Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bangkit nya Aura

Kabar tentang mata air baru menyebar ke seluruh wilayah Ashford. Tetangga-tetangga yang juga petani kecil mulai datang, meminta izin untuk mengambil air. Cedric, yang baik hati, mengizinkan mereka. Dan perlahan, tanah-tanah di sekitar Ashford mulai kembali hidup.

Tapi bukan hanya tanah yang hidup. Arlen juga mulai berubah.

Suatu malam, di kamarnya yang sederhana, Arlen duduk di atas tempat tidur kayu yang berderit. Ia menutup matanya, mencoba lagi untuk merasakan Aura. Selama bertahun-tahun, ia gagal. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda.

Mungkin karena mata air itu. Mungkin karena tanah di sekitarnya mulai pulih. Atau mungkin karena ia mulai percaya lagi.

Arlen merasakan hangat di dadanya. Seperti percikan api kecil. Sangat kecil. Sangat redup. Tapi itu ada.

Aura, pikirnya, hatinya berdebar. Auraku... mulai bangkit.

Ia membuka matanya. Di telapak tangannya yang kecil, ada kilatan cahaya keemasan—nyaris tak terlihat, seperti kunang-kunang yang sekarat. Tapi itu nyata. Itu bukan Mana. Itu adalah Aura.

"Kembali," bisiknya, suaranya gemetar. "Aura... kembali."

Ia mengepalkan tangannya, menyembunyikan cahaya itu. Aku harus berhati-hati. Di dunia ini, para penyihir berkuasa. Jika mereka tahu ada pengguna Aura...

Ia teringat wajah para penyihir berjubah emas yang membunuhnya ribuan tahun lalu. Wajah para pemburu Aura. Wajah pembunuh kaumnya.

Mereka masih ada, pikirnya. Aku yakin. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai semua jejak Aura hilang.

Arlen mematikan cahaya di tangannya. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang retak.

Aku harus tumbuh kuat. Aku harus belajar. Tapi yang paling penting... aku harus menjaga rahasia ini.

Ia mendengar langkah kaki ibunya di lorong. Elena masuk dengan segelas susu hangat—susu kambing dari satu-satunya kambing yang mereka miliki.

"Kau masih bangun, Nak?" tanya elena. "Ayo minum susu, sebelum tidur."

Arlen tersenyum. "Terima kasih, Ibu."

Elena duduk di tepi tempat tidurnya, mengusap rambutnya. "Arlen... aku ingin bertanya sesuatu. Bagaimana kau tahu ada air di bawah tanah?"

Arlen berpikir sejenak. "Aku tidak tahu, Bu. Aku hanya... merasa."

"Seperti apa perasaan itu?"

Arlen menutup matanya, mengingat sensasinya. "Seperti... seperti bumi bernapas. Seperti ada yang memanggilku. Aku tidak bisa menjelaskannya."

Elena menatapnya dengan mata yang aneh—campuran kebanggaan dan kekhawatiran. "Kau anak yang istimewa, Arlen. Tapi tolong... hati-hati. Dunia ini tidak suka dengan hal-hal yang aneh."

Dunia ini tidak suka dengan hal-hal yang aneh. Arlen mengangguk. Ia mengerti. Ibunya tidak tahu seberapa aneh dirinya sebenarnya. Dan mungkin, lebih baik tetap seperti itu.

"Selamat malam, Ibu," katanya.

Elena mencium keningnya. "Selamat malam, Nak. Mimpi indah."

Saat pintu tertutup, Arlen menatap langit-langit yang retak. Di luar, angin malam berhembus kencang membawa debu dan pasir dari padang tandus. Tapi di dalam dadanya, percikan Aura terus berdenyut—kecil, redup, tapi tidak pernah padam.

Tiga ribu tahun, pikirnya. Tiga ribu tahun dunia ini hidup tanpa Aura. Tanpa keseimbangan. Tanpa para ksatria.

Tapi aku di sini sekarang. Dan aku akan mengembalikan semuanya.

Waktu berlalu dengan cepat. Tiga bulan telah berlalu sejak Arlen menemukan mata air tersembunyi di belakang rumah mereka. Kini ia sudah berusia lebih dari lima tahun—tubuhnya tumbuh sehat berkat air segar yang mengalir deras dari dalam tanah. Rambut hitam pekatnya mulai lebat, matanya yang hitam kelabu gelap selalu waspada mengamati sekeliling, dan senyumnya yang manis mampu meluluhkan hati siapa pun yang melihatnya.

Namun di balik senyum itu, tersembunyi jiwa seorang ksatria yang telah hidup selama tiga puluh tahun di masa lalu, berperang melawan pasukan kegelapan, dan mati di tangan para penyihir Lingkaran Emas.

Tanah di sekitar Ashford mulai berubah. Mata air yang ditemukan Arlen tiga bulan lalu kini telah menjadi sumur yang dalam, airnya mengalir deras bahkan di musim kemarau. Ladang-ladang kecil di sekitar rumah mulai menghijau, dan tetangga-tetangga yang dulu putus asa kini mulai datang meminta izin untuk mengambil air.

Tapi kehidupan keluarga Ashford tetap sederhana. Mereka masih keluarga bangsawan kecil tanpa pasukan, tanpa pengaruh, hanya memiliki tanah tandus yang perlahan mulai pulih dan kebun anggur yang mulai berbuah kembali.

Setiap hari, saat ayahnya Cedric sedang sibuk mengurus ladang yang mulai subur atau berlatih mengayunkan tombak tua di halaman belakang, dan ibunya Elena sedang menyiapkan makanan atau merapikan rumah, Arlen akan menyelinap ke sudut paling gelap di gudang tua di belakang rumah. Tempat itu berdebu, pengap, dan jarang didatangi siapa pun—sangat sempurna untuk menyembunyikan apa yang sedang ia kerjakan.

Di sana, duduk bersila di atas lantai kayu yang sudah mulai lapuk, Arlen memejamkan mata dan memusatkan kesadarannya jauh ke dalam dirinya.

Sejak pertama kali berhasil membangkitkan percikan kekuatan itu tiga bulan silam, ia tidak pernah berhenti berlatih. Menurut ukuran masa lalunya, saat ini ia baru berada di tingkat Kebangkitan—tingkat paling dasar dari kekuatan Aura. Aura keemasan yang dulu menyelimuti tubuhnya hingga mampu membelah langit, kini hanya berupa lapisan tipis yang hampir tak terlihat mata telanjang.

Namun Arlen tidak kecewa. Ia tahu betul bahwa membangun kembali fondasi kekuatan dari nol adalah hal yang paling sulit. Tubuh kecil ini masih terlalu muda, tulang dan ototnya belum cukup kuat menampung energi yang besar.

Tarik napas... tahan... alirkan ke seluruh pembuluh...

Perlahan, cahaya samar berwarna putih samar muncul mengelilingi kulitnya. Udara di sekitar gudang bergetar pelan, debu-debu halus yang melayang seketika terlempar menjauh darinya. Arlen merasakan kehangatan yang nyaman menyebar dari dada ke seluruh anggota tubuh, memperkuat setiap serat otot dan tulang yang masih sedang tumbuh.

"Masih terlalu lambat..." gumamnya pelan sambil mengangkat telapak tangan kanannya. Ia mencoba memadatkan energi itu di sana hingga terbentuk bola cahaya kecil seukuran kepalan tangan. Cahaya itu berkedip-kedip tidak stabil sebelum akhirnya lenyap seketika. "Tingkat Kebangkitan baru memungkinkan aku memperkuat tubuh sedikit saja. Untuk mencapai tingkat Aura Perunggu, aku butuh setidaknya tiga atau empat tahun latihan rutin tanpa henti."

Ia bangkit berdiri, lalu mengangkat sepotong kayu tebal seukuran lengannya yang ada di sudut ruangan. Dengan mudahnya ia mengangkatnya satu tangan saja—hal yang mustahil bagi anak seusianya.

"Belum cukup," ucapnya sambil meletakkan kembali kayu itu. Ia menghela napas panjang. "Di masa lalu, aku mencapai tingkat Aura Perunggu saat berumur sepuluh tahun. Tapi kali ini, dengan pengalaman yang kumiliki, aku pasti bisa mempercepatnya."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu gudang. Arlen seketika memadamkan cahaya di sekelilingnya dan berdiri tegak di tengah ruangan, berusaha terlihat polos.

"Arlen? Kamu ada di dalam sana? Jangan masuk ke tempat berdebu itu, nanti kamu sakit," suara Elena terdengar dari balik pintu. Pintu kayu tua itu terbuka, cahaya matahari masuk menerangi ruangan yang gelap.

Elena berdiri di sana sambil tersenyum lembut, tangannya memegang sehelai kain bersih. Ia berjalan mendekat lalu mengelap sedikit debu di pipi putranya.

"Aku hanya melihat-lihat saja, Bu," jawab Arlen sambil tersenyum manis.

Elena mengelus kepalanya pelan, namun sorot matanya terlihat sedikit sedih saat menatap ke arah luar jendela gudang yang menghadap ke halaman luas keluarga mereka. Di luar, terlihat Cedric sedang berlatih dengan pedang tua—gerakannya kaku dan tidak teratur, seperti orang yang tidak pernah mendapat pelatihan yang layak.

"Sayang... saat kamu berumur sepuluh tahun, ayah dan ibu akan membawamu ke tempat pengujian bakat sihir," ucapnya pelan. Ia berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan Arlen. "Kamu harus tahu... jika hasilnya menunjukkan kamu tidak memiliki cadangan Mana yang cukup, keluarga kita mungkin akan kehilangan tanah dan gelar ini. Banyak bangsawan lain yang sudah lama mengincar wilayah kecil kita ini."

Arlen terdiam sejenak, lalu mengangkat tangannya yang mungil menggenggam tangan ibunya. "Apakah Ayah sedih karena tidak punya kekuatan sihir?"

Elena menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca namun tetap tersenyum. "Ayahmu adalah orang paling berani dan jujur yang pernah kukenal. Kekuatan sihir bukanlah segalanya... tapi di dunia ini, aturan mainnya memang begitu. Tanpa kekuatan itu, kita tidak bisa mempertahankan apa yang kita miliki."

Ia mengangkat Arlen ke dalam gendongannya. "Tapi apa pun hasilnya nanti, kamu tetap anak kesayangan kami. Jangan pernah merasa takut atau rendah diri."

Arlen memeluk leher ibunya erat saat dibawa keluar dari gudang. Di dalam hatinya, tekadnya semakin mengeras. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian, Ibu. Ayah. Aku berjanji.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga kemerahan, Arlen duduk di teras depan rumah, mengamati ayahnya yang masih berlatih di halaman. Pedang tua itu—sebuah pedang panjang biasa, tanpa embel-embel sihir atau hiasan—terayun lambat di tangan Cedric.

Gerakan Cedric kaku. Kakinya tidak stabil, pukulannya terlalu lebar, dan pernapasannya tidak teratur. Arlen menyipitkan mata, mengamati dengan seksama.

Seorang petani yang mencoba menjadi prajurit, pikirnya. Tapi niatnya mulia. Ia ingin melindungi keluarganya.

Dalam hati, Arlen mulai menyusun rencana. Aku tidak bisa mengajarinya Aura—itu terlalu berisiko. Tapi aku bisa mengajarkan Gerakan sederhana pedang yang bisa menyelamatkan nyawanya jika ada bahaya.

Ia turun dari teras dan berjalan mendekati ayahnya.

"Ayah," panggilnya dengan suara anak kecil yang ceria. "Aku ingin belajar pedang juga!"

Cedric berhenti, menatap putranya dengan heran lalu tertawa. "Kamu masih terlalu kecil, Nak. Pedang ini terlalu berat untukmu."

"Aku bisa mencoba!" Arlen bersikeras, menarik-narik ujung baju ayahnya. "Aku bisa menjadi ksatria seperti di cerita-cerita Ibu!"

Cedric tertawa lagi, tapi kali ini ada kelembutan di matanya. "Ksatria, ya? Sayangnya, ksatria sejati sudah tidak ada lagi, Nak. Sekarang yang ada hanyalah penyihir dan tentara bayaran."

Ksatria sejati masih ada, pikir Arlen dalam hati. Aku di sini.

"Aku tetap ingin belajar!" desaknya. "Ayah bisa mengajariku gerakan dasar. Hanya yang ringan-ringan!"

Cedric menghela napas, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi hanya gerakan dasar. Dan jika kamu lelah, kita berhenti."

Arlen tersenyum lebar, bukan karena ia akan belajar—ia sudah tahu semua gerakan itu—tapi karena ia akan memiliki alasan untuk bersama ayahnya setiap hari. Untuk mengamati, mengoreksi, dan perlahan-lahan mengajarkan Cedric cara bertahan hidup.

Hari itu, Cedric mengajarinya cara memegang pedang. Dua tangan. Kaki sedikit terbuka. Arlen mengikutinya dengan sempurna, namun sengaja membuat beberapa kesalahan agar terlihat wajar.

"Tidak, Nak, pegangnya lebih erat," kata Cedric, membetulkan posisi tangannya. "Dan jangan terlalu kaku. Pedang itu seperti perpanjangan tanganmu."

Arlen mengangguk, berpura-pura serius. "Seperti ini, Ayah?"

"Ya, lebih baik," Cedric tersenyum bangga. "Kau cepat belajar."

Kau tidak tahu seberapa cepat, pikir Arlen. Tapi ia hanya tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!