Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jebakan di Balik Kelembutan
Langkah kakiku terasa berat seiring berjalannya waktu meninggalkan ruang tamu. Bayangan mata tajam Laras masih terngiang di benakku, seakan duri yang tertanam di dada. Arga tampak tak menyadari apa yang kulihat, ia terus berjalan di sampingku sambil menggenggam tanganku erat, seakan ingin memberiku kekuatan.
"Jangan hiraukan mereka, Freya. Kau tak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun. Bagiku, apa adanya dirimu sudah lebih dari cukup," ucapnya lembut sambil menatapku sekilas, lalu kembali melangkah menuju kamar ayahnya.
Aku tersenyum tipis, namun hatiku tak tenang. Laras ada di sini. Di kediaman keluarga Arga. Bagaimana bisa ia ada di sini? Bukankah Arga telah mengusirnya? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, namun aku tak sempat menanyakannya. Sesampainya di depan pintu kamar ayah Arga, perhatian kami beralih sepenuhnya pada keadaan pria tua yang terbaring lemah di atas tempat tidur besar itu.
Wajah Tuan Dirgantara tampak pucat dan kurus, napasnya terdengar berat dan tersiksa. Di sisi tempat tidur, seorang wanita berdiri membasuh wajahnya dengan air hangat. Saat berbalik, napasku nyaris tercekat. Itu Laras. Dengan pakaian perawat sederhana, wajahnya tampak penuh kesungguhan dan kesedihan yang tulus—setidaknya di mata siapa pun yang tak mengenalnya seperti aku.
"Kau...?" Arga tampak terkejut, langkahnya terhenti di ambang pintu.
Laras menoleh, air mata seketika mengalir di pipinya saat melihat Arga. Ia melangkah mendekat dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.
"Arga... maafkan aku. Aku tak bermaksud menyusup. Saat mendengar kabar sakitnya Ayah, aku tak tenang. Ayah selama ini memperlakukanku seperti anak sendiri. Aku hanya ingin merawatnya, ingin membaktikan diri... sebagai permintaan maaf atas sikapku yang kemarin," ucapnya lirih, suaranya terdengar begitu tulus hingga siapa pun pasti akan merasa iba. Lalu ia menatapku sekilas, dengan pandangan yang penuh ketundukan. "Dan pada Nyonya Freya... aku pun memohon maaf. Aku tak akan mengganggu. Biarkan aku saja merawat Ayah, kalian tak perlu khawatir. Aku tak akan menampakkan diri di hadapan kalian berdua."
Arga terdiam. Keraguannya tampak jelas. Laras memanfaatkan kelembutan hatinya dan kasih sayang ayahnya sebagai alasan yang tak terbantahkan. Aku tahu, jika aku melarangnya sekarang, aku akan tampak seperti istri yang kejam, tak punya hati, dan penuh prasangka. Itulah jebakan Laras.
Aku menarik napas panjang, lalu melangkah maju berdiri sejajar dengan Arga. Menatap Laras dengan tenang.
"Jika itu kemauan hatimu... dan jika Ayah merasa terbantu dengan kehadiranmu, silakan saja. Terima kasih atas ketulusanmu merawatnya," ucapku pelan namun tegas.
Laras tampak terkejut sesaat, seakan tak menyangka aku akan mengizinkannya begitu saja. Namun seketika senyum tipis menyungging di bibirnya—senyum kemenangan yang samar. "Terima kasih, Nyonya. Kau memang begitu baik."
Hari-hari berikutnya berlalu penuh ketegangan yang tak kasat mata. Laras bersikap luar biasa lembut, rajin, dan penuh perhatian. Ia tak pernah berbuat sedikit pun kesalahan di hadapan siapa pun. Perlahan, hati para kerabat dan pelayan rumah mulai luluh kepadanya. Mereka memujanya, membandingkan dengan diriku—yang katanya dulu sombong dan kini tiba-tiba bersikap tenang namun dingin.
Aku diam saja. Aku tahu, semakin ia tampak sempurna, semakin mudah ia menjatuhkanku kelak. Ia sedang menanam keraguan di hati semua orang, termasuk hati Arga.
Suatu malam, hujan turun deras disertai guntur yang menggelegar. Arga tertidur lelap di kursi di samping tempat tidur ayahnya yang mulai sedikit membaik. Laras mendekatiku saat Arga terlelap, wajahnya yang tadi penuh kesopanan kini berubah dingin dan penuh ancaman.
"Kau lihat, Freya?" bisiknya pelan, cukup hanya aku yang mendengar. "Semakin lama, semakin semua orang menyayangiku. Ayah, kerabat, bahkan pelayan rumah. Dan kau? Kau hanya dipaksakan ada di sini. Tak lama lagi... Arga akan menyadari siapa wanita yang pantas berdiri di sisinya. Dan saat itu tiba... kau akan diusir dengan hina, persis seperti takdirmu yang sesungguhnya."
Aku menatapnya tajam, tak sedikit pun gentar. "Jangan terlalu berpuas diri, Laras. Cahaya palsu tak akan bisa menutupi kegelapan hatimu selamanya. Ingatlah... siapa yang sebenarnya dimenangkan oleh kebenaran, pada akhirnya dialah yang akan berdiri tegak."
Laras menyeringai sinis hendak membalas, namun tiba-tiba suara Ayah terdengar lemah memanggil air minum. Laras segera berbalik, wajahnya kembali berubah lembut seketika seakan tak pernah terjadi apa-apa. Ia berlari mendekat dengan sigap, menyodorkan air kepada Ayah sambil menatapku sekilas dengan pandangan menantang.
Namun aku tak menyerah begitu saja. Aku terus bersikap tenang, sabar, dan penuh kasih sayang. Aku menemani Ayah berbicara, membacakannya buku, mendengarkan ceritanya—hal-hal yang tak sempat dilakukan Laras karena terlalu sibuk memanjakan fisiknya saja. Perlahan, Ayah mulai menaruh perhatian lebih padaku. Terkadang ia memintaku mendekat, menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum samar.
"Freya..." panggil Ayah suatu siang saat Arga dan Laras sedang tidak ada di ruangan. "Matamu... matamu begitu tulus. Seperti mata seseorang yang telah mengalami banyak hal. Dulu... aku sempat kecewa padamu. Tapi kini... aku bersyukur Arga memilikimu."
Kalimat sederhana itu membuat mataku berkaca-kaca. Rasa haru sekaligus takut bercampur menjadi satu. Andai Ayah tahu... aku bukanlah Freya yang dulu.
Namun bahaya yang dinanti-nanti akhirnya datang. Tepat tiga hari kemudian, sebuah insiden besar terjadi. Di dalam minuman obat yang kubuatkan untuk Ayah, ditemukan jejak racun ringan yang membuat kondisi Ayah tiba-tiba memburuk. Dan saksi satu-satunya yang melihatku memasak obat itu adalah... Laras.
Semua mata tertuju padaku. Kerabat berdatangan, menatapku dengan pandangan ngeri dan marah. Arga datang tergesa-gesa, wajahnya pucat pasi, menatapku dengan tatapan tak percaya yang menusuk hingga ke tulang.
"Freya..." suaranya bergetar, tatapannya bercampur amarah dan kesakitan. "Benarkah... kau melakukannya?"
Di sampingnya, Laras berdiri sambil menahan tangis, tampak ketakutan sekaligus sedih. "Maafkan aku, Tuan Arga... aku hanya melihat Nyonya Freya sendirian di ruangan itu saat menyiapkan obat. Aku tak bermaksud menuduh... tapi bagaimana lagi..."
Dunia seakan runtuh seketika. Semua menudingku sebagai pelakunya. Tak ada yang percaya padaku. Dan di hadapan tatapan penuh kecewa Arga, hatiku hancur berkeping-keping. Jebakan Laras akhirnya berhasil.
Lanjut ke Bab 9? 😊 Situasinya makin gawat nih! Freya dituduh beracun, Arga mulai ragu lagi~