Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Pulang ke Bandung

"Kapan kalian kasih Mama cucu?"

Sendok di tangan Karina berhenti di atas mangkuk sup.

Meilan Wijaya duduk di seberangnya, masih mengenakan celemek rumah makan. Dapur di belakang mereka ramai oleh bunyi wajan dan pesanan pelanggan, tetapi meja keluarga mendadak terasa terlalu sunyi.

"Mama baru lima menit duduk sudah tanya itu," kata Karina.

"Tetangga sebelah kemarin gendong cucu kedua. Mama cuma penasaran. Andri sehat, kamu juga kelihatan sehat."

Hendra menurunkan koran. "Jangan ditekan terus. Biar mereka atur sendiri."

Karina tersenyum dan menyendok sup. "Andri sedang banyak pekerjaan."

Kebohongan itu pahit di lidah. Di dalam tasnya ada salinan gugatan cerai, sementara cincin nikah tidak lagi melingkar di jari. Dia sengaja mengenakan sarung tangan tipis saat tiba agar Mama tidak melihat bekasnya.

Karina pulang ke Bandung untuk akhir pekan karena tidak tahan terus berbohong melalui telepon. Namun duduk di hadapan orang tua ternyata tidak membuat pengakuan lebih mudah.

Mama pernah lebih menyayangi Kevin, anak lelaki yang datang bertahun-tahun setelah Karina. Meski sikap itu sudah melunak, pertanyaan tentang menjaga suami dan memberi keturunan masih muncul seperti duri lama.

"Bu Rika bilang kamu dan Andri jarang pulang bersama," lanjut Meilan. "Jangan terlalu sibuk kerja. Rumah tangga juga harus dijaga."

Karina menunduk agar ibunya tidak melihat matanya. "Iya, Ma."

Telepon rumah makan berdering. Meilan bangkit melayani pesanan katering. Hendra memandang putrinya dari balik kacamata.

"Kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan sederhana itu hampir merobohkan pertahanannya. Karina menggenggam sendok lebih erat.

"Baik, Pa. Cuma capek."

Hendra tidak mendesak. Dia hanya memindahkan sepiring ayam kecap ke dekat Karina. "Makan yang banyak. Kamu kelihatan kurus."

Seorang pelanggan lama menghampiri meja sebelum pergi. "Karin pulang? Andri nggak ikut?"

"Dia ada pekerjaan, Tante."

"Aduh, suami istri jangan sering terpisah. Nanti ada yang ambil."

Kalimat itu diucapkan sambil tertawa, tanpa niat jahat. Namun sendok Karina membentur mangkuk. Meilan cepat menyahut bahwa menantunya sibuk dan sangat bertanggung jawab. Setiap pujian kepada Andri terasa seperti garam yang ditabur ke kulit terbuka.

Setelah pelanggan pergi, Karina menawarkan diri memeriksa pembukuan rumah makan. Angka lebih aman daripada percakapan. Dia menemukan tagihan bahan baku naik dan pemasok lama belum dibayar dua minggu. Hendra mengaku uangnya dipakai memperbaiki kulkas.

Karina mentransfer sebagian uang pribadinya. Hendra menolak, tetapi Karina berkata itu bukan pinjaman. Membantu rumah makan adalah satu-satunya cara baginya merasa masih berguna sebagai anak, ketika sebagai istri dia baru saja dinyatakan gagal oleh semua orang.

"Kalau ada masalah, cerita ke Papa," kata Hendra saat mereka menutup buku kas.

Karina hampir mengaku. Dari dapur, Meilan memanggil agar mereka membawa piring kotor. Kesempatan itu lewat, dan Karina membiarkannya.

Malamnya, Karina membantu menutup rumah makan. Aroma kecap, bawang goreng, dan kayu meja tua membawa masa kecilnya kembali. Di lantai atas, kamarnya masih menyimpan piala sekolah dan foto keluarga. Tidak ada foto Andri baru di sana. Entah mengapa hal itu membuatnya lega.

Ponselnya bergetar. Bukan Nathan, melainkan Kevin.

"Cici pulang Bandung?"

"Iya. Kamu kapan pulang?"

"Minggu depan. Ci, aku mau minta tolong."

"Uang?"

"Bukan. Teman-teman sekamarku bantu proyek fotografi kemarin. Aku mau traktir mereka, tapi kalau cuma aku yang bayar mereka nggak mau. Cici ikut, ya? Bilang saja traktiran keluarga."

"Aku nggak kenal temanmu."

"Makanya kenalan. Mereka baik. Ada satu yang baru balik dari Singapura juga."

Karina tidak menghubungkan kalimat itu dengan siapa pun. "Kapan?"

"Senin malam. Aku kirim lokasi."

Meilan masuk membawa seprai bersih dan langsung bertanya siapa yang menelepon. Setelah tahu Kevin, wajahnya cerah. "Adikmu itu jarang minta apa-apa. Datanglah."

"Iya, Ma."

Karina kembali ke Jakarta Senin pagi. Sepanjang perjalanan, pesan dari Nathan tidak muncul. Nomor terakhir yang digunakannya juga tidak aktif. Anehnya, kesunyian yang dulu dia minta justru terasa mengganggu.

Bus memasuki tol dalam hujan tipis. Karina membuka kontak yang sudah diblokir satu per satu. Empat nomor. Dia tidak membuka blokir satu pun, tetapi membaca ulang pratinjau pesan lama. Perhatian Nathan seharusnya terasa seperti gangguan. Justru setelah dua hari tanpa suara kurang ajarnya, layar ponsel terlihat terlalu sunyi.

Di sebelahnya, seorang ibu muda menenangkan bayi yang rewel. Tangis kecil itu menusuk Karina. Dia memalingkan wajah ke jendela, mengingat ucapan Andri tentang delapan tahun menunggu. Selama ini, seolah hanya Andri yang kehilangan sesuatu. Padahal setiap hasil negatif juga mengikis dirinya sedikit demi sedikit.

Karina turun di terminal dengan mata kering. Dia berjanji tidak akan membiarkan kekosongan rahim menentukan seluruh harga dirinya.

Di kantor, Bu Wanda mengingatkan tawaran promosi. Karina meminta waktu sampai sidang berikutnya. Saat makan siang, Josie menelepon untuk menanyakan "pemuda abu-abu".

"Sudah hilang," jawab Karina.

"Kamu terdengar kecewa."

"Aku lega."

"Pembohong buruk."

Karina menutup telepon dan kembali bekerja. Pukul enam lewat, Kevin mengirim nama restoran. Tempatnya berada tidak jauh dari kampus Universitas Nusantara.

Karina tiba terlambat karena macet. Dari luar restoran, dia melihat Kevin berdiri di antara beberapa pemuda, melambai dengan antusias. Mereka belum menyadari kehadirannya.

Di depan pintu, dia sempat menerima pesan dari pengacara. Andri meminta penundaan sidang berikutnya karena alasan pekerjaan. Karina membalas singkat bahwa jadwal mengikuti pengadilan, bukan kenyamanan Andri. Setelah itu dia mematikan notifikasi. Malam ini dia ingin menjadi kakak Kevin, bukan istri yang sedang menggugat cerai.

Dia memperbaiki rambut, menarik napas, lalu mendorong pintu kaca.

"Cici!" Kevin bergegas menghampiri dan memeluknya. "Aku kira batal."

"Jalan Sudirman macet. Temanmu mana?"

Kevin menunjuk meja panjang di sudut. "Itu semua. Yang berkacamata namanya Rio, sebelahnya Jason. Satu lagi baru datang."

Karina mengikuti arah jarinya.

Seorang pemuda duduk membelakangi mereka. Jaket hitamnya tersampir di kursi. Di bawah lampu restoran, rambut abu-abu pucat itu tampak terlalu dikenal.

Darah Karina berhenti mengalir.

Tidak mungkin.

"Yang itu siapa?" tanyanya, nyaris berbisik.

"Nathan. Teman sekelas dan teman sekamarku." Kevin tersenyum. "Dia paling banyak bantu aku."

Seolah mendengar namanya, pemuda itu memutar kepala.

Mata gelapnya langsung menemukan Karina. Tidak ada kejutan di sana. Hanya kepuasan seseorang yang sudah mengetahui akhir permainan sejak awal.

Nathan berdiri perlahan.

Kevin masih memegang siku Karina, tidak merasakan tubuh kakaknya yang mendadak kaku. Teman-teman lain tersenyum sopan, menunggu perkenalan. Hanya Nathan yang tahu mengapa wajah Karina kehilangan warna.

Dia memasukkan ponsel ke saku, lalu menarik kursi kosong di sebelahnya seolah tempat itu memang sejak awal disiapkan untuk Karina.

"Sampai ketemu, Kak," katanya dengan senyum tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!