Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:497.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 - Surat di Lemari

Perjalanan ke Purwokerto terasa lebih panjang daripada biasanya.

Nadira duduk di kursi depan, memegang ponsel dengan kedua tangan. Di layar, foto dari Fadli masih terbuka. Amplop putih di atas kotak cokelat. Tulisan namanya rapi, terlalu rapi untuk orang yang masuk rumah orang lain di malam hari.

Kalau ingin tahu siapa yang membuangmu, datang sendiri. Jangan bawa suamimu.

Arga menyetir tanpa banyak bicara. Wajahnya pucat karena luka, tapi tangannya stabil di kemudi. Di kursi belakang, satu orang kepercayaan Bima duduk dengan ransel kecil. Namanya Aldi, mantan polisi militer yang sekarang bekerja sebagai pengamanan sipil.

"Mas bisa berhenti kalau pusing," kata Nadira.

"Aku baik."

"Itu bukan jawaban medis."

Arga meliriknya. "Aku pusing sedikit, tapi masih aman menyetir. Kalau memburuk, Aldi ganti."

Aldi langsung menyahut, "Saya siap, Dok."

Nadira mengangguk. Jawaban yang jujur membuatnya tidak punya alasan untuk marah.

Ponselnya bergetar. Mama Ratih.

Nadira mengangkat. "Ma?"

Suara Mama Ratih terdengar serak. "Kamu ke Purwokerto?"

"Iya. Fadli bilang ada yang masuk rumah."

"Jangan buka kotak itu."

Nadira menegang. "Mama tahu ada kotak?"

"Itu bukan urusanmu sekarang. Kamu pulang saja ke Jakarta. Atau lebih baik tinggal di Purwokerto. Jangan urus keluarga Wijaya lagi. Jangan urus Arga. Cerai saja cepat."

Kalimatnya terlalu cepat. Seperti dihafal.

Nadira menatap jalan gelap di depan. "Mama, siapa yang menyuruh Mama bilang begitu?"

"Tidak ada."

"Mama sedang di mana?"

"Di apartemen itu. Maya tidur di sofa."

"Mama baru bangun?"

Hening sebentar. "Ibu tidak bisa tidur."

"Mama minum teh dari siapa?"

"Maya. Kenapa kamu tanya begitu?"

Nadira memejamkan mata. Maya tidak akan sembarangan. Tapi Dewi sempat bertemu Mama Ratih sehari sebelumnya. Pertanyaan, tekanan, rekaman. Semua itu bisa meninggalkan bekas.

"Ma, dengar aku. Jangan telepon orang bernama Dewi. Jangan dengarkan pesan suara apa pun dari dia."

"Dia cuma mau membantu."

Darah Nadira terasa dingin. "Mama masih berhubungan dengan dia?"

"Dia bilang kamu akan hancur kalau terus dekat dengan Arga. Dia bilang orang seperti keluarga Wijaya akan mengambil kamu dari kami. Dia benar."

Arga mendengar. Rahangnya mengeras, tapi ia tetap diam.

Nadira menahan suaranya agar tidak pecah. "Mama, Arga tidak mengambil aku. Aku sedang menyelesaikan masalahku sendiri."

"Kamu selalu bilang sendiri. Dari kecil kamu selalu sendiri. Ibu capek!"

Tangis Mama Ratih pecah.

Nadira menggenggam ponsel. "Aku tahu Mama capek. Tapi jangan biarkan orang asing memakai rasa capek itu."

"Pulang, Nad. Kalau kamu sayang Mama, pulang."

Kalimat itu seperti tali yang dilempar ke leher.

Nadira ingin mengatakan iya. Ingin pulang, tidur di kamar lama, membiarkan Mama Ratih mengunci pintu dari semua orang. Tapi rumah mereka sudah dimasuki orang. Kotak masa lalunya sudah dijadikan senjata. Pulang tanpa bertanya bukan perlindungan, hanya menyerahkan diri.

"Aku datang ke rumah," kata Nadira. "Setelah itu kita bicara."

"Jangan bawa Arga."

"Aku tidak datang sendirian."

"Nadira!"

"Aku sayang Mama. Justru karena itu aku tidak akan menurut pada kalimat yang bukan berasal dari hati Mama."

Ia menutup telepon sebelum tangisnya keluar.

Arga berkata pelan, "Maaf."

"Jangan."

"Baik."

Mereka tiba menjelang subuh. Rumah Prameswari di pinggir Purwokerto tampak biasa dari luar. Pagar terkunci. Lampu teras menyala. Tapi begitu Nadira masuk, bau asing langsung terasa. Bukan parfum keluarga mereka. Lebih tajam, seperti pewangi mobil.

Fadli membuka pintu dengan wajah kusut. Papa Hendra berdiri di belakangnya, memegang tongkat kayu yang biasanya dipakai untuk mengambil mangga.

"Kak." Fadli langsung memeluk Nadira.

Nadira membalas sebentar. "Papa baik?"

Papa Hendra mengangguk. "Tidak ada yang terluka. Tapi kamar Mama berantakan."

Arga menunduk sopan. "Om, saya minta izin cek bersama Aldi. Kami tidak akan menyentuh barang sebelum difoto."

Papa Hendra menatap Arga lama. "Jangan bikin rumah ini seperti markas."

"Iya, Om."

Mereka naik ke kamar Mama Ratih. Laci bawah lemari kayu tampak dicongkel. Kotak cokelat masih ada, kuncinya tergantung di lubang kecil. Itu aneh. Kalau orang itu sudah bisa masuk, kenapa tidak membuka kotak?

Nadira memakai sarung tangan yang diberikan Aldi. Ia membuka kotak perlahan.

Di dalamnya ada map adopsi, foto kecil Nadira usia tujuh tahun di depan panti, satu baju bayi putih yang sudah menguning, dan buku catatan lama milik Mama Ratih.

Tidak ada gelang emas.

Papa Hendra menarik napas. "Ratih bilang gelang itu disimpan di sana."

Nadira menatapnya. "Papa tahu soal gelang?"

Papa Hendra duduk di tepi ranjang. Wajahnya seperti menua dalam satu malam.

"Kami ingin memberitahumu setelah kamu lebih besar. Lalu kamu masuk kuliah, kerja, menikah. Setiap kali mau bicara, Ratih takut kamu merasa kami bukan orang tuamu."

"Mama takut aku pergi?"

Papa Hendra mengangguk. "Kami berdua takut. Kamu datang ke rumah ini seperti hujan setelah kemarau panjang. Ratih tidak bisa punya anak lagi setelah Fadli. Saat kamu mulai memanggilnya Mama, dia seperti hidup ulang. Lalu rasa bahagia itu berubah jadi takut."

Fadli berdiri di ambang pintu, matanya merah. "Aku dulu sering iri karena Kakak selalu diperlakukan seperti anak paling penting. Sekarang aku baru tahu Mama dan Papa takut Kakak hilang."

"Fad."

"Aku tidak marah. Cuma... ternyata semua orang di rumah ini hidup dengan rahasia yang sama, kecuali aku dan Kakak."

Papa Hendra mengusap wajah. "Kami pikir diam membuat kalian aman."

Arga berkata pelan dari dekat lemari, "Diam sering membuat orang luar lebih mudah masuk."

Papa Hendra menatapnya. Tidak tersinggung. Hanya lelah.

"Kamu benar," katanya. "Dan itu membuat saya malu."

"Papa."

"Kami salah."

Nadira ingin marah, tapi Papa Hendra tampak begitu hancur hingga marahnya tersangkut.

Arga memotret isi kotak, lalu menunjuk buku catatan. "Boleh dibuka?"

Nadira mengangguk.

Buku itu berisi tulisan Mama Ratih. Tanggal adopsi. Nama panti. Barang bawaan.

Bayi perempuan, perkiraan usia beberapa bulan. Selimut putih. Gelang emas kecil, ukiran A.S. Surat tanpa nama.

Nadira membaca baris terakhir.

"Surat?"

Papa Hendra menggeleng. "Kami tidak pernah melihat surat. Pengurus panti hanya memberikan fotokopi daftar barang. Katanya surat asli disimpan di arsip panti."

"Mama pernah mau mengambilnya," kata Papa Hendra. "Tapi hari itu kamu demam tinggi. Ratih bilang mungkin lebih baik surat itu tetap di sana sampai kamu sendiri bertanya."

"Aku tidak pernah tahu harus bertanya."

"Itu kesalahan kami."

Fadli menunjuk halaman berikutnya. "Kak, ini ada tulisan Mama."

Tulisan Mama Ratih tampak lebih gemetar.

Kalau suatu hari Nira bertanya, katakan ia bukan dibuang karena tidak dicintai. Katakan kami memilihnya.

Nadira menutup buku itu.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Arga berdiri di dekat pintu. Ia tidak mendekat, tapi seluruh tubuhnya tampak ingin menahan sesuatu.

Fadli mengusap wajah. "Kak, amplop tadi..."

"Di mana?"

"Aku taruh di meja dengan plastik."

Mereka turun. Amplop itu masih ada. Aldi memotretnya dari beberapa sudut. Di dalamnya, selain surat ancaman, ada satu foto buram.

Foto seorang perempuan muda menggendong bayi. Wajah perempuan itu setengah tertutup cahaya. Di belakangnya ada gerbang dengan tulisan sebagian.

...Sih Bunda.

Kasih Bunda.

Nadira memegang kursi.

"Ini ibuku?"

Tidak ada yang menjawab.

Ponsel Arga bergetar. Dari Bima.

Arga membaca pesan, lalu menatap Nadira.

"Bima dan Maya sudah sampai Semarang. Bu Salmah aman. Tapi gudang arsip panti dibobol setengah jam sebelum mereka tiba."

Nadira menutup mata.

Arga melanjutkan dengan suara lebih rendah.

"Yang hilang cuma satu map. Map bayi Nira."

Nadira membuka mata. Nama kecil itu, ketika keluar dari mulut Arga, terdengar seperti milik orang lain.

"Jangan panggil aku begitu dulu," katanya pelan.

Arga langsung menunduk. "Maaf."

"Bukan karena aku marah. Aku hanya belum tahu siapa Nira itu."

Papa Hendra berdiri di sampingnya. "Bagi kami, Nira dan Nadira orang yang sama. Anak yang dulu takut tidur tanpa lampu, lalu tumbuh jadi dokter yang galak kalau orang lupa makan."

Fadli mengangguk serius. "Galaknya konsisten."

Nadira menatap mereka, dan untuk beberapa detik rumah yang dibongkar itu tetap terasa seperti rumah.

1
sintesa destania
ceritamu buaguusss poolll di awal thors...aju pecinta novel tapi makin kesini makin bosan...baca bukan karean apa gitu sayang juga udah bab segini ga di terusin gitu...untuk ukuran suami istri kaku banget...sekat terlalu jelas thors...kayak terlalu mengada ngada maaf....sebenarx tata bahasa bagusss tp yaitu jadi bosan baca bukan karena penasaran cm sayang aja ga di lanjutun udah mau akhir bab Maaf🙏🙏
sintesa destania: tangan typo semua maaf hp agak error
total 1 replies
Dokkan Battle
awokawok FIKS SAKIT SOUL NYA
Kembarr Kembaarr
hebat dn aneh. suami istri sdng belajar tidur saja yg 1 di apartemen. yg 1 di rumah wijaya dn hanya di antar ke apart.... di tinggal tugas 1minggu tau2 hamil. aneh memang
Dilla Fitri
jujur terlalu gimana yaa ceritanya kek flat bngt, bukan dr alurny tp dr cara mrka ngobrol kek gd emosi, gd rasa gmn2ny
imoe nawar
👍
Kembarr Kembaarr
hubungan se kaku itu.. aneh cium kening aja gak pernah ehhh.... Hamil. peluk aja hrs izin dn tdk boleh lama tdk boleh peluk erat Hamil. ....
sintesa destania
seting tempat dimana sih...kn itu di purwokerto tp da nadira
sintesa destania
gak tahu bikin nya tiba² hamil...kuarasa seperti masih menunggu...ehh udah hamidun aja
sintesa destania
cuma gitu..kasihan arga
sintesa destania
terlalu lama thor
Queeny Geulitz Syahputri
keren.
Kembarr Kembaarr
stu kala MLEK.
fatmiatun sahono
ujung nya vanis iri. nira cucu org kaya dan terhormat. sementara Vania ga tau jungtrung nya anak angkat dr mana ....🙏
Yannie Mulya
mungkin si thor nya lulusan militer, bhasa begini amat🤣
Yannie Mulya
sama😄
fatmiatun sahono
mungkin maksudnya terang menuju subuh. oke...are you y🙏
Fauziah
menarik... kata katanya efisien sesuai dgn kebutuhan
Kembarr Kembaarr
cerita ini menggambarkn kalau pengusaha licik lg picik itu mampu mengalahkn penegak hukum wakau setinggi apapun jabatannya
Partini Minok Nur Maesa
mereka itu semua ngobrolnya kok kaku bgt sich kyk polisi sama tersangka.
Partini Minok Nur Maesa
nah bnr pdhl hbs bhs Vania lho yg mulutnya betbusa ini gmn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!