Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

“Aku tidak percaya dia ada di sini. Dia tidak pernah datang ke acara seperti ini kecuali jika diselenggarakan oleh temannya…”

“Kamu lihat dia menggeser Aident Geertz turun satu peringkat di daftar Orang Terkaya versi Forbes? Aident yang malang, hampir saja dia mengamuk di tengah-tengah restoran Jean Georges waktu tahu berita itu…”

Bisik-bisik mulai terdengar di pertengahan acara penggalangan dana tahunan Wistofer Fitzroy untuk satwa terancam punah.

Tahun ini, burung piping plover kecil berwarna pasir disebut-sebut sebagai bintang utama acara. Namun, tak satu pun dari dua ratus tamu gala yang membahas kesejahteraan burung tersebut sambil menikmati Veuve Clicquot dan cannoli kaviarnya.

“Kudengar vila keluarganya di Danau Como sedang direnovasi senilai seratus juta dolar. Bangunannya sudah berumur berabad-abad, jadi kurasa memang sudah waktunya…”

Setiap bisikan makin terdengar riuh, diiringi tatapan sembunyi-sembunyi dan desahan kagum sesekali.

Aku tidak menoleh sedikitpun untuk melihat siapa yang sukses membuat para anggota masyarakat kelas atas Manhattan, yang biasanya dingin bagai es menjadi seheboh ini. Aku tidak peduli, aku terlalu fokus pada seorang putri pemilik department store yang berjalan sempoyongan menuju meja suvenir dengan hak tingginya yang menjulang. Dia melirik ke sekeliling dengan cepat sebelum menyambar salah satu tas hadiah eksklusif dan memasukkannya ke dalam tas tangannya.

Begitu gadis itu berjalan menjauh, aku langsung berbicara melalui earpiece. “Sheyna, Kode Merah Muda di meja suvenir. Cari tahu tas siapa yang dia ambil lalu ganti.”

Tas hadiah malam ini masing-masing berisi suvenir senilai lebih dari delapan ribu dolar. Namun, jauh lebih mudah untuk memasukkan biaya penggantian itu ke dalam anggaran acara daripada harus berkonfrontasi langsung dengan sang ahli waris keluarga Iglore.

“Lavvi Iglore lagi? Apa dia kurang kaya sampai tidak sanggup membeli semua barang di meja itu dan masih punya sisa puluhan juta dolar?” Sheyna mengeluh di seberang telepon

“Iya, tapi ini bukan soal uang buat dia. Ini soal sensasi pacuan adrenalinnya,” kataku  “Cepat. Besok aku pesan puding roti dari Magnolia Bakery untuk membalas tugas beratmu mengganti tas hadiah itu. Dan demi apa pun, cari tahu di mana Feliee. Dia seharusnya menjaga stan suvenir.”

“Ha ha,” tawa Sheyna yang jelas-jelas paham sindiranku. “Ya sudah. Aku bakal cek tas hadiah dan Feliee, tapi aku berharap dapat satu stoples besar puding roti besok.”

Aku ikut tertawa dan menggelengkan kepala saat sambungan terputus.

Sementara  Sheyna mengurus masalah tas hadiah, aku mengelilingi ruangan dan tetap bersiaga mengawasi masalah lain, baik besar maupun kecil.

Ketika pertama kali memulai bisnis ini, terasa aneh harus bekerja di acara-acara yang biasanya aku datangi sebagai tamu undangan. Namun, setelah bertahun-tahun sekarang aku makin terbiasa, dan penghasilan ini memberiku sedikit kemandirian dari orang tuaku.

Uang ini bukan bagian dari dana wali ataupun warisanku. Ini adalah uang yang murni kuhasilkan sendiri sebagai pemilik Event organizer (EO) di Manhattan.

Aku menyukai tantangan merancang acara-acara indah dari nol, dan orang-orang kaya menyukai hal-hal yang indah. Ini situasi yang saling menguntungkan.

Aku sedang mengecek ulang pengaturan suara untuk pidato utama nanti malam ketika Sheyna bergegas menghampiriku. “Anna! Kamu tidak bilang kalau dia ada di sini!” bisiknya.

“Siapa?”

“Xavier romanov.”

Seketika seluruh pikiran tentang tas suvenir dan cek suara buyar dari kepalaku. Aku menyentak pandanganku ke arah Sheyna, menatap matanya yang berbinar dan pipinya yang merona.

“Xavier Romanov?” Jantungku berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. “Tapi dia tidak mengonfirmasi akan hadir.”

“Yah, aturan konfirmasi kehadiran tidak berlaku untuk dia.” Sheyna benar-benar gemetar karena gembira. “Aku masih tidak percaya dia datang. Orang-orang bakal membicarakan ini berminggu-minggu.”

Bisik-bisik tadi tiba-tiba menjadi masuk akal. Xavier Romanov, CEO misterius dari konglomerat barang mewah Romanov Group, jarang menghadiri acara publik yang tidak diselenggarakan oleh dirinya sendiri, sahabatnya, atau salah satu rekan bisnis pentingnya. Wistofer Fitzroy sama sekali tidak masuk ke dalam kategori mana pun.

Dia juga merupakan salah satu pria terkaya dan paling banyak di bicarakan di New York. Sheyna benar. Orang-orang akan heboh membicarakan kehadirannya selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan.

“Baguslah,” kataku, mencoba mengendalikan detak jantungku yang mendadak berpacu. “Mungkin itu bisa makin meningkatkan kesadaran orang-orang tentang isu kepunahan burung piping plover.”

Sheyna memutar matanya. “Anna, tidak ada yang peduli........” Sheyna berhenti, melihat sekeliling, lalu memelankan suaranya "tidak ada yang benar-benar peduli pada burung itu. Maksudku, aku sedih mereka terancam punah, tapi jujur saja. Orang-orang datang ke sini cuma buat pamer status sosial.”

Sekali lagi, Sheyna benar. Tetap saja, apa pun alasan mereka datang, para tamu menggalang dana untuk tujuan yang baik, dan acara-acara seperti ini membuat bisnisku tetap berjalan.

“Topik utama malam ini,” Sheyna kembali melanjutkan, “adalah betapa tampannya Xavier. Aku belum pernah lihat ada pria yang begitu pas mengenakan tuksedo.”

“Kamu sudah punya pacar, Shey.”

“Terus? Kita kan boleh mengagumi ketampanan orang lain.”

“Iya, tapi kurasa kamu sudah cukup mengaguminya. Kita di sini untuk bekerja, bukan cuci mata melihat tamu.” Aku menggeser tubuh Sheyna secara perlahan ke arah meja pencuci mulut. “Bisa tolong keluarkan kue tartlet lagi? Stok kita mulai menipis.”

“Pengganggu kesenangan,” gerutu Sheyna, namun tetap menuruti perintahku.

Aku mencoba fokus kembali pada pengaturan suara, tetapi aku tidak tahan untuk tidak mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan demi mencari tamu kejutan malam ini. Tatapanku melewati DJ dan pajangan burung piping plover 3D, lalu terhenti pada kerumunan di dekat pintu masuk.

Kerumunan itu begitu padat hingga aku tidak bisa melihat ke bagian dalamnya, tetapi aku berani bertaruh seluruh tabunganku bahwa Xavier adalah pusat perhatian mereka.

Dugaanku terbukti ketika kerumunan itu sedikit bergeser dan memperlihatkan sekelibat rambut gelap serta bahu yang tegap. Sensasi tersengat yang tajam menjalar di sepanjang tulang belakangku.

Xavier dan aku berada di lingkaran sosial yang saling bersinggungan, tetapi kami belum pernah berkenalan secara resmi. Dari rumor reputasi yang kudengar tentangnya, aku merasa lebih senang jika keadaannya tetap seperti ini.

Namun, pesonanya begitu memikat, dan aku bisa merasakan tarikannya bahkan dari seberang ruangan.

Getaran persisten ponsel di pinggulku menghapus desiran halus yang menyelimuti kulitku dan mengalihkan perhatianku dari kerumunan penggemar Xavier. Perasaanku jadi tidak enak saat merogoh ponsel pribadi dari tas dan melihat siapa yang memanggil.

Aku tidak seharusnya menerima telepon pribadi di tengah-tengah acara kerja, tetapi tidak ada yang berani mengabaikan panggilan dari Jarvis Clifford.

Aku memastikan sekali lagi tidak ada keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segeraku sebelum menyelinap ke toilet terdekat.

“Halo, Dady.” Panggilan formal itu meluncur dari lidahku dengan mudah setelah hampir dua puluh tahun berlatih.

Dulu aku memanggilnya papa, tetapi setelah bisnis Clifford Jewels sukses besar dan kami pindah dari rumah dua kamar yang sempit ke rumah mewah di Beacon Hill, dia menegaskan untuk dipanggil Dady. Katanya, panggilannya terdengar lebih berkelas dan berasal dari masyarakat tingkat atas.

“Kamu di mana?” Suara beratnya bergema di seberang telepon. “Kenapa bergema sekali?”

“Aku sedang kerja. Aku menyelinap ke kamar mandi untuk mengangkat telepon Dady.” Aku menyandarkan pinggulku ke meja wastafel dan merasa harus menambahkan, “Ini acara penggalangan dana untuk burung piping plover yang terancam punah.”

Aku tersenyum mendengar desahan beratnya. Dadyku tidak punya banyak kesabaran untuk acara kemanusiaan tidak jelas yang dijadikan alasan orang-orang untuk berpesta, meskipun dia sendiri tetap menghadiri acara-acara dari hasil donasi tersebut. Bagi keluargaku, itu adalah hal yang patut dilakukan demi citra.

“Setiap hari, ada saja hewan langka baru yang aku tahu,” gerutunya. “Momymu sedang ikut komite penggalangan dana untuk sejenis ikan, seolah-olah kita tidak makan makanan laut setiap minggu saja.”

Momyku, yang dulunya seorang ahli kecantikan,  kini menjadi wanita sosialita profesional dan anggota komite amal.

“Karena kamu sedang bekerja, aku bicara singkat saja,” kata Dadyku. “Kami ingin kamu bergabung untuk makan malam Jumat malam nanti. Ada berita penting.”

Meskipun kata-katanya berupa ajakan, itu bukanlah sebuah permintaan yang bisa ditolak.

Senyumku memudar. “Jumat malam ini?” Ini baru hari Selasa, dan aku tinggal di New York sementara orang tuaku tinggal di Boston. Pemberitahuan mendadak ini bahkan terhitung terburu-buru untuk ukuran mereka.

“Iya.” Dadyku tidak memberi penjelasan lebih lanjut. “Makan malam tepat jam tujuh. Jangan terlambat.”

Dia menutup telepon.

Ponselku masih menempel kaku di telinga untuk beberapa saat sebelum akhirnya aku menurunkannya. Ponsel itu hampir saja tergelincir dari telapak tanganku yang berkeringat dan jatuh ke lantai sebelum aku dengan cepat memasukkannya kembali ke dalam tas.

Lucu rasanya bagaimana satu kalimat saja bisa membuatku terseret dalam pusaran kecemasan.

Ada berita penting.

Apakah terjadi sesuatu dengan perusahaan? Apakah ada yang sakit atau sekarat? Apakah orang tuaku menjual rumah mereka dan pindah ke New York seperti yang pernah mereka ancamkan dulu?

Pikiranku berpacu dengan seribu pertanyaan dan kemungkinan. Aku tidak punya jawabannya, tetapi aku tahu satu hal.

Panggilan darurat ke kediaman Clifford tidak pernah membawa kabar baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!