"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Patah Hati di Grand Aster
...selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Di tengah keramaian, Asyara menatap kosong ke arah salah satu meja. Di sana—berdiri Raka dan seorang wanita yang Asyara kenal sebagai Sena. Tangan mereka saling menggenggam, bahkan sesekali Raka mengecupnya dengan mesra dan dibalas senyuman malu-malu oleh Sena.
Genggamannya pada gelas semakin kuat, melampiaskan emosinya yang tertahan. Ia meneguk minuman di tangannya kasar, meletakkan gelas sampai berbunyi cukup keras, “Bajingan!” gumam Asyara.
Kilasan-kilasan memori muncul di kepala Asyara. Tentang bagaimana sang ayah melarang keras hubungannya dengan Raka. Tentang bagaimana sang ayah yang selalu mengawasinya. Dan tentang Dia—Asyara sendiri, yang memilih menjalin hubungan dengan Raka secara diam-diam.
Nyatanya firasat sang ayah benar. Raka bukanlah pria yang baik.
Niat hati datang untuk memberikan kejutan, justru Asyara yang mendapat kejutan. Semua mendadak masuk akal. Raka yang melarangnya ikut ke acara malam ini. Raka yang merayunya agar berada di apartement saja dan Raka yang selalu punya alasan setiap kali Asyara mengajaknya jalan.
Tanpa pikir panjang, Asyara menegak minuman tadi sampai habis tak tersisa. Bahkan ia meminta pelayan agar menambahkannya lagi dan menegaknya lagi sampai habis. Nafas Asyara memburu. Netranya masih menatap pemandangan yang menyakitkan itu. Ia tertawa getir.
“Gue benci lo Raka! Benci sama lo! Gue rela ngelanggar ucapan papa gue, supaya bisa sama lo!” Asyara menenggak minuman itu lagi hingga tandas.
Beberapa menit berlalu, efek dari minuman itu mulai muncul. Rasa pusing menyerang Asyara. Pemandangan di depannya mendadak berputar dan buram seketika. Di saat semua orang sibuk memerhatikan mc di depan, Asyara berjalan pelan. Tertatih, berpegangan pada meja.
Sesampainya di toilet, Asyara mencuci mukanya. Menatap cermin dan menepuk pipinya beberapa kali. “Sadar Sya, sadar! Jangan gila karena bajingan itu! Dia nggak pantes!”
Asyara menghembuskan nafas pelan. Ia mencuci wajahnya sekali lagi. Setelah itu barulah ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya sempoyongan. Tepat di dekat pintu toilet Asyara berhenti. Ia memegang kepalanya yang mendadak sangat pusing, tubuhnya yang mulai terasa panas.
“Sial! Kok panas banget?!” Asyara mengipasi tubuhnya dengan tangan. Peluh tipis mulai membanjiri keningnya. “Sadar Sya! Sadar!”
Asyara berjalan pelan di lorong hotel. Ia berusaha menjaga kesadarannya dengan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Samar-samar Asyara melihat bayangan seorang pria yang berjalan ke arahnya.
Tanpa Ragu, Asyara menghampirinya. Memeluknya erat, mencengkram jas pria itu erat. Ia menggeliat pelan, menelusupkan wajahnya ke leher pria itu.
“Panas banget! Panas!” Asyara terus meracau. Tangannya mulai bergerak ke leher pria itu.
“Lepaskan saya! Jaga batas kamu Asyara!”
Nyatanya kesadaran Asyara sudah di ambang batas. Telinganya seolah tuli dari dunia luar. “Tolong, ini panas!” racau Asyara pelan. Cup..
Asyara mencium pria itu. Rasa panas di tubuhnya membuatnya hilang kendali malam itu. Tak sekali, Asyara bahkan beberapa kali melakukannya lagi. Bahkan seolah menuntut lebih.
“Kalau begitu jangan pernah menyesal.”
Lenguhan dan desahan keluar tanpa bisa ditahan. Asyara benar benar kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia bahkan tak sadar jika dirinya sudah dibopong
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Hal pertama yang menyambut Asyara adalah rasa pusing dan pegal yang luar biasa. Ia meringis sambil memegangi kepalanya yang berdenyut pelan. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang merambat masuk.
“Sshhh… gue dimana?” gumam Asyara parau dan serak. Ia melihat ke sekeliling, perlahan merubah posisinya menjadi duduk. Begitu ia duduk, selimut yang menutupi tubuhnya melorot.
Asyara menatap horor pemandangan di depannya. Ia menoleh ke sampingnya, patah-patah, dan—
boom!
Seorang pria yang tidur tengkurap dengan wajah yang menghadap ke arahnya. Dan jangan tanyakan Asyara apakah dia mengenalnya atau tidak? Karena Kenyataanya itu adalah—
“Pak Aksa?!” pekik Asyara tertahan.
Dosen pembimbingnya sendiri—Aksa Kalandra Erlangga, si dosen yang terkenal killer sepenjuru kampus. Dosen yang selalu menampilkan ekspresi dingin dan jelas adalah orang yang paling dihindari mahasiswa/i.
Asyara mendadak blank. Otaknya mendadak linglung. Kedatangannya ke hotel, Raka dan Sena yang selingkuh, minum terlalu banyak, toilet, lorong, bayangan pria dan ciuman yang ia lakukan sendiri lalu–
–Asyara tidak mengingat apapun lagi, dan pagi ini ia sudah terbangun di kamar hotel ini dalam keadaan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
“Mampus gue! Apa yang gue lakuin semalam?! Dan sekarang?!” Asyara menepuk pelan kepalanya. Ia merutuki kelakuannya yang ceroboh. Minum terlalu banyak dan tidak sadar jika minumannya di letak obat. “Bajingan!”
Perlahan-lahan Asyara bangkit dari kasur. Ia memunguti pakaiannya satu persatu dan berjalan pelan ke kamar mandi. Memakai pakaiannya dengan cepat dan merapikannya penampilannya sedikit. Ia keluar dari kamar mandi mengendap-endap, berjinjit pelan agar Aksa tidak terbangun.
Asyara berjalan cepat, melupakan segala rasa pegal dan pinggangnya yang terasa ingin patah saat itu juga. Di lobi hotel, ia segera memesan taksi online menuju apartemennya. Ia bahkan tak memedulikan tatapan orang-orang yang melihatnya dengan aneh.
Setelah berada di dalam taksi, barulah Asyara bernafas lega. Sejenak ia melihat ponselnya sendiri. Puluhan panggilan tak terjawab dari Celine, belasan chat dari Raka, dan belasan panggilan dari Keenan adiknya.
Namun fokus Asyara hanya pada satu nama—Raka. Belasan chat berisi pesan khawatir. Asyara terkekeh sinis. Bagaimana bisa cowok itu menanyakan keadaannya setelah memeluk perempuan lain di depan matanya sendiri?
“Kita putus.”
Setelah membalas pesan Raka dengan dua kata itu, Asyara memilih memblokir nomor Raka. Menghilangkan segala tentang Raka dari ponselnya. Bahkan menghapus semua foto Raka yang masih tersisa di sana.
“Mampus lo! Bajingan kaya lo nggak pantes gue pertahanin!”
Taksi yang membawa Asyara akhirnya sampai di depan bangunan Apartement tempat dimana ia tinggal.
“Makasih ya pak,” singkat Asyara lalu turun dan segera menuju ke unitnya.
Sesampainya di kamar, Asyara menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Rasa pegal dan lelah seketika menyerang tubuhnya saat itu juga. Asyara meringis pelan. Tangannya otomatis memegang pinggangnya sendiri, menekannya pelan untuk mengurangi rasa sakit. “Shhh… tulang gue kayanya remuk semua deh.”
Keluhan dan rengek keluar dari bibir mungilnya. Ia meringis setiap kali ingin merubah posisi. Ini adalah kali pertama bagi seorang Asyara melakukan ‘itu’. Seumur-umur berpacaran dengan Raka, jangankan ciuman, Raka merangkul pinggangnya pun Asyara malah geli sendiri. Ia benar-benar menjaga tubuhnya, hingga kejadian ini menimpanya dan itu karena ia emosi sesaat melihat Raka.
“Raka bangsat! ilfeel gue ilfeel!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...