Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suasana galeri utama kini terasa jauh lebih dingin dan mencekam bagi para peserta yang berdiri di bawah podium.
Rina menatap nanar ke arah celemek hitam yang kini terpasang rapi di tubuhnya.
Ini adalah zona eliminasi pertamanya dan dia harus menghadapinya tanpa ada Aldo di sebelahnya.
Dari atas balkon lantai dua, Aldo berdiri bersandar pada pagar besi dengan wajah yang sangat serius.
"Kak Aldo, apakah Kak Rina bisa melewati tes tekanan ini?" tanya Jojo dengan nada cemas.
"Rina adalah pembuat kue yang hebat, tapi aku tidak yakin bagaimana mentalnya jika dihadapkan pada bahan hewani yang ekstrem," jawab Aldo pelan.
Di bawah sana, Chef Arya melangkah maju dan menatap tajam ke arah enam orang peserta bercelemek hitam.
Danang berdiri tepat di sebelah Rina dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang terus menetes.
"Kalian yang berdiri di sini adalah kelompok pecundang yang gagal bekerja sama dan gagal menyajikan makanan layak," ucap Chef Arya tanpa ampun.
"Sekarang buktikan bahwa kalian masih pantas memegang pisau dapur di galeri ini secara individu."
Chef Bram memberikan aba aba kepada beberapa panitia untuk membawa masuk kotak kayu hitam berukuran besar.
Kotak kotak itu diletakkan di atas meja masing masing peserta dengan suara yang cukup keras.
Bruk.
"Tantangan kalian hari ini ada di dalam kotak hitam tersebut," lanjut Chef Renata.
"Buka kotak kalian dalam hitungan ketiga."
"Satu."
"Dua."
"Tiga!"
Klak.
Rina membuka tutup kotak kayunya dengan tangan gemetar dan langsung menjerit histeris.
Krak krak krak.
Tiga ekor kepiting bakau berukuran besar dengan capit yang terikat tali nipah langsung meronta ronta di dalam kotak tersebut.
Ukurannya sangat besar, hampir sebesar piring makan orang dewasa dengan warna cangkang hitam kehijauan.
Bahkan satu ekor kepiting milik Danang berhasil melepaskan ikatan capitnya dan merayap keluar dari dalam kotak.
"Tolong jauhkan benda mengerikan ini dariku!" teriak Danang panik sambil melompat mundur dari mejanya.
Beberapa peserta wanita lain juga ikut menangis ketakutan melihat capit capit besar yang capitannya bisa mematahkan jari manusia itu.
Rina mundur tiga langkah dan menutup wajahnya karena dia memiliki fobia ringan terhadap hewan laut yang masih hidup.
"Bahan utama kalian di babak Pressure Test malam ini adalah Kepiting Bakau hidup," umumkan Chef Arya dengan suara menggelegar.
"Kepiting adalah bahan yang sangat mewah, tapi juga sangat berbahaya jika kalian tidak tahu cara menanganinya."
"Dagingnya akan hancur dan berbau lumpur pekat jika kalian membunuhnya dengan cara yang salah."
Di atas balkon, Kevin tertawa terbahak bahak melihat kepanikan Rina dan para peserta amatir lainnya.
"Lihat gadis pembuat kue itu, dia pasti akan langsung pingsan sebelum sempat menyalakan kompor," ejek Kevin keras keras.
Aldo menoleh ke arah Kevin dengan tatapan membunuh namun dia memilih untuk tidak membalas ucapan sampah tersebut.
Fokus Aldo kini sepenuhnya tertuju pada Rina yang masih gemetar ketakutan di depan meja masaknya.
"Waktu kalian membersihkan dan memasak kepiting ini adalah enam puluh menit."
"Gunakan waktu kalian sebaik mungkin karena malam ini pasti akan ada yang pulang meninggalkan galeri."
"Waktu dimulai dari sekarang!" teriak Chef Renata menekan sirine merah.
Teeet.
Suara kepanikan langsung pecah memenuhi ruangan galeri yang luas itu.
Beberapa peserta pria langsung berlari ke ruang pantry untuk mengambil bumbu bumbu dasar.
Namun Rina dan Danang masih berdiri mematung menatap kepiting kepiting buas di depan mereka.
"Apa yang harus aku lakukan, aku belum pernah memegang hewan hidup seumur hidupku," isak Rina dengan air mata yang mulai menetes.
Danang mengambil capitan besi panjang dan mencoba menangkap kepitingnya yang berlarian di atas meja.
Trak.
Capit kepiting itu justru menjepit capitan besi Danang dengan sangat kuat hingga Danang kesulitan menariknya.
"Lepaskan capitmu dasar monster sialan!" maki Danang sambil memukul mukul cangkang kepiting itu menggunakan sendok sayur.
Pemandangan itu sangat menyedihkan dan tidak mencerminkan sikap seorang koki sama sekali.
Aldo mencondongkan tubuhnya ke depan pagar balkon dengan dada yang bergemuruh cemas.
Aturan galeri melarang keras peserta di balkon untuk berteriak memberikan instruksi atau resep kepada peserta di bawah.
Jika Aldo nekat berteriak, Rina bisa langsung didiskualifikasi saat itu juga karena dianggap berbuat curang.
"Berpikir Aldo, berpikir bagaimana cara menyampaikan pesan kepadanya tanpa bersuara," batin Aldo memeras otaknya.
Aldo memperhatikan bahwa Rina sesekali mendongakkan kepalanya menatap ke arah balkon untuk mencari dukungan moral.
Saat mata Rina bertemu dengan tatapan Aldo, gadis itu menggelengkan kepalanya lemah seolah ingin menyerah.
Aldo langsung menegakkan tubuhnya dan menatap langsung ke dalam mata Rina dengan sorot mata yang sangat tajam dan menuntut.
Tatapan itu seolah berkata agar Rina berhenti menangis dan mulai fokus.
Aldo perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan dada agar Rina bisa melihat pergerakannya dengan jelas.
Dia membuka telapak tangannya menghadap ke bawah, mengibaratkan itu sebagai seekor kepiting.
Lalu Aldo menggunakan tangan kirinya untuk membuat gerakan membalik telapak tangan kanannya menjadi menghadap ke atas.
Rina yang berada di bawah sana mengernyitkan dahinya mencoba mencerna isyarat bahasa tubuh Aldo tersebut.
"Membalikkan kepiting ke arah perutnya?" gumam Rina pelan dalam hati.
Aldo menganggukkan kepalanya sangat pelan saat melihat Rina mulai memahami langkah pertamanya.
Langkah selanjutnya, Aldo menunjuk ke bagian tengah dadanya sendiri dengan jari telunjuk.
Lalu dia menggunakan tangan kanannya membuat gerakan menusuk yang sangat cepat dan tegas ke arah titik tengah tersebut.
Rina membulatkan matanya menyadari teknik rahasia yang sedang diajarkan oleh Aldo dari kejauhan.
"Menusuk bagian tengah perutnya agar saraf sarafnya mati seketika," batin Rina mengulangi instruksi isyarat itu.
Itu adalah teknik mematikan kepiting secara manusiawi tanpa membuat dagingnya stres dan melepaskan racun amonia.
Rina menarik nafas panjang dan mengusap air matanya dengan ujung lengan bajunya dengan kasar.
Dia tidak boleh menyerah di sini dan membuat perjuangan Aldo mengajarinya menjadi sia sia belaka.
Rina mengambil capitan besi yang kokoh dan dengan cepat menjepit bagian belakang cangkang kepiting raksasa tersebut.
Capit kepiting itu meronta ronta ke udara berusaha menyerang tangan Rina namun gagal.
Bruk.
Rina membalikkan tubuh kepiting itu hingga bagian perutnya yang berwarna putih pucat menghadap ke atas.
Tepat di bagian tengah perut itu terdapat sebuah celah kecil berbentuk segitiga yang merupakan titik kelemahan hewan tersebut.
Rina mengambil pisau kecil yang sangat tajam dari rak pisaunya dan menelan ludah dengan susah payah.
"Maafkan aku, ini untuk bertahan hidup," bisik Rina pelan kepada hewan tersebut.
Cras.
Rina menusukkan ujung pisau itu tepat ke titik saraf di perut kepiting dengan satu gerakan pasti.
Hewan buas yang tadinya meronta hebat itu seketika lemas dan berhenti bergerak total tanpa rasa sakit yang berlarut larut.
Dari atas balkon, Aldo menghembuskan nafas lega yang sedari tadi ditahannya di rongga dada.
"Kak Rina berhasil membunuhnya dengan sangat rapi Kak Aldo!" seru Jojo dengan nada takjub.
"Iya, dia adalah gadis yang cerdas dan cepat belajar," jawab Aldo tersenyum bangga.
Sementara itu di meja sebelah, Danang masih berteriak teriak bertarung dengan kepitingnya.
makasi crazy up nya