Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lantai Satu

Embusan angin lembap berbau belerang menyambut kedatangan mereka begitu melewati ambang pintu batu dungeon, aroma yang jauh berbeda dari udara segar hutan yang biasa mereka hirup di luar sana. Gerbang batu kuno yang tadi tertutup segel magis kini terbuka lebar, seolah menerima kehadiran mereka begitu Sekar menyentuhkan lencana Laskar Cakra ke permukaan ukirannya yang dingin.

Di hadapan mereka membentang lorong bawah tanah yang panjang, dinding batunya kasar dan lembap, dihiasi obor-obor batu yang menyala remang-remang di sepanjang jalur, memancarkan cahaya oranye yang bergoyang pelan menciptakan bayangan menari di dinding. Suara tetesan air terdengar samar dari kejauhan, bergema aneh di ruang tertutup yang terasa jauh lebih dingin dari udara malam di luar. Lumut tipis menempel di sela-sela batu bata besar yang menyusun dinding lorong, tanda betapa lamanya tempat ini terlupakan dari sentuhan manusia biasa.

"Ini dia," gumam Sekar, suaranya sedikit bergetar meski wajahnya tetap berusaha terlihat tenang. "Lantai pertama Loka Gaib Desa. Tidak ada jalan mundur lagi dari sini."

Galih berdiri di belakangnya, matanya menjelajahi setiap sudut lorong yang gelap, tangannya menggenggam erat gagang keris di pinggangnya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara gugup dan rasa penasaran yang tidak bisa ia tepis sepenuhnya sejak awal melangkah masuk. Larasati mengambil posisi di sisi lain, tongkat sihirnya sudah siap di tangan, matanya waspada memindai kemungkinan bahaya yang bisa muncul kapan saja.

"Ingat formasi yang sudah kita latih," kata Sekar, mengambil posisi paling depan dengan parang terhunus di tangan kanannya. "Galih, kau di tengah, jaga ruang gerak dan bersiap membantu ke arah mana pun dibutuhkan. Larasati, tetap di belakang, jaga jarak aman untuk memberi dukungan. Jangan lengah walau baru lantai pertama."

Keduanya mengangguk, mengambil posisi sesuai instruksi. Meski latihan mereka masih jauh dari sempurna, setidaknya kali ini mereka bergerak dengan kesadaran penuh, bukan sekadar reaksi panik seperti pertarungan-pertarungan mereka sebelumnya. Cahaya obor yang bergoyang pelan menyinari wajah masing-masing, memperlihatkan ketegangan yang berusaha keras mereka sembunyikan di balik kuda-kuda yang mantap.

Mereka mulai melangkah masuk lebih dalam, langkah demi langkah menyusuri lorong yang semakin gelap seiring jarak dari gerbang masuk. Suara langkah kaki mereka bertiga bergema pelan di lorong batu yang sempit, menciptakan irama yang mengiringi ketegangan yang mulai menumpuk di dada masing-masing, seolah dungeon itu sendiri sedang menahan napas menunggu langkah selanjutnya.

Tiba-tiba, cahaya putih keperakan meluncur dari ujung tongkat Larasati, melesat cepat menyelimuti tubuh Sekar dan Galih dalam sekejap, memantul lembut di dinding lorong yang lembap.

Galih tersentak kaget, matanya membelalak merasakan sesuatu yang aneh mengalir cepat di sepanjang pembuluh darahnya. Rasanya seperti energi hangat yang menjalar dari dada ke seluruh anggota tubuhnya, membuat otot-ototnya yang tadi tegang karena gugup mendadak terasa lebih ringan, lebih responsif dari biasanya. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdenyut lebih kuat, seolah setiap sel dalam tubuhnya baru saja terbangun dari tidur panjang.

"Apa ini?" tanya Galih takjub, mengangkat kedua tangannya sendiri, memperhatikan pendar cahaya tipis yang masih menyelimuti kulitnya beberapa detik sebelum akhirnya meresap sepenuhnya ke dalam tubuhnya.

"Buff pertahanan dan kekuatan," jawab Larasati, tersenyum tipis melihat reaksi terkejut Galih yang menggemaskan baginya. "Efeknya melipatgandakan kekuatan fisik sementara. Kau akan merasakan tubuhmu jauh lebih kuat dan cepat dari biasanya. Manfaatkan baik-baik selama masih aktif."

Sekar juga merasakan efek yang sama, mengayunkan parangnya sekali ke udara kosong, merasakan bobot senjata itu terasa jauh lebih ringan di tangannya dibanding biasanya. "Ini luar biasa. Aku bisa merasakan perbedaannya langsung sekarang." Ia mengulang ayunan sekali lagi, kali ini lebih cepat, kagum sendiri melihat betapa lincah gerakannya dengan tambahan tenaga dari sihir Larasati.

Galih menggerakkan jari-jarinya, mencoba merasakan setiap sensasi asing yang masih terasa baru baginya. Selama ini ia hanya mendengar cerita tentang sihir buff dari Sekar dan Larasati, namun merasakannya secara langsung adalah pengalaman yang jauh melampaui ekspektasinya. Tubuhnya terasa ringan seolah beban berat yang selama ini menempel di setiap gerakannya tiba-tiba lenyap, digantikan oleh kekuatan yang mengalir deras siap digunakan kapan saja. Ia melangkah beberapa kali, merasakan kakinya lebih ringan dari biasa, seolah tanah di bawahnya kehilangan sebagian bobotnya.

"Jangan terlalu terpaku pada sensasinya," Larasati mengingatkan, nadanya tetap ramah meski sedikit tegas. "Tetap fokus mengawasi sekitar. Efek buff tidak akan membantu kalau kau tidak siaga terhadap serangan mendadak, Galih."

Galih mengangguk cepat, mencoba mengembalikan fokusnya meski masih terpesona dengan perubahan yang ia rasakan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong, memperhatikan setiap bayangan yang tercipta dari cahaya obor yang bergoyang, waspada terhadap kemungkinan pergerakan mencurigakan. Sesekali ia mengepal dan membuka telapak tangannya sendiri, masih menikmati sensasi kekuatan baru yang belum sepenuhnya ia pahami.

Mereka melanjutkan langkah lebih dalam, formasi tetap terjaga rapi, Sekar di depan dengan langkah percaya diri yang kini didukung kekuatan tambahan, Galih di tengah dengan kewaspadaan penuh, dan Larasati di belakang mempertahankan konsentrasinya untuk buff yang masih aktif menyelimuti kedua rekannya. Sesekali Larasati menggumamkan mantra kecil untuk memperkuat durasi buff, keningnya berkerut fokus menjaga aliran energi tetap stabil.

Lorong yang mereka lalui mulai melebar, langit-langitnya semakin tinggi, menandakan mereka mendekati sebuah ruangan yang lebih luas di ujung jalur. Bau belerang yang tadi tercium samar kini semakin pekat, bercampur aroma lembap khas gua bawah tanah yang jarang tersentuh sinar matahari. Beberapa ukiran kuno samar terlihat di dinding, gambar-gambar yang sudah aus dimakan waktu, menceritakan kisah yang tidak lagi bisa mereka pahami sepenuhnya.

Tepat ketika mereka hampir mencapai ujung lorong, sebuah suara geraman berat bergema dari kegelapan di depan mereka, dalam dan mengancam, jauh berbeda dari suara monster mana pun yang pernah mereka dengar sebelumnya di hutan luar dungeon. Getaran suara itu seolah menembus tulang, membuat bulu kuduk ketiganya berdiri serentak meski buff kekuatan masih terasa hangat menyelimuti tubuh Galih dan Sekar.

Ketiganya membeku serentak, mata mereka menajam menembus kegelapan di ujung lorong, mencoba mencari sumber suara yang jelas menandakan bahwa penghuni lantai pertama dungeon ini sudah menyadari kehadiran mereka, dan sama sekali tidak berniat menyambut mereka dengan ramah. Sekar mengeratkan genggamannya pada gagang parang, kuda-kudanya menurun sedikit bersiap menghadapi apa pun yang akan muncul dari kegelapan itu. Di belakangnya, Galih menahan napas, menajamkan pendengarannya berusaha menangkap arah pasti asal suara geraman tersebut, sementara Larasati mengangkat tongkatnya lebih tinggi, cahaya di ujungnya berkedip siap melepaskan mantra kapan saja dibutuhkan tanpa jeda.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!