Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Adrian segera menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Sasi, lalu membopong tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu ke dalam pelukannya.

Langkah kakinya yang lebar dan terburu-buru membawa Sasi menuju kamar utama.

Melihat suaminya justru memperlakukan Sasi dengan lembut, amarah Fitria kembali meledak di lorong.

"Mas! Mau kamu bawa ke mana cewek itu?!" teriak Fitria dengan suara melengking penuh kecemburuan dan kekesalan.

"Dia cuma pura-pura! Kenapa kamu malah membawanya ke kamar utama lagi?!"

Adrian tak menoleh sedikit pun. Ia mengabaikan semua jeritan Fitria, melangkah masuk ke dalam kamar utama, lalu membanting pintu rapat-rapat demi mengunci gangguan dari luar.

Dengan penuh kehati-hatian, Adrian meletakkan tubuh Sasi yang kaku dan pucat di atas ranjang berukuran besar.

Ia berlutut di tepi tempat tidur, menatap wajah polos wanita muda yang kini terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

"Sasi, maafkan aku. Maaf, Sasi." bisik Adrian parau.

Penyesalan dahsyat meremas dadanya hingga terasa sesak.

Matanya kemudian tertuju pada seragam kerja Sasi yang robek akibat lecutan gesper tadi.

Di balik robekan kain itu, membayang luka sabetan memerah yang membengkak, berpadu memilu dengan memar-memar kebiruan bekas kekejaman Hendrik yang belum sempat sembuh.

Pemandangan itu membuat tangan Adrian gemetar hebat.

Ia menyadarkan dirinya, lalu bangkit berdiri menuju lemari.

Adrian mengambil kotak P3K yang tersimpan di sana, sekaligus memilihkan sehelai piyama kain yang lembut dan bersih milik Sasi dari dalam laci.

Adrian duduk berlutut di samping tempat tidur, jemarinya menggigil hebat saat memegang kasa dan cairan antiseptik.

Penyesalan yang luar biasa menusuk-nusuk dadanya, menghancurkan sisa-sisa amarah yang tadi membakarnya.

Pria itu menatap wajah pucat Sasi dengan mata memerah, merutuki kebodohan dan kekejamannya sendiri yang telah membuta.

Tepat saat Adrian hendak menyentuh robekan baju Sasi, kelopak mata wanita itu bergerak perlahan.

Sasi membuka matanya. Pandangannya yang samar dan buram perlahan memfokuskan, lalu mengunci sosok Adrian yang berada sangat dekat dengannya.

Seketika, gelombang trauma dahsyat menghantam kesadaran Sasi.

Wajah Adrian yang dipenuhi rasa bersalah justru terlihat bagai sosok iblis penjahat di mata Sasi.

Kilatan ingatan akan lecutan gesper, teriakan Fitria, dan siksaan Hendrik berbaur menjadi satu ledakan kepanikan yang luar biasa.

"J-jangan! Jangan mendekat!!" jerit Sasi parau dengan napas memburu hebat.

Dengan refleks ketakutan yang histeris, Sasi mencoba menjauh dan beringsut mundur ke tepi ranjang.

Tangannya melayang liar menepis udara, hingga tanpa sengaja menyenggol lampu tidur kaca berukuran besar di atas nakas!

PRANGGG!!

Lampu hias berbahan kaca tebal itu jatuh berhamburan, pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

Gerakan mendadak dan kepanikan tanpa arah membuat Sasi kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya yang lemas tergelincir dan terjatuh dari atas tempat tidur!

BRUGH!

Sasi terjerembap tepat di atas hamparan pecahan kaca yang tajam.

Serpihan kristal lampu yang runcing menancap dan menggores dalam area pinggang serta pinggulnya, merembeskan darah segar yang seketika membasahi seragamnya yang kotor.

"Aarrghh!!" jerit Sasi menahan perih luar biasa yang menyengat sarafnya.

"Sasi!!" teriakan Adrian memecah udara.

Tanpa memikirkan apa pun lagi, Adrian langsung melompat turun dari ranjang.

Rasa panik yang murni merenggut seluruh nalurinya. Adrian menjejakkan kaki telanjang bulatnya tanpa ragu di atas hamparan pecahan kaca yang tajam.

Cress!

Pecahan kaca menembus telapak kakinya, merembeskan darah merah pekat di atas lantai marmer, namun Adrian tak memedulikan rasa sakit itu sedikit pun.

Ia membungkuk, menyusupkan kedua tangannya ke bawah tubuh Sasi, lalu membopong tubuh istrinya yang gemetar dan merintih kesakitan.

"Tolong. Jangan sakiti aku lagi. Ampun," bisik Sasi lirih dengan kesadaran yang kembali mengabur dalam dekapan Adrian.

"Tidak, Sasi! Aku mohon bertahanlah!" suara Adrian bergetar hebat, air matanya menetes mengenai dahi Sasi.

Adrian menerobos pintu kamar dengan langkah lebar, mengabaikan serakan darah dari telapak kakinya yang meninggalkan jejak di sepanjang lorong.

Ia menuruni tangga dengan terburu-buru, sama sekali tak menghiraukan Pekikan kaget Fitria yang berdiri terpaku di ruang tengah melihat baju Adrian dan tubuh Sasi dipenuhi darah.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Adrian menendang pintu keluar, membawa Sasi masuk ke dalam mobil, dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan gila-gilaan membelah jalanan kota menuju rumah sakit demi menyelamatkan nyawa istrinya.

Adrian menerobos pintu kaca IGD rumah sakit dengan napas memburu dan pakaian yang bersimbah darah.

Wajahnya pucat pasrah, sepenuhnya abai pada telapak kakinya sendiri yang terus meneteskan darah akibat tancapan pecahan kaca.

Di lengan tegapnya, tubuh Sasi terkulai makin dingin tak berdaya.

"Tolong! Siapa saja, tolong istri saya!!" teriak Adrian dengan suara parau bercampur kepanikan yang teramat sangat.

Para perawat berhamburan membawa brankar dorong.

Di saat yang sama, Dokter Maya yang baru selesai menangani pasien lain langsung bergegas mendekat.

Namun, begitu matanya menangkap sosok Sasi yang tak sadarkan diri, langkah Dokter Maya seketika terhenti. Raut wajahnya berubah kaku.

"Sasi?!" pekik Dokter Maya terperanjat.

Adrian memindahkan tubuh Sasi ke atas brankar dengan jemari yang menggigil hebat.

"Dokter tolong dia, Dok. Banyak darah di pinggangnya..."

Dokter Maya segera memeriksa kondisi fisik Sasi secara cepat.

Ia menyingkap kain seragam Sasi yang robek dan bersimbah darah.

Begitu kain itu tersingkap, pemandangan di hadapannya membuat dada Dokter Maya serasa dihantam batu besar.

Selain goresan dalam akibat luka pecahan kaca di pinggang yang terus mengucurkan darah segar, membayang sabetan lurus memerah membengkak di beberapa bagian tubuh Sasi—bekas lecutan gesper yang masih sangat baru—berpadu mengenaskan dengan lebam-lebam lama bekas trauma pemerkosaan Hendrik.

Murka Dokter Maya tak terbendung. Napasnya naik turun menahan amarah yang mendidih di dadanya.

Ia memutar tubuhnya, menatap Adrian dengan pandangan tajam penuh kecaman yang mampu membekukan udara di sekitar mereka.

"Apa yang sudah kamu lakukan padanya, Adrian?!" bentak Dokter Maya dengan nada rendah namun sarat akan kemurkaan mendalam.

"Saya, tidak bermaksud—"

"Tutup mulutmu!" potong Dokter Maya tanpa belas kasihan, memangkas jarak dan menunjuk dada Adrian dengan jari yang bergetar murka.

"Kamu tahu persis bagaimana rapuhnya kondisi mental dan fisik wanita ini! Dia baru saja lolos dari neraka trauma pemerkosaan yang nyaris menghancurkan jiwanya, dan, kamu justru menambah lecutan kekerasan fisik baru pada tubuhnya?!"

Adrian membisu, langkahnya surut satu titik di bawah tatapan menghukum Dokter Maya.

Penyesalan yang luar biasa meremas dadanya hingga rasa sakit di kakinya sendiri tak lagi terasa.

"Saya sudah peringatkan kamu dari awal, Adrian!" seru Dokter Maya dengan mata memerah menahan tangis dan amarah.

"Trauma fisik dan mental Sasi sekarang berada di titik paling berbahaya! Satu hentakan kekerasan lagi bisa membunuh jiwanya secara permanen! Kamu bukan melindunginya, kamu sedang menghancurkannya!"

Dokter Maya membalikkan badan dengan tegas, memberi instruksi keras pada tim medis.

"Bawa dia ke ruang operasi darurat sekarang! Siapkan kantong darah dan bersihkan serpihan kaca!"

Brankar didorong kencang menerobos pintu ganda ruang tindakan, meninggalkan Adrian yang berdiri terpaku di lorong dingin IGD dengan tubuh bergetar, bersimbah darah, dan hancur oleh penyesalannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!