dan angin berembus kencang. Setelah seharian menghindari kejaran media sosial sekolah dan pertanyaan guru, Cassandra berdiri menyendiri di tepi pagar pembatas atap.
Narendra berjalan mendekat dari arah pintu tangga, membawa dua kaleng minuman soda dingin. Ia menyerahkan satu kaleng ke Cassandra.
"Makasih buat yang tadi pagi, Ren," bisik Cassandra, menatap lurus ke langit sore yang kemerahan. "Tapi lu enggak seharusnya mutusin Anggita demi membela gue. Sekarang lu yang bakal kena masalah sama keluarga Anggita."
Narendra menenggak sodanya, memutar tubuh menyandar ke pagar besi. "Gue enggak mutusin dia demi lu, Cas. Gue mutusin dia karena baru sadar kalau selama ini gue cuma suka sama bayangan ideal yang dia tampilkan, bukan sifat aslinya."
Narendra menoleh, menatap wajah Cassandra dari samping. "Lagipula... perasaan gue ke lu bukan cuma sekadar rasa kasihan lagi."
Dada Cassandra berdesir hebat. Kata-kata itu meluncur begitu mulus dari mulut Narendra. Membuat rencana liciknya yang semula hanyalah permainan manipulasi terasa berubah menjadi sesuatu yang nyata dan berbahaya.
"Ren..."
"Gue mau selalu ada buat lu, Cas," lanjut Narendra tulus, menatap tepat ke dalam manik mata Cassandra.
Saat suasana di antara mereka mendadak berubah intens dan manis, pintu seng di atap gedung mendadak terdorong terbanting keras hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.
BAM!
Cassandra dan Narendra terperanjat menoleh.
Bukan Anggita yang berdiri di sana. Melainkan seorang cowok tinggi berjaket kulit hitam dengan seragam dari sekolah lain—SMA Nusantara, sekolah lama Cassandra. Cowok itu melepas helmnya, menyunggingkan senyum miring yang penuh ancaman.
"Wah, wah... romantis banget ya," ujar cowok asing itu dengan nada suara yang sangat mengenali Cassandra.
Cassandra terpaku di tempatnya. Wajahnya yang semula tenang seketika pucat pasi. Cowok di depannya adalah Rizal—mantan ketua geng sekaligus dalang utama yang sebenarnya membuat Cassandra dikeluarkan dari sekolah lamanya, orang yang tahu rahasia paling mengerikan yang selama ini disembunyikan Cassandra bahkan dari dokumen yang disebar Anggita.
Rizal melangkah mendekat seraya menatap Narendra dengan tatapan meremehkan, lalu mengarahkan pandangannya ke Cassandra.
"Lu pikir bisa lari dan pura-pura jadi cewek polos di sekolah baru ini, Cas?" tanya Rizal dengan suara bernada intimidasi yang pekat.
"Narendra... lu yakin mau pacaran sama dia? Lu tahu enggak, kalau alasan sebenarnya dia dikeluarkan dari sekolah lama itu bukan cuma karena penganiayaan... tapi karena dia yang bikin mantan pacarnya hampir mati koma di rumah sakit?"
Kata-kata Rizal menggantung di udara sore yang dingin. Narendra terperanjat, menoleh menatap Cassandra dengan raut tak percaya. Sementara itu, Cassandra merasakan bumi di bawah kakinya seolah runtuh seketika.