Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update tiap hari dijam 12.00 WIB.

Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.

Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.

Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.

Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Samudra Tanpa Batas dan Layar Perpisahan

Embusan angin laut dari Samudra Timur berhembus kencang, membawa aroma garam dan kelembapan yang menyegarkan ke atas tebing batu karang yang curam. Di tempat di mana daratan Tiga Benua berujung pada jurang samudra yang membentang luas tanpa batas, Ji Mo-Xian berdiri tegak bagaikan sebuah patung pualam putih yang dipahat oleh alam. Jubah putihnya berkibar liar diterpa badai pagi, sementara kain sutra hitam yang melilit matanya tetap tenang, menyembunyikan keteduhan abadi di balik kekuatan dewa naga air.

Di hadapannya, hamparan air laut membiru tua hingga tampak kehitaman di bagian yang paling dalam. Tidak ada daratan yang terlihat di seberang sana, hanya cakrawala luas yang menyatukan langit dan samudera dalam satu garis cakrawala yang megah.

Bagi para kultivator di Tiga Benua, Samudra Timur adalah wilayah terlarang yang dipenuhi oleh badai spiritual, binatang buas purba berukuran raksasa, dan arus pusaran kehampaan yang mampu menelan kapal perang spiritual dalam sekejap. Konon, belum pernah ada satu pun master agung dari daratan utama yang berhasil menyeberangi lautan tersebut dan kembali untuk menceritakan apa yang ada di seberang sana.

Namun, bagi Ji Mo-Xian, samudra luas itu bukanlah tempat yang menakutkan, melainkan sebuah jalur pembebasan. Babak kehidupannya di Tiga Benua—yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, pengkhianatan Klan Ji, keangkuhan para master sekte, dan aliansi kegelapan—telah usai sepenuhnya. Para musuh yang mendendam telah menjadi abu, dan sisa-sisa dendam masa lalu telah terkubur di bawah reruntuhan Lembah Tengkorak.

Ia meraba seruling giok naga purba yang tersimpan rapat di dalam lipatan jubahnya. Getaran halus yang menenangkan terus mengalir dari artefak tersebut, menyelaraskan aliran Qi di dalam dadanya.

"Waktunya melangkah lebih jauh," gumam Ji Mo-Xian lirih. Suaranya sangat tenang, berpadu harmonis dengan deru ombak yang menghantam dinding tebing batu di bawah sana.

Tepat saat ia bersiap mengambil langkah maju untuk menuruni jalur setapak menuju dermaga nelayan di kaki tebing, indra pendengarannya yang luar biasa tajam menangkap riak suara langkah kaki yang mendekat dari arah belakang.

Bukan suara langkah dari sepasukan musuh yang datang membawa niat membunuh, melainkan suara langkah yang ragu-ragu, pelan, dan diiringi oleh desau napas yang tertahan.

Ji Mo-Xian tidak membalikkan tubuhnya. Ia hanya sedikit memiringkan kepala, membiarkan indra spasialnya merekam sosok yang datang menghampiri.

Dari balik rimbunnya pohon pinus purba di tepi tebing, muncullah sesosok wanita muda berbalut jubah pelayan berwarna biru muda sederhana. Wajahnya tampak pucat, dengan tetesan keringat di pelipisnya akibat kelelahan mendaki tebing curam tersebut. Ia adalah Lin Su, seorang pelayan rendah dari paviliun penginapan di kota pelabuhan terdekat yang beberapa hari lalu sempat dibantu oleh Ji Mo-Xian dari amukan para pengawal sekte yang kejam.

Lin Su mencengkeram erat ujung kain jubahnya, tubuhnya sedikit gemetar berdiri di hadapan sang pendekar buta yang namanya kini ditakuti oleh seluruh penjuru Tiga Benua.

"T-Tuan Muda..." suara Lin Su terdengar bergetar hebat, penuh keraguan namun disusul oleh tekad yang kuat. Ia berlutut di atas tanah berbatu, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan lancangnya hamba berani mengikuti Anda hingga ke tempat terpencil ini."

Ji Mo-Xian perlahan membalikkan tubuhnya menghadap sang pelayan muda. Kain hitam di matanya menatap lurus ke arah gadis itu meskipun ia tidak menggunakan indra penglihatan fisik.

"Kau tidak seharusnya berada di sini, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian dengan nada datar namun tidak mengandung kemarahan sama sekali. "Jalur yang kutempuh adalah jalur kematian dan keheningan. Mengikuti langkahku hanya akan membawamu pada bahaya yang tidak bertepi di dunia kultivasi."

Lin Su mendongakkan kepalanya, matanya yang basah oleh air mata menatap penuh ketulusan ke arah sang pendekar. "Hamba tahu... hamba hanyalah seorang pelayan rendahan yang tidak memiliki bakat kultivasi tinggi, tidak memiliki garis keturunan bangsawan, dan tidak tahu apa-apa tentang hukum rimba di dunia ini. Tetapi hamba juga melihat bagaimana para penguasa sekte itu memperlakukan orang-orang lemah bagaikan rumput yang diinjak-injak."

Gadis itu mengepalkan kedua tangannya di atas tanah. "Hamba tidak ingin menjadi pahlawan atau kultivator agung yang mengejar keabadian palsu. Hamba hanya ingin... melayani dan mengikuti perjalanan seorang pendekar sejati yang tahu arti keadilan yang sesungguhnya. Biarkan hamba menjadi pengawal dan pelayan setia di sisi Anda, Tuan Muda. Hamba tidak takut mati."

Kesunyian sesaat menyelimuti puncak tebing karang. Angin laut berhembus kencang, menerbangkan helai rambut Lin Su yang berantakan.

Ji Mo-Xian terdiam sejenak. Di balik kain sutra hitamnya, ia merenungkan perjalanan panjang yang telah ia lalui seorang diri. Selama ini, ia selalu berjalan dalam kesendirian, memikul beban mata dewa naga air dan syair kematian tanpa pernah membiarkan siapapun mendekat ke dalam dunianya. Ia mengira kesendirian adalah satu-satunya pelindung agar ia tidak terseret ke dalam emosi dunia fana.

Namun, ketulusan di dalam mata Lin Su mengingatkannya bahwa di dunia yang dingin ini, masih ada setitik kehangatan yang tulus tanpa motif keserakahan.

Ji Mo-Xian menghela napas pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pelan agar gadis itu bangkit berdiri.

"Bangkitlah, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian dengan suara yang kini sedikit lebih lembut dari biasanya. "Jika kau memilih berjalan di sisiku, maka kau harus melepaskan rasa takutmu pada bayangan kematian. Karena mulai detik ini, jalan yang kita lalui tidak lagi memiliki jalan kembali ke daratan utama."

Lin Su menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya, lalu tersenyum lebar penuh kelegaan. Ia bangkit berdiri dengan cepat dan membungkuk hormat. "Hamba mengerti, Tuan Muda! Hamba akan selalu setia mengikuti ke mana pun langkah kaki Anda membawa pergi."

Ji Mo-Xian mengangguk kecil. Ia membalikkan badan kembali menghadap ke arah samudra luas di ujung tebing. Di kaki tebing batu tersebut, sebuah perahu layar kecil milik nelayan setempat tampak terikat tenang di dermaga kayu, siap untuk mengarungi gelombang samudra.

"Kalau begitu, mari kita berangkat," bisik Ji Mo-Xian.

Tanpa menoleh ke belakang lagi, sang penyair kematian bersama pelayan setianya melangkah turun menapaki tebing karang, meninggalkan daratan Tiga Benua di bawah bayangan fajar, menyongsong takdir baru di samudra tak bertepi yang memanggil mereka di seberang cakrawala.

1
Iskandar Muda
seru cerita ny ..
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: makasih kak🤩🤩 akan lebih seru selanjutnya karena Ji Mo-Xian akan berpetualang menjelajahi dunia dewa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!