Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Musim yang Berganti

Satu bulan berlalu sejak pertemuan penentuan di kantor perusahaan. Kota tempat keluarga Wijaya tinggal perlahan memasuki musim kemarau, langit yang dulu selalu tampak kelabu oleh hujan kini berubah cerah dengan sinar matahari yang hangat menyinari hari-hari mereka.

Bapak sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat, meski masih perlu waktu untuk sepenuhnya pulih. Setiap pagi, ia menghabiskan waktu di taman belakang rumah, kadang ditemani Ibu, kadang oleh Sari yang sengaja meluangkan waktu di antara kesibukannya memimpin perusahaan, dan sesekali oleh Denis yang kini rutin berkunjung setiap akhir pekan.

Kirana duduk di teras pagi itu, laptopnya terbuka menampilkan desain terbaru untuk proyek yang sedang ia kerjakan. Pengaturan kerja jarak jauhnya berjalan lancar, bahkan Pak Anton mulai mempertimbangkan untuk menjadikan pengaturan ini sebagai kebijakan permanen bagi karyawan yang membutuhkan fleksibilitas serupa.

"Kamu terlihat fokus sekali," suara Denis mengejutkannya dari belakang. Ia baru saja tiba, membawa beberapa kue kering favorit Ibu sebagai oleh-oleh akhir pekan.

"Deadline proyek besar minggu depan," Kirana menjawab sambil tersenyum, menutup laptopnya sejenak untuk menyambut kakaknya. "Tapi aku senang bisa mengerjakannya sambil tetap di sini, dekat dengan kalian semua."

Denis duduk di kursi sebelahnya, memandangi taman tempat Bapak sedang berjalan pelan dengan bantuan tongkatnya, ditemani Ibu yang setia berjalan di sampingnya. "Rasanya masih seperti mimpi, melihat pemandangan seperti ini. Beberapa bulan lalu, aku bahkan tidak berani berharap bisa duduk santai di teras rumah ini, apalagi menyaksikan Bapak berjalan pulih seperti sekarang."

"Banyak yang berubah dalam waktu singkat," Kirana mengangguk setuju. "Termasuk diriku sendiri. Aku pulang dengan amarah dan ketakutan, tapi sekarang..." Ia menghela napas panjang, penuh syukur. "Sekarang aku merasa seperti benar-benar punya keluarga yang utuh, meski kompleks dan penuh cerita rumit."

"Keluarga yang jujur," tambah Denis. "Itu yang membuat perbedaan sebenarnya."

Percakapan mereka terhenti ketika Sari muncul dari dalam rumah, membawa beberapa dokumen di tangannya, ekspresinya campuran antara lega dan tetap waspada. "Aku punya kabar baik," ujarnya, duduk bergabung dengan mereka. "Hasil pemeriksaan independen soal kompetensi mental Bapak sudah keluar. Hasilnya jelas—tidak ada indikasi gangguan kognitif pada periode penandatanganan surat kuasa. Posisi hukum kita sekarang jauh lebih kuat."

"Jadi ini benar-benar berakhir?" tanya Kirana, meski nada suaranya menyisakan sedikit keraguan.

"Untuk urusan surat kuasa, ya," Sari mengangguk, meski ada kehati-hatian dalam nadanya. "Tapi Ratna belum mengeluarkan pernyataan apa pun sejak pertemuan pemegang saham kemarin. Pak Wibowo bilang keheningannya ini justru lebih mencurigakan dibanding kalau dia langsung mengajukan banding. Kita tetap perlu waspada."

Berita itu disambut dengan kelegaan yang tulus oleh semua orang. Bapak, yang mendengar kabar itu dari kejauhan, tersenyum lebar sambil melambaikan tangan pada mereka, tanda kebahagiaan yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Sore harinya, Raka datang berkunjung, kali ini bukan untuk memeriksa kondisi medis Bapak, melainkan sebagai tamu keluarga yang semakin sering hadir dalam berbagai momen kebersamaan mereka. Hubungannya dengan Kirana berkembang dengan indah selama sebulan terakhir, dipenuhi kencan-kencan sederhana namun bermakna di sela kesibukan mereka masing-masing.

"Aku bawa oleh-oleh," Raka berkata sambil menyerahkan sekotak kue yang dibelinya dalam perjalanan. "Dan kabar baik—rumah sakit menyetujui proposalku untuk membuka klinik kesehatan komunitas di lingkungan ini. Aku akan punya lebih banyak waktu fleksibel mulai bulan depan."

"Itu luar biasa, Raka," Kirana tersenyum bangga, menggenggam tangannya erat. "Kau selalu punya cara untuk membuat perbedaan bagi orang-orang di sekitarmu."

Malam itu, seluruh keluarga—termasuk Raka yang kini semakin akrab dengan semua orang—berkumpul untuk makan malam bersama di halaman belakang rumah, memanfaatkan cuaca cerah musim kemarau yang mulai menggantikan hujan yang selama berbulan-bulan mendominasi hari-hari mereka.

Bapak, duduk di kepala meja dengan bantuan bantal ekstra untuk menopang punggungnya, menatap sekeliling meja dengan mata berkaca-kaca penuh syukur. "Aku ingin mengucap syukur malam ini," ujarnya, suaranya sudah jauh lebih kuat dibanding beberapa bulan lalu. "Untuk kesehatan yang perlahan kembali, untuk keluarga yang akhirnya bersatu dengan kejujuran, dan untuk setiap orang di meja ini yang telah menjadi bagian dari perjalanan penyembuhan ini."

Semua orang mengangkat gelas mereka, sebuah toast sederhana namun penuh makna untuk perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.

Setelah makan malam, ketika sebagian besar keluarga sudah masuk ke dalam rumah, Kirana tetap duduk di halaman belakang bersama Raka, menikmati langit malam yang dipenuhi bintang—pemandangan yang jarang mereka nikmati selama musim hujan berbulan-bulan sebelumnya.

"Kau tahu," Kirana berkata pelan, bersandar pada bahu Raka, "sekitar sebulan lalu aku pulang dengan hati penuh amarah dan ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan akan sampai sejauh ini—menemukan kakak baru, menyaksikan Bapak pulih, membangun kembali hubungan dengan Ibu, dan bahkan menemukan kembali cinta yang aku kira sudah lama hilang."

"Hidup memang penuh kejutan," Raka menjawab lembut, merangkul pundaknya. "Terkadang hujan paling deras sekalipun akhirnya reda, meninggalkan langit yang lebih cerah dari yang pernah kita bayangkan."

Kirana tersenyum mendengar kalimat itu, teringat pada judul yang selama ini seolah menjadi tema hidupnya sejak kepulangannya. "Hujan yang tak pernah reda," gumamnya pelan. "Ternyata pada akhirnya, semua hujan pasti reda juga."

"Dan ketika hujan reda," Raka menambahkan, menatap langit berbintang di atas mereka, "biasanya itu meninggalkan sesuatu yang indah di baliknya—tanah yang lebih subur, udara yang lebih segar, dan langit yang lebih cerah untuk memulai babak baru."

Mereka duduk dalam keheningan nyaman itu, ditemani suara jangkrik malam dan kehangatan keluarga yang tertidur damai di dalam rumah—sebuah keluarga yang telah melalui badai paling berat dalam hidup mereka, namun berhasil keluar dengan ikatan yang jauh lebih kuat, dibangun di atas fondasi kejujuran yang selama ini mereka hindari.

Kirana menutup matanya sejenak, merasakan kedamaian yang telah lama ia cari selama delapan tahun pengembaraannya. Rumah ini, keluarga ini, dengan segala kerumitan dan kesalahannya, akhirnya benar-benar terasa seperti tempat yang layak ia sebut pulang.

Dari balik jendela kamarnya di lantai atas, tanpa sepengetahuan Kirana dan Raka yang masih duduk berdua di halaman belakang, Sari memperhatikan kebahagiaan adiknya dengan senyum haru. Ia teringat pada janji yang pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, saat pertama kali mengetahui rahasia soal Denis—bahwa suatu hari, keluarga ini akan menemukan jalan kembali menuju kejujuran dan kebahagiaan yang sesungguhnya, meski jalan itu penuh liku dan air mata.

Malam itu, sebelum akhirnya tertidur, Sari menuliskan sesuatu di buku catatan pribadinya yang selama ini menjadi tempatnya mencurahkan pikiran-pikiran yang tidak bisa ia bagikan pada siapa pun. *"Hujan telah reda. Tapi aku tahu, musim akan terus berganti, dan mungkin akan ada badai-badai lain yang menanti di depan. Yang terpenting, kami sudah belajar caranya menghadapinya bersama, sebagai keluarga yang utuh—bukan karena tidak pernah retak, tapi karena berani memperbaiki setiap retakan itu dengan kejujuran."*

Ia menutup buku catatannya, mematikan lampu kamar, membiarkan rumah yang kini dipenuhi kehangatan itu beristirahat dalam damai, siap menyambut babak baru yang menanti di hari-hari mendatang.

---

*Bersambung ke Bab 26...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!