Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Teori Dangdut Pantura
Pernyataan Kian malam itu terus berputar-putar di dalam kepala gue kayak lagu dangdut pantura yang diputar pakai pengeras suara masjid. kencang, berulang-ulang, dan mustahil buat diabaikan.
"Masih ada lima bulan tiga minggu lagi kan? Jangan buru-buru menyimpulkan, Calon."
Kalimat gantung ala cowok di novel-novel romance itu sukses bikin gue insomnia sampai jam tiga pagi. Gue berguling ke kiri dan ke kanan di atas kasur, menatap langit-langit kamar sambil memeluk guling erat-erat.
Maksud dia apa coba? Kalau bukan karena gengsi, terus karena apa?
Nggak mungkin kan Kian beneran... punya rasa sama gue? Nggak, nggak. Elora, lu jangan kepedean. Kian itu sahabat lu dari zaman lu masih suka nangis gara-gara balon gas lu lepas ke udara. Dia tahu semua masa lalu kelam lu, termasuk waktu lu kelas dua SD nangis sesenggukan gara-gara pipis di celana. Mustahil dia mendadak memandang lu sebagai cewek yang layak ditaksir secara romantis.
Pasti ini cuma taktik dia biar gue kebingungan dan makin salah tingkah. Iya, pasti gitu!
Senin paginya, kampus menyambut gue dengan cuaca terik dan tugas draf skripsi yang minta diselesaikan sebelum dosen pembimbing gue berangkat umrah.
Gue duduk di kantin FISIP bersama dua sahabat cewek gue, Naya dan Abel. Mereka berdua adalah saksi hidup sejarah panjang hubungan gue dan Kian, sekaligus tempat gue menampung seluruh beban penderitaan batin gue.
"Jadi..." Naya memajukan tubuhnya, menopang dagu di atas kedua tangan sambil menatap gue penuh selidik. "Malam minggu kemarin lu makan malam keluarga, terus Kian beliin lu dress, nuntun tangan lu di mal, dan ngomong gitu di mobil?"
Gue mengangguk lesu sambil meminum es jeruk gue. "Iya."
Abel menepuk meja kantin dengan keras sampai mangkok soto di sebelahnya bergetar. "GILA! Itu sih fix Kian demen sama lu, Ra! Lu-nya aja yang bloon sama gak peka!"
"Hush! Jangan kencang-kencang!" bisik gue panik sambil melirik sekitar. "Gak mungkin, Bel. Kita tuh sahabatan dari kecil. Lu tahu sendiri Kian kalau lagi jahil kayak gimana."
"Jahil simbahmu!" cerceh Abel gemas. "Manusia mana yang beliin baju baby blue seragaman, nuntun tangan di tempat umum, sama ngomong 'lu cantik banget' dengan nada suara serak-serak basah cuma buat 'jahil'? Itu mah modus tingkat dewa!"
"Tapi kan di awal dia bilang dia terima perjodohan cuma gara-gara tersinggung gue tolak..." cicit gue membela diri.
Naya menghela napas panjang, menatap gue dengan tatapan kasihan. "Elora, dengarin gue baik-baik ya. Cowok itu kalau gengsinya setinggi langit, mereka bakalan nyari seribu alasan buat menutupi rasa sukanya. Apalagi Kian. Dia tahu lu selalu nganggep dia playboy. Dia pasti takut kalau blak-blakan ngaku, lu malah kabur atau makin bentengi diri."
Gue terdiam. Kata-kata Naya ada benarnya juga, tapi ketakutan terbesar gue tetap gak bisa dihilangkan gitu aja.
"Gue cuma takut, Nay..." kata gue pelan, suara gue mendadak mencicit. "Gue udah suka sama Kian dari lama. Kalau ternyata semua perhatian dia selama 6 bulan ini cuma bagian dari akting atau 'permainan gengsi' dia, terus di akhir bulan keenam dia bilang 'kan kita cuma simulasi, Ra', gue harus gimana? Gue gak cuma kehilangan kesempatan buat sama dia, tapi gue juga bakalan kehilangan sahabat terbaik gue."
Naya dan Abel saling tatap. Atmosfer di meja kami yang tadi heboh mendadak berubah haru. Naya mengulurkan tangannya, mengusap punggung tangan gue pelan.
"Makanya, Ra. Selama 6 bulan ini, lu jangan cuma bertahan," kata Naya lembut. "Uji dia. Lihat seberapa jauh Kian mau berjuang buat lu. Jangan cuma lu yang sibuk nebak-nebak perasaan dia."
Gue menelan ludah. Menguji Kian? Gimana caranya?
Panjang umur, baru aja dipikirkan, sosok yang lagi dibicarakan tiba-tiba muncul di koridor kantin.
Kian berjalan bersama dua temannya, membawa map tebal di tangan kiri.
Begitu matanya menyapu kantin dan menemukan meja gue, Kian langsung memutus obrolan sama temannya dan melangkah makin mendekat ke meja kami.
"Pagi, Cewek-cewek," sapa Kian santai sambil menarik kursi kosong di sebelah gue tanpa permisi. Dia menaruh es teh manisnya di meja, lalu menatap gue. "Lu udah makan, Ra?"
"Udah," jawab gue singkat, berusaha masang muka secuek mungkin sesuai saran Naya tadi.
Kian mengerutkan dahi, menyadari perubahan nada suara gue. "Kenapa lu? Muka dilipat gitu. Masih mikirin omongan gue Sabtu malam kemarin?"
Naya dan Abel langsung saling siku di depan gue, menahan tawa kencang. Muka gue otomatis panas lagi.
"Gak ya! Pede banget!" tembak gue cepat. "Gue cuma lagi pusing mikirin revisi skripsi."
"Ooh..." Kian mengangguk-angguk. Tiba-tiba tangannya terangkat, mengusap puncak kepala gue dengan lembut, mengacak rambut gue sedikit sebelum merapikannya lagi. "Jangan stres-stres. Nanti sore gue anterin konsultasi ke dosen lu. Gue tunggu di parkiran jam tiga."
Gue terpaku. Perlakuan casual tapi manis itu sukses bikin pertahanan gue yang baru mau dibangun langsung oleng lagi.
Tapi sebelum gue sempat menjawab, suara cowok lain mendadak terdengar dari arah belakang Kian.
"Elora! Boleh gabung sebentar?"
Kami semua menoleh. Di sana berdiri Rendy, ketua Himpunan Mahasiswa jurusan sebelah yang terkenal ramah, pintar, dan... sudah terang-terangan mendekati gue sejak semester lalu. Rendy membawa dua kaleng minuman dingin sambil tersenyum manis ke arah gue.
Gue melirik Kian dari sudut mata.
Dan di sana, gue melihat ekspresi Kian berubah instan. Cengiran santai dan tatapan hangatnya mendadak raib tanpa bekas, berganti jadi tatapan dingin yang tajam menatap Rendy dari atas sampai bawah.
Nah loh... Batin gue menjerit. Apakah ini saatnya uji coba dimulai?