Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

DONGGG! DONGGG! DONGGG!

Dentang lonceng tembaga kuno di Puncak Lonceng Kuno berdentang sembilan kali berturut-turut, memecah kabut pagi dan menggetarkan seluruh jajaran pegunungan sekte.

Sembilan dentang lonceng adalah tanda panggilan darurat tertinggi yang biasanya hanya dibunyikan saat perang antar-sekte meletus atau ada ancaman kehancuran klan.

Sepuluh ribu murid luar, murid dalam, dan puluhan tetua penilai bergegas memadati Lapangan Pedang Utama. Barisan jubah putih bersulam perak membentang luas di atas pelataran batu pualam, dipenuhi bisik-bisik tegang yang membicarakan hilangnya Fang Chen dan dua rekannya di jurang kemarin petang.

Di atas panggung giok kehormatan, Patriark Song Tianhe berdiri dengan jubah ungu kebesarannya. Wajah sang Patriark tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandai malam-malam tanpa tidur.

Di tangan kanannya, terbentang selembar gulungan sutra emas bertinta darah merah—segel perintah langsung dari Gua Larangan.

“Ehem…” Song Tianhe berdeham kaku, suaranya diperkuat oleh formasi pengeras suara panggung.

Seluruh lapangan seketika sunyi senyap. Sepuluh ribu pasang mata menatap lurus ke arah sang Patriark.

“Atas titah suci Pendiri Sekte, Leluhur Agung Song Pojun,” suara Song Tianhe terdengar berat dan lambat, “hari ini Dewan Tertinggi menetapkan Dekrit Perlindungan Khusus bagi Saudara Cilik Gu Ran.”

Para tetua di barisan depan saling bertukar pandang dengan alis berkerut tegang.

Song Tianhe membuka gulungan sutra lebih lebar, lalu membacakan isi dekrit dengan intonasi kaku:

“Pasal pertama: Saudara Cilik Gu adalah Tamu Agung Tertinggi Sekte Pedang Langit dengan kedudukan setara Leluhur Pendiri.”

“Pasal kedua: Dilarang keras menghunus senjata tajam, melepaskan niat membunuh, atau melayangkan pandangan tidak menyenangkan dalam radius tiga puluh depa dari raga Saudara Cilik Gu.”

Song Tianhe menarik napas pendek yang bergetar sebelum melanjutkan pasal berikutnya:

“Pasal ketiga: Barang siapa yang membuat Saudara Cilik Gu tersandung kerikil jalanan, terkena cipratan air kotor, atau mengalami penurunan nafsu makan akibat kelalaian lingkungan sekte… pelaku beserta sembilan generasi keluarganya akan dieksekusi mati dan dilempar ke jurang kabut tanpa pengadilan.”

Hening total melanda Lapangan Pedang Utama.

Sepuluh ribu murid menahan napas dengan pupil mata membesar. Beberapa murid luar di barisan belakang bahkan meraba leher mereka sendiri dengan tangan gemetar.

Kematian Tetua Luar He dan lenyapnya tiga murid inti kemarin sore membuktikan bahwa Leluhur tua mereka tidak sedang bercanda. Sekte Pedang Langit kini berada di bawah bayang-bayang kengerian: jika pemuda berambut putih itu tergores seujung kuku, seluruh sekte bisa terkubur bersamanya.

“Dekrit ini berlaku seketika,” tutup Song Tianhe dengan suara tercekat menahan getir. “Segala kenyamanan Saudara Cilik Gu adalah amanat suci leluhur. Segera laksanakan sebelum terjadi pertumpahan darah internal.”

Satu jam setelah pembacaan dekrit, pemandangan di seluruh jalan setapak Puncak Utama berubah drastis.

Pendekar-pendekar pedang yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat dan pedang terhunus kini berjalan sambil menjinjing ujung jubah sutra mereka. Pandangan mereka tidak lagi menatap langit, melainkan menunduk rapat memeriksa permukaan batu.

Di jalan setapak berbatu yang menghubungkan Paviliun Awan Mengambang dengan lapangan utama, ratusan murid dalam berlutut di tanah.

Mereka dengan cermat memunguti kerikil-kerikil kapur yang tajam, menyapu daun pinus kering, dan menyingkirkan ranting pohon yang jatuh ditiup angin.

Di barisan paling depan, Song Ming berjongkok dengan napas tersengal-sengal. Tuan Muda Sekte itu memegang sapu tangan sutra zamrud mahalnya, menggosok ubin batu yang sedikit berlumut hingga licin mengkilap.

“Cepat bersihkan bagian sudut itu!” bisik Song Ming dengan suara serak panik ke arah dua murid di sampingnya. “Jangan sampai ada kerikil sebesar biji kacang yang tersisa! Kalau Tuan Muda Gu tersandung di jalan ini, kepala kita semua yang melayang!”

Dua murid dalam buru-buru menggosok batu jalanan dengan kain baju mereka sendiri tanpa berani membantah.

Dari arah serambi paviliun, Gu Ran melangkah keluar dengan santai.

Jubah sutra putihnya berkibar lembut ditiup angin pagi. Di tangan kirinya, ia memegang sepotong buah persik manis yang baru dikupas oleh Xiao Zhu.

Gu Ran melangkah di atas jalan setapak batu yang kini begitu bersih hingga bayangan awan terpantul di permukaannya. Tidak ada sebutir debu pun yang menempel di ujung sepatunya.

Melihat ratusan murid yang bersujud menyapu jalanan di depannya, Gu Ran mengunyah daging buah persiknya dengan tempo tenang.

Ia menoleh ke arah puncak tebing sebelah timur. Di sana, sebuah kubah megah beratap genting emas berdiri kokoh di balik gerbang besi berukir naga: Paviliun Harta Sekte.

“Jalanan sudah lumayan bersih,” gumam Gu Ran pelan sambil menelan sari buah persik. “Sekarang saatnya mengambil jatah batu roh dan rumput salju dari gudang sekte.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!