Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2: Menyelamatkan Elena dan Kecurigaan Ethan

Matahari pagi bersinar cerah menembus tirai jendela kamarku, cahayanya keemasan dan hangat menyentuh wajahku, membangunkanku dengan lembut. Hari ini adalah hari pertamaku kembali ke sekolah sejak aku pindah ke dunia ini kemarin. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah yang rapi, bersih, dan pas di tubuhku, aku berdiri di depan cermin sejenak, memastikan penampilannya terlihat rapi, sopan, dan tidak berlebihan. Rambutku kumasukkan sebagian ke belakang telinga, tanpa aksesori berlebihan seperti pita besar atau jepit berlian yang selalu dipakai Lily asli untuk menarik perhatian Ethan. Cukup sederhana, cukup bersih, dan cukup… aman. Aku tidak ingin menarik perhatian siapa pun hari ini.

"Pagi, Nona Lily!" Tante Lisa sudah menungguku di meja makan dengan senyum lebar dan nampan berisi sarapan lengkap yang terlihat sangat lezat. Aroma roti panggang, telur dadar, dan susu hangat memenuhi ruangan. "Hari ini Nona terlihat sangat cantik, menawan, dan berbeda dari biasanya! Sangat sederhana namun memancarkan keanggunan yang alami."

"Pagi, Tante Lisa! Terima kasih banyak!" Aku tersenyum tulus padanya, lalu duduk dan mulai menikmati sarapanku dengan lahap. Roti gandum yang hangat, telur rebus yang matang sempurna, dan susu hangat yang manis pas. Sederhana namun mengenyangkan dan lezat. "Tante, aku berangkat dulu ya! Hati-hati di rumah, jangan terlalu lelah bekerja!"

"Selamat berangkat, Nona! Semoga harinya menyenangkan dan penuh kebahagiaan!" Tante Lisa melambaikan tangan sampai aku menghilang di balik pintu depan, senyumnya tak hilang sedikit pun.

Perjalanan ke sekolah terasa berbeda dari biasanya. Mobil mewah yang mengantarku melaju mulus di jalan raya yang mulai ramai, dan setiap kali melintas, orang-orang di jalan menoleh melihat mobil itu dengan tatapan kagum dan iri. Namun, aku tidak merasa bangga atau sombong sama sekali. Justru aku semakin sadar betapa beruntungnya Lily memiliki semua ini, dan betapa bodohnya dia menyia-nyiakan kekayaan, kasih sayang, dan kesempatan hidup yang baik ini hanya demi seorang pria yang tidak pernah benar-benar peduli padanya. Aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah menjadi seperti itu lagi.

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana yang kulihat sangat ramai, hidup, dan ceria. Siswa-siswi berjalan berkelompok, tertawa, bercerita, saling menyapa, dan berbagi bekal di pagi hari. Namun begitu aku melangkah keluar dari mobil dan berjalan masuk ke area sekolah, suasana seketika berubah hening. Semua mata menatapku—ada yang penuh kekaguman melihat penampilanku yang cantik, ada yang iri dengan kekayaanku, dan sebagian besar penuh ketakutan, kecemasan, dan kebencian. Mereka berbisik-bisik satu sama lain dengan suara pelan namun terdengar jelas di telingaku, suaranya penuh ketakutan seolah aku adalah monster yang siap menerkam siapa pun yang berani mendekat.

"Itu Lily… dia kembali lagi ke sekolah."

"Jangan menatapnya terlalu lama, nanti dia marah dan menyakiti kita."

"Kasihan sekali siapa pun yang menjadi sasaran kemarahannya hari ini."

"Aku berharap Elena tidak bertemu dengannya hari ini. Kalau sampai mereka bertemu, pasti Elena akan dipermalukan lagi."

Aku menunduk sedikit, berusaha tidak menatap siapa pun, berjalan cepat menuju kelasku sambil memeluk tas erat-erat. Jangan cari masalah, jangan bicara dengan siapa pun, jangan perhatikan siapa pun, dan jangan berhenti di mana pun. Itu rencanaku. Namun, takdir sepertinya selalu punya cara untuk mengganggu rencana manusia yang berniat baik. Baru saja aku berjalan melewati lorong dekat tangga utama yang sepi dan sejuk, aku mendengar suara isak tangis pelan dan suara seseorang yang berbicara dengan nada mengejek dan jahat.

"Lihatlah ke mana kau melangkah, si miskin tidak tahu diri. Berani sekali kau berjalan di sini, di tempat yang bukan milik orang sepertimu."

Aku berhenti melangkah, menyembunyikan tubuhku di balik tiang pilar besar, dan mengintip ke arah sumber suara. Di sana, di sudut tangga yang agak tersembunyi, Elena sedang duduk di lantai sambil memungut buku-bukunya yang berjatuhan di lantai keramik yang dingin. Matanya merah bengkak karena menangis, pipinya basah oleh air mata, dan kakinya tampak sedikit terkilir karena ia memegang pergelangan kakinya dengan wajah kesakitan. Di hadapannya berdiri Grace, sepupu Lily yang licik, iri hati, dan selalu memanfaatkan Lily asli untuk melakukan kejahatan lalu menyalahkannya. Grace tersenyum sinis dan jahat, seolah sangat menikmati penderitaan Elena.

Aku mengenal adegan ini sangat baik. Ini adalah adegan di mana Grace akan mendorong Elena hingga jatuh lebih keras, lalu saat orang lain datang, dia akan menuduh Lily yang melakukannya. Dan karena itulah Ethan mulai membenci Lily sepenuhnya, tidak pernah mau memaafkannya lagi, dan menjatuhkannya perlahan hingga hancur. Ini adalah titik awal dari semua kehancuran yang menantinya.

Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bukan hanya untuk menyelamatkan Elena, tapi juga untuk menyelamatkan diriku sendiri dari akhir yang tragis itu.

"Hei! Jangan sakiti dia!" teriakku tanpa sadar, suaraku lantang dan tegas, membuat kedua orang itu menoleh kaget ke arahku.

Keduanya menatapku. Grace menyeringai lebar seolah mendapatkan mainan baru. "Kau datang tepat waktu, Lily. Sekarang mari kita lihat siapa yang akan disalahkan kali ini. Bukankah ini yang biasa kau lakukan padanya?"

Elena tampak ketakutan melihatku, tubuhnya gemetar, dan ia mundur perlahan menjauh seolah aku adalah monster yang akan memakannya hidup-hidup. Hatiku terasa perih melihat ketakutan yang tulus di matanya—ketakutan yang diciptakan oleh Lily asli.

Aku berlari mendekat dengan cepat, lalu berdiri di antara mereka, menghadap Grace dan melindungi Elena di belakangku. "Kau tidak boleh menyakitinya!" kataku tegas dan kuat, tanpa rasa takut sedikit pun.

"Kenapa? Bukankah kau juga membencinya? Bukankah kau yang selalu menyuruhku menyiksanya?" ejek Grace sambil mengangkat tangannya hendak mendorongku ke samping agar bisa menjangkau Elena.

Aku dengan cepat menangkap tangan Grace sebelum ia sempat menyentuh siapa pun. Genggamanku kuat namun tidak menyakiti. Dengan wajah polos tapi serius dan tulus, aku berkata dengan suara yang cukup keras agar siapa pun yang lewat bisa mendengarnya, "Tidak boleh. Menyakiti orang yang tidak berdaya itu tidak baik, itu pengecut. Dan… sepatu Elena itu baru, kalau kotor atau rusak karena didorong, sayang sekali lho. Dia pasti sudah menabung lama untuk membelinya."

Grace tertegun, matanya membelalak kaget tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. "Maksudmu apa? Kau… kau bukan Lily yang biasa aku kenal."

"Yang aku maksud," ucapku lebih tegas dan jelas, "kau tidak boleh menyentuhnya lagi, tidak boleh mendekatinya, dan tidak boleh berbicara kasar padanya. Jika kau berani melakukannya lagi, aku akan melaporkanmu kepada guru dan ketua OSIS. Aku tidak bercanda."

"Kau gila?!" seru Grace marah karena rencananya terganggu.

"Siapa yang gila?" Suara dingin, berat, dan penuh ancaman tiba-tiba terdengar dari arah atas tangga. Suara itu membuat udara di sekitar kami menjadi dingin dan hening seketika.

Jantungku hampir melompat keluar dari dadaku karena kaget. Itu suara Ethan! Dia berdiri di tangga bersama Mark, ketua OSIS yang tegas, dan beberapa siswa lain yang kebetulan lewat. Semuanya menatap kami dengan tatapan serius.

Grace segera berubah wajah seketika, menjadi penuh air mata dan ketakutan, bersiap menuduhku seperti yang direncanakannya. "Ethan! Mark! Lihatlah! Lily hendak menyakiti Elena! Dia mendorongnya dan sekarang mau menyerangku juga! Tolong kami!"

Aku mengerang dalam hati. Sial! Ini dia saat yang menentukan! Semua orang ada di sini, dan semua percaya padanya, bukan padaku!

Ethan menatapku tajam, matanya menyelidik, dingin, dan penuh kecurigaan. "Benarkah begitu, Lily? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Aku menggeleng kuat, tidak panik, dan menatapnya dengan mata yang tulus dan jujur. "Bukan aku. Grace yang tadi mendorong Elena hingga jatuh, dan tadi dia hendak mendorongnya lagi. Aku hanya mencegahnya. Aku tidak menyakiti siapa pun."

"Kau berbohong!" seru Grace dengan nada menangis. "Kau yang selalu membencinya! Siapa yang akan percaya padamu?"

"Kau yang berbohong!" balas aku tenang. Lalu aku menatap Ethan dengan jujur dan tenang. "Kalau kau tidak percaya, lihat saja lantai di dekat kaki Grace. Ada bekas sepatunya yang menginjak buku Elena yang jatuh. Dan lihat ke arah tangga di sana—ada CCTV yang menunjuk ke arah lorong ini. Rekamannya pasti sudah merekam semuanya. Kalau kau mau, kita bisa cek sekarang juga."

Ethan melirik ke arah CCTV yang kubilang itu, lalu ke lantai tempat buku-buku itu berserakan. Wajahnya berubah semakin dingin saat menyadari bahwa Grace berbohong. Dia menatap Grace dengan tatapan yang sangat kecewa dan marah.

"Benarkah demikian?" tanyanya pelan namun mengancam, cukup untuk membuat Grace gemetar ketakutan.

"Aku… aku…" Grace pucat pasi, tak bisa berkata apa-apa lagi. Rencananya hancur total.

"Pergi. Dan jangan pernah berani menyakiti siapa pun di sekolah ini lagi, apalagi menuduh orang lain dengan kebohongan," ucap Ethan dengan nada tegas dan dingin. "Jika kau berani melakukannya lagi, aku akan memastikan kau dikeluarkan dari sekolah ini hari ini juga."

Grace lari terbirit-birit pergi, wajahnya merah padam karena malu dan marah.

Setelah Grace pergi, hanya tersisa aku, Elena, Ethan, dan Mark. Elena berdiri perlahan, merapikan pakaiannya, lalu mendekat dan menunduk padaku dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang tulus. Matanya masih berkaca-kaca.

"Terima kasih, Lily. Terima kasih sudah menolongku."

Aku tersenyum tulus padanya, membantu merapikan buku-bukunya. "Sama-sama. Tidak perlu berterima kasih, itu hal yang seharusnya dilakukan. Hati-hati ya, lain kali kalau jalan perhatikan sekitar."

Elena tersenyum malu lalu pergi meninggalkan kami bertiga. Kini tinggal aku, Ethan, dan Mark. Udara di sekitar kami tiba-tiba terasa berat dan hening.

Ethan berjalan mendekat, hingga kami berhadapan. Dia menatap mataku lekat-lekat, seolah ingin melihat langsung ke dalam jiwaku, mencari tahu apa yang berubah padaku. Tatapannya bukan lagi penuh kebencian atau ketidaksukaan seperti dulu, melainkan penuh rasa ingin tahu dan… kekaguman yang samar.

"Kau benar-benar berubah, Lily," ucapnya pelan, namun nadanya tak lagi sedingin biasanya. "Tapi aku tidak percaya perubahan drastis terjadi begitu saja tanpa alasan. Akan kucari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, dan siapa yang ada di balik wajah ini."

Dia berbalik pergi, diikuti Mark yang juga menatapku dengan tatapan bingung namun sedikit lebih lembut dari sebelumnya.

Aku memegang dadaku yang berdebar kencang, napasku terasa berat karena lega dan juga gugup. Ya ampun… kenapa rasanya seperti dia mulai memperhatikanku dengan cara yang berbeda?! Padahal aku cuma mau hidup tenang dan aman! Apakah aku baru saja membuat masalah yang lebih besar?

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!