Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serasi
Pita kain sisa jahitan itu masih melingkar di pergelangan tangan kiriku ketika kami keluar dari ruang panitia menuju area utama convention hall.
Biru tua, potongan kecil dari kain yang sama dengan kostum Cahaya, diikat asal-asalan jadi semacam gelang setelah insiden kostum sobek tadi selesai ditangani. Cahaya yang mengikatkannya, tanpa penjelasan, tepat setelah aku selesai menjahit robekan di bagian pinggang kostumnya dengan teknik jahit darurat yang aku pelajari dadakan dari tiga video YouTube berbeda sambil dikelilingi lima orang panitia yang menonton seperti sedang menyaksikan operasi bedah.
"Buat apa ini?" tanyaku waktu itu, menatap kain yang sudah melingkar di tanganku.
"Biar keliatan kamu juga bagian dari sini," jawabnya, sudah berjalan duluan sebelum aku sempat protes lebih jauh.
Aku tidak protes. Sebenarnya aku juga tidak terlalu memikirkannya sampai kejadian pertama terjadi, sekitar dua puluh menit kemudian, di depan stan action figure.
"Ih, itu couple cosplay ya? Kalian couple?"
Seorang perempuan dengan wig ungu panjang, entah cosplay karakter apa karena aku tidak mengenalinya, berhenti di depan kami sambil menunjuk bergantian ke kostum Cahaya dan gelang biru di tanganku.
Aku baru membuka mulut untuk menjelaskan bahwa ini bukan couple cosplay, ini hanya sisa kain jahitan yang kebetulan diikatkan Cahaya sebagai — aku sendiri tidak tahu persis sebagai apa — tapi Cahaya sudah lebih dulu bersuara.
"ENGGAK KOK." Suaranya melompat satu oktaf dari biasanya. "Ini cuma— ini kebetulan aja warnanya sama. Enggak ada hubungannya."
Perempuan berwig ungu itu mengangguk-angguk dengan ekspresi yang jelas tidak sepenuhnya percaya, tersenyum sopan, lalu berlalu ke stan sebelah.
Aku menatap Cahaya. "Kenapa kamu teriak?"
"Aku enggak teriak."
"Volume suaramu naik signifikan."
"Itu suara normal aku waktu kaget."
"Kamu tidak kaget. Kamu yang mengikatkan kain itu."
Cahaya tidak menjawab, malah mempercepat langkah menuju stan berikutnya, dan aku mengikutinya sambil menyimpan observasi itu di suatu tempat di kepala tanpa benar-benar tahu harus diapakan.
Convention hall hari itu penuh sesak dengan cara yang khas — bau kertas baru bercampur cat semprot dari action figure yang dipajang, musik latar dari beberapa booth yang saling tumpang tindih tanpa niat harmonisasi, dan suara orang-orang yang lebih banyak berbicara dalam istilah yang hanya masuk akal kalau kamu sudah menonton minimal dua puluh judul anime musim ini.
Ini duniaku. Sudah bertahun-tahun. Tapi hari ini terasa sedikit berbeda karena, untuk pertama kalinya, ada Cahaya di sampingku bukan sebagai orang yang menunggu sambil main HP di sudut ruangan — yang biasanya dia lakukan kalau kebetulan ikut aku ke acara semacam ini dulu waktu SMA — tapi sebagai peserta penuh, lengkap dengan kostum yang jahitannya (sebelum insiden sobek tadi) rapi sekali.
Kami berhenti di stan action figure milik seorang penjual yang mejanya penuh dengan figur-figur dari seri lama yang mulai langka. Aku sedang menimbang-nimbang satu figur Kaito Amagi edisi terbatas — mahal, di luar budget bulan ini, tapi jarang muncul di pasaran — ketika penjualnya, laki-laki paruh baya dengan kaos band metal dan kacamata baca yang menggantung di ujung hidung, ikut nimbrung.
"Itu kostum Kaito Amagi kan?" tanyanya ke Cahaya, menunjuk kostum yang dipakai. "Detail bordirnya rapi banget. Bikin sendiri?"
"Iya," jawab Cahaya, sedikit tersipu — tersipu karena pujian soal jahitan, bukan karena hal lain.
"Pacarnya juga suka Stellar Requiem berarti?" Bapak itu melirik ke arahku, lalu ke figur di tanganku, lalu balik ke Cahaya. "Cocok banget nih. Jarang lho ada pasangan yang sefrekuensi gini."
"BUKAN PACAR." Lagi. Volume yang sama dengan tadi, kali ini disertai gerakan tangan yang agak berlebihan, seolah kata "pacar" itu benda fisik yang perlu diusir dengan kibasan tangan. "Ini temen. Temen dari kecil."
Bapak penjual mengangkat kedua alisnya, kemudian tersenyum dengan ekspresi yang kurang lebih berarti oh begitu ya, terserah deh tanpa mengucapkannya secara langsung, dan kembali sibuk merapikan figur di mejanya.
Aku membeli figur Kaito Amagi itu — akhirnya, setelah negosiasi harga yang cukup alot — dan kami melanjutkan langkah ke area berikutnya.
"Kenapa kamu selalu jelasin ulang?" tanyaku, memasukkan figur ke tas.
"Jelasin apa?"
"Bahwa kita bukan pacar. Orang itu tidak akan ingat kita besok. Kenapa perlu diklarifikasi sekeras itu?"
Cahaya diam sebentar sebelum menjawab. "Karena kalau enggak diklarifikasi, orang bakal mikir yang enggak-enggak."
"Memangnya kenapa kalau orang berpikir begitu?"
"Ya... enggak kenapa-kenapa juga sih. Cuma—" Ia berhenti, seperti kehilangan jalur kalimat di tengah jalan. "Pokoknya perlu diluruskan aja."
Aku tidak melanjutkan pertanyaan itu, meski ada sesuatu dalam jawabannya yang terasa kurang lengkap, seperti mendengar setengah bagian dari lagu yang refrainnya dipotong sebelum masuk ke bagian penting.
Kejadian kedua terjadi di photo booth resmi acara, sekitar satu jam kemudian.
Sistemnya sederhana: bayar tiket, antre, difoto oleh fotografer resmi dengan latar backdrop tema Stellar Requiem yang memang jadi salah satu sponsor acara tahun ini — kebetulan yang menguntungkan buat Cahaya karena artinya kostumnya jadi relevan dengan tema booth.
Fotografer itu — perempuan muda dengan kamera besar dan lanyard panitia — mengarahkan Cahaya untuk berpose beberapa kali, mengambil beberapa foto solo, lalu menoleh ke arahku yang berdiri agak jauh di pinggir antrean.
"Mas yang bareng dia?"
"Iya," jawabku.
"Sini, masuk frame juga. Sekalian couple shot buat konten Instagram acara ini."
"Bukan couple," koreksiku, mengulang kalimat yang sudah aku dengar Cahaya ucapkan dua kali hari ini.
"Oh, maaf. Duo shot kalau gitu. Sini masuk."
Aku melangkah masuk ke area backdrop, berdiri di sebelah Cahaya dengan jarak yang menurutku cukup wajar untuk dua teman yang difoto bersama.
"Deketan dikit dong," instruksi fotografer, mengangkat kamera. "Bagus buat komposisinya."
Aku bergeser sedikit mendekat. Cahaya, di sebelahku, tetap diam — tidak protes, tidak bergerak menjauh, hanya berdiri dengan pose yang tiba-tiba jadi sedikit kaku dibanding pose solonya tadi.
"Nah, gitu. Coba senyum natural."
Aku mencoba tersenyum dengan cara yang aku harap terlihat natural, meskipun secara teknis tersenyum atas permintaan langsung adalah salah satu tindakan paling tidak natural yang bisa dilakukan manusia.
Fotonya diambil. Beberapa jepretan.
"Ini bagus banget," kata fotografer itu, menunjukkan hasil di layar kameranya ke kami berdua. "Chemistry-nya kelihatan alami. Kayak emang udah lama kenal."
"Kita emang udah lama kenal," jawabku, sekadar informasi faktual.
"Berarti wajar lah kalau kelihatan cocok." Fotografer itu tersenyum, mengetuk-ngetuk layar kamera. "Boleh dipost di akun resmi acara enggak? Buat contoh foto duo yang bagus."
"Boleh," jawabku, karena tidak ada alasan untuk menolak.
"ENGGAK USAH—" Cahaya menyela, tapi sudah terlambat karena fotografernya sudah beranjak ke peserta berikutnya sambil melambaikan tangan tanda terima kasih.
Aku menoleh ke Cahaya, yang wajahnya sekarang merah — bukan merah karena panas ruangan, karena AC di convention hall ini cukup dingin, aku sudah mengeceknya beberapa kali sepanjang hari karena suhu ruangan adalah salah satu variabel yang aku perhatikan di tempat ramai.
"Kenapa?" tanyaku.
"Enggak apa-apa."
"Kamu bilang 'enggak usah' terus fotografernya sudah pergi."
"Ya udah, biarin aja." Ia berjalan cepat menjauh dari area photo booth, dan aku menyusul dengan langkah yang tidak seburu-buru itu tapi cukup untuk tetap sejajar dengannya.
Kami bertemu Sasa di food court sekitar pukul satu siang, di meja dekat jendela yang untungnya masih kosong meski antrean untuk duduk cukup panjang.
Sasa datang dengan kostum yang jauh lebih santai dari Cahaya — bukan cosplay penuh, hanya kaos bertema salah satu karakter dari seri berbeda, dengan alasan yang ia jelaskan sendiri sebagai "aku ke sini buat nemenin Cahaya doang, bukan buat total commitment kayak dia."
"Gimana tadi?" tanya Sasa, duduk sambil membuka bungkus makanannya. "Katanya kostumnya sobek?"
"Sobek di bagian pinggang," jawab Cahaya. "Untung Rendy bisa jahit."
"Rendy bisa jahit?" Sasa menatapku dengan ekspresi terkejut yang cukup tulus. "Sejak kapan?"
"Sejak dua jam lalu, dengan bantuan tiga video YouTube."
"Dan itu berhasil?"
"Cukup berhasil untuk bertahan sampai acara selesai."
Sasa mengangguk-angguk, terlihat lumayan terkesan, sebelum matanya turun ke pergelangan tanganku dan berhenti di sana.
"Itu apa?"
Aku mengangkat tangan, menunjukkan kain biru yang masih terikat. "Sisa kain jahitan. Cahaya yang ikat."
Sasa menatap Cahaya. Cahaya menatap makanannya dengan intensitas yang tidak proporsional untuk sepiring mie goreng seharga dua puluh delapan ribu.
"Kenapa diikatin?" tanya Sasa, dengan nada yang aku kenali sebagai nada seseorang yang sudah tahu jawabannya tapi ingin dengar orang lain mengucapkannya.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Cahaya cepat. "Cuma iseng."
"Terus tadi ada yang bilang kalian couple cosplay gara-gara itu?"
Aku menoleh. "Kamu tahu dari mana?"
"Aku lewat pas kejadian di stan action figure tadi. Denger si bapak nanya soal pacar." Sasa menyuap mie gorengnya sambil menahan senyum yang jelas-jelas geli. "Terus Cahaya jawab sekeras itu sampai orang tiga meja sebelah nengok."
"Aku enggak sekeras itu," bantah Cahaya.
"Kamu sekeras itu," aku dan Sasa berkata bersamaan, tanpa direncanakan.
Cahaya menatap kami berdua bergantian dengan ekspresi yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara kesal dan terpojok. "Ya kan emang bukan beneran! Wajar kalau diluruskan!"
"Diluruskan sekali, oke," kata Sasa, mengambil satu suapan lagi. "Diluruskan berkali-kali dengan volume yang naik tiap kali, itu udah beda cerita."
"Aku enggak—"
"Terus tadi di photo booth juga," lanjut Sasa, sekarang sudah sepenuhnya masuk mode yang aku kenali sebagai mode menginterogasi dengan santai. "Katanya fotografernya bilang chemistry-nya bagus?"
Aku menoleh cepat ke Cahaya. "Kamu cerita itu ke Sasa? Kapan? Kita baru sampai di sini lima belas menit lalu."
"Aku chat dia pas kamu lagi ke toilet tadi," jawab Cahaya, terlihat menyesal sudah membuka topik itu sendiri.
"Kenapa kamu cerita itu kalau kamu enggak mau dibahas?"
"Karena—" Cahaya berhenti, terlihat mencari alasan yang masuk akal, dan tidak menemukannya. "Karena aku kesel aja dan pengen cerita ke orang."
"Kalau kesel biasanya orang enggak sengaja bikin topiknya jadi trending," celetuk Sasa, tersenyum lebar sekarang, menikmati posisinya sebagai penonton dari drama yang tidak ia rencanakan tapi sangat ia nikmati.
Aku menatap keduanya bergantian, mencoba memahami dinamika yang sedang terjadi. Ada sesuatu dalam cara Sasa menggoda Cahaya yang terasa berbeda dari biasanya — lebih tajam, lebih mengarah ke satu titik spesifik, seolah Sasa sedang mengetes sesuatu yang aku belum tahu apa.
"Sebenarnya kenapa sih ini jadi masalah besar?" tanyaku akhirnya, karena aku benar-benar tidak memahami logikanya. "Orang bilang kita serasi. Itu bukan pernyataan negatif. Kenapa perlu diklarifikasi dengan tingkat urgensi seperti kebakaran gedung?"
Sasa tertawa keras sampai hampir tersedak mie gorengnya sendiri. Cahaya menatapku dengan ekspresi yang aku tidak bisa deskripsikan dengan tepat — bukan marah, bukan juga kesal, lebih seperti seseorang yang baru saja diberi pertanyaan yang jauh lebih rumit dari yang terlihat di permukaan.
"Kamu beneran enggak ngerti," kata Cahaya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke aku, "atau kamu pura-pura enggak ngerti?"
"Aku tidak mengerti apa yang perlu dimengerti."
Cahaya menatapku beberapa detik lebih lama dari yang terasa nyaman, kemudian menghela napas panjang dan kembali fokus ke makanannya. "Lupain aja, Ren. Makan aja dulu."
Sasa, di sebelahnya, masih menahan senyum, dan sekali lagi melirik ke arah gelang biru di tanganku sebelum akhirnya ikut kembali makan tanpa berkomentar lebih jauh.
Sisa hari itu berjalan tanpa insiden "serasi" tambahan — atau mungkin ada, tapi aku sudah cukup teralihkan oleh kegiatan lain (mengantre panel diskusi seiyuu, membeli dua manga edisi khusus acara, mencoba game demo di stan sponsor) sehingga tidak sempat memperhatikan lagi.
Cahaya tetap di sisiku sepanjang sisa hari, meski dengan energi yang menurutku sedikit berbeda dari energinya di pagi hari — masih antusias, masih tertawa di momen-momen yang lucu, tapi ada semacam kewaspadaan baru setiap kali ada orang asing mendekat, seperti sedang bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang mungkin muncul.
Menjelang sore, ketika acara mulai sepi dan kami berjalan menuju pintu keluar, seorang cosplayer lain — perempuan yang tadi kami lihat mengantre di panel yang sama — berhenti sebentar untuk memuji kostum Cahaya.
"Kostumnya keren banget," katanya, sambil memotret dari jauh dengan izin yang sudah diberikan sebelumnya. "Kaito Amagi kan? Susah banget nemu orang yang cosplay karakter ini, biasanya semua orang pilih yang lebih populer."
"Makasih," jawab Cahaya, tersenyum tulus — senyum yang sama seperti waktu bapak penjual action figure tadi memuji jahitannya.
"Yang jaga tas kamu ini juga suka Stellar Requiem?" Perempuan itu menoleh ke arahku, ke tas belanjaan penuh yang aku bawa karena Cahaya menitipkan sebagian barangnya padaku sepanjang hari.
"Ini karakter favoritnya," jawab Cahaya, sebelum aku sempat menjawab sendiri. "Makanya aku bikin kostumnya."
"Wah, sweet banget." Perempuan itu tersenyum lebar. "Kalian couple yang serasi banget deh, seriusan."
Aku menunggu reaksi keras yang biasa, tapi kali ini tidak datang.
Cahaya hanya tersenyum kecil, menunduk sedikit, dan berkata, "Bukan couple. Tapi makasih."
Nadanya berbeda dari sebelumnya. Lebih tenang. Tidak ada volume yang melonjak, tidak ada gerakan tangan mengibas kata "pacar" seperti yang terjadi berkali-kali sepanjang hari.
Perempuan itu mengangguk, mengucapkan selamat tinggal, dan berjalan pergi.
Aku menatap Cahaya. "Kenapa sekarang kamu enggak protes sekeras tadi?"
Cahaya diam sebentar, memandang ke arah pintu keluar yang mulai terlihat di ujung lorong.
"Udah capek," jawabnya akhirnya. "Capek jelasin berkali-kali."
Jawaban yang cukup masuk akal — hari sudah panjang, kami sudah berjalan berjam-jam, energi memang wajar menurun menjelang sore. Aku menerima penjelasan itu tanpa mempertanyakannya lebih jauh, karena secara logis itu jawaban yang paling sederhana dan paling sesuai dengan situasi.
Tapi ada bagian kecil dari kepalaku — bagian yang biasanya aku pakai untuk memperhatikan detail-detail kecil dalam sebuah cerita, pola yang berulang, petunjuk yang tersembunyi di antara dialog yang terlihat biasa — yang mencatat sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok dengan penjelasan "capek".
Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya mencatatnya, seperti mencatat detail kecil yang mungkin relevan nanti, mungkin juga tidak.
Perjalanan pulang naik angkot berlangsung dalam diam yang lebih dari biasanya.
Sasa sudah pulang duluan karena dijemput orang tuanya yang kebetulan lewat daerah convention hall. Jadi tinggal aku dan Cahaya, duduk berdampingan di kursi angkot yang agak sempit, tas belanjaan menumpuk di antara kaki kami, matahari sore masuk lewat jendela dengan sudut yang membuat separuh wajah Cahaya kena cahaya keemasan dan separuh lagi dalam bayangan.
"Capek?" tanyaku, memecah keheningan yang sudah berlangsung sekitar sepuluh menit.
"Lumayan." Cahaya menyandarkan kepala ke jendela, matanya setengah tertutup. "Tapi seru sih hari ini."
"Aku juga."
"Makasih udah nemenin," katanya, tanpa menoleh. "Dan makasih udah benerin kostumnya."
"Sama-sama."
Angkot berhenti sebentar untuk menaikkan penumpang baru, lalu jalan lagi. Di luar, toko-toko dan warung mulai menyalakan lampu satu per satu, tanda sore sudah hampir habis dan malam sebentar lagi datang.
"Ren," panggil Cahaya, masih tanpa menoleh.
"Hm?"
"Kalau misalnya orang-orang emang mikir kita couple... itu masalah buat kamu, enggak?"
Pertanyaan itu datang dengan nada yang santai, seolah hanya pertanyaan iseng untuk mengisi waktu perjalanan yang masih tersisa. Tapi aku memikirkannya dengan cukup serius sebelum menjawab, karena aku tidak ingin memberikan jawaban asal untuk pertanyaan yang — entah kenapa — terasa seperti butuh jawaban yang benar-benar dipikirkan.
"Tidak," jawabku akhirnya. "Bukan masalah. Orang bisa berpikir apa saja. Itu tidak mengubah fakta soal kita."
"Fakta soal kita itu apa?"
"Bahwa kita teman sejak kecil."
Cahaya diam beberapa detik. Kemudian ia tertawa kecil — tawa yang pendek, agak aneh, seperti tertawa pada sesuatu yang tidak sepenuhnya lucu tapi butuh direspons dengan tawa supaya tidak jadi hal lain.
"Iya," katanya. "Bener juga."
Ia tidak melanjutkan topik itu. Aku juga tidak mendesak, karena percakapan itu terasa sudah mencapai semacam titik penutup natural, meski aku tidak sepenuhnya yakin penutup macam apa itu.
Sisa perjalanan berlalu dalam diam, dengan gelang biru masih melingkar di pergelangan tanganku, dan Cahaya yang perlahan memejamkan mata sepenuhnya, menyandarkan kepala ke jendela angkot yang bergetar pelan mengikuti jalanan yang tidak terlalu rata.
Aku menatap keluar jendela, mengamati toko-toko yang berlalu satu per satu, dan sesekali melirik ke arah Cahaya yang sudah benar-benar tertidur — atau setidaknya terlihat tertidur — dengan napas yang teratur dan wajah yang, dalam cahaya sore yang mulai redup, terlihat lebih tenang dari sepanjang hari ini.
Aku tidak membangunkannya sampai angkot hampir sampai di gang rumah kami.