Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:29.4k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Tatapan yang Berbeda

Pagi menyingsing, setiap rumah kembali dengan rutinitasnya masing-masing. Begitu juga dengan sepasang pengantin baru, saat Biyakta bangun pagi untuk berangkat ke kantor KUA, sebenarnya Diyah juga sudah bangun, tetapi dia berpura-pura masih tidur, karena Diyah merasa cukup bingung dengan kegiatannya, dia belum tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah menjadi istri Biyakta.

Diyah menganalisa dan mencoba menghafal aktivitas suaminya. Diyah mengintip dari celah bantal, dia sempat melotot saat melihat Biyakta yang ada di kamar mandi minim privasi itu.

Di mana sekatnya hanya menggunakan kaca bening, sehingga Diyah bisa melihat semua yang sedang dikerjakan suaminya.

'Ya ampun kamar mandi orang kaya kok aneh-aneh ya? Ini aku yang katrok atau bagaimana?' batin Diyah, teringat juga saat kemarin dia mencari gayung dan ember, tapi nahas semua barang yang biasa dia gunakan tidak ada.

"Hoam ...."

Saat Biyakta keluar dari kamar mandi Diyah berpura-pura menguap, layaknya orang yang baru bangun, lalu berjalan ke arah lemari, mencari baju mana yang bisa dikenakan pria itu pagi ini.

"Baju kerjaku sebelah kanan," ujar Biyakta yang melihat istrinya kebingungan. Seketika itu juga Diyah langsung menggeser lemari yang dimaksud Biyakta, tumpukkan baju kemeja, celana, dan beberapa jas menggantung rapi di sana.

"Apakah Mas ada seragam tertentu?" tanya Diyah.

"Hari ini pakai batik, terserah yang mana saja," jawab Biyakta sambil mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.

"Baik."

Diyah mengambil satu stel batik berwarna biru muda dan celana navy. Dia langsung menyerahkannya pada Biyakta.

"Ada lagi yang bisa aku bantu?"

"Masukan berkas-berkas itu ke dalam tas, jangan sampai ada yang tertinggal." Biyakta menunjuk meja di sudut ruangan.

"Baik."

Diyah berusaha menjelma menjadi istri yang baik. Setelah mengurus perlengkapan kerja suaminya, Diyah melenggang ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti karena Biyakta yang tiba-tiba memberinya sebuah kartu.

"Ini kartu ATM untukmu, semua uang gajiku ada di sini, gunakan sebaik mungkin untuk keperluanmu, untuk urusan dapur kamu tidak perlu khawatir, aku sudah mengurusnya," papar Biyakta.

"Ngomong-ngomong berapa isinya?" tanya Diyah dengan ragu.

"Tidak tahu, aku tidak pernah mengeceknya."

Diyah langsung melongo. Dia baru tahu ada orang bekerja tapi tidak pernah mengecek gajinya. Apa karena saldonya tidak pernah limit?

"Kalau kebanyakan bagaimana, Mas?"

"Itu hakmu, tugasku kan hanya memberi nafkah. Terserah mau kamu apakan, yang penting bermanfaat."

Biyakta tidak terlalu mengkhawatirkan semua itu, karena dia yakin Diyah bisa mengaturnya dengan baik.

"Kalau buat beli kebun?" tanya Diyah bercanda, ingin memecahkan suasana.

"Silahkan," jawab Biyakta dengan enteng, juga mimik wajah yang serius.

"Beli rumah?"

"Silahkan."

"Beli perhiasan?"

"Silahkan, apa saja yang menurutmu bagus."

"Hahaha, aku bercanda. Aku akan gunakan secukupnya saja," balas Diyah sambil tertawa sumbang, karena tak melihat ada tanda-tanda Biyakta akan tertawa.

"Baik. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"

"Mengenai kegiatanku bagaimana, Mas? Apakah aku boleh ke kebun dan ke sawah?Dan tetap menjadi kader posyandu?" tanya Diyah sekali lagi, supaya semuanya jadi jelas di awal.

Biyakta terdiam sesaat, kemudian mengangguk.

"Boleh, yang penting saat aku sudah di rumah, kamu juga wajib ada di rumah!" tandasnya, tak ingin mendengar bantahan.

"Baik. Sudah cukup."

"Oh iya kamu hanya boleh mengurus kebun dan sawah bagianku ya," tambah pria itu.

"Eh."

"Kenapa?" Biyakta mengerutkan keningnya.

"Aku kan belum tahu kebun dan sawah yang Mas maksud. Lagian aku juga masih belajar, belum bisa mengurus banyak."

"Nanti Mbok Sum yang tunjukkan. Aku juga bisa bantu. Kamu kan sudah jadi istriku, jadi tidak boleh mengambil hak orang tuamu lagi. Biarkan mereka mengelolanya sendiri."

Mendengar itu, Diyah langsung paham. Namun, belum bisa membayangkan saat dirinya turun ke sawah bersama Biyakta, hah, orang setampan suaminya—main lumpur di tengah terik matahari.

"Baik, Mas."

Diyah memalingkan wajah saat melihat Biyakta dengan santai mengganti baju di depannya. Sesuatu yang begitu tabu, tapi dia harus mulai terbiasa.

***

Keduanya turun ke meja makan secara bersamaan, di sana semua orang sudah menunggu, termasuk salah seorang yang ingin Juragan Marta kenalkan.

"Biyakta, ini Firman—keponakan Surya. Dia yang akan menjadi asistenmu mulai sekarang, supaya kamu tidak terlalu sibuk," ujar Juragan Marta, selama ini Biyakta selalu kekeuh tak butuh orang lain. Tapi setelah menikah, Juragan Marta ingin Biyakta lebih banyak menghabiskan waktu dengan istrinya. Supaya penerus keluarga Kusuma, segera hadir di tengah-tengah mereka.

"Salam kenal, Den, saya Firman," ujar Firman sambil membungkuk sopan.

"Biyakta," balas Biyakta, yang kemudian mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, Pak, Diyah katanya tetap ingin ke kebun dan ke sawah biar tidak bosan di rumah, jadi aku akan menyerahkan bagianku padanya."

"Baguslah kalau begitu. Diyah boleh pilih sawah atau kebun yang mana saja, tidak melulu yang bagianmu, dia kan sudah jadi anak Bapak juga," balas Juragan Marta tanpa pikir panjang.

Hal tersebut yang membuat Januar tiba-tiba teringat dengan pembicaraannya bersama Laksmi. Tatapan Januar mulai tak bersahabat.

'Oh jadi ini yang dimaksud Bude? Mentang-mentang Mas Biyakta yang sudah punya istri, jadi bebas mengelolanya. Lama-kelamaan bisa jadi hak milik.' batinnya sambil mencerna obrolan.

"Biar nanti Firman yang antar," lanjut Juragan Marta.

"Tidak! Aku yang akan mengantarnya sendiri, Pak," sela Biyakta dengan cepat, membuat Juragan Marta terkekeh-kekeh.

"Aduh sudah mulai posesif ternyata," ledeknya. Senang sekali melihat perbedaan putranya yang signifikan.

"Tapi kan ada Mbok Sum, Mas, nggak apa-apa kalo Mas mau langsung ke kantor," timpal Diyah, tak ingin suaminya terlambat hanya gara-gara mengantarnya.

Namun, Biyakta malah melirik tajam hingga Diyah langsung melipat bibirnya ke dalam, tak bisa membantah lagi.

"Sudahlah, Diyah, ikuti saja apa kata suamimu," sambar Laksmi kembali cari muka. Diyah pun mengangguk, dan akhirnya satu keluarga itu melanjutkan sarapan pagi dengan suasana hati yang berbeda-beda.

***

1
Ny Rudi Harianto
memang si emak ni ya....luar biasa pembuatan masalah
nuraeinieni
mending kamu bawa saja dua adikmu diah,ibumu tdk becus.
Septi
good . bawa aja Diva
Margaretha Indrayani
bawa saja diva ya diyah, kasihan jadi korban ibu dan ayahnya😡😡😡😡😡😡
Radya Arynda
up lagi thoooor
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Dien Elvina
sdh bawa aja adik mu Dyah kasian dia dgn s Rumi berasa hidup d neraka .. apalagi suaminya yg kasar n suka mabok ..ibu mu biarkan saja bahaya klo dia d bawa bisa jadi bumerang buat rmh tangga mu Dyah
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sudah bawa saja adik mu ikut pulang ke rumah kamu Diyah. tapi ..jangan smapai ajak ibumu. daripada nanti malah jadi bumerang dalam kehidupan rumah tangga kamu. mengingat ibu kamu yang serakahh dan jahatt. Dan jangan mau menjadi ATM ibu kamu. ibu kamu masih muda dan dia juga punya suami. biarkan ibu kamu kerja, jangan terlalu di kasih hati malah kamu sendiri yang menderita.
aurel chantika
Cakra harus dilaporkan ke polisi
aurel chantika
astaga diva,jangan sampai ketahuan deh
Margaretha Indrayani
semoga diyah dan biyakta bisa . menolong sarmila dan diva. cakra dan rani nyolong dirumah ortu sendiri, parah kamu cakra dan rani sudah buta hatinya
Septi
waduhh
Septi
ahh masih ada yang baik.. bersyukurlah mila
Radya Arynda
semogah diyah dan biyatta selalu bahagia dan semogah hamidun...dan sengkuli terlihat wajah aslina....
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi
Diah_Kustantie ✨💛
Nextt
Dien Elvina
udah Diva ikut aja dgn kak Dyah daripada hidup sama ibu mu yg udah kyk d neraka
Dien Elvina
s Rumi gak bisa d katakan seorang ibu ..apa yg dia lakukan lebih dari seorang wanita yg kejam dgn anak² nya 🥺
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hajarrrr bu...mantu tak tahu diri, di kasih hati minta organ tubuh.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
ikut saja sama kak Diyah..Div. daripada kamu hidup dengan moster, lama2 kamu bisa Gilaaa, ngadepin ayah mu yang pemabokk dan ibumu yang pemarah.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Bener2 ibu lukcnutt! jangan harap kali ini anda bakal selamat dari amukan Diyah. apalagi kalau Diyah melihat keadaan mila yang babak belur, anda bisa saja di laporkan dan jangan harap Diyah bakal membantu anda.
Margaretha Indrayani
tapi untunglah diyah sudah tahu kalau sarmila selamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!