"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyiksaan 2
Keesokan harinya, sinar matahari pagi belum sepenuhnya mampu menembus tebalnya dinding-dinding beton Sektor Zero. Udara di dalam lorong bawah tanah terasa dingin dan basah, menyisakan bau antiseptik yang mengendap di balik heningnya lorong.
Daren melangkah dengan tenang. Kemeja hitam tanpa lengan yang dikenakannya memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh dan penuh tempaan. Di leher bagian kanannya, tato kanji vertikal berwarna merah pekat—Akuma no Urami—tampak jelas, menegaskan identitas barunya yang mematikan.
Karena hari ini Argus maupun Mike belum memberikan arahan atau misi baru, Daren memilih untuk menyelesaikan satu urusan yang masih tersisa. Langkah kakinya mengarah lurus menuju ruang penyiksaan bawah tanah. Di persimpangan lorong, Daren memberi isyarat kepada dua prajurit pengawal yang sedang berjaga untuk mengikutinya.
Saat mereka menyusuri koridor panjang berlantai marmer dingin, dari arah berlawanan tampak sesosok pria berbadan tinggi tegap melangkah santai.
Argus berjalan tanpa alas kaki—kebiasaan khasnya untuk merasakan langsung getaran dan dinginnya dasar markas. Pria penguasa bawah tanah itu mengapit cerutunya, menatap Daren dengan pandangan mata yang dalam.
"Mau ke mana kau pagi-pagi begini, Daren?" tanya Argus santai, suaranya yang berat menggema di lorong yang sepi.
Daren menghentikan langkahnya, menunduk tipis tanpa menghilangkan aura dingin di wajahnya. "Saya ingin melanjutkan urusan kemarin di ruang penyiksaan, Tuan Argus. Masih ada utang rasa sakit yang belum sepenuhnya impas."
Argus menghembuskan asap cerutunya ke udara, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang penuh arti. "Lakukan sepuasmu. Tempat itu milikmu hari ini."
"Terima kasih, Tuan Argus," sahut Daren dingin sebelum kembali melanjutkan langkahnya diiringi dua prajurit di belakangnya.
Pintu baja tebal ruang penyiksaan mendesis terbuka, memperlihatkan ruangan suram berdinding beton yang hanya diterangi satu lampu gantung kekuningan. Bau darah kering dan karat besi langsung menyergap indera penciuman.
Di tengah ruangan, Deni dan Tia terikat kencang pada dua meja besi yang terpisah. Kondisi mereka sudah sangat mengenaskan pasca-pencabutan kuku jari kemarin. Tubuh mereka gemetar, napas mereka terengah-engah, dan ketakutan hebat terpancar jelas dari mata mereka yang sembap.
Daren melangkah mendekat, berdiri di antara kedua meja besi itu. Pandangan matanya yang dingin menyapu wajah Deni dan Tia—dua orang yang selama sepuluh tahun menganggapnya hanya sebagai sampah yang bisa diinjak-injak kapan saja.
Daren berpaling ke arah dua prajurit pengawal yang dibawanya. "Lucuti pakaian mereka sampai tak tersisa. Biarkan mereka merasakan betapa hinanya telanjang dan tak berdaya di atas lantai dingin ini, seperti yang dulu selalu mereka lakukan padaku di gudang bawah tangga."
Tanpa banyak bicara, kedua prajurit itu melaksanakan perintah Daren dengan sigap. Dalam hitungan detik, Deni dan Tia dibiarkan tanpa sehelai benang pun, terikat pasrah di atas permukaan besi yang membekukan kulit mereka. Jeritan dan raungan ampun keluar dari mulut Tia yang ketakutan, namun tak ada satu pun di ruangan itu yang memedulikannya.
Daren berjalan mengitari meja Deni. Pria tua yang dulu selalu berdiri berkacak pinggang mengayunkan gesper kulit itu kini hanya bisa meringkuk dalam keterikatan, menatap Daren dengan mata membenci yang bercampur rasa iba dan panik.
"Lihat dirimu sekarang, Deni," ucap Daren dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk hingga ke tulang. "Di mana keangkuhanmu yang dulu? Di mana teriakanmu saat membiarkanku kelaparan dan menggigil demam di atas semen?"
Daren melirik ke arah saku celana taktis salah satu prajuritnya. Tanpa meminta, Daren mencabut pisau lipat kecil yang terselip di sana. Bilah pisau yang tipis dan tajam itu berkilat di bawah cahaya lampu redup.
SRET...
Daren menempelkan ujung pisau itu ke dada Deni, lalu menggoreskan garis tipis secara perlahan. Darah segar berwarna merah pekat langsung merembes keluar, mengalir menyusuri kulit perut Deni.
Deni merintih kesakitan, giginya berkerotok menahan perih. "Da... Daren... Bunuh saja aku... Langsung bunuh aku, Bajingan!"
Daren terkekeh rendah—sebuah tawa dingin tanpa sedikit pun rasa emosi. "Membunuhmu dengan cepat? Itu terlalu mudah, Deni. Sepuluh tahun aku menjadi mainan rasa sakitmu. Sekarang, giliran kau dan istri tercintamu yang menjadi mainanku di sini."
Daren menegakkan tubuhnya, melangkah ke meja sudut dan menyambar Handie Talkie (HT) yang tergeletak di sana. Dia menekan tombol pemancar.
"Bawakan air garam pekat dan perasan lemon ke ruang penyiksaan sekarang," perintah Daren pendek sebelum meletakkan kembali HT tersebut.
Tidak sampai lima menit, pintu baja kembali terbuka. Prajurit ketiga masuk membawa sebuah ember kecil berisi campuran air garam tebal dan perasan puluhan buah lemon yang beraroma menyengat.
Daren mengambil ember tersebut. Dia kembali berdiri di samping Deni yang lukanya masih mengalirkan darah segar.
Deni yang menyadari apa yang ada di dalam ember itu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya secara histeris. "Jangan... Daren, aku mohon! Jangan! Ampuni aku! Tolong!"
Tanpa memedulikan ratapan tersebut, Daren memiringkan ember di tangannya.
SROOSH!
Cairan asam dan garam pekat itu disiramkan secara perlahan, menetes tepat di atas goresan-goresan luka terbuka di dada dan perut Deni, serta di atas sepuluh jari tangannya yang telah terkelupas kukunya.
"ARGHHHHHHHHHH! AAAAAGGGHHH! PANAS! PERIH! AMPUNNNN!"
Jeritan melengking yang sangat memilukan memecahkan kesunyian ruang penyiksaan. Tubuh Deni kejang-kejang hebat di atas meja besi, otot-otot lehernya menegang hingga membiru menahan penderitaan luar biasa saat cairan kimia alami itu membakar jaringan saraf ototnya yang terbuka.
Di meja sebelah, Tia meraung menangis menatap suaminya yang disiksa tanpa ampun, sebelum akhirnya pingsan kembali karena tak sanggup menahan tekanan mental yang menghancurkan jiwanya.
Daren melempar ember kosong itu ke lantai hingga berdentang nyaring. Dia menatap Deni yang kini tersengal-sengal, napasnya patah-patah dengan air mata dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Sakit?" bisik Daren seraya menundukkan wajahnya tepat di samping telinga Deni. "Rasa sakit ini bahkan belum ada apa-apanya dibanding sepuluh tahun penderitaan jiwaku. Kalian menjanjikanku sebuah rumah dan keluarga, tapi kalian hanya memberiku neraka. Sekarang... menikmati neraka ini adalah satu-satunya takdirmu."
Daren merapikan kembali kemeja hitamnya, berbalik membelakangi kedua orang yang sudah tak berdaya itu. Dia menatap ketiga prajurit pengawal yang berdiri siaga di dekat pintu.
"Biarkan mereka tetap terikat di sini," perintah Daren dingin. "Pastikan mereka tetap hidup. Berikan air minum secukupnya agar mereka tidak mati karena dehidrasi, tapi jangan obati luka-lukanya."
"Siap, Tuan Daren!" sahut ketiga prajurit itu seraya menunduk hormat.
Daren melangkah keluar dari ruang penyiksaan. Pintu baja tebal itu kembali tertutup rapat mendesis, mengunci rapat sisa-sisa jeritan Deni di dalam kegelapan tanah Sektor Zero. Pembalasan dendamnya telah lengkap, dan kini Daren siap melangkah sepenuhnya sebagai sang Gagak Merah yang siap menguasai dunia bawah tanah Kota Atlas.