Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

MARCO D'AMATO

Mansion itu terlalu sunyi.

Terlalu besar.

Terlalu gelap.

Kulempar kunci ke atas meja marmer di lobi dan kulonggarkan simpul dasiku dengan gerakan kasar, seakan kain itulah yang bertanggung jawab atas sesak di dadaku. Lampu-lampu menyala otomatis seiring langkahku menyusuri koridor, tapi tak ada yang sanggup mengisi kekosongan yang menyertaiku.

Dulu itu tak pernah jadi masalah.

Sunyi selalu jadi sinonim dari kendali.

Malam ini, ia terasa seperti penghakiman.

Aku menuang wiski untuk diriku. Yang biasa. Lalu melangkah ke dinding kaca yang menghadap taman. Malam terasa dingin, langit bersih, dan meski begitu aku merasa gerah. Panas yang mengganggu, terpusat di bawah kulit, mustahil diabaikan.

Kuteguk panjang.

Sia-sia.

Bayangan itu datang tanpa permisi.

Pietra berdiri di hadapanku. Leher yang terbuka saat ia menyibakkan rambut. Caranya yang tak mundur saat aku mendekat. Sikap tenangnya... nyaris kurang ajar dalam menghadapiku tanpa menyadari betapa itu mengoyakku.

Aku memejamkan mata kuat-kuat.

"Ini tidak nyata," gumamku.

Ini hasrat. Sederhana. Biologis. Sesuatu yang kukenal betul.

Tapi kalau begitu, kenapa ia datang bersama rasa bersalah yang mencekik ini?

Aku berjalan menyusuri ruangan yang luas, langkahku bergema di lantai yang tak bercela. Rumah itu dirancang untuk membuat orang terkesan, terintimidasi, tunduk. Namun begitu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa asing di dalamnya.

Ia karyawanku.

Kalimat itu memalu-malu kepalaku seperti sebuah vonis.

Kuusap wajahku, merasakan janggut tipis di bawah jariku. Aku tak menyentuh Pietra. Aku tak melewati satu garis konkret pun. Dan meski begitu... segala hal dalam diriku bereaksi seolah aku sudah melangkah terlalu jauh.

Kusandarkan tangan di sandaran sofa, mencondongkan tubuh ke depan, menarik napas dalam.

Aroma itu.

Terkutuklah aroma itu.

Manis, bersih, feminin dengan cara yang tak memohon perhatian. Aku mendongakkan kepala dan menghirup dalam-dalam, seolah bisa mendatangkannya kepadaku hanya lewat ingatan.

Tubuhku langsung merespons.

Kugenggam gelas wiski lebih erat.

"Kendali," ucapku keras-keras, kepada tak seorang pun.

Aku selalu memegang kendali.

Atas bisnis.

Atas para lelaki berbahaya.

Atas perempuan yang mengira bisa memanfaatkanku.

Lalu kenapa Pietra—tanpa mencoba apa pun, tanpa meminta apa pun, bahkan tanpa menyadarinya—bisa meruntuhkan semuanya?

Rasa bersalah datang menekan berat saat aku memikirkan bagaimana aku membelanya dari Irina. Pada nada suaraku. Pada cara aku menempatkan diri di depannya tanpa ragu.

Itu bukan tindakan rasional.

Itu naluri.

Dan naluri adalah sesuatu yang tak boleh kubiarkan pada diriku.

Aku duduk di sofa, siku bertumpu di lutut, menatap kehampaan. Kenangan tentang dia yang berjalan menyusuri koridor, mantap, tanpa menoleh ke belakang, menghantamku seperti pukulan curang.

Ia tak membutuhkanku.

Dan itu memikatku dengan cara yang nyaris brutal.

Kuusap tengkukku, merasakan ketegangan yang menumpuk di tubuh. Sebagian diriku menginginkan jarak. Bagian lain—yang lebih jujur, lebih berbahaya—ingin kembali merasakan kedekatan itu. Cuma sekali lagi.

Seolah itu akan menyelesaikan sesuatu.

Seolah itu tak akan memperburuk segalanya.

"Kau mulai kehilangan fokus, Marco," gumamku.

Tapi bahkan di sana, sendirian di dalam mansion yang melambangkan semua yang telah kuraih, satu kebenaran memaksakan diri:

Pietra Petrovsky sudah menembus pertahananku.

Dan aku masih belum tahu apakah ingin mengusirnya keluar...

atau justru membuka pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!