Alba lopez di dijodohkan keluarganya dengan pria yang tidak ia kenali,awalnya ia kesal dan ingin memberontak tapi di pikir-pikir tidak ada gunanya toh antek-antek ayahnya bisa dengan mudah menemuinya akhirnya ia ubah rencana dengan bersikap seolah menerima perjodohan itu setelah pernikahannya dengan pria asing dari keluarga mempuni itu terjalankan akan ia buat pria itu kesal dan illfeel agar cepat di ceraikan. Dan yang tak ia ketahui pria itu tak sesederhana yang ia pikirkan, dan tepat di saat ia mengetahui rahasia tergelap pria itu namun mulai sedikit luluh akankah ia tetap bertahan atau melanjutkan rencananya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
make love
Hi Hi selamat datang di Age Gap. Happy reading, silahkan memberi saya masukan saya terima lapang dada tapi saya tak menerima di perintah dan di sudutkan. Jika merasa ceritanya tidak cocok dengan genre anda atau ceritanya tak bagus silahkan di skip saja 👠.
Jangan lupa like, comment,dan kasih penilain. terima kasih🍁🙏🏿.
⚠️ WARNING — 18+ CONTENT ⚠️
Cerita ini mengandung beberapa tema dan adegan untuk pembaca dewasa. Harap membaca dengan bijak dan sesuai usia.
🔞🔞AREA.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rasa panas dan pahitnya alkohol berkadar tinggi masih tersisa, meninggalkan rasa seperti terbakar di kerongkongan.
Dengan naif dan kepala batunya ia teguk secawan minuman mabuk.
Dengan naif ia berpikir hanya dengan meneguk minuman mabuk itu semua rasa gundah di hatinya melenyap.
Seorang gadis berusia 22 tahun yang sudah keluar dari masa labilnya namun belum keluar dari rasa bingung dan naif itu tersenyum menatap pantulan dirinya yang teramat menyedihkan.
Di usianya yang sudah menginjak 22 tahun, belum pernah ia merajut asmara dengan lawan jenisnya,hatinya terpaku.
Terpaku pada pria dewasa yang hanya menganggap dan melihatnya sebagai gadis belia.
Usianya sudah 22 tahun, dan itu bukan lagi gadis belia.
Gadis dengan rambut pendek berwarna coklat tu sedang dalam suasana hati yang memendung.
Dia kagum dengan pria itu, kagum akan bagaimana ia merajut gagasan demi gagasan tanpa pernah terkesan menggurui.
Secara gila-gilaan dia mengejar pria itu,tak tahu malunya ia mengharapkan pria itu menerimanya.
Sialnya pria itu seakan-akan menganggapnya hanyalah bayang-bayang.
Ia terus berimajinasi membangun kenyamanan di atas fondasi yang terasa dungu.
Ia dungu.
Mencintai semua yang ada pada pria itu.
Segala paradoks.
Berharap niskala hatinya tergerak luluh lantak.
Tuan pemilik netra indah berwarna abu-abu itu sungguh bisa membuat hati beriak damba dan meletup-letup dengan gila.
Dengan tak tahu malunya ia terus mendekat ,mendamba akan cinta sang tuan.
Pria itu tak menyukainya sebegitunya.
Ia menghilangkan jati dirinya, dengan mengikuti semua hal yang menjadi tipe pria itu.
Tapi tetap saja usahanya hanya menembus angin.
Dengan tergesa-gesa ia melahap cinta meletup-letup serupa bara,ia tenggelamkan jiwa pada netra abu-abunya.
Menghalau dogma tolol yang di bangunnya.
Sial sekali ia mengharapkan cinta yang romantis bentuknya. Sedangkan metaforanya saja masih melingkar di seputaran luka dan derita yang ia tanggung atas cinta dalam diamnya.
Jika di tabung mungkin air mata dari hasil menangisi pria itu sudah bisa membuat bendungan.
Paloma menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca membuat air menggenang di pelupuk matanya.
Berembun obsidian itu seolah kapan saja akan luruh lahar panas dari pelupuk matanya meleleh melewati pipinya.
Bibir Paloma gemetar, air mata bening menetes dari mata coklatnya yang indah, mengalir turun melewati pipi.
Paloma terisak pelan. Dia menundukan kepalanya, bahunya gemetar.
Harusnya hari ini dia dan Roze akan mencari alamat Alba,sengaja tidak meminta langsung pada Alba karena njatan mereka akan menjadi kejutan, tapi dia malah memilih minum untuk menenangkan hati dan pikirannya, ia tinggalkan Roze di penginapan sendirian. Mereka berdua menyusul ke Las Vegas.
Paloma meneguk rum merah di gelasnya sampai tandas lalu mengetuk-ngetuk meja menyuruh bartender mengisinya lagi.
Paloma menatap gelas kosongnya yang di isikan oleh Bartender lagi, dengan mata menyayu.
Ia meneguk rum merahnya, lalu mulai beranjak. Setelah Mengelurkan bayaran untuk minumannya.
Ia mulai berjalan Sempoyongan, tangannya bertumpu pada apa saja yang di raihnya untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.
Dia benar-benar teler.
Paloma mencoba untuk sadar namun di seperapat jalan ia menubruk bahu seseorang lumayan keras.
Paloma mendongak ingin melihat apa yang di senggolnya namun pandangannya kabur matanya berkunang-kunang.
Tangan kekar menahan Paloma erat, takut seakan-akan Paloma jatuh jika ia salah sedikit saja.
Pria itu memandang Paloma dengan alis terangkat satu, lalu ia mengode ajudannya lalu membisikan sesuatu, yang langsung ajudan itu angguki.
Pria itu lantas menggendong Paloma ala bridal style, membawanya keluar melewati sela-sela kerumunan orang yang tengan menikmati music dj bahkan ada yang salung melumat, bercinta, bahkan mengosumsi zat berbahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maxime meletakan Paloma ke kasur dengan pelan, sialnya saat malam begini maid sudah ia suruh pulang.
Paloma bangkit melepas kancing atasnya berniat membuka bajunya. Maxime yang melihat itu lantas menahan tanganya.
Gerakan Paloma terhenti, lalu mendongak menatap Maxime polos, rambut hitam pria itu berantakan jatuh menutupi sebagian keningnya, tapi tatapannya seperti mengintimidasi Paloma.
"Kenapa?"
"Aku panas. " Lanjutnya sembari memegang kedua lengan Maxime.
Paloma lantai berdiri lalu menyambar bibir Maxime, menciuminya sangat ganas bahkan terdengan decapan di sana.
Maxime yang di serang perempuan binal di depannya itu sedikut terkejut tapi hanya sesaat, sebelum ia membiarkan perempuan itu.
Dia hanya diam tak membalas.
Paloma menautkan tangannya ke leher Maxime mesra.
Maxime sebisa mungkin mencoba menahan gejolak hasratnya.
Maxime tak bisa, ini bukan pertama kalinya ia meniduri perempuan, bahkan saat meniduri mereka ia tak pernah se berhasrat ini.
Tapi bagaimana?, perempuan yang ada di depannya ini sangat ia kenal. Dan sudah ia wakti-wanti dirinya agar tak menyentuh perempuan ini.
Sialan!.
Paloma terus melumat bibir Maxime intens, bahkan tanganya sudah liar meraba-raba dada dan perut sixpack Maxime.
Mata Maxime sedikit meredup, dia terlihat jelas seperti priayang sedang berusaha keras untuk tetap waras. Atau berusaha keras untuk tidak mengikuti instingnya sebagai pria normal.
Persetan!!.
Maxime sudah tak kuat lagi, belum pernah ia sebergairah ini menuntut penyatuan dengan perempuan.
Paloma melepas tautan mereka benang saliva tak terputus di antara cela bibir mereka.
Maxime membalikan tubuh Paloma, hingga ia tengkurup. Maxime menekan tengkuk Paloma.
Paloma merasakan sesuatu yang keras, sangat keras, panas dan besar.
Penda itu menekan bokongnya.
Wajah Paloma memerah padam, semerah cabai matang. Nafasnya tercekat tubuhnya mendadak kaku. Otaknya terasa dungu.
Itu ereksi Maxime.
Pria itu terangsang, padahal Paloma hanya menciuminya saja.
"Kau merasakannya hm? . "Bisik Maxime tepat di telinga Paloma lalu mengecup basah telinga Paloma, yang mengirimi rasa geli hebat.
Lalu Maxime kembali membalik tubuh Paloma, hingga kini terlentang.
Paloma merameng, di penglihatanya ia melihat pria itu sebagai pria pujaannya selama ini.
Tangan Maxime bergerak, melonggarkan pengait celananya sendiri.
Klik.
Pengait celana Maxime terbuka.
"Om?.... "
Maxime sudah tak perduli lagi, ia membuka pakaian Paloma hingga tersisa dalamannya saja.
Paloma membuang muka saat Maxime menurunkan celananya.
Maxime melepas kemejanya lalu melemparnya ke sembarangan arah, tak ada pakaian melekat di tubuhnya kecuali boxer hitam ketat, sesak.
Pandangan Paloma turun melihat gundukan yang mengacung tegak, keras, dan besar.
Gluk.
Paloma menelan ludah gugup.
Maxime langsung melebarkan kaki Paloma, dan melepas celana dalam Paloma.
Kini keduanya sama-sama tel*njang bulat.
Memberi pemandangan indah di hadapannya.
Maxime menindih Paloma dan mengangkat kedua tangan Paloma ke atas kepalakepala Paloma dengan kedua tanganya yang mengunci pergerakan Paloma.
Mata Paloma membelalak, jantungnya berpacu sangat cepat. Paloma merapatkan kedua pahanya.
Maxime melihat setiap inci tubuh Paloma secara terang-terangan.
Pipi Paloma sudah sangat merah dan panas, dia malu.
Tatapannya berhenti di vagi*na Paloma, melihat belahan surgawi itu telah basah.
"Kau basah. "
Yap dia melihatnya.
Meskipun Paloma berada di pengaruh alkohol tetap saja ia merasa malu, apalagi dia belum pernah berdekatan bahkan berhubungan dengan laki-laki.
Maxime bersumpah tak akan menyentuh wanita yang lebih muda darinya, dan dia tau umur wanita yang akan ia tiduri itu dan sangat mengenalnya.
Persetan dengan sumpah itu.
"Jangan lihat—"
Sebelum Paloma selesai dengan kalimatnya, Jari tengah Maxime mulai masuk ke vagi*anya.Membuat tubuh kecil Paloma tersentak kaget.
Walupun miliknya sudah basah Maxime bisa merasakan betapa sempitnya lu*ang itu.
Paloma menahan desahannya sekuat tenaga.
"Eghhhh~"
Jari Maxime masuk menggerakan jarinya melengkung ke depan untuk mencari G-spot-nya tak lama kemudia desahan Paloma terdengar berbeda.
Ketemu!.
Setelah menemukannya Maxime langsung melajukan gerakan melengkung ke depan dengan cepat dan kasar untuk merangsang Paloma.
"Oughh~.... Shittt"Jerit Paloma terdengar sexy, dia klimaks menumpahkan cairannya di jari Maxime.
Napas Paloma terengah-engah, mulutnya terbuka mengambil nafas.
Maxime menggesekan kepala kejantanannya, pada bibir Va**na Paloma,sembari menatap Paloma intes sangat gelap.
"Sakitt.... "
'Kenapa kepalanya saja sesakit ini' Batin Paloma.
"Kau tak kenal lelah Loma.".Suaranya terdengan serak tertahan.
" Apa—" Sebelum Paloma sempat mencerna omongan Maxime, pria itu sudah memasukan kejantanannya ke liang Paloma yang basah.
Paloma menunduk melihat milik Maxime yang besar, Sial seperinya tidak akan cukup.
Paloma bisa merasakan miliknya ternganga lebar saat di masuki Maxime.
Darah hangat keluar di sela va**na Paloma, serta kakinya bergetar saat miliknya di penuhi Maxime.
Miliknya terasa dirobek dan dikoyak.
"Pertama kalinya untukmu?, padahal kau ini gadis nakal. "
Buliran air di pelupuk mata Paloma terjatuh. "Sakittt...... "
Tangan Maxime berlabuh menyentuh ujung pu**ng Paloma, meremasnya sembari melumat bibir Paloma. Dengan di bawahnya yang mulai bergerak pelan namun lama kelamaan temponya berubah cepat.
"Ouhhh..... Om~"
'Paloma adalah perawan dan aku merobek Vag**nya, menjepit sekali shitt'.
"you passy is so damn tight, you drive me crazy!. "Erang Maxime.
Payu**ra Paloma terlihat naik turun karena tempo yang Maxime buat terlalu cepat.
Maxime menarik kejantanannya hampir keluar dari milik Paloma, lalu menghentakan kejantanannya sangat kasar dan dalam dengan satu hentakan membuat Paloma melengkung dan menjerit.
"Ougggg." Erang Paloma sembari berpegangan pada pundak Maxime.
Kaki Paloma bergetar-getar.
"So big. "
Setelah mendengar itu Maxime kembali menghentakan kejantanannya kasar dan membuat Paloma menjerit lagi.
"Oughhhh..... Ahhhhh. "
"Tunggu dulu—".
Maxime tak mengidahkan keinginan Paloma, ia melumat bibir Paloma sembari menghentak-hentak kejantanannya kasar keluar masuk.
Paloma mencakar punggung tegak Maxime menyalurkan rasa sakit, nikmat campur aduknya.
Maxime mengulum pa**dara Paloma sembari memompo tubuh keduanya.
"Uhhh..... ahhhh om~"
Maxime menghentak dengan laju dan kasar.Paloma menjerit keras di setiap hentakan Maxime.
"Ahhhh.... Ohhhh"
Maxime bisa merasakan milik Paloma berdenyut sangat kuat meremas miliknya.
Maxime melajukan hentakannya membuat suara kulit mereka memenuhi ruangan itu.
Miliknya sangat-sangat sempit dan Maxime melajukan tempo gerakan pinggulnya. Dan menekan dalam milik Paloma.
"Arghhh.... Arghhhh.... uhhhh"
Maxime mengeluarkan sper*anya di rahim Paloma, menumpahkan sangat banyak.
Maxime menunduk dan melihat Paloma yang telah pingsan, karena tak kuat menahan kegilaan Maxime.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
⚠️ WARNING — FICTIONAL CONTENT ⚠️
Seluruh karakter, tempat, adegan, dan peristiwa dalam cerita ini merupakan bagian dari imajinasi penulis dan dibuat semata-mata untuk kepentingan cerita.
Cerita ini adalah fiksi. Harap membaca dengan bijak.
for u🫶.