Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Pagi itu, Zilia sudah mengenakan pakaian terbaiknya untuk menghadiri acara wisuda. Ibu Retno pun sudah bersiap mendampinginya.
Mereka berdiri di depan rumah sambil menunggu ojek yang sudah dipesan.
Zilia beberapa kali melihat layar ponselnya.
"Bu, tukang ojeknya kok belum datang, ya?"
"Mungkin masih di perjalanan. Sabar dulu."
Zilia mengangguk, lalu menatap Ibu Retno.
"Ibu nggak keberatan, kan, kalau kita berangkat naik ojek?"
Ibu Retno justru tersenyum.
"Kenapa harus keberatan? Ibu malah senang bisa menemani kamu di hari bahagia ini."
Ia kemudian menghela napas.
"Salah kamu sendiri juga. Kenapa fasilitas dari Papa kamu ditolak?"
Zilia tersenyum tipis.
"Bukan menolak, Bu. Aku cuma nggak mau orang-orang tahu terlalu banyak tentang keluargaku."
"Kalau selamanya hidupku beruntung, mungkin nggak masalah. Tapi kalau suatu hari aku jatuh dan semuanya hilang, bagaimana?"
Zilia menatap jalan di depan mereka.
"Aku nggak mau orang-orang yang dulu memuji kemudian menertawakanku ketika aku jatuh."
Ibu Retno menggeleng pelan.
"Kamu ini benar-benar mirip dengan Ibumu."
Zilia menoleh.
"Mirip Mama?"
"Iya."
"Sayangnya, aku bahkan nggak tahu seperti apa Mama."
Zilia tersenyum getir.
"Secantik apa beliau?"
Ibu Retno terdiam sesaat.
"Mama kamu itu sangat cantik."
"Dia juga cerdas. Banyak pengusaha yang ingin mendapatkannya."
Namun ekspresi Ibu Retno perlahan berubah murung.
"Hanya saja... nasibnya tidak seberuntung kecantikannya."
Zilia terdiam.
Ibu Retno menatap wajahnya lama.
"Sekarang ketika melihatmu, Ibu seperti sedang melihat masa lalu. Kamu seperti menghadirkan kembali sosok Mama kamu."
Suaranya mulai bergetar.
"Ibu hanya berharap kamu tidak mengalami nasib seperti beliau."
Zilia langsung memeluk Ibu Retno.
"Ibu adalah cinta keduaku setelah Mama. Ibu adalah bagian terbesar dari duniaku."
Zilia mengusap punggung ibunya.
"Aku akan membuktikan kalau aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Aku akan sukses. Dan yang paling penting, aku akan membahagiakan Ibu."
Ibu Retno berusaha menahan air matanya.
Tangannya perlahan menepuk punggung Zilia.
"Ibu percaya."
Di tengah haru itu, suara kendaraan terdengar mendekat.
"Nah, itu mungkin ojeknya."
Zilia segera melepaskan pelukannya.
Namun belum sempat mereka melangkah, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari depan rumah.
Pintu mobil terbuka.
Seseorang turun.
Zilia membeku.
Vio.
Di waktu yang hampir bersamaan, tukang ojek yang mereka tunggu juga tiba.
Vio berjalan mendekat dengan tatapan yang langsung tertuju kepada Zilia.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Zilia...
sepertinya kembali akan diwarnai oleh masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Vio berjalan semakin dekat. Tatapannya sempat tertuju pada pakaian wisuda yang dikenakan Zilia, lalu beralih kepada Ibu Retno.
"Zilia."
Zilia hanya menatapnya sebentar.
"Ada apa?"
"Aku datang untuk mengantarmu ke kampus."
Vio menunjuk mobil yang terparkir di belakangnya.
"Aku sudah menyiapkannya. Hari ini kamu wisuda. Setidaknya izinkan aku menemanimu."
Zilia menggeleng.
"Nggak perlu."
"Zil..."
"Aku sudah memesan ojek."
Tukang ojek yang baru saja tiba mengangkat tangan dari atas motornya.
"Atas nama Zilia?"
"Iya."
Zilia langsung menghampiri.
Vio menahannya dengan suara lebih lembut.
"Kamu serius mau naik ojek? Aku bisa mengantarmu."
"Aku memang memilih naik ojek."
"Kenapa?"
Zilia menatapnya tenang.
"Karena aku ingin hari ini menjadi hari wisudaku, bukan hari untuk membahas masa lalu."
Vio terdiam.
Zilia kemudian menoleh kepada Ibu Retno.
"Bu, ayo."
Ibu Retno mengangguk.
Namun sebelum naik, Vio kembali berkata,
"Zilia, aku cuma ingin melakukan sesuatu untukmu."
Zilia menatapnya.
"Dulu kamu sudah memilih untuk melakukan sesuatu tanpa memberitahuku."
"Jadi sekarang, izinkan aku memilih sendiri."
Kalimat itu membuat Vio bungkam.
Zilia kemudian memakai helm yang diberikan pengemudi.
Ibu Retno naik lebih dahulu.
Zilia sempat menatap Vio untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih sudah datang."
Suaranya datar.
"Tapi aku tidak membutuhkanmu untuk mengantarku."
Motor pun mulai melaju meninggalkan rumah.
Vio hanya berdiri terpaku. Ia mengepalkan tangan sambil menatap punggung Zilia yang semakin jauh.
Hari ini seharusnya menjadi hari ketika ia melihat perempuan yang dicintainya meraih impian.
Namun sekali lagi... Zilia memilih pergi tanpa dirinya. Zilia menatap jalanan di depan.
Hari ini adalah hari wisudanya. Ia tidak ingin siapa pun merusak kebahagiaannya.
Tidak Vio.
Tidak perjodohan.
Tidak status keluarganya.
Hari ini, ia hanya ingin menjadi Zilia seorang perempuan yang berhasil mencapai satu dari sekian banyak impiannya.
Begitu tiba di kampus, Zilia dan Ibu Retno turun dari ojek. Kemudian Ibu Retno dialihkan untuk berkumpul dengan wali lainnya.
Zilia baru saja melepas helm ketika beberapa suara tawa terdengar dari arah gerbang.
"Eh, itu Zilia, kan?"
"Serius dia datang naik ojek?"
Beberapa mahasiswa mulai berbisik. Tak lama kemudian, putri Ibu Sari dan teman-temannya muncul.
"Wah, calon sarjana!"
Tatapannya sengaja menyapu Zilia dari atas sampai bawah.
"Kok wisuda masih naik ojek? Eh iya, adanya mantan."
Temannya terkekeh.
"Jangan salah. Sekarang dia sudah punya suami."
"Suami?"
"Yang katanya dinikahi gara-gara digerebek warga itu, kan?"
Tawa mereka langsung pecah.
Zilia terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia tidak menyangka kabar yang seharusnya menjadi urusan pribadi justru sudah tersebar ke seluruh kampus.
Seseorang bahkan menunjukkan ponselnya.
"Lihat! Sudah ada yang posting di group warga setempat. Katanya tertangkap basah tinggal serumah dengan cowok miskin, terus dipaksa menikah."
"Kasihan banget."
"Baru wisuda sudah punya cerita memalukan."
Zilia mengepalkan tangan.
Ia mencoba berjalan melewati mereka.
Namun salah seorang mahasiswa sengaja menyenggol bahunya.
"Eh, maaf."
Dorongan berikutnya membuat tubuh Zilia kehilangan keseimbangan.
"Aah!"
Tubuhnya hampir terjungkal.
Namun sebuah tangan dengan cepat menangkap pinggangnya.
Zilia membeku.
Vio.
Pria itu berdiri tepat di belakangnya.
"Zilia!"
Vio membantu menegakkan tubuhnya.
Namun bukannya berhenti, suara ejekan justru semakin ramai.
"Wow, mantan datang menyelamatkan! Cocok banget. Mantannya kaya, suaminya miskin. Jangan-jangan nanti balik lagi sama mantan!"
Zilia merasa tidak sanggup mendengar semuanya.
Ia segera melepaskan tangan Vio.
"Jangan sentuh aku."
Lalu berjalan cepat meninggalkan kerumunan.
Vio mengejarnya.
"Zil, tunggu!"
Zilia terus berjalan hingga menemukan tempat yang jauh lebih sepi di belakang gedung kampus.
Ia berhenti.
Vio akhirnya menyusul.
"Zilia..."
Zilia langsung berbalik.
"Puas kamu?"
Vio terdiam.
"Puas sekarang?"
"Apa maksudmu?"
"Semua ini!"
Zilia menunjuk ke arah gedung kampus.
"Kamu yang datang ke sini, kamu yang membuat semuanya semakin rumit!"
"Aku cuma ingin melihat wisudamu."
"Tapi akibatnya apa?"
Suara Zilia bergetar.
"Semua orang tahu masalah pribadiku. Semua orang menertawakanku."
Vio menunduk.
"Aku minta maaf."
"Maaf?"
Zilia tertawa getir.
"Setelah semuanya hancur, kamu cuma bisa bilang maaf?"
"Aku memang salah."
Vio menatapnya.
"Aku seharusnya tidak datang."
Zilia mengusap air matanya yang mulai jatuh.
"Benar."
"Seharusnya kamu tetap menjalani hidupmu."
"Seharusnya kamu tidak pernah kembali."
Vio terdiam.
Zilia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku."
"Tapi kamu datang... dan sekali lagi, kamu membuat semuanya terasa menyakitkan."
Vio mengepalkan tangan.
"Aku benar-benar minta maaf, Zil."
Zilia menggeleng.
"Puas kamu, puas?"
Vio tidak mampu menjawab.
Zilia kemudian membalikkan badan, meninggalkannya sendirian.
Sementara dari kejauhan, suara keramaian acara wisuda mulai terdengar. Hari yang selama ini Zilia tunggu akhirnya tiba.
Namun justru pada hari itulah, luka lama yang ingin ia kubur kembali terbuka.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄