Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 HADIAH DAN PENGAMPUNAN

Ketika mentari mulai mengintip dari balik jendela, Maya dan Bara masih berada di perpustakaan. Bara masih di kursinya, Maya masih di pangkuannya, kepalanya bersandar di bahu Bara dengan mata terpejam.

"Kita mestinya tidur," gumam Bara.

"Mestinya," jawab Maya, tanpa bergerak.

"Kita naik?"

"Sebentar lagi."

Sebentar itu berubah menjadi sepuluh menit. Sepuluh menit menjadi dua puluh. Tapi tak seorang pun dari mereka mengeluh.

Akhirnya, Maya menegakkan tubuh, meregangkan lengan, dan menguap.

"Ayo," katanya, mengulurkan tangan.

Bara meraihnya. Mereka bangkit bersama, menaiki tangga bersama, lalu berhenti di depan pintu kamar Maya bersama.

"Selamat malam," kata Bara.

"Selamat pagi," ralat Maya.

Bara tersenyum. Senyum kecil dan malu-malu itu, yang mulai Maya kenali.

"Selamat pagi, Maya."

"Selamat pagi, Bara."

Mereka saling menatap sejenak. Lalu Maya berjinjit dan mencium pipi Bara. Sebuah ciuman singkat dan lembut yang menjanjikan lebih banyak.

"Sampai nanti," katanya, lalu masuk ke kamarnya.

Bara tetap di lorong, telapak tangannya menempel di pipi tempat Maya menciumnya, merasakan kulitnya seakan terbakar.

"Sampai nanti," jawabnya, meski Maya sudah tak mungkin lagi mendengarnya.

Ia naik ke kamarnya sendiri. Ia tak tidur. Namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tak butuh minum untuk memejamkan mata.

Ia menutup mata, dan dalam kegelapan, ia melihat wajah Maya. Lalu ia tersenyum.

* * *

Hari-hari setelah malam di perpustakaan itu terasa aneh sekaligus menakjubkan. Maya dan Bara bergerak di seluruh mansion bagai dua planet yang telah menemukan orbit bersama: mereka saling mencari tanpa terlihat mencari, saling memandang tanpa terlihat memandang, berpapasan di lorong lalu bertahan bertatapan satu detik lebih lama dari yang seharusnya.

Tentu saja Bramantyo menyadarinya. Ia tidak buta. Suatu pagi, sewaktu mereka bertiga sarapan di ruang makan, ayah Maya meletakkan koran di atas meja dan menatap keduanya dengan raut yang mencampurkan kejengkelan dengan sesuatu yang mirip kepasrahan.

"Apa kalian mau saling tatap-tatapan begitu seumur hidup?" tanyanya dengan suara datar. "Kalau iya, Papa lebih baik makan di kamar saja."

Maya merasakan pipinya memanas.

"Kami tidak sedang bertatapan, Papa."

"Tentu saja tidak. Dan Papa ini malaikat."

Bara, tanpa terusik, menyeruput kopinya dan menyahut dengan ketenangan yang nyaris kurang ajar.

"Pak Bramantyo, kalau kehadiran kami mengganggu, kami bisa makan di dapur."

"Kehadiran kalian tidak mengganggu," gerutu Bramantyo. "Yang mengganggu adalah harus menyaksikan ini... ini... pacaran anak remaja. Kalian ini sudah menikah, demi Tuhan. Sekamarlah kalian, dan berhentilah berputar-putar tak tentu arah."

Maya nyaris tersedak jus jeruknya.

"Papa!"

"Apa? Papa cuma mengucapkan yang dipikirkan semua orang."

Bara, di pihaknya, menyunggingkan senyum kecil nan tajam yang mulai Maya kenali.

"Ayahmu ada benarnya," katanya, memandang Maya dari balik tepi cangkir. "Menahan ketegangan sebanyak ini tidak sehat."

Maya menatapnya tajam.

"Kamu diam saja."

"Baik, Nyonya."

Bramantyo mendengus, tetapi ada percik geli di matanya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, suasana di mansion itu bukan lagi suasana perang. Rasanya nyaris... seperti keluarga.

* * *

Sore itu, Maya sedang di perpustakaan membolak-balik sebuah buku seni ketika Bara masuk sambil membawa sebuah amplop dari kertas tebal. Bukan amplop sembarangan. Amplop jenis yang dipakai galeri dan pedagang seni untuk mengirim dokumen penting, dengan penutup bertali dan kop sebuah kantor hukum.

"Ini untukmu," katanya, meletakkannya di meja di hadapan Maya.

"Apa ini?"

"Buka saja."

Maya memandangnya penuh curiga. Amplop dari pengacara tak pernah membawa kabar baik. Itulah yang ia pelajari beberapa bulan terakhir.

"Kalau ini perjanjian lagi, sumpah aku..."

"Ini bukan perjanjian," potong Bara, sambil duduk di kursi seberang. "Buka saja."

Maya merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada dokumen beberapa halaman, dengan cap resmi dan tanda tangan di bagian bawah. Ia membaca baris-baris pertamanya sekali. Membacanya lagi. Lalu mengangkat wajah ke arah Bara dengan mata membelalak.

"Ini akta? Akta sebuah bangunan?"

"Ya. Di kawasan utara. Jalan Seni, jalan yang penuh galeri dan bengkel seni itu. Sebuah ruang di lantai dasar, dengan etalase menghadap ke jalan. Dua lantai di atasnya untuk tempat tinggal, kalau kamu mau. Tapi aku lebih membayangkannya sebagai galeri."

Maya merasa jantungnya berhenti.

"Galeri?"

"Galerimu. Yang kamu ceritakan padaku malam itu. Yang untuk seniman-seniman lokal yang belum dikenal siapa-siapa. Ruang kecil dan intim, tempat memamerkan karya yang tak berani dipamerkan orang lain. Bangunan itu... memang untuk itu."

Maya menatap dokumen itu lagi. Dan sekali lagi. Kata-katanya menari di depan matanya, tetapi maknanya jelas: Bara Prakoso, suaminya, sang mafioso, laki-laki dengan tangan berlumur darah, baru saja membelikannya sebuah bangunan agar ia bisa mewujudkan mimpinya.

"Aku tidak bisa menerima ini," katanya dengan suara patah.

"Tentu saja kamu bisa."

"Ini terlalu banyak. Aku tidak berutang..."

"Kamu tidak berutang apa pun padaku," potong Bara, dengan ketegasan yang tak menerima bantahan. "Ini bukan bayaran. Bukan pula budi baik. Ini hadiah. Dan hadiah tidak untuk dikembalikan."

"Tapi..."

"Maya." Bara mencondongkan tubuh ke depan, menopangkan kedua siku di lutut, menatapnya dengan intensitas yang membuat napasnya tercekat. "Kamu melewati berbulan-bulan tanpa apa-apa. Kamu kehilangan rumahmu, hartamu, masa depanmu. Kamu kehilangan teman-temanmu, nama baikmu, keluargamu, kecuali ayah dan ibumu, dan itu pun nyaris ikut lenyap. Sepanjang waktu itu, satu-satunya yang tidak kamu kehilangan adalah mimpimu. Kamu tetap memikirkan galeri itu. Kamu tetap membayangkan ruang itu. Kamu menceritakannya padaku dengan mata berbinar, dan saat itu juga aku tahu aku harus membantumu mewujudkannya. Bukan karena aku berutang padamu. Tapi karena aku mencintaimu. Dan orang-orang yang saling mencintai saling membantu agar mimpi masing-masing terwujud. Bukankah begitu?"

Maya tak sanggup menjawab. Air mata mengalir di pipinya, hangat dan membebaskan. Ia meletakkan dokumen itu di meja, bangkit, dan sebelum Bara sempat bereaksi, ia duduk di pangkuan Bara dan memeluknya sekuat tenaga.

"Terima kasih," bisiknya, wajahnya terbenam di leher Bara. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!