Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Yang Belum Terjawab

Reza tidak menemukan satu pun catatan perjalanan Baskara yang dapat dipercaya.

"Paspor lama tidak memiliki pola perlintasan yang masuk akal," katanya melalui sambungan aman. "Ada tiga penerbangan yang mencatat namanya, tetapi rekaman bandara tidak menunjukkan wajah. Rekening pribadi kosong. Jejak komunikasi berhenti tiga tahun lalu."

Ratri berdiri di depan jendela ruang kerjanya. "Seseorang menghapusnya?"

"Bukan sekadar menghapus. Ada catatan pengganti yang sengaja ditanam agar orang berhenti mencari. Kemampuannya di atas jaringan biasa."

"Teruskan. Jangan menyentuh Nardi sebelum tahu struktur mereka."

"Siap, Bos."

Panggilan berakhir.

Pada saat yang sama, Panji menyampaikan hasil serupa kepada Baskara di ruang baca pribadi.

"Jejak Nyai Ratri mulai terlihat lima tahun lalu, tetapi tidak ada titik awal," katanya. "Reza, Wira, beberapa pengacara, dan orang media bergerak dalam lingkaran berbeda. Semua terhubung kepada Ndoro Putri tanpa satu organisasi resmi."

Panji membuka tiga lembar lain. Ada operasi penyelamatan saksi yang tak pernah masuk berita, pembongkaran jaringan pemerasan yang berakhir tanpa konferensi pers, serta bantuan hukum bagi keluarga polisi yang dikirim melalui yayasan kecil. Di setiap perkara, nama Ratri tidak tercantum. Namun, keputusan penting selalu muncul beberapa jam setelah Wira atau Reza bergerak.

"Orang-orang menyebut beliau apa?" tanya Baskara.

"Sebagian hanya mengatakan Bos. Di lingkaran lama, ada yang menyebut Nyai Ratri, tetapi tak seorang pun mau menjelaskan siapa yang pertama memakai nama itu."

"Karena takut?"

"Karena setia."

Jawaban itu membuat Baskara lebih terdiam daripada ancaman mana pun.

"Siapa yang membersihkan identitasnya?"

"Mungkin beliau sendiri."

Baskara menatap lampu kamar Ratri di seberang taman. Dua orang yang tinggal di rumah yang sama sedang berdiri di depan pintu rahasia masing-masing.

Ia tersenyum tipis. "Biarkan. Jangan desak orang-orangnya."

Malam itu, Ratri masuk ke ruang baca tanpa mengetuk.

"Anda menyelidiki saya."

"Kau juga menyelidiki aku."

Tidak ada gunanya menyangkal. Ratri berjalan ke meja dan melihat laporan yang telah ditutup Baskara.

"Tiga tahun tanpa catatan perjalanan, rekening, atau pekerjaan," katanya. "Orang mati pun meninggalkan lebih banyak jejak."

"Aku pandai menjaga privasi."

"Anda juga pandai berbohong."

Baskara hendak menjawab ketika Ratri menyentuh bibirnya. Ada rasa logam di lidah. Darah muncul di sepanjang gusi tanpa luka.

Ia mengambil tisu, tetapi bercak merah terus bertambah.

"Ratri."

"Jangan panik."

Sebuah lebam ungu tumbuh di bawah kulit lengan kirinya. Napasnya mendadak pendek, seolah tenaga di seluruh tubuh ditarik keluar melalui lubang yang tidak terlihat.

Baskara sudah berada di hadapannya sebelum lututnya lemas.

Ia tidak memanggil dokter. Ia mendudukkan Ratri menghadap timur, mengambil pusaka cendana dari tasnya, dan menekannya ke telapak kiri. Dengan tangan lain ia membentuk pola jari di atas titik nadi.

"Tarik napas empat hitungan. Tahan dua. Jangan lepaskan pusaka."

"Bagaimana Anda tahu?"

"Ikuti dulu."

Baskara membaca potongan doa Jawa kuno dalam suara rendah, lalu memindahkan pusaka ke dekat tulang dada. Gerakannya tidak ragu. Ia tahu urutan laku, arah duduk, bahkan titik saat napas Ratri akan tersendat.

Perlahan, darah di gusi berhenti. Lebam tidak meluas. Dada Ratri masih berat, tetapi tenaga yang menghilang mulai kembali seperti air menetes ke wadah kosong.

Baskara menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. Ujung jarinya gemetar akibat tenaga sukma yang ia salurkan.

Ratri memandangnya lama.

"Anda baru pulang beberapa minggu," katanya. "Kenapa Anda lebih hafal garis takdir saya daripada saya sendiri?"

Baskara diam.

"Apa yang Anda sembunyikan?"

"Banyak hal."

"Jawaban yang buruk."

"Tapi jujur."

Ratri hendak berdiri, lalu keseimbangannya goyah. Baskara menahan bahunya.

"Suatu hari kau akan tahu," katanya pelan. "Sekarang, biarkan aku menjagamu dulu."

Untuk pertama kali, Ratri tidak menepis tangannya.

Mereka kembali ke kamar tanpa melanjutkan pertengkaran. Baskara menyiapkan air hangat dan memastikan pusaka tetap di sisi kiri bantal. Ratri memperhatikan setiap gerakannya, menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

"Duduklah," kata Ratri ketika melihat wajahnya semakin pucat.

"Aku baik-baik saja."

"Sekarang Anda yang memberi jawaban buruk."

Baskara akhirnya duduk di kursi dekat tempat tidur. Ia menarik lengan kemeja lebih rendah, menutupi bekas luka yang berdenyut setelah mengalirkan tenaga sukma. Ratri melihat gerakan itu, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk meraih pergelangannya.

"Kenapa tangan Anda gemetar?"

"Karena takut."

"Pada apa?"

Baskara menatapnya. "Pada masa depanmu yang tidak bisa kulihat."

Ratri mengira itu perumpamaan. Ia tidak tahu Baskara sedang mengucapkan satu-satunya kebenaran yang paling menakutkan baginya.

Ia memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, saat membukanya lagi, pria itu masih berada di kursi yang sama.

"Anda boleh pergi," katanya.

"Aku tahu."

"Tapi Anda tidak pergi."

"Tidak."

Ratri tidak menyuruhnya untuk kedua kali.

Menjelang tengah malam, ponsel aman Ratri bergetar.

Reza berbicara dengan suara lebih rendah dari biasanya. "Bos, saya memeriksa daftar barang Larasati dan salinan berkas perkara lama. Ada foto yang hilang dari indeks, waktu penerimaan sampel diubah, dan satu lembar perpindahan barang diganti setelah persidangan."

"Siapa yang memiliki akses?"

"Dua nama terkait pihak Wiryawan. Tapi ada otorisasi dari tingkat yang lebih tinggi, identitasnya ditutup. Polanya terlalu rapi untuk pekerjaan keluarga itu sendiri."

Ratri melihat Baskara tertidur di kursi dekat tempat tidur, satu tangan masih menggenggam ujung selimutnya.

Di telinganya, Reza menarik napas.

"Bos, kasus ini lebih dalam daripada yang kita kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!