Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 5: Balasan di Balik Selimut
...MENGULANG LUKA...
Bab 5: Balasan di Balik Selimut
Sebelum Valencia sempat menenangkan degup jantungnya, sebuah tarikan bertenaga merenggut pelindungnya. Julian tiba-tiba mendekat ke sisi Valencia, lalu menyingkapkan selimut tebal itu dengan satu sentakan kasar. Belum sempat Valencia memprotes, Julian sudah memosisikan tubuh tingginya di atas Valencia, mengukung tubuh ringkih itu di bawahnya.
Jarak mereka terkikis habis. Otot dada Julian yang polos dan hangat hampir bersentuhan dengan tubuh Valencia. Mata mereka saling bertemu dalam keheningan kamar yang mencekam.
Ditatap dari jarak sekaku itu, wajah Valencia terasa panas dan jantungnya berdebar tidak terkendali. Valencia sangat membenci kenyataan itu. Dia mengutuk reaksi tubuhnya sendiri. Dia benar-benar yakin sudah tidak berharap lagi pada pernikahan ini. Dia sudah melupakan seluruh perasaannya pada mantan suaminya itu di masa depan. Valencia yakin dia sudah tidak mencintai Julian lagi.
Namun, ditatap begitu dekat dan intens oleh pria dengan visual sesempurna Julian, membuat pertahanan fisik Valencia runtuh. Tanpa sadar, Valencia menutup kedua matanya, menahan napas sembari menunggu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh mantan suaminya itu.
Di tengah ketegangan yang membuat atmosfer kamar terasa membeku, tiba-tiba terdengar suara dengusan pelan. Julian terkekeh mengejek. Pria itu menyunggingkan senyum merendahkan, merasa menang karena mengira Valencia akhirnya kalah dan kembali tunduk pada pesona fisiknya.
Julian mulai melonggarkan kekuasaannya, bersiap untuk kembali ke tempatnya di sisi ranjang dengan sisa tawa ejekan yang masih tertinggal di bibir.
Melihat kepuasan di wajah Julian, rasa kesal yang luar biasa membakar dada Valencia. Dia merasa teramat diremehkan. Berani-beraninya pria ini mempermainkan harga dirinya? Karena kesal merasa diabaikan dan diremehkan, Valencia mendadak menjadi nekat.
Grep!
Tangan Valencia bergerak secepat kilat meraih kerah jubah mandi Julian. Dia mencengkeram kain putih itu lalu menariknya sekuat tenaga ke bawah. Julian yang sama sekali tidak bersiap langsung kehilangan keseimbangan, membuat tubuh tegapnya menunduk drastis ke arah Valencia.
Sebelum Julian sempat mencerna apa yang terjadi, secepat kilat Valencia mendekatkan wajahnya lalu mencium Julian tepat di bibirnya.
Julian seketika terkejut. Sepasang mata elangnya membelalak sempurna. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak membeku selama beberapa detik. Otaknya mendadak macet, tidak pernah membayangkan dalam skenario terliar sekalipun bahwa Valencia—istri penurut yang selalu ketakutan—akan seberani ini menyerang bibirnya.
Sentakan kasar memutus kontak mereka.
Julian langsung mendorong tubuh Valencia menjauh hingga wanita itu telentang di kasur. Julian mundur beberapa langkah dari ranjang, berdiri tegak sambil menutup bibirnya dengan punggung tangan. Napas pria itu memburu. Dia menatap Valencia dengan tatapan membunuh yang luar biasa tajam. Wajahnya mengeras, masih syok, kaku, dan benar-benar tidak bisa berkata-kata atas kelancangan istrinya.
Valencia tidak gentar. Dia justru menegakkan tubuhnya, duduk di atas ranjang dengan rambut yang sedikit berantakan. Walau wajahnya masih merah padam menahan malu dan gugup, dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menantang balik tatapan mematikan Julian.
"Apa Tuan Edgar masih mau tidur seranjang denganku?" ancam Valencia dengan wajah merah, suaranya terdengar lantang dan tajam. "Aku tidak bisa menjamin kesucian Anda masih utuh jika masih ngotot tinggal."
Mendengar ancaman gila itu keluar dari mulut Valencia, rahang Julian seketika mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Kata 'kesucian' yang diucapkan Valencia seolah-olah menempatkan Julian sebagai pihak korban yang suci, sebuah sindiran yang sangat mematikan bagi ego seorang Julian Edgar.
Tanpa membalas ucapan Valencia, Julian langsung berbalik dengan kasar. Dia menyambar dokumen Gracia di atas meja kerja, lalu pergi pindah tidur ke kamar tamu dengan langkah kaki yang menghentak lebar dan wajah yang teramat dongkol.
Bram! pintu kamar utama ditutup dengan dentuman keras, meninggalkan Valencia yang akhirnya bisa mengembuskan napas lega di atas ranjangnya.