Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: BONCENGAN PERTAMA DAN PERATURAN RAHASIA

Pukul enam pagi, aroma gurih nasi goreng mentega buatan Ibu menguar hangat membasahi udara di area dapur dan meja makan. Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk lewat celah-celah tirai kaca, membiarkan sisa-sisa embun malam di balik jendela perlahan menguap dibelai hangatnya pagi.

Di sudut ruang makan yang hening, Aluna duduk kaku di atas kursi kayu berukir. Tangannya menggenggam sendok, mengaduk-aduk teh hangat di dalam cangkirnya yang belum tersentuh sedikit pun. Seragam putih-abu-abu kelas sebelas yang baru disetrika licin terasa sedikit menjepit bahunya—atau mungkin itu hanya manifestasi dari rasa tegang dan gugup yang membakar seluruh sarafnya sejak terbangun subuh tadi.

Di seberang meja yang sama, Devan duduk dengan santai. Cowok itu menikmati sarapannya dengan gerakan yang begitu teratur dan tenang. Kemeja putih seragam sekolahnya belum dikancingkan sampai atas, memamerkan kaus dalam hitam yang membingkai dada bidang dan bahunya yang kokoh dengan sempurna. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi bersih dan rahang tegas yang menjadi ciri khas ketampanannya.

"Ibu sama Ayah berangkat jam berapa tadi, Kak?" tanya Aluna memecah keheningan yang sejak tadi menggantung kaku di antara mereka.

Devan menengadah, mengunyah suapan terakhirnya sebelum menjawab dengan intonasi suara yang begitu bernas dan tenang. "Subuh tadi, jam empatan. Ayah titip pesan di meja depan, kita suruh jaga rumah baik-baik. Jangan lupa kunci pintu pagar kalau mau pergi."

Aluna mengangguk-angguk pelan, menundukkan pandangannya kembali ke cangkir teh. "O-oh... begitu."

"Habiskan tehmu, lima belas menit lagi kita berangkat. Nanti keburu gerbang sekolah ditutup," ujar Devan seraya berdiri dari kursinya. Tanpa mengeluh atau diminta, ia membawa piring kotornya sendiri beserta cangkirnya ke dalam bak cuci piring.

Melihat betapa mandiri, cekatan, dan teraturnya sosok Devan, Aluna diam-diam makin disergap rasa kagum yang membuncah. Pria itu selalu memancarkan aura dewasa dan protektif yang sanggup membuat siapa saja di dekatnya merasa aman. Namun justru aura mendominasi itulah yang membuat jantung Aluna berdebar tidak karuan setiap kali mereka harus berbagi ruang yang sama di dalam rumah ini.

Suara deru halus dari mesin motor matik berkapasitas besar milik Devan terdengar membelah keheningan halaman depan. Devan sudah berdiri siap di samping kendaraannya. Helm full-face hitam sudah terpasang rapi di kepala, sementara tas ransel sekolahnya disampirkan kokoh di punggung tegapnya.

Aluna melangkah keluar dari pintu depan rumah. Ia mengunci pintu kayu tebal itu dan merapatkan pagar besi dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Ketika ia mendekati motor Devan yang masih menyala, Devan mengulurkan sebuah helm bogo berwarna krem pastel ke arahnya.

"Pakai ini," perintah Devan singkat dari balik visor helmnya.

Aluna menerima helm tersebut. Namun, saat ia mencoba memasang pengait kancing di bawah dagunya, jemarinya yang dingin dan gugup justru membuat tali kain helm itu tersangkut dan sulit terkunci. Aluna meringis kecil, mencoba membenarkannya beberapa kali, tetapi pengait besi itu tetap menolak masuk ke porosnya.

Melihat Aluna yang kerepotan, Devan mendesah pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mematikan mesin motornya sejenak dan menepuk standar samping. Devan melepaskan sarung tangan kulitnya, lalu melangkah satu senti lebih dekat memangkas jarak di antara mereka.

Tangan tegap Devan yang hangat terulur melintasi dagu Aluna, mengambil alih jemari Aluna yang panik dan langsung merapikan tali pengait yang tersangkut.

Klik.

Suara kancing pengait helm yang terkunci mengudara jernih. Namun, Devan tidak langsung menarik tangannya kembali. Jemari cowok itu yang panjang dan bersih justru bertahan sejenak di tepi helm Aluna, merapikan beberapa helai anak rambut gadis itu yang mencuri keluar dari pelipis, lalu mengusap kulit pipinya yang halus dengan kelembutan yang teramat sangat.

Sentuhan yang begitu mendadak itu membuat napas Aluna tertahan seketika di tenggorokan.

Mata mereka beradu secara langsung di bawah naungan helm masing-masing. Jarak yang teramat dekat itu memamerkan betapa jernihnya iris mata cokelat gelap Devan dari dekat. Ada kedalaman rasa dan binar kepemilikan mutlak yang tak bisa disembunyikan di dalam pandangan mata Devan.

"M-makasih ya, Kak Devan..." gagap Aluna buru-buru menundukkan kepalanya demi menutupi wajahnya yang mendadak panas membara.

Devan mengulas senyum tipis—sebuah senyuman samar di sudut bibirnya yang selalu sanggup membuat pening di kepala Aluna. "Naik. Dan pegangan yang benar."

Aluna memanjat naik ke jok belakang motor matik Devan yang cukup tinggi. Ia mengambil posisi duduk agak mundur ke belakang, menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara tubuhnya dan punggung tegap Devan. Kedua tangan Aluna bertengger canggung di atas paha kakinya sendiri.

Devan melirik refleks dari kaca spion motornya. Melihat jarak yang sengaja dibuat Aluna, Devan mendengus pelan. Tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu, Devan meraih kedua tangan Aluna yang kaku di belakang, lalu melingkarkan nya secara paksa namun lembut tepat di pinggangnya sendiri.

"Jangan duduk jauh-jauh begitu. Jalanan depan kompleks kita banyak polisi tidur dan berlubang. Nanti kamu jatuh," tegas Devan dengan nada suara yang tak menerima bantahan, sebelum akhirnya menyalakan kembali mesin motor dan menarik tuas gas.

Motor melaju mulus menembus dinginnya angin pagi perkotaan. Di balik visor helm bogonya, Aluna memejamkan matanya erat-erat. Kehangatan dari punggung Devan menembus kain kemeja seragamnya, mengantarkan rasa aman luar biasa yang sekaligus terasa amat menakutkan bagi logikanya. Aluna perlahan meremas tepi jaket varsity yang dikenakan Devan, membiarkan dirinya menyerah dan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai 'saudara tiri'.

Gedung megah SMA Garuda berdiri kokoh di balik gerbang besi yang menjulang tinggi. Riuk pikuk ratusan siswa-siswi yang berdatangan dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum memadati area gerbang dan pelataran parkir.

Devan mengarahkan motornya menuju deretan tempat parkir khusus kelas 12 di sudut lapangan. Begitu mesin motor dimatikan, Aluna dengan cepat melepas helmnya, merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan, dan bersiap melangkah turun.

"Nanti..." bisik Aluna cepat-cepat sebelum ada teman-teman kelas 12 Devan yang berjalan mendekat. "Di area sekolah... kita bersikap biasa aja ya, Kak? Maksudku, jangan sampai kelihatan kalau kita tinggal di satu rumah yang sama."

Devan yang sedang melepas helm hitamnya menghentikan gerakannya sejenak. Matanya menatap Aluna lurus-lurus dengan raut datar yang sulit dibaca. "Kenapa? Kamu malu kalau orang-orang tahu punya kakak kayak aku?"

"Bukan begitu!" potong Aluna cepat, panik kalau-kalau Devan salah paham dengan niatnya. "Bukan gitu, Kak Devan... aku cuma nggak mau anak-anak sekolah bikin gosip yang aneh-aneh. Berita pernikahan orang tua kita kan belum lama. Aku nggak mau kita jadi pusat perhatian satu sekolah."

Devan diam selama beberapa detik. Matanya mengamati raut kecemasan dan kepanikan yang terpancar jelas di wajah mungil Aluna. Perlahan, garis rahang Devan yang tegang melunak. Pria itu mengangguk pelan, menyetujui kekhawatiran adiknya.

"Oke. Aku hargai peraturan rahasiamu itu," kata Devan tenang. Namun, ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka di atas motor. "Tapi ada syaratnya."

"Syarat?" tanya Aluna bingung.

Devan merendahkan badannya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Aluna agar bisikannya tidak terjangkau oleh siswa-siswi lain yang berlalu-lalang di parkiran.

"Di sekolah, kita boleh pura-pura nggak kenal dekat demi jaga gosip," bisik Devan dengan suara berat yang begitu memukau dan pekat. "Tapi kalau di rumah... kamu nggak boleh jalan mundur atau menghindar tiap kali aku mendekat. Setuju?"

Sensasi nada suara Devan yang bergetar di dekat telinganya membuat bulu kuduk Aluna merinding halus. Kata-kata Devan bukan sekadar syarat kompromi, melainkan sebuah janji rahasia yang mengikat perasaan mereka berdua makin dalam.

Aluna menelan ludahnya yang terasa kering, lalu mengangguk pelan menahan getar di dadanya. "S-setuju."

"Pintar," Devan mengusap puncak kepala Aluna pelan dengan sentuhan yang sangat protektif, lalu memutar tubuhnya dan melangkah santai menuju deretan kelas 12, meninggalkan Aluna yang berdiri mematung di tengah keramaian parkiran dengan jantung yang berdegup liar tak terkendali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!