Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:757.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Keesokan harinya, Jena kembali bertemu Budi ke kafe yang sama seperti kemarin. Namun kali ini, Jena datang dengan sebuah tote bag berukuran besar yang tampak begitu penuh.

Budi mengernyit saat Jena meletakkan tas itu di atas meja.

“Apa ini?”

“Perlengkapan kamu.”

“Perlengkapan apa?”

Jena tidak menjawab. Ia langsung membuka tote bag tersebut dan mengeluarkan isinya satu per satu.

Sebuah setelan jas lengkap. Sepasang sepatu kulit, dan ikat pinggang.

Budi menatap semua benda itu dengan mata membulat. “Jen...” Ia menunjuk jas di atas meja. “Ini buat siapa?”

“Buat kamu.”

“HAH?”

Jena justru santai. Ia merapikan jas tersebut, lalu berkata seolah-olah semua itu adalah hal biasa.

“Nanti di sana, kamu pura-pura jadi CEO.”

Budi membeku. “...Apa?”

“CEO.” Ulang Jena, memasukkan kembali barang-barang tadi ke dalam tote bag. Barang milik Papanya yang untuk sementara, ia pinjamkan pada Budi.

“Aku?”

“Iya.”

“Pura-pura?”

Jena mengangguk mantap.

Budi menatap dirinya sendiri, lalu menatap jas mahal di hadapannya. “Jena, tampang aku ini lebih cocok jadi pegawai yang disuruh fotokopi daripada CEO.”

“Makanya dilatih.”

“Ini bukan latihan public speaking, Jen! Ini penipuan!”

“Bukan penipuan kalau nggak ada yang dirugikan.”

“Belum tentu!” Budi berdecak, tak setuju dengan semua ini.

Jena menghela napas, kemudian mengambil sebuah map dari dalam tas. Ia membukanya dan mengeluarkan tiga lembar kertas yang sudah distaples menjadi satu. “Tenang. Aku sudah siapkan semuanya.”

Budi menerima kertas itu dengan ragu. Begitu membaca halaman pertama, alisnya langsung terangkat.

PROFIL CEO PALSU — WAJIB DIHAFAL

Di bawahnya tertulis nama perusahaan, jabatan, latar belakang pendidikan, jumlah cabang perusahaan, hingga informasi tentang keluarga sang CEO yang harus ia perankan.

Budi membalik halaman berikutnya.

CARA BERBICARA

Jangan menggunakan bahasa terlalu santai.

Jangan tertawa berlebihan. Jawab singkat, tegas, dan percaya diri. Dan masih banyak lagi, panjang lebar satu halaman.

Budi menelan ludah. “Ini serius banget.”

“Memang.”

Ia membalik ke halaman terakhir.

ATURAN SELAMA JADI PACAR PURA-PURA.

Di lembar terakhir itu, dijelaskan apa yang boleh dan tidak boleh, mengenai sentuhan fisik diantara mereka. Pelukan masih dibolehkan, cium pipi, cium tangan, tapi cium bibir, big no.

Budi perlahan menurunkan kertas itu, meletakkan kembali ke atas meja. “Jen...”

“Hm?”

“Kayaknya aku lebih takut sama tiga lembar kertas ini daripada sama orang yang bakal kita temui nanti. Takut gagal jadi aktor, banyak banget yang harus dipelajari."

Jena tersenyum tipis. “Bagus. Berarti kamu mulai sadar betapa seriusnya tugas ini. Oh iya hampir lupa." Jena membuka tas, mengeluarkan satu buah kotak warna hitam, lalu membukanya di atas meja. Sebuah jam tangan mahal. "Ini jaga baik-baik, jangan sampai hilang. Harganya hampir setengah M. Punya Papa aku."

Budi menarik kotak jam tersebut ke arahnya, memperhatikan detail dan merk. Ia tersenyum tipis, teringat merk tersebut, adalah favorit alm. Ayahnya dulu. Ia menutup kembali kotak jam, mendorong ke arah Jena. "Kamu simpan dulu aja, nanti pas hari H, baru aku pakai."

...----------------...

Siang itu, Budi berdiri cukup lama di depan cermin. Ia sudah mengenakan semuanya. Kemeja putih yang rapi. Setelan jas yang pas di tubuhnya, juga sepatu kulit. Rambut yang ditata lebih rapi dari biasanya.

Acara resepsi jam 1 siang, Jena bilang akan menjemput di lokasi dia mangkal jualan, jam 11 siang. Sengaja tak mau mepet, karena harus briefing lebih dulu, juga membangun chemistry.

“Semoga nanti aku nggak mempermalukan diri sendiri.” Budi bermonolog lalu keluar dari kamar.

Baru beberapa langkah, suara ibunya terdengar dari ruang tengah.

“Budi?”

Budi berhenti.

Sang ibu menoleh. Dan seketika, tubuh wanita itu membeku. Matanya membesar. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, diam cukup lama.

Budi mengernyit. “Bu?”

Namun sang ibu justru menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Perlahan, air mata mengalir di pipinya.

Budi panik. “Ibu kenapa?”

Wanita itu tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Semakin dekat, swmakin jelas wajah Budi terlihat.

Setelan jas itu. Kemeja putih itu. Wajah. Cara rambutnya ditata. Bahkan cara Budi berdiri...Semuanya membuat dadanya bergetar. Untuk sesaat, ia seperti melihat suaminya berdiri di hadapannya. Suaminya yang telah lama pergi. Suaminya yang dulu selalu berangkat bekerja dengan penampilan serupa.

Budi memang sangat mirip dengan almarhum papanya. Tetapi siang itu, kemiripan tersebut terasa begitu nyata. Apalagi ketika ia mengenakan pakaian seperti ini.

Tangan sang ibu terangkat, hendak menyentuh bahu Budi. “Budi...” Suaranya bergetar.

Budi semakin bingung. “Iya, Bu."

Air mata ibunya semakin deras. “Ibu seperti melihat Ayah kamu."

Budi terdiam. Seketika, suasana menjadi hening.

Ia menatap ibunya, lalu menundukkan wajah, melihat jas yang dikenakannya.

Budi perlahan menggenggam tangan ibunya. “Bu...InsyaAllah Ayah sudah tenang disana."

Ibunya menatap wajah Budi lekat-lekat. “Kamu... benar-benar mirip Ayah."

Budi tidak sanggup menjawab, ia memeluk ibunya erat. Dan untuk beberapa saat, mereka berdua membiarkan air mata jatuh dalam diam. Sama-sama rindu pada seseorang yang telah berpulang beberapa tahun yang lalu.

Bu Hana menangis di pelukan Budi. Bahunya berguncang, seolah semua luka yang selama ini ia pendam akhirnya tumpah tanpa bisa lagi ditahan.

“Kalau saja musibah kebakaran itu nggak pernah terjadi, hidup kita pasti nggak akan seperti ini, Bud...” suaranya bergetar. “Kamu gak akan putus kuliah. Kamu bisa hidup bersama Ayah dan Abangmu. Kalian bisa meneruskan dan mengembangkan bisnis keluarga.”

Budi memejamkan mata. Dadanya terasa sesak mendengar ibunya kembali mengungkit masa lalu yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Tapi semuanya hilang karena kejadian itu,” lanjut Bu Hana di sela isak tangisnya. “Abangmu pergi... Ayahmu menyusul tak lama kemudian. Kakak iparmu bahkan terpaksa pergi menjadi TKW ke Hong Kong demi membayar hutang alm. Abang kamu. Dan kamu... kamu harus mengubur semua impianmu hanya karena keadaan.”

Budi mengusap perlahan punggung ibunya. “Sudah, Bu...” bisiknya lembut. “Jangan menangisi semua yang sudah hilang.”

“Tapi, Nak...”

“Kita nggak bisa mengubah masa lalu.” Budi menarik napas panjang. “Mungkin memang ini takdir yang harus kita jalani. Yang penting, kita masih punya satu sama lain.”

Bu Hana menggeleng. Air matanya semakin deras. “Tidak, Budi.”

Budi menatap wajah ibunya.

“Ibu belum bisa ikhlas.”

“Bu...”

"Sebelum dalang dari pemfitnahan Ayah kamu terungkap, Ibu tidak bisa ikhlas."

Delapan tahun yang lalu, pabrik kayu milik Ayah Budi terbakar. Ada 5 korban meninggal, termasuk Abangnya menjadi salah satu korban. Namun alih-alih mendapat simpati dan uang asuransi, salah satu satpam di pabrik, malah bersaksi jika ia disuruh membakar pabrik oleh Pak Jatmiko, Ayah Budi sendiri. Alasannya, pabrik hampir bangkrut, Pak Jatmiko tak mau membayar pesangon karyawan. Selain itu, ia melakukan itu juga agar mendapatkan uang asuransi untuk membuka usaha baru.

1
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
Shee_👚
ini yang dulu muntah² di pikir juwita hamil lagi
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
gimana nih! kasihan enggak nih? 🤭 mau kasihan tapi ingat kelakuan kamu juwita. tapi kalau enggak kasihan kok kebangetaannn bangett 😆 yaa sudahlah, setidaknya kini kamu sudah mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan di masalalu juwita. sebelum terjadi sesuatu sama kamu, ada baik nya kamu minta maaf sama bu asri dan jena. supaya langkah mu tak berat lagi juwita..
Azizah az: aku banget ini 😂🤭🤭
total 3 replies
Asih Rahmadhani Bohara
segitunya sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!