Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
“Revan, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Apa kamu menganggap kami semua ini malas atau bagaimana?”
Di ruang kantor Tim B di sebuah kantor kepolisian Jakarta, Ketua Tim Pak Dimas berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya tampak kesal.
Beberapa penyidik Tim B bahkan ikut berkumpul di sekitar ruangan. Mereka tampaknya cukup tertarik dengan keributan yang terjadi.
“Aku tidak bermaksud begitu,” Revan buru-buru menjelaskan. “Aku hanya berpikir, kalau pelaku sampai memotong tangan korban, tapi sama sekali tidak meninggalkan bukti, berarti semuanya sudah direncanakan sejak awal. Jadi, kemungkinan besar pelaku sudah mengawasi korban dalam waktu yang cukup lama.”
Revan menunjuk papan investigasi.
“Menurutku, kita jangan cuma fokus memeriksa rekaman CCTV menjelang kejadian. Kita juga harus melihat aktivitas korban jauh sebelum hari kejadian. Mungkin ada seseorang yang diam-diam mengikuti korban selama berminggu-minggu.”
“Sudah, sudah.”
Pak Dimas langsung memotong.
“Revan, aku sudah tahu soal taruhanmu dengan Wakil Ketua Tim B, Pak Budi. Kamu terburu-buru karena tidak mau kalah, kan?”
Revan terdiam.
“Tapi aku harap kamu mengerti satu hal.” Nada suara Pak Dimas berubah serius. “Menyelesaikan kasus bukan permainan. Ini bukan soal siapa yang paling hebat atau siapa yang paling cepat. Ini soal tanggung jawab. Kamu mengerti?”
Dia menunjuk beberapa penyidik yang masih sibuk di depan komputer.
“Lihat mereka. Beberapa orang di sana sudah dua malam hampir tidak tidur hanya untuk memeriksa rekaman CCTV. Bahkan rekaman dari dua bulan terakhir sudah mereka tarik dan periksa satu per satu.”
Pak Dimas kembali menatap Revan.
“Jadi, menurutmu mereka masih perlu diingatkan?”
Kemudian dia menunjuk papan tulis besar yang memenuhi dinding.
“Dan ini apa? Menurutmu selama beberapa hari terakhir kami cuma duduk-duduk santai?”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Coba lihat sendiri. Ada satu orang saja dari tim ini yang pulang tepat waktu?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau tidak sedang mewawancarai saksi, mereka mencari bukti. Kalau tidak mencari bukti, mereka memeriksa rekaman. Semua orang mengerahkan waktu dan tenaga untuk kasus ini.”
Pak Dimas mengetuk papan tulis dengan jarinya.
“Kami bekerja untuk menyelesaikan kasus ini, bukan cuma banyak bicara!”
Revan akhirnya mengalihkan pandangan ke papan investigasi.
Baru kali ini dia benar-benar memperhatikannya.
Papan itu dipenuhi foto korban, informasi pribadi, catatan hasil wawancara, daftar kemungkinan tersangka, hubungan antarorang, sampai potongan bukti yang diberi tanda merah.
Informasinya begitu banyak hingga membuat kepala pusing hanya dengan melihatnya.
Revan sedikit terdiam.
Selama ini dia memang tidak tahu seberapa jauh penyelidikan yang dilakukan Tim B.
Tidak heran polisi selalu selangkah di belakangnya dalam beberapa kasus sebelumnya.
Orang-orang ini ternyata bekerja jauh lebih serius dari yang dia bayangkan.
Bahkan foto dirinya sendiri mungkin sudah pernah ditempel di papan seperti ini.
Revan masih menatap papan tersebut ketika Pak Dimas tiba-tiba berdiri tepat di depannya, sengaja menghalangi pandangannya.
Wajah Pak Dimas semakin dingin.
“Kenapa? Jangan bilang kamu sedang mengincar informasi dari kami.”
Dia menyeringai tipis.
“Atau kamu butuh bantuan?”
“Hah?”
Revan mengerutkan kening.
Dia tidak menyangka seorang ketua tim bisa begitu menyindir.
Jangan-jangan bukan cuma Pak Budi yang menunggu dirinya gagal.
Seluruh Tim B sepertinya sedang menunggu kesempatan untuk menertawakannya.
Revan melirik ke sekeliling.
Benar saja.
Beberapa penyidik terlihat menahan senyum.
Darah Revan langsung naik.
Dia mengepalkan tangan.
“Brengsek! Memangnya kalian hebat sekali?”
Revan menunjuk papan investigasi di belakang Pak Dimas.
“Kalian sudah bekerja keras, teliti, dan punya begitu banyak informasi. Tapi sampai sekarang kasusnya belum juga terpecahkan, kan?”
Dia mengangkat dagu dengan penuh percaya diri.
“Kalau kalian benar-benar berani memberikan semua informasi itu kepadaku, aku akan menyelesaikan kasus ini sebelum kalian!”
Ruangan mendadak hening.
Lalu...
“Hahaha!”
Tawa langsung pecah.
Bukannya takut, para penyidik malah tertawa semakin keras.
Pak Dimas pun sama sekali tidak terlihat terpengaruh.
Dia melepaskan kedua tangannya dari dada.
“Baiklah, Revan!”
Dia menunjuk papan investigasi.
“Semua informasi yang ada di sini boleh kamu ambil. Kalau kamu mau, nanti aku suruh Budi menyiapkan satu set berkas lengkap untukmu.”
“Tidak boleh ada satu informasi pun yang disembunyikan.”
“Foto, laporan, hasil wawancara, rekaman CCTV, semuanya!”
Pak Dimas tersenyum menantang.
“Kita lihat saja bagaimana Detektif Hebat Revan menyelesaikan kasus ini di depan kami.”
Para penyidik Tim B kembali tertawa.
“Oke!”
Revan sama sekali tidak peduli.
Justru itulah yang dia inginkan.
Informasi terbaru tentang Kasus Tangan Hilang.
“Siapkan saja semuanya,” katanya santai.
Beberapa saat kemudian, Revan kembali ke meja kerjanya sambil membawa satu kardus penuh berkas penyelidikan.
Begitu dia masuk ke ruang Tim A, beberapa penyidik langsung menoleh.
Tatapan mereka penuh kebingungan.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan Revan.
Tanpa menjelaskan apa pun, Revan menarik papan tulis kecil di depan meja kerjanya.
Dia mulai menempelkan foto, catatan, potongan informasi, dan berbagai hasil penyelidikan ke papan tersebut.
“Hmph.”
Revan mendengus.
“Jangan berpura-pura seolah cuma kalian yang profesional.”
Tangannya terus bekerja.
“Aku juga tidak kalah.”
Di kehidupan sebelumnya, ketika dia harus memburu seorang pengkhianat, Revan pernah duduk di tengah salju selama sebulan penuh hanya untuk mengawasi target.
Dibandingkan itu, menempelkan foto dan informasi ke papan tulis jelas bukan masalah.
Setidaknya...
Itulah yang awalnya dia pikirkan.
Belum sampai satu jam, Revan mulai merasa kepalanya berdenyut.
Dia menatap papan di depannya.
Semakin banyak informasi yang ditempel, semakin kacau semuanya terlihat.
Ada nama.
Ada tanggal.
Ada lokasi.
Ada hubungan antarorang.
Ada alibi.
Ada rekaman.
Ada saksi.
Ada kemungkinan tersangka.
Masalahnya, bagaimana semua informasi itu bisa dihubungkan menjadi sebuah bukti?
Revan mulai sadar.
Mengumpulkan informasi ternyata jauh lebih mudah daripada mengolahnya.
Untuk menemukan hubungan tersembunyi di antara semua potongan informasi ini, seseorang membutuhkan pikiran yang sangat tajam dan kemampuan analisis yang luar biasa.
Dan sayangnya...
Itu bukan keahlian Revan.
“Pusing juga...”
Revan akhirnya menyandarkan tubuh ke kursinya.
Dia menatap papan tulis yang sudah hampir penuh.
Otaknya terasa seperti mengalami korsleting.
Tanpa sadar, pandangannya beralih ke meja di sebelahnya.
Meja Nina kosong.
“Dia ke mana?”
Revan mengerutkan kening.
Mungkin Nina bisa membantunya memilah semua informasi ini.
Namun kemudian Revan teringat sesuatu.
Hari ini adalah hari resmi penyelesaian Kasus Pemerkosaan Taser.
Sebagai bagian dari tim informasi, Nina pergi bersama Kapten Pak Dedi ke kantor polisi pusat untuk menyerahkan laporan akhir kasus tersebut.
Mereka baru akan kembali besok.
“Pas banget...”
Revan menghela napas.
Seolah hari ini memang sengaja dibuat untuk menguji kesabarannya.
Belum selesai masalah dengan berkas kasus, tiba-tiba suara sistem terdengar di dalam kepalanya.
[Petualangan hari ini telah berakhir.]
[Tingkat penyelesaian: 9%.]
Revan membeku.
“...Sembilan persen?”
Dia melihat jam tangannya.
Bahkan belum lima jam sejak sistem memulai petualangan hari ini.
“Serius?”
Revan mengusap wajahnya.
“Kenapa cepat sekali selesai?”
Dia memeriksa kembali pikirannya.
Jangan-jangan petualangan yang diberikan Sistem Keajaiban kali ini memang sia-sia.
Setelah memikirkan kembali seluruh kejadian hari ini, Revan akhirnya menemukan satu-satunya petunjuk.
Selain berbicara dengan Naya pagi tadi, dia hampir tidak pernah meninggalkan gedung kepolisian.
Artinya, kemungkinan besar inti dari petualangan hari ini memang berkaitan dengan Naya.
Kalau tadi Revan tidak buru-buru mengakhiri percakapan dengan humor dinginnya, mungkin sesuatu yang tidak terduga akan terjadi.
Namun anehnya, Revan sama sekali tidak merasa menyesal karena tidak mendekati Naya.
Dia hanya sedikit kesal.
Sepertinya Sistem Keajaiban memang tidak berniat membantunya menyelesaikan Kasus Tangan Hilang.
Kalau begini terus...
Apa yang bisa dia gunakan untuk menyelesaikan kasus ini?
Dia tidak bisa mengandalkan sistem.
Penyelidikan juga belum menunjukkan kemajuan berarti.
Sementara itu, seluruh tim seolah menunggu dirinya gagal agar bisa menertawakannya.
Ditambah Nina sedang tidak ada.
Revan benar-benar sendirian.
Namun...
Revan bukan tipe orang yang mudah menyerah hanya karena keadaan tidak berpihak kepadanya.
Bahkan ketika situasi benar-benar sulit, pikiran untuk menyerah tidak pernah muncul di kepalanya.
“Sendirian memangnya kenapa?”
Revan mengepalkan tangan.
“Selama gue masih berdiri, gue belum kalah.”
Tatapannya kembali tertuju pada papan investigasi.
“gue tidak akan menyerah sampai detik terakhir.”
Dia menyeringai.
“Lagipula... siapa tahu nanti ada keajaiban lain yang muncul.”
Revan tiba-tiba terdiam.
Sebuah pikiran melintas di benaknya.
“Tunggu.”
Matanya perlahan membesar.
“Kalau dipikir-pikir...”
Dia menepuk dahinya sendiri.
“Bagaimana mungkin gue bisa melupakan itu?”
Revan langsung berdiri.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Oh, benar juga.”
“Bagaimana gue bisa lupa dengan ‘itu’?”