Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Rencana Annisa

"Nisa mau mengambil alih kendali penuh atas anak perusahaan tempat Rian bekerja, Pa," jawab Annisa tanpa ragu. Vantara Land Sub-Holding. Nisa mau Papa umumkan pengangkatan Nisa sebagai Komisaris Utama baru di sana mulai pekan ini."

"Permintaan yang sangat mudah," sahut Pak Yusuf mantap. "Semua saham anak perusahaan itu memang atas nama kamu sejak kamu lulus dari UI. Sudah saatnya kamu menduduki kursi pemegang kekuasaan tertinggi di sana."

Pak Yusuf kemudian melangkah menuju sofa tamu di sudut ruangan. "Oh ya, Nisa. Kebetulan sekali hari ini Papa ada janji rapat penting dengan mitra bisnis utama kita untuk proyek kawasan terpadu di Jakarta Selatan. Seseorang yang rasanya sangat kamu kenal baik."

Belum sempat Annisa bertanya siapa sosok yang dimaksud sang ayah, pintu ruangan direksi mendadak diketuk dari luar.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," panggil Pak Yusuf.

Pintu terbuka, dan melangkah masuk seorang pria tinggi tegap berusia 34 tahun. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit Italia yang sangat pas di badannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, memancarkan aura pria dewasa yang matang, berpengalaman, dingin, namun sangat disegani.

Mata Annisa membelalak pelan begitu mengenali sosok tersebut. "Mas Fandi?"

Pria itu menghentikan langkahnya sejenak. Tatapan mata cokelat pekatnya terkunci pada sosok Annisa. Sebuah senyuman tipis nan tenang terukir di bibirnya.

"Selamat pagi, Annisa. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa pria itu dengan suara berat yang bernada sangat dewasa.

Fandi Prasetyo.

Dia adalah putra tunggal pemilik Prasetyo Group—salah satu raksasa bisnis nasional. Pria berusia 34 tahun itu dulu sempat dijodohkan oleh Pak Yusuf dengan Annisa saat Annisa mengejar sarjananya di UI. Namun kala itu, Annisa sama sekali tidak memiliki ketertarikan romantis pada Fandi. Perbedaan usia 10 tahun membuat Annisa selalu memandang Fandi sebatas sosok senior, mentor, atau abang yang terlampau kaku dan serius. Fandi sendiri akhirnya menikah dengan wanita pilihan keluarganya, meski pernikahan itu kini berada di ujung perceraian akibat ketidakcocokan yang mendalam.

"Mas Fandi ... apa kabar?" tanya Annisa, menetralkan rasa canggungnya.

"Kabar saya sangat baik, Annisa. Terutama setelah melihat kamu kembali ke tempat yang seharusnya," sahut Fandi dengan nada bicaranya yang tenang dan matang, melangkah mendekat lalu mengulurkan tangannya.

Annisa menyambut uluran tangan Fandi. Genggaman tangan pria dewasa itu terasa sangat mantap dan berwibawa.

"Fandi dan Prasetyo Group adalah investor utama yang menyuntikkan dana lima ratus miliar untuk proyek baru Vantara Land, Nisa," potong Pak Yusuf seraya tersenyum puas. "Dan Fandi sendiri yang akan memimpin tim pengawas investasi di sana."

Fandi menatap Annisa dengan tatapan pria dewasa yang mampu membaca situasi tanpa banyak bertanya.

"Saya sudah mendengar sedikit gambaran situasi kamu dari Pak Yusuf sebelum rapat ini, Annisa," ucap Fandi dengan ketenangan khas pria berpengalaman. "Jika kamu membutuhkan bantuan dalam hal audit keuangan, perlindungan hukum, atau penertiban oknum di Vantara Land ... katakan saja. Saya dan tim saya siap mendukung penuh keputusanmu."

Annisa menatap Fandi. Meski tidak ada getaran asmara di hatinya, ia harus mengakui bahwa kehadiran pria ini membawa aura ketenangan dan dominasi yang sangat ia butuhkan untuk meremukkan Rian.

"Terima kasih banyak, Mas Fandi," jawab Annisa tegas. "Tapi untuk urusan sampah di rumah tangga dan perusahaan saya, saya ingin membereskannya dengan tangan saya sendiri. Mas Fandi cukup duduk manis menyaksikan bagaimana saya menjatuhkan mereka."

Fandi tersenyum tipis, terkekeh pelan dengan nada penuh rasa hormat atas keberanian Annisa. "Sikap yang sangat mengagumkan, Annisa. Saya akan mendukung penuh dari belakang."

***

Sementara itu, di kantor anak perusahaan Vantara Land, suasana di ruangan Rian tampak sangat kacau.

Rian duduk di balik meja kerjanya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Seharian kemarin ia tidak bisa tidur nyenyak karena rumahnya gelap dan panas. Tadi pagi, ia terpaksa melunasi tagihan listrik menggunakan sisa uang di tabungannya.

Tok! Tok!

Pintu ruang kerja Rian terbuka. Eriska melangkah masuk dengan gaun ketat berwarna merah menyala dan senyum manis yang dipaksakan.

"Mas Rian!" panggil Eriska manja. "Gimana sih? Katanya hari ini kita mau jalan-jalan ke mal habis jam makan siang? Kamu udah siapin uang buat beliin aku tas yang kemarin aku taksir, kan?"

Rian mendongak, merasa kepalanya mau pecah. "Riska ... bisa gak hari ini kita tunda dulu? Mas lagi pusing banget, banyak urusan rumah yang belum selesai."

Raut wajah Eriska seketika berubah cemberut dan dingin. "Lho! Kok ditunda sih, Mas?! Kamu kan udah janji! Masa cuma beli tas lima belas juta aja kamu ogah-ogahan?! Gelang berlian kemarin aja kamu sanggup beli, masa tas ini gak sanggup?!"

"Bukan gak sanggup, Riska!" bentak Rian tanpa sengaja karena emosinya yang sudah di ambang batas. "Uang Mas lagi terpakai buat urusan rumah tangga!"

Eriska melipat kedua tangannya di dada, menatap Rian dengan tatapan picik. "Ooh ... pasti gara-gara istri kamu yang pengangguran itu, kan?! Mas, kamu tuh kudunya tegas! Ceraikan aja dia! Buat apa kamu pertahanin perempuan yang cuma bisa habisin uang kamu tapi gak bisa bikin kamu bangga?!"

Rian terdiam. Kata-kata Eriska membakar ego dan rasa gengsinya. Dalam pikiran Rian yang makin kalap, Annisa-lah penyebab dari semua kesusahan hidupnya dua hari terakhir ini!

"Kamu benar, Riska," desis Rian dengan gigi bergemeletuk. "Nisa bener-bener udah ngelunjak. Dia pikir karena dia istriku, dia bisa semena-mena."

Rian berdiri dari kursinya, merapikan jas kerjanya dengan angkuh. "Tunggu tanggal mainnya. Nanti malam Mas akan kasih pelajaran berharga buat dia. Mas akan ancam dia dengan surat cerai! Kita lihat, apakah perempuan tidak punya apa-apa seperti dia berani melawan kalau mau dibuang ke jalanan!"

Eriska tersenyum puas, melingkarkan tangannya di lengan Rian. "Nah, gitu dong! Itu baru Manajerku yang gagah!"

Namun, Rian dan Eriska sama sekali tidak menyadari ... bahwa di lantai teratas gedung pusat Vantara Tower saat ini, Annisa Septiani bersama Fandi Prasetyo dan Pak Yusuf sedang menandatangani dokumen pengambilalihan wewenang dan pembekuan dana operasional Manajer Divisi, yang akan berlaku efektif mulai esok pagi.

Jebakan besar telah terpasang rapi, dan Rian bersama selingkuhannya sedang melangkah masuk ke dalamnya dengan rasa bangga yang buta.

bersambung...

1
Cicih Sophiana
jgn gitu dong kalian... kalian juga kan pernah ikut menikmati uang nya... teman lagi susah bukan nya membantu ini malah di bully... teman macam apa kalian
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
kok g update lagi mom 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
itulah pelakor pasti cari kaki laki yg bisa di pirotin walau udah punya istri...
Cicih Sophiana
cakep 👍 ibu dapat balasan nya yg membuat pingsan...
Cicih Sophiana
pak Ginanjar tolong saya pak... saya lapar tp tdk punya yang untuk membeli sesuatu...🫢
Mulaini
Rian dan Eriska sudah pasti dapat hukuman penjara lebih lama.
Mulaini
Rian penangguhan penahanan mu di tolak.
Teh Euis Tea
udah blangsak baru deh ngakuin nisa menantu kemarin2 nisa kalian jadikan babu
Teh Euis Tea
elehh bu rini dulu km punya rasa kemanusiaan ga waktu menindas anisa menantumu
Nar Sih
terima dan jalani nasib mu atas dosa juga kesombongan mu
Nar Sih
jalani saja nasib mu bu rini yg sombong dulu terima kenyataan hukuman untuk ank mu yg mantan suami durjana🤣🤣
Mutaharotin Rotin
kok


🥰🥰🥰🥰🥰
Cicih Sophiana
udah ngabisin uang kantor kamu Rian... sekarang kamu minta di bebaskan? mimpi aja kali
Cicih Sophiana
klo mau menyakiti dan menghina pengangguran... knp dulu kalian menikah?sebelum menikah kan mungkin kamu Rian tadinya sudah pendekatan atau pacaran kan?
Naufal Affiq
penyesalan mu rian terlambat
Naufal Affiq
lanjut mommy
Kar Genjreng
Mak jedurrrr langit runtuh seketika penyesalan bnya sudah tak ada lagi harapan pupus sudah tinggal lah kenangan dan hayalan,,, dengan wajah pucat pasi kedua manusia penghianat
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
Kar Genjreng
ya elanhh Bu ketika masih menantu kan Anissa gayanya selangit,,,bahkan tidak perduli sama sekali ga Suami ga mertua ga pula adek iparnya,,, semua menghina nya bahkan selalu memotong uang nafkah
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu
Sugiharti Rusli
karena kan dalam satu atau dua tahun pernikahan, pasti sudah terlihat watak aslinya sih seharusnya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!