Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang 30 Menit dan Janji di SS15
Layar LED raksasa di ruang rapat Menara Maybank berkedip-kedip merah. Huruf-huruf peringatan digital berwarna kuning menyala memancarkan hitungan mundur: 28:45.
Dua puluh delapan menit tersisa sebelum virus peretas yang ditanam Gabriel Setiawan membekukan secara permanen seluruh rekening konsorsium Anderson Group dan ekosistem keuangan Helios Capital di tiga bank sentral Asia Tenggara.
Gabriel Setiawan berdiri di dekat pintu kaca, terkekeh hambar dengan kegilaan yang membakar matanya. "Kamu tidak punya waktu untuk membobol enkripsi itu di sini, Emily! Sistem keamanan gedung ini terpaut langsung ke server utama yang sedang terinfeksi!"
"Tutup mulutmu, Gabriel Setiawan!" bentak Sean, matanya menyala amarah.
Namun Emily tidak panik. Di balik kacamata tipisnya, jemari Emily mencengkeram erat ponsel terenkripsinya. Otaknya yang ditempa dalam suhu ekstrem Gymnasium Zurich dan University of Zurich bekerja secepat kilat.
"Kita tidak perlu membobolnya dari sini, Sean," bisik Emily tegas, menatap lurus ke manik mata Sean. "Server Bloomberg Financial Lab di kampus Sunway punya jalur serat optik independen berkecapatan tinggi yang terhubung langsung ke terminal Bursa Efek Kuala Lumpur. Aku punya akses root khusus di sana."
Sean seketika memahami rencana Emily. Tanpa memedulikan Gabriel yang berteriak histeris di belakang mereka, Sean menarik pergelangan tangan Emily, menerobos keluar dari ruang rapat, dan berlari kencang menuju lift privat VVIP.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 15.15 sore. Kurang dari dua puluh menit sebelum kehancuran finansial.
Sedan SUV hitam milik Sean melaju membanting stir membelah padatnya Lalu Lintas Jalan Tol Damansara - Puchong. Hujan lokal mendadak turun mengguyur kawasan Subang Jaya, menimpali permukaan kaca mobil dengan suara gemertak yang tajam.
Di jok penumpang, Emily memangku laptop terenkripsinya. Layar ponsel pribadinya tak berhenti bergetar. Notifikasi pesan dari grup WhatsApp kelas Corporate Valuation bermunculan tanpa henti.
Pesan dari: Mei Ling
[Mil! Kamu di mana?! Si Steven udah mau kumpulin slide presentasi kelompok! Dia sengaja nggak mau nungguin nama kamu!]
Pesan dari: Steven
[Emily, kalau dalam 10 menit lu nggak muncul di lab kampus buat tanda tangan lembar persetujuan kelompok, nama lu fix gua coret dari anggota!]
Emily meringis pelan, mengusap pelipisnya yang berdenyut. Betapa absurdnya situasi ini. Di satu layar, ia dikejar deadline tugas kelompok oleh bocah kaya yang kekanak-kanakan, sementara di layar sebelah, ia sedang bertarung melawan hitungan mundur virus peretas bernilai triliunan rupiah.
"Tugas kelompok kamu?" tanya Sean seraya memutar kemudi dengan satu tangan, melirik cepat ke arah layar ponsel Emily.
"Iya," desah Emily dengan senyum kaku. "Steven mengancam mencoret namaku kalau aku tidak muncul dalam sepuluh menit."
Sean menyunggingkan senyum tipis yang amat hangat di tengah situasi kritis itu. Tangannya terulur mengusap lembut kepala Emily. "Selesaikan perang virus ini dulu, Princess. Nanti masalah Steven, biar aku yang urus dalam hitungan detik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hitungan mundur di layar ponsel Emily menunjukkan angka 09:12 saat mobil Sean mencicit berhenti di area parkir belakang Fakultas Ekonomi Kampus Sunway.
Emily menyambar tas kain kusamnya, melompat keluar dari mobil di bawah rintik hujan, berlari menyusuri lorong kanopi kampus menuju Gedung Laboratorium Komputasi Finansial. Sean berjalan cepat di sampingnya, memasang topi kasti dan hoodie hitamnya agar tidak dikenali oleh mahasiswa lain.
Laboratorium Komputasi Finansial di lantai tiga sore itu agak lengang. Di sudut ruangan, Steven dan Mei Ling sedang duduk di depan sebuah meja komputer. Steven tampak berkacak pinggang dengan raut wajah puas, siap menekan tombol submit untuk tugas kelompok mereka tanpa mencantumkan nama Emily.
"Emily!" pekik Mei Ling lega saat melihat Emily menerobos masuk.
Steven mendongak, menyeringai merendahkan. "Wah, akhirnya mahasiswi beasiswa kita datang juga. Tapi sayang banget, Mil, gua baru aja mau-"
Emily sama sekali tidak memedulikan Steven. Ia melangkah melewati cowok itu seolah Steven hanyalah patung kayu yang tak terlihat.
Emily menuju ke komputer server induk di pojok ruangan, terminal khusus berkecepatan tinggi yang biasanya hanya boleh diakses oleh peneliti senior. Dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik mekanik, Emily memasukkan kode akses root terenkripsi berkode Zurich-Helios-Omega.
Steven yang merasa diabaikan seketika memerah matanya karena emosi. Ia melangkah mendekati meja server Emily. "Eh, Emily! Lu dengar nggak sih?! Gua lagi omong sama lu! Lu nggak punya hak pakai terminal induk itu-"
Brak!
Sebuah cangkir kopi stainless steel dihentakkan pelan namun tegas di atas meja tepat di samping lengan Steven.
Steven tersentak kaget, menoleh ke samping. Di sana, Sean berdiri tegap. Dari balik bayang-bayang topi kastinya, Sean menatap Steven dengan sepasang mata yang begitu dingin, tajam, dan sarat akan aura membunuh yang mengerikan.
"Jangan ganggu dia," bisik Sean dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Steven berdiri seketika.
Steven menelan ludah secara kasar. Aura keberadaan Sean yang begitu dominan dan berbahaya membuat keberanian Steven yang selama ini ia banggakan seketika menguap tanpa sisa. Steven melangkah mundur dua langkah dengan bibir terkunci rapat, tak berani mengucapkan sepatah kata pun lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hitungan mundur: 02:14.
Keringat dingin menetes dari pelipis Emily, jatuh menimpa tombol Enter. Layar terminal induk Sunway berkedip cepat, menampilkan ribuan baris kode skrip pemrograman dalam bahasa C++.
"Sean, aku butuh node pengalih dari rekening Singapura kamu sekarang!" seru Emily tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
"Sudah terhubung," jawab Sean cepat, jarinya menggeser layar tabletnya untuk memvalidasi otorisasi transaksi. "Transfer indikatif senilai sepuluh juta dolar dialihkan ke server umpan."
Emily menekan kombinasi tombol Ctrl + Shift + F12.
Bukannya mencoba menghapus virus buatan Gabriel Setiawan, Emily justru membuat skrip mirroring, memantulkan balik jalur serangan peretas itu langsung menuju alamat IP rekening rahasia milik Gabriel Setiawan yang tersembunyi di Labuan, Malaysia.
Hitungan mundur: 00:05... 00:04... 00:03...
ENTER!
Layar monitor mendadak membeku selama satu detik yang menyiksa.
Lalu, garis indikator merah di layar berubah total menjadi hijau terang.
[SYSTEM RESTORED: Serangan peretas berhasil diisolasi. Seluruh rekening Anderson Group & Helios Capital aman. Eksekusi balik: Rekening penampung Gabriel Setiawan di Labuan resmi dibekukan oleh Bank Negara Malaysia.]
Napas Emily yang sejak tadi tertahan akhirnya lolos dalam helaan pasrah yang lega. Tubuhnya bersandar ke sandaran kursi, dadanya naik turun memburu. Mereka berhasil. Dalam waktu kurang dari 30 menit, Emily tidak hanya menyelamatkan seluruh aset mereka, tetapi juga secara sah melumpuhkan seluruh dana operasional Gabriel Setiawan.
Sean tersenyum lebar, sebuah senyuman penuh kebanggaan dan kelegaan yang amat tulus. Tanpa peduli pada tempat atau keberadaan Steven dan Mei Ling yang menonton dengan mulut menganga, Sean membungkuk dan mengecup puncak kepala Emily dengan hangat.
"Kamu luar biasa, Princess," bisik Sean penuh kelembutan.
Emily mendongak, menatap Sean dari balik kacamata tipisnya, lalu tersenyum manis, sebuah senyuman lepas yang membuat seluruh lelah di wajahnya sirna seketika.
Sebelum Steven sempat mencerna apa yang baru saja terjadi di depan matanya, Sean merogoh saku jaketnya, mengelaurkan sebuah kartu nama hitam bersepuh emas berlogo Anderson Group, lalu meletakkannya di atas meja Steven.
"Untuk tugas kelompok kalian," ujar Sean datar pada Steven yang masih terpaku kaku. "Perusahaan saya baru saja membeli 10% saham pengiriman milik ayahmu tadi pagi. Jika nama Emily Valencia tidak tercantum sebagai ketua kelompok dengan nilai sempurna... besok pagi saham ayahmu akan saya lepas di bursa."
Wajah Steven seketika pucat pasi bagaikan mayat. Ia mengangguk-angguk panik tanpa berani membantah sedikit pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, hujan gerimis di kawasan Subang Jaya telah reda, meninggalkan aroma tanah basah dan udara sejuk yang menenangkan.
Di sebuah kedai mamak langganan mereka di sudut Jalan SS15, Emily dan Sean duduk di meja plastik berwarna biru di bawah naungan tenda kain. Tidak ada lagi ancaman peretas, tidak ada lagi pengawal Gabriel Setiawan, dan tidak ada lagi intrik pertunangan kaku di Jakarta.
Di atas meja, terhidang dua piring Roti Canai Bawang yang masih mengepul hangat, sepinggan kuah dhal pedas, dan dua cangkir Teh Tarik panas dengan busa melimpah.
Emily melepaskan kardigannya, menyingsingkan lengan kaus putih sederhananya, dan mencelupkan potongan roti canai ke dalam kuah kari dengan lahap.
"Pelan-pelan makan nya, Mil," kekeh Sean seraya mengusap sudut bibir Emily dengan tisu dapur.
Emily tertawa kecil, membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. "Aku lapar banget, Sean! Seharian ini dari auditorium kampus, Menara Maybank, sampai main kode di lab... kalori otakku habis!"
Sean menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan Emily yang sedang makan dengan binar mata yang dipenuhi rasa cinta yang amat dalam. Di tempat sederhana seharga sepuluh ringgit ini, Emily terlihat begitu hidup, nyata, dan sangat cantik.
"Terima kasih ya, Mil," gumam Sean tulus.
Emily menghentikan kunyahannya, menatap Sean. "Buat apa?"
"Buat tidak pernah menyerah," jawab Sean pelan, jemari panjangnya terulur mengusap telapak tangan Emily di atas meja plastik. "Empat tahun lalu aku mengusirmu ke Swiss agar kamu selamat. Tapi kamu malah kembali untuk menyelamatkanku dari neraka itu."
Emily tersenyum hangat, mempererat genggaman tangannya pada jemari Sean. "Kita kan sudah janji... kita bakal hadapi semuanya bareng-bareng."
Suasana malam di SS15 terasa begitu damai. Suara denting cangkir, alunan musik Melayu pelan dari radio kedai, dan obrolan santai warga lokal membungkus momen bahagia dua insan yang baru saja memenangkan pertempuran besar tersebut.
Namun, di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir seratus meter dari kedai mamak tersebut, layar tablet milik seorang pria berjas rapi menyala terang.
Layar itu menampilkan foto Emily dan Sean yang sedang tertawa bersama di kedai mamak, diikuti oleh sebuah pesan terenkripsi dari nomor Jakarta:
Pesan dari: Valerie Wijaya.
Isi pesan: "Aku tahu Sean ada di Kuala Lumpur bersamanya. Aktifkan rencana terakhir: Hubungi Orang Tua Emily di Jakarta. Beritahu mereka bahwa anak perempuan mereka sedang menguasai aset puluhan juta dolar di Malaysia. Biarkan keluarganya sendiri yang menyeret cewek itu pulang ke neraka."
Bersambung......