Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Sang Ketua Kelas
Jam pelajaran pertama dimulai dengan atmosfer yang sangat canggung bagi Auren. Duduk di sebelah Fathur merasa sangat berbeda dibandingkan saat bersama Evan. Tidak ada lagi wangi parfum yang familier, dan tidak ada lagi tangan yang sesekali mengetuk meja untuk menenangkannya.
Fathur, yang merupakan anak baru yang supel, mulai mengeluarkan buku tulisnya. Ia menoleh ke arah Auren sambil tersenyum ramah. "Eh, hai. Maaf, aku boleh pinjam tip-ex atau pensil dua belas pas? Aku belum sempat bongkar semua alat tulis dari tas," bisik Fathur sopan.
Auren agak canggung, namun ia tetap tersenyum tipis. "Oh, iya boleh. Ini," jawab Auren sambil menyodorkan kotak pensilnya yang bermotif lucu ke tengah meja agar Fathur bisa mengambilnya.
"Wah, makasih ya. Kamu baik banget. Namanya Auren, kan? Salam kenal ya, semoga kita bisa jadi teman sebangku yang kompak," ujar Fathur dengan nada yang cukup lantang dan penuh semangat, bahkan ia sengaja memajukan tubuhnya agar bisa mengobrol lebih dekat dengan Auren.
Di seberang sana, bangku Evan berada cukup jauh, namun matanya sama sekali tidak fokus pada papan tulis. Sejak tadi, pandangan tajam Evan terus menghujam ke arah meja Auren. Rahangnya mengeras seketika saat melihat Fathur tersenyum-senyum dan mencoba mengobrol akrab dengan gadisnya. Ditambah lagi, melihat Auren meminjamkan alat tulisnya, rasa cemburu yang luar biasa hebat langsung membakar dada sang ketua kelas 7-B itu. Di sebelahnya, Anaya yang mencoba mengajak Evan bicara tentang pelajaran pun hanya dibalas dengan anggukan dingin atau gumaman singkat. Evan benar-benar sedang menahan amarah.
Kringgg!!!
Bel istirahat yang dinanti akhirnya berbunyi membahana di koridor sekolah. Bu Linda keluar dari kelas, dan atmosfer tegang langsung memuncak.
Balisya baru saja hendak berdiri untuk menghampiri meja Evan, berharap bisa mengajaknya ke kantin bersama Anaya. Namun, gerakannya kalah cepat. Begitu guru melangkah keluar, Evan langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat hingga kursinya sedikit berdecit.
Tanpa memedulikan tatapan heran dari seisi kelas, termasuk Doni dan Putra yang mulai menahan tawa, Evan berjalan lurus dengan langkah lebar dan tegas menuju meja Auren.
Fathur baru saja hendak membuka suara untuk mengajak Auren ke kantin. "Auren, kamu mau ke kan—"
Tok. Tok.
Suara ketukan dua kali yang sangat keras mendarat di atas meja Auren, tepat di antara Auren dan Fathur. Itu adalah tangan Evan. Fathur langsung terdiam dan mendongak, mendapati tatapan mata Evan yang begitu dingin dan mengintimidasi.
Evan mengabaikan keberadaan Fathur sepenuhnya. Ia menunduk, menatap lekat mata Auren, lalu meraih kotak pensil Auren yang tadinya berada di dekat Fathur dan menggesernya kembali ke pelukan Auren.
"Ayo ke kantin, Aurenku," ujar Evan dengan suara yang sengaja ditegaskan, cukup keras hingga bisa didengar oleh Fathur, Balisya, dan anak-anak kelas 7-B lainnya.
Aura di sekitar meja Auren mendadak terasa begitu pekat dan menegangkan. Fathur yang awalnya tersenyum ramah kini mendadak kikuk. Tatapan mata Evan yang tajam layaknya elang benar-benar mengunci pergerakannya, membuat nyali murid baru itu sedikit menciut. Ditambah lagi dengan penegasan nama panggilan "Aurenku" yang meluncur begitu saja dari bibir sang ketua kelas, mempertegas sebuah batasan tak kasat mata yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun.
Di sudut kelas yang lain, Balisya masih mematung di dekat bangkunya. Tangannya yang semula merapikan rok kini meremas kain seragamnya dengan sangat kuat hingga kukunya memutih. Matanya menatap lurus ke arah Evan yang sedang berdiri angkuh di depan meja Auren.
Ada rasa kecewa yang luar biasa besar yang menghantam dada Balisya saat itu juga. Rencananya gagal total. Strategi licik yang ia susun dengan memanfaatkan kedatangan Anaya dan Fathur agar Bu Linda memisahkan tempat duduk Evan dan Auren, ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil seperti yang ia harapkan.
Balisya mengira, dengan menjauhkan jarak bangku mereka, komunikasi di antara Evan dan Auren akan canggung, lalu perlahan-lahan merenggang dengan sendirinya. Ia berharap kehadiran Anaya di samping Evan bisa mengalihkan perhatian cowok itu, dan kehadiran Fathur bisa membuat Auren menjauh. Namun, realitas yang terjadi di depan matanya justru berbanding terbalik. Jarak fisik yang dipisahkan oleh wali kelas mereka justru memicu sisi posesif dan keberanian Evan yang jauh lebih nekat dari biasanya. Evan bahkan tidak peduli lagi dengan citranya sebagai ketua kelas 7-B yang biasanya selalu menjaga wibawa dan bersikap dingin di depan umum.
Kenapa selalu Auren? Kenapa harus cewek itu yang mendapatkan seluruh perhatian Evan? batin Balisya berteriak frustrasi. Rasa cemburu yang membakar hatinya kini bercampur aduk dengan rasa malu yang luar biasa, karena Doni dan Putra kini terang-terangan melirik ke arahnya sambil tersenyum menyindir, seolah menertawakan rencananya yang berantakan dalam sekejap.
Sementara itu, Auren yang masih duduk di kursinya hanya bisa mengerjapkan mata dengan wajah yang sudah semerah tomat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar oleh orang lain. Ia melirik Fathur yang tampak kebingungan, lalu mendongak menatap Evan yang masih menanti jawabannya dengan wajah yang ditekuk sebal.
"E-Evan... kamu apa-apaan sih, dilihatin anak-anak tahu," bisik Auren super pelan, mencoba menarik pelan ujung seragam Evan agar cowok itu sedikit melunakkan ekspresi wajahnya.
Bukannya melunak, Evan justru menghela napas panjang lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, menyamakan tinggi wajahnya dengan Auren. "Aku tidak peduli mereka mau lihat atau tidak. Ayo ke kantin sekarang, Aurenku. Atau kamu mau aku gandeng dari sini sampai depan koridor?" ancam Evan lembut namun penuh penekanan, matanya beralih sekilas memberikan tatapan peringatan terakhir pada Fathur.
Fathur yang menyadari situasi panas ini langsung mengangkat kedua tangannya pelan sambil tersenyum kikuk. "Eh... iya, Ren. Kamu pergi ke kantin aja duluan sama ketua kelas. Lagian aku juga mau keliling kelas dulu kenalan sama yang lain," ujar Fathur tanggap, mencoba mencairkan suasana agar tidak menjadi korban salah sasaran dari kecemburuan sang ketua kelas.
Mendengar itu, Evan tidak memberikan respons apa pun pada Fathur. Ia langsung menegakkan tubuhnya, lalu dengan gerakan alami yang begitu protektif, tangannya terulur untuk menggenggam jemari Auren dan menuntunnya berdiri dari kursi.
Auren yang sudah tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya di mana lagi hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Evan. Saat mereka berjalan melewati barisan bangku depan, Evan sempat melirik dingin ke arah Balisya yang masih berdiri menahan kesal. Tatapan Evan seolah menyampaikan pesan tegas bahwa trik murahan apa pun tidak akan pernah bisa memisahkannya dari Auren.
Evan terus menuntun Auren keluar dari pintu kelas 7-B, meninggalkan Balisya yang hanya bisa menahan napas dalam kemarahan yang tertahan, meratapi kegagalan total dari rencana yang ia susun demi memisahkan mereka berdua.