"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dibawah pohon
1 minggu setelah dewi pergi pamit... hari-hari Karsa berjalan lambat dalam penantian. Keheningan rumah tua itu kerap kali membuatnya terjebak dalam lamunan tentang masa depan yang belum pasti. Pagi ini, Karsa mau mencari kesibukan untuk mengusir rasa jenuh yang mulai menumpuk di kepala.
Namun... saat sedang merapikan barang, dia melihat pancing lama yg masih bersandar dipojok dinding rumah. Debu tipis menempel di gagang bambunya. Ahirnya dia putuskan...
pergi ke sungai kecil di ujung desa.
Tak lama dia pun sampai kesana. Suasana sungai begitu tenang, hanya menyisakan gemercik air dan gesekan dedaunan. Dengan membawa sebilah pancing dan 1 ember plastik kecil, dia pun duduk dibawah pohon besar... yang rindang. Tempat strategis baginya untuk memulai, terlindung dari terik matahari yang mulai menyengat.
setelah memasang umpan cacing dengan cekatan.
Kail pun dilempar
Karsa melihat kail itu tenggelam dengan perlahan di permukaan air sungai yang tenang, menyisakan riak kecil yang melebar lalu hilang.
Rokok dinyalakan, pematik api berbunyi klik sekali. Kopi pun dia minum dari termos kecil yang sengaja dibawa dari rumah. Ritual yg biasa dipakai oleh para pemancing... kini dia nikmati sendiri dalam diam, menatap ujung pelampung pancingnya yang diam tak bergerak.
Namun... tak lama dia dikagetkan oleh sebuah suara yg sangat ia kenal dari arah semak-semak di belakangnya.
Yah... ningsih memanggilnya.. Langkah kakinya yang tergesa membuat ranting kering berkresek pelan.
Tak lama ningsih sudah berada disana, berdiri di samping amben akar pohon besar dengan napas sedikit terengah namun senyumnya langsung mengembang.
"Gimana mas apa sudah dapat.." tanya Ningsih sambil menengok ke dalam ember Karsa yang masih kosong melompong.
"Baru mulai," kata karsa singkat sambil mendongak, menatap gadis itu dengan dahi sedikit berkerut heran.
Ningsih terkekeh pelan, lalu menyodorkan sebuah bungkusan daun pisang yang masih hangat dari tangannya.
"Haha mas mas nih aku bawain lauk, g usah mancing," kata ningsih.
Karsa menerima bungkusan itu, menatapnya bergantian dengan joran pancing di tangannya. "Lalu aku ngapain?" tanya karsa...
Raut wajah Ningsih mendadak berubah agak serius. Rasa cemas dan tuntutan realitas dari ayahnya seminggu terakhir ini tampaknya sudah tidak bisa dia bendung lagi sendirian.
"Yah cari kerja yg lain mas, semisal apa gitu.." kata Ningsih, suaranya melembut namun menyiratkan desakan yang kuat.
Ningsih menghela napas panjang, menatap aliran air sungai yang keruh. "Toh mas aku juga mikir gimana masa depan kita klo semisal mas cuma gini..."
Kalimat itu meluncur jujur dari bibir Ningsih. Kalimat yang terasa cukup menyengat bagi ego seorang lelaki.
Ningsih tak tau... padahal karsa sudah banyak menyebar cv ke perusahaan lain dan sedang berdarah-darah menunggu panggilan dalam ketidakpastian.
Namun begitulah realita..
Orang hanya akan menilai hasil...
dari apa yang terlihat di depan mata saat ini, bukan dari proses sunyi yang sedang diperjuangkan di balik layar.
Karsa tidak membela diri. Dia memilih untuk menyimpan rapat-rapat lembaran CV yang sudah dikirimnya agar tidak menjadi janji kosong. Dia menarik napas dalam, mengembuskan asap rokoknya ke udara bebas. "Ia nanti aku fikir," kata karsa dengan nada suara yang tenang, mencoba meredam kekhawatiran Ningsih.
Mendengar jawaban datar Karsa, Ningsih merasa pesannya sudah tersampaikan. Dia melirik ke arah jalan setapak, takut ada warga desa atau ayahnya yang lewat dan melihat mereka.
"Ya udah mas ... Aku balik dulu..." kata Ningsih berpamitan.
Namun ... kali ini adegan berikutnya membuat jantung Karsa berdegup dua kali lebih cepat. Sebelum benar-benar melangkah pergi, ningsih sedikit memberanikan diri untuk memeluk karsa dan mengucapkan perpisahan.. Lingkaran lengan Ningsih terasa hangat di pundak Karsa selama beberapa detik, sebuah pelukan hangat yang menyiratkan rasa sayang sekaligus ketakutan akan kehilangan masa depan mereka.
Pelukan itu terlepas secepat datangnya. Karsa hanya tersenyum dengan kelakuan ningsih yg sedikit manja itu, menatap pipi gadis itu yang merona merah karena malu dengan keberaniannya sendiri.
Ningsih berbalik dan berjalan cepat meninggalkan tepi sungai dengan hati yang sedikit lebih lega. Sementara Karsa kembali duduk di bawah pohon besar, memandangi pelampung pancingnya yang masih bergeming. Pelukan Ningsih tadi seolah menjadi bahan bakar baru di dadanya: dia harus segera mendapatkan pekerjaan itu, apa pun caranya.