Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Dua hari setelah memutuskan beristirahat di rumah, Indri kembali masuk kerja. Ia merasa tubuhnya sudah sedikit lebih baik meskipun belum sepenuhnya pulih.
Pusing masih sesekali datang, terutama ketika ia berdiri terlalu cepat. Rasa mual juga belum benar-benar hilang. Namun Indri memilih mengabaikannya. Ia tidak ingin terlalu memikirkan kondisi tubuhnya. Baginya, pekerjaan sudah terlalu banyak tertunda.
Pagi itu, setelah sarapan seadanya, Indri berangkat ke kantor. Begitu memasuki ruangan, beberapa dokumen langsung menunggunya. Ia duduk dan mulai bekerja. Hampir satu jam berlalu ketika pintu diketuk.
Riko masuk sambil membawa dua map.
"Selamat pagi, Bu Indri."
"Pagi."
"Saya membawa revisi laporan proyek."
Indri menerima map tersebut. "Sudah diperiksa?"
"Sudah, Bu."
Indri membuka halaman pertama. "Bagian ini bagus."
Riko tersenyum. "Saya belajar dari koreksi Ibu sebelumnya."
Indri menatapnya sekilas. "Kamu cepat belajar."
"Itu karena saya tidak ingin membuat kesalahan yang sama dua kali."
Indri tersenyum tipis. "Bagus."
Riko tidak langsung pergi. Ia memperhatikan wajah Indri yang tampak sedikit pucat. "Ibu sudah lebih baik?"
Indri mengangguk. "Sudah."
"Benar?"
"Benar."
Riko masih terlihat ragu. "Kemarin Ibu sampai tidak masuk."
"Aku cuma kelelahan."
"Kalau begitu jangan terlalu memaksakan diri."
Indri tertawa kecil. "Kamu dan Papaku sama saja."
"Kalau begitu berarti kami benar."
Indri menggeleng pelan sambil tersenyum. Riko akhirnya keluar.
Namun setelah pintu tertutup, Indri kembali memegang pelipisnya. Pusing. Ia menarik napas panjang.
"Sebentar lagi juga pasti hilang."
Indri mengambil air putih. Setelah beberapa teguk, ia kembali bekerja. Ia tidak menyadari bahwa dari luar ruangan, seseorang sempat berdiri memperhatikannya.
Rio. Sejak mengambil alih urusan proyek antara Evara Capital dan Haris Group, Rio memang semakin sering datang ke kantor Haris group.
Secara resmi, semuanya berkaitan dengan pekerjaan. Ia menghadiri rapat, memeriksa dokumen, berkomunikasi dengan tim proyek, dan memastikan semua kesepakatan berjalan sesuai rencana.
Namun ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan secara terbuka. Mengawasi Indri.
Rio melihat Riko keluar dari ruangan Indri. Tatapannya mengikuti pria tersebut sampai menghilang di ujung koridor. Kemudian pandangannya kembali kepada pintu ruangan Indri.
Ia mengeluarkan ponsel. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan terkirim. Setelahnya ia memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya tetap tenang.
Ia kemudian berjalan menuju ruang rapat seolah tidak terjadi apa-apa.
Menjelang siang, rapat proyek dimulai. Haris duduk di ujung meja bersama beberapa orang dari timnya. Rio berada di seberang meja.
Indri juga hadir. Riko duduk tidak jauh darinya. Pembahasan berjalan cukup lancar. Rio memaparkan perkembangan proyek secara terperinci.
"Untuk tahap berikutnya, Evara Capital akan menyesuaikan jadwal pengiriman."
Haris mengangguk. "Baik."
Indri mencatat beberapa poin penting. Riko sesekali menambahkan data yang diperlukan. Semua berjalan profesional. Namun di tengah rapat, Indri kembali merasa mual.
Ia menahan napas. Tangannya perlahan menekan perut.
Riko menyadarinya. "Bu Indri?"
Indri menggeleng kecil. "Tidak apa-apa."
Riko berbisik, "Kalau tidak kuat, Bu Indri bisa keluar sebentar."
Indri mengangguk. Beberapa menit kemudian, ia meminta izin meninggalkan ruangan. Begitu keluar, Indri berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia membasuh wajah. Rasa mual perlahan mereda. Indri menatap cermin.
"Bener kata Papa, aku harus periksa ke dokter."
Ia sudah membeli beberapa vitamin yang menurutnya bisa membantu menjaga kondisi tubuh. Tapi ternyata itu saja tidak cukup membuat kondisinya membaik.
Setelah merasa lebih baik, ia kembali ke ruang rapat. Namun ketika memasuki ruangan, ia mendapati Rio sedang menatapnya. Tatapan pria itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kembali kepada dokumen di hadapannya. Indri tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali duduk.
Rapat selesai menjelang sore. Haris meminta beberapa orang tetap tinggal untuk membicarakan persoalan lain.
Riko membantu Indri membereskan dokumen. "Yang ini biar saya yang bawa."
"Aku bisa."
"Saya tahu." Riko mengambil beberapa map. "Tapi kalau saya bisa membantu, kenapa harus dikerjakan sendiri?"
Indri menatapnya. "Terima kasih."
Riko tersenyum.
Mereka berjalan keluar bersama.
Tidak jauh dari sana, Rio berdiri di depan jendela. Ia melihat keduanya. Kali ini ekspresinya sedikit berubah. Ada kerutan tipis di antara alisnya. Ia kembali mengambil ponsel, mengirim pesan.
Rio menatap layar beberapa detik. Balasan tidak langsung datang. Ia memasukkan ponselnya kembali.
Sementara itu, Indri dan Riko berjalan menuju lobi.
"Besok ada rapat lagi?" tanya Riko.
"Ada."
"Kalau begitu saya akan siapkan datanya malam ini."
"Jangan terlalu dipaksakan."
Riko tersenyum. "Nasihat itu seharusnya Ibu berikan kepada diri sendiri."
Indri tertawa kecil. "Kamu mulai berani."
"Karena Ibu sudah tidak galak."
"Aku pernah galak?"
"Sedikit."
Indri menggeleng. Percakapan ringan itu membuat Indri kembali tersenyum. Namun ketika mereka sampai di lobi, rasa pusing kembali datang. Langkah Indri berhenti.
***
BACA JUGA NOVEL BARUKU. JUDULNYA: "ISTRI GENIUSKU" SUDAH RILIS BEBERAPA BAB. DITUNGGU YA 🫰🫰🫰
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔