**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031
Perempuan di Pesawat
Begitu pesawat lepas landas dari Surabaya, Laras tertidur.
Seminggu menghafal istilah, menyusun bukti, dan menjaga jarak dari Pak Herman menghabiskan tenaganya. Kepalanya jatuh ke bahu Bram bahkan sebelum tanda sabuk pengaman dipadamkan.
Bram menyesuaikan sandaran kursi lalu meminta bantal kepada pramugari. Ia menyelipkannya di leher Laras tanpa membangunkan perempuan itu.
Setengah jam kemudian Laras bergerak gelisah. Sepatu haknya menekan ujung kaki yang membengkak setelah berhari-hari berdiri di ruang rapat.
Bram membungkuk dan melepaskan kedua sepatu itu.
Pramugari yang lewat berhenti. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Punya tisu basah yang tanpa alkohol?”
Setelah menerima beberapa lembar, Bram membersihkan telapak dan jari kaki Laras dengan pelan. Ia menutupi pangkuan Laras dengan selimut, lalu memijat bagian yang tegang melalui kaus kaki tipis.
“Istrinya beruntung sekali,” bisik pramugari.
Bram menatap Laras yang masih tertidur. “Belum istri.”
“Oh, maaf.”
“Saya yang berharap.”
Perempuan di seberang lorong mendengar jawaban itu dan tersenyum. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Rambutnya dipotong sebahu, pakaiannya sederhana tetapi sangat rapi, dan sebuah tablet penuh grafik terbuka di meja lipatnya.
Laras baru terbangun hampir satu jam kemudian. Ia langsung menarik kaki ketika sadar tangan Bram masih memijatnya.
“Kamu ngapain?”
“Mengembalikan fungsi kaki.”
“Kamu lepas sepatuku tanpa izin.”
Bram langsung berhenti. “Maaf. Kamu kelihatan kesakitan waktu tidur. Kalau nggak nyaman, aku nggak lanjut.”
Laras memperhatikan tangannya sendiri. Bekas cengkeraman Pak Herman masih samar di pergelangan. Bram pasti juga melihatnya, tetapi ia tidak menjadikan kekhawatiran sebagai izin tanpa batas.
“Boleh lanjut lima menit,” katanya akhirnya. “Tumitku memang sakit.”
“Siap.”
Pijatan Bram berubah lebih ringan. Laras menyandarkan kepala lagi, kali ini dalam keadaan sadar dan memilih.
“Orang-orang lihat.”
“Biar.”
Pramugari datang membawa air. Senyumnya kepada Laras terlalu lebar untuk sekadar pelayanan biasa.
“Pacarnya baik sekali, Mbak.”
Laras menatap Bram. “Katanya kamu belum pacar.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Terus bilang apa?”
“Belum istri.”
Wajah Laras panas. Perempuan di seberang lorong tertawa kecil.
“Maaf,” katanya. “Saya nggak sengaja dengar. Kalian lucu.”
Ia memperkenalkan diri sebagai Anindya Prawira, biasa dipanggil Bu Nindya di kantor dan Anin oleh teman. Ketika Laras memperkenalkan pekerjaan, mata Anindya langsung tertarik.
“Interpreter bahasa Inggris?”
“Iya. Baru menyelesaikan proyek pertama.”
“Bidangnya?”
“Mesin pengolahan makanan. Negosiasi distribusi.”
Anindya menutup tabletnya. Ia bertanya bagaimana Laras menyusun glosarium, menangani dua pembicara yang berdebat, dan mengoreksi perbedaan angka tanpa membuat klien kehilangan muka.
Pertanyaan-pertanyaannya tajam. Laras menjawab dengan contoh dari rapat, termasuk perbedaan garansi dan biaya perjalanan teknisi. Ia tidak menyebut masalah Pak Herman, hanya menjelaskan proses kerja.
“Kamu menyusun ringkasan dua bahasa selama rapat?” tanya Anindya.
“Iya. Supaya keputusan nggak berubah keesokan harinya.”
“Berapa lama kamu kerja di perusahaan sekarang?”
“Baru mulai.”
Anindya terlihat benar-benar terkejut. “Perusahaanku lagi butuh orang kayak kamu.”
Bram berhenti memijat kaki Laras dan menoleh. “Nama perusahaannya?”
“PT Nara Lingua. Keluarga saya bergerak di layanan bahasa dan konsultasi lintas negara.”
Anindya tidak memberi janji kosong. Ia menjelaskan bahwa rekrutmen tetap melalui tes, pemeriksaan referensi, dan masa evaluasi. Proyeknya lebih kompleks, sering di luar negeri, sehingga standar kerahasiaan dan stamina juga lebih tinggi.
“Kami pernah kehilangan kontrak karena satu interpreter menebak angka yang tidak dia dengar,” katanya. “Sejak itu semua orang wajib berani minta pengulangan, bahkan kalau yang bicara direktur.”
Laras tertarik. Prinsip itu sama dengan yang ia pegang saat simulasi kerja.
“Perusahaan Ibu fokus bahasa Inggris?”
“Inggris paling besar. Tapi kami punya tim Jepang, Jerman, Prancis, dan Mandarin. Saya sendiri mulai sebagai penerjemah, bukan langsung duduk di kursi keluarga.”
Anindya menunjukkan sekilas glosarium proyek farmasi di tabletnya. Struktur kolomnya rapi, dengan sumber istilah dan tingkat kepastian. Laras langsung memikirkan bagaimana format itu bisa memperbaiki catatannya sendiri.
“Kalau boleh, saya foto format kosongnya?”
“Boleh. Data proyeknya jangan.”
Laras memotret hanya bagian judul kolom. Anindya tersenyum melihat kehati-hatiannya.
“Saya suka orang yang tahu batas informasi.”
“Saya belum berniat pindah,” kata Laras jujur.
“Nggak masalah. Saya juga nggak minta kamu memutuskan di pesawat.”
Anindya mengeluarkan kartu nama. “Simpan. Kalau bosan di tempat lama, telepon saya.”
Laras menerima kartu itu dengan kedua tangan. Nama perusahaan tercetak kecil di bawah nama Anindya. Tidak ada angka fantastis atau gelar berlebihan, hanya nomor yang bisa dihubungi langsung.
Mereka menambahkan kontak WhatsApp. Anindya bahkan meminta Laras mengirim satu contoh ringkasan tanpa data rahasia jika suatu hari ingin mengikuti tes.
Pesawat mendarat di Jakarta menjelang sore. Bram memasangkan kembali sepatu Laras, lalu mengambil koper dari kabin atas. Ia juga membantu menurunkan koper Anindya tanpa diminta.
Di lorong keluar pesawat, Anindya memperlambat langkah agar sejajar dengan Laras. Ia bercerita pernah bekerja di perusahaan yang seluruh keputusan bergantung pada suasana hati pemilik. Setelah kembali ke bisnis keluarga, ia membangun sistem penilaian yang bisa dilihat penerjemah.
“Bos tetap punya kuasa,” katanya, “tapi kuasa harus meninggalkan jejak. Nilai, komentar klien, alasan komisi. Kalau semuanya cuma ucapan, pegawai gampang dipermainkan.”
Ucapan itu menyentuh kegelisahan Laras tentang persetujuan Pak Herman. Ia belum menceritakan apa pun, tetapi Anindya seolah menjelaskan bentuk tempat kerja yang selama ini ia butuhkan.
“Terima kasih,” kata Anindya. “Kamu selalu begini sama dia?”
“Belum cukup.”
“Bahaya, Laras. Laki-laki rajin begitu cepat laku.”
Laras menyimpan kartu nama ke dalam dompet. “Dia sudah laku sama dirinya sendiri.”
Bram mendekat. “Aku maunya laku sama kamu.”
Di area bagasi, Pak Herman berdiri jauh dari mereka. Ia sempat melihat Bram membawa sepatu Laras di kantong terpisah, lalu memalingkan wajah. Laras tidak mengejarnya untuk membahas komisi. Semua komunikasi setelah insiden akan ia lakukan tertulis.
Ponselnya berbunyi. HR menjadwalkan wawancara untuk Senin dan memastikan komisi proyek tidak boleh ditahan tanpa hasil evaluasi tertulis. Laras menyimpan pesan itu bersama bukti lain.
“Masalah kerja?” tanya Anindya.
“Sedikit.”
Anindya tidak memaksa. “Kalau suatu hari mau cerita sebagai sesama pekerja bahasa, nomor saya bukan cuma untuk rekrutmen.”
Sebelum berpisah, Anindya melambaikan tangan.
“Semoga saya bisa datang ke pernikahan kalian.”
“Belum ada rencana,” jawab Laras cepat.
“Kalau begitu saya tunggu dua undangan. Undangan kerja dari kamu, undangan nikah dari dia.”
Bram tersenyum seolah baru saja mendapat sekutu.
Di mobil menuju kos, Laras kembali membaca kartu nama Anindya. Ia baru saja menyelesaikan proyek pertama, tetapi sebuah pintu lain sudah muncul di hadapannya.
Di bagian belakang kartu itu ada tulisan tangan yang baru ia sadari.
`Kalau bosan di tempat lama, telepon aku.`