Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. JANJI RAJA YANG DIRUSAK
Derap sepatu bot berlapis baja milik Duke Kael Dravenhart menggema di lantai marmer putih Aula Utama Istana Valdoria, menghantam kesunyian dengan irama kemenangan yang mutlak. Di jubah perangnya yang panjang, masih tertinggal debu perbatasan utara, dan aroma darah musuh yang baru saja ia bantai demi memertahankan kedaulatan kerajaan.
Bagi seluruh rakyat Valdoria, ia adalah Serigala Perang, panglima termuda yang tidak pernah tahu arti kata kalah.
Namun, hari ini, di bawah kubah emas istana yang bermandikan cahaya matahari sore, Kael datang untuk menagih sebuah janji suci yang diikrarkan langsung oleh sang penguasa sebelum ia berangkat ke medan perang tiga tahun lalu.
Kael menjatuhkan lutut kanannya ke lantai, membungkuk hormat dengan sempurna. Pedang panjang bersarung perak di pinggangnya berdenting pelan.
"Aku sudah kembali, Yang Mulia," ucap Kael. Suaranya berat, dingin, dan berwibawa, memecah keheningan ruangan yang dipenuhi para bangsawan dan petinggi istana.
Di atas singgasana tertinggi, Raja Lucien Valdoria duduk dengan postur santai. Ia mengenakan jubah berbulu dan mahkota bertatahkan permata yang berkilau menyilaukan. Di balik senyum bijaksana yang selalu ia tampilkan di depan publik tersimpan seringai tipis yang teramat licik.
"Kapan pernikahanku dengan Putri Liana dilaksanakan, Yang Mulia?" tambah Kael.
Raja Lucien melambaikan tangannya ringan.
"Ah, Kael ... pahlawanku yang paling membanggakan. Mengenai sumpah itu, kau tidak perlu khawatir. Janji seorang raja adalah hukum. Pernikahan itu pasti akan tetap dilaksanakan," ujar sang Raja, nada suaranya mengalir lembut namun penuh beban manipulasi.
Rasa lega yang hangat seketika menyelimuti dada Kael. Putri Liana Valdoria adalah permata mahkota kerajaan. Gadis itu terkenal di seluruh penjuru benua Elysia karena kecantikannya yang luar biasa, keanggunannya dalam memimpin jamuan teh, serta kecerdasannya dalam berdiplomasi. Menikahi Liana bukan sekadar urusan cinta, melainkan langkah politik strategis untuk memerkuat posisi faksi militer yang dipimpin Kael di pusat pemerintahan kerajaan.
Namun, sebelum Kael sempat bangkit dari posisi berlututnya, Raja Lucien melanjutkan kalimatnya dengan nada yang jauh lebih santai.
"Tetapi, tentu saja ... bukan dengan Liana."
Dunia seolah berhenti berputar.
Kael membeku. Otaknya yang terbiasa merumuskan strategi militer dalam hitungan detik mendadak mengalami kebuntuan total. Alisnya yang tebal bertaut tajam, menciptakan garis-garis kerutan di dahinya. Ia mendongak, menatap langsung ke arah mata sang raja tanpa rasa takut.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia? Sumpah kerajaan menyebutkan dengan jelas bahwa Putri Liana adalah imbalan atas kepala jenderal pemberontak di perbatasan," tanya Kael, penekanan di setiap suku katanya menyiratkan ancaman terselubung.
"Benar. Dan kau telah memenuhi bagianmu. Aku pun memenuhi bagianku. Kau akan menikahi seorang putri darah bangsawan Valdoria. Hanya saja, bukan Liana," jawab Raja Lucien tanpa beban, jemarinya mengetuk-ngetuk pegangan singgasana emas.
Suasana di dalam aula mendadak berubah tegang. Para bangsawan yang berdiri di sisi kanan dan kiri mulai berbisik-bisik, saling melempar pandangan penuh rasa penasaran dan seringai mengejek.
"Lalu, dengan siapa?" geram Kael, suaranya merendah, menahan gelombang amarah yang mulai membakar dadanya.
Di medan perang, Kael terbiasa mengendalikan ribuan pasukan dengan kepala dingin, tetapi dipermainkan secara terang-terangan oleh seorang raja adalah batas kesabaran tertingginya.
Raja Lucien tersenyum lebar, menikmati ekspresi frustrasi di wajah sang pahlawan perang.
"Dengan putri pertamaku, Putri Virelia," jawab sang Raja ringan.
Kael tertegun. Otaknya langsung memindai seluruh memori dan informasi mengenai keluarga kerajaan yang ia miliki. Nama itu, nama yang hampir tidak pernah disebut dalam jamuan resmi, nama yang seolah sengaja dihapus dari silsilah publik.
Virelia Valdoria.
Usianya sekitar empat tahun lebih muda dari Kael, tetapi keberadaannya di istana bagaikan sebuah mitos buruk yang ditutup-tutupi. Sang putri pertama tidak pernah muncul di pesta dansa, tidak pernah menghadiri perayaan panen raya, dan wajahnya tidak pernah digambar oleh pelukis istana mana pun.
Alasannya? Seluruh Valdoria tahu rumor mengerikan yang beredar di balik tembok tinggi istana.
Putri Gila Valdoria.
Konon, gadis itu kehilangan akal sehatnya setelah demam tinggi di masa kecilnya. Rumor mengatakan bahwa Virelia sering berteriak tanpa alasan di tengah malam, pernah melempar vas porselen antik langsung ke kepala menteri keuangan, tertawa terbahak-bahak sendirian di ruangan gelap, dan senang berbicara dengan dinding seolah ada orang di sana.
Tidak hanya itu, para pelayan istana bersumpah bahwa Virelia memiliki kebiasaan menggigit lengan siapa saja yang membuatnya kesal, menghancurkan kamar tidurnya sendiri setiap bulan, dan puncaknya ... ia pernah mencoba menusuk seorang bangsawan tinggi menggunakan garpu perak hanya karena pria itu mengenakan dasi berwarna hijau lumut.
Kecantikan atau keanggunan? Jangankan itu, bertahan hidup di dekat gadis itu selama lima menit saja sudah dianggap sebagai keajaiban.
"Yang Mulia, saya menghormati keluarga kerajaan. Saya juga tidak keberatan menikahi seorang putri untuk mengikat aliansi politik. Tetapi mengapa harus gadis itu? Seluruh kerajaan tahu dia tidak waras." Kael menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur nada suaranya agar tetap terdengar rasional.
Raja Lucien terkekeh pelan, suaranya menggema di dinding-dinding batu marmer.
"Karena dia adalah putriku, Kael. Dan keputusan seorang raja adalah mutlak," kata Raja Lucien dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
"Bagaimana bisa ..." Kael mulai merasakan amarahnya memuncak sekarang.
"Liana sudah dijodohkan dengan pangeran dari Kekaisaran tetangga demi kepentingan dagang kita. Jadi, pilihanmu hanya Virelia. Terima takdirmu sebagai pahlawan kerajaan, atau tolak dan anggap itu sebagai bentuk pengkhianatan," ujar sang Raja dengan senyum liciknya.
Kael mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jika saja pria di atas singgasana itu bukan seorang raja yang memegang kendali administratif seluruh negeri, Kael mungkin sudah menghunus pedangnya dan menebas kepala sombong itu saat ini juga.
Sebelum Kael sempat melontarkan penolakan terakhirnya, pintu kayu ek besar di sisi kiri aula mendadak terbuka dengan hantaman yang begitu keras.
BRAK!
Suara benturan itu membuat seluruh isi aula terlonjak kaget. Seorang pelayan wanita paruh baya berlari keluar dari lorong, rambutnya acak-acakan, celemeknya compang-camping, dan wajahnya pucat pasi bagaikan baru saja melihat hantu pencabut nyawa.
"Y-Yang Mulia! Darurat! Darurat besar di sayap timur istana!" teriak pelayan itu histeris, langsung menjatuhkan diri bersujud di lantai marmer sambil menangis gemetar.
"Ada apa lagi, Martha? Jangan membuat malu di depan sang Duke." Raja Lucien mengernyitkan dahi, tampak terganggu.
"P-Putri Virelia ... dia mengamuk lagi! Putri memakan lilin aromaterapi karena mengira itu keju mentega! Dan saat kepala pelayan mencoba menghentikannya, Putri ... Putri mengangkat meja makan kayu mahoni dan melemparkannya menembus kaca jendela lantai dua!" Pelayan itu terisak ketakutan, napasnya tersengal-sengal.
Semua orang di aula terkesiap.
Kael menoleh perlahan ke arah pelayan itu, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada sang Raja. Wajah Kael datar, tetapi di dalam hatinya, ia merasa sedang ditarik ke dalam sebuah lelucon yang sangat buruk.
Kael menatap Raja Lucien dengan tatapan datar namun tajam.
Raja Lucien menghela napas panjang, mengusap pelipisnya seolah menghadapi anak kecil yang rewel.
"Seperti yang kau lihat, Kael. Jiwanya sedikit ... unik," kata sang Raja seolah tak bersalah walau mendengar laporan barusan dari pelayan.
Kael menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia berdiri dari posisi berlututnya, merapikan jubah perangnya, dan menatap sang Raja dengan mata tajam setajam pedang.
"Yang Mulia, saya secara resmi menarik kembali kesanggupan saya untuk menikah. Saya lebih memilih mati di medan perang melawan pasukan monster di perbatasan utara dari pada menghabiskan sisa hidup saya di bawah satu atap dengan orang gila," ucap Kael dingin.
Raja Lucien tersenyum miring, seringai penuh kemenangan terpampang jelas di wajah tuanya.
"Sayang sekali, Duke Kael. Undang-undang pernikahan kerajaan menyatakan bahwa begitu seorang panglima perang menginjakkan kaki kembali di ibu kota dan menerima titah penugasan, pernikahan secara hukum telah disahkan oleh kuil suci semalam. Kalian sudah resmi menikah," balas sang Raja dengan nada mengejek.
Raja Sialan, umpat Kael dalam hati.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣