Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Girl's New Chapter
Angel menghela napas panjang, mengingat kejadian di bandara luar negeri tempo hari yang sukses membuatnya geleng-geleng kepala. "Itu semua gara-gara Om Rerex. Dia ngamuk waktu kami berdua mau pulang ke Indonesia. Padahal Nenek sama Kakek sudah jalan diam-diam biar gak ketahuan, eh... tiba-tiba dia malah muncul di depan pintu masuk bandara."
Billby mendengarkan dengan saksama, sementara Angel melanjutkan ceritanya. "Akhirnya ya yang pulang cuman Nenek sendiri. Kakek terpaksa tetap tinggal di Inggris, hitung-hitung sekalian nemenin dan nungguin Om Reren."
"Emang Kakek gak ketemu sama Om Reren?" tanya Billby lagi, mengunyah buahnya.
"Enggak sempat ketemu. Waktu itu Rendy lagi sibuk-sibuknya ada kegiatan pameran dan kompetisi besar untuk melukis dan menggambar di Jepang" jelas Angel.
Rendy memang sudah lulus kuliah dengan hasil yang sangat gemilang. Pemuda itu bahkan memiliki ambisi besar untuk pindah ke Jepang karena bakat luar biasanya dalam menggambar anime telah diakui secara internasional, bahkan sudah banyak perusahaan besar di Jepang yang mengundangnya untuk bergabung. Namun, karena tanggung jawab moral harus menemani adiknya, Rexon, yang saat ini masih duduk di bangku kelas 3 SMA di Inggris, Rendy terpaksa harus rela bolak-balik antarnegara.
"Tapi sebenarnya gak ketemu langsung juga gak masalah, kami kan rutin video call-an, dan Nenek atau Kakek biasanya ke Inggris dua atau satu minggu sekali," tambah Angel santai.
"Om Rerex gak betah ya di sana?" tebak Billby, mengingat sifat om mudanya yang satu itu.
Angel terkekeh pelan. "Ya... begitulah om kamu yang satu itu."
"Kenapa gak sekolah di sini aja sih, Nek?" tanya Billby polos. Sejak kecil, ia selalu penasaran mengapa paman-pamannya seolah diwajibkan untuk menempuh pendidikan di luar negeri sejak dulu.
Mendengar pertanyaan itu, kilat kepanikan sempat melintas di mata Angel dan Bolivia. Namun dengan jam terbangnya yang tinggi sebagai seorang ibu dan nenek, Angel langsung memasang alibi andalannya dengan sangat lancar. "Janganlah, sayang... kan sekarang sudah masuk awal semester. Kasihan kalau pindah sekarang, nanti pelajarannya kepotong dan ribet urus administrasinya."
"Jadi kalau Om Rerex sudah lulus SMA, boleh lanjut kuliah di sini?" kejar Billby yang masih belum puas dengan jawaban Angel
"Kuliah? Yah, kalau bisa tetap di sana aja... di sana kan pendidikannya jauh lebih bagus dan mutunya terjamin," balas Angel dengan nada bicara yang teramat lancar, menyembunyikan kebohongan besar dan rahasia keluarga rapat-rapat di balik senyuman hangatnya.
Setelah itu adonan fudgy brownies yang dinanti-nanti akhirnya mendarat di atas meja, Billby langsung melahap sepotong besar dengan penuh suka cita. Manis dan legitnya kue coklat buatan kedua neneknya itu seketika melunturkan sisa-sisa kekesalannya akibat pesan ketus dari Vahan tadi.
Usai menghabiskan bagiannya, Billby bangkit dari kursi. "Nek, Billby mau balik ke kamar dulu ya, mau lanjut schrooling," pamitnya seraya berbalik badan.
Namun, baru saja melangkah beberapa tindak meninggalkan area meja makan, langkah Billby mendadak terhenti.
Dahinya mengernyit bingung.
Ia merasakan ada sesuatu yang aneh, seolah ada cairan yang mengalir dan merembes dari arah selangkangannya.
Tanpa ada rasa malu sedikit pun, di hadapan kedua neneknya, Billby langsung melorotkan celananya dengan santai yang ia kenakan untuk memeriksa apa yang terjadi.
"Billby menstruasi?" tebak Bolivia spontan.
Ingatan Bolivia langsung terlempar pada kejadian beberapa hari lalu. Saat Billby sempat mengeluh sakit perut yang amat sangat sampai harus dibawa ke dokter.
Setelah diperiksa, dokter memang mengatakan bahwa dalam waktu dekat si bos kecil Zloty ini akan segera datang bulan untuk pertama kalinya.
"Mmm..." Billby bergumam kecil, matanya menyipit saksama memperhatikan celana dalamnya sendiri. "Bukan darah, Nek. Ini warnanya cokelat." Mendengar hal itu, Angel segera beranjak dari kursinya dan menghampiri cucunya untuk ikut memeriksa.
"Oh... kalau ini namanya kecoklatan, sayang. Perempuan yang baru mau menstruasi itu fasenya beda-beda. Ada yang keluarnya langsung darah segar, tapi ada juga yang keluar bercak kecoklatan dulu kayak gini," terang Angel memberikan edukasi dengan lembut.
"Jadi ini haidh?" tanya Billby polos, posisinya masih berdiri tegak tanpa berniat menaikkan celananya kembali.
Bolivia terkekeh pelan melihat kepolosan cucunya. "Iya, itu tandanya kamu sudah mulai masuk masa haidh. Sudah, pakai dulu celananya... sekarang kita ke kamar mandi dulu ya.. sekalian Nenek ajarin cara pakai pembalut."
Mendengar itu, Billby langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Wajah cantiknya berkerut penuh rasa jorok. "Gak mau! Jorok!" keluhnya dengan bibir mengerucut.
"Enggak apa-apa, sayang... sebentar aja. Nanti sampai kamar mandi langsung diganti celana dalamnya, terus pembalutnya dipakai biar gak tembus ke mana-mana," bujuk Bolivia sabar.
Akhirnya dengan setengah hati, Billby menaikkan kembali celananya.
Setelah menaikkan kembali celananya dengan setengah hati, Billby akhirnya melangkah pergi menuju lantai dua bersama Bolivia dan Angel.
Namun, pemandangan kali ini terlihat sangat tidak biasa. Jika biasanya Billby selalu berlari tunggang langgang, sekarang ia justru melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah-olah sedang membawa barang pecah belah yang super rapuh. Kedua neneknya yang melihat hal itu hanya bisa menahan senyum geli di belakang.
Langkah pelan Billby terus berlanjut hingga mereka mulai menapaki anak tangga. Tepat di tengah-tengah tangga, billby merasakan lagi sesuatu yang mengalir dari selangkangan nya.
Ia hanya terdiam sebentar tanpa mengatakan apapun. Lalu melanjutkan kembali langkahnya
Begitu sampai, Billby langsung masuk ke dalam kamar mandi ditemani oleh Bolivia.
Sementara itu, Angel sibuk bergerak lincah di dalam kamar untuk mengambilkan pakaian ganti yang bersih. Ia juga membuka lemari khusus untuk mengambil sebungkus softex (pembalut).
Pengaman itu memang sudah sengaja dibeli oleh Bolivia dan Angel saat pulang dari klinik dokter beberapa hari lalu, sebagai persiapan jika hari ini beneran tiba.
Di dalam kamar mandi, Bolivia dengan telaten mengajari Billby cara mencuci celana dalamnya yang terkena bercak cokelat hingga bersih. Setelah selesai membilas, Bolivia keluar sebentar dari kamar mandi dan langsung disambut oleh Angel yang sudah stand by di depan pintu.
Bolivia pun menerima pakaian ganti beserta pembalut dari tangan Angel, lalu kembali masuk menemani cucunya.
"Nah Billby, perhatikan Nenek ya. Pakainya gak boleh kebalik. Bagian yang untuk belakang harus di belakang, yang untuk depan ya di depan," kata Bolivia pelan sambil membentangkan pembalut dan menjelaskan anatominya.
Billby yang dasarnya adalah anak yang cerdas, langsung memperhatikan dengan saksama. "Jadi yang belakang itu ukurannya lebih panjang ya, Nek?" cetus Billby yang langsung paham sekali lihat
"Pinter banget billby," puji Bolivia tersenyum. "Terus, masangnya di celana dalam harus benar-benar lurus. Kalau miring atau gak lurus, nanti bisa bocor dan tembus ke baju," tambah Bolivia lagi sambil mempraktikkan cara membuka perekat dan menempelkan pembalut itu dengan presisi di hadapan Billby.
...